
"Eh, sudah! Aku lelah!" teriak Wahyu melepaskan tubuh Adit.
Dina tak menghiraukan apa yang Wahyu ucapkan, membuat Wahyu marah dan menarik kuat kaki Dina.
Dina di seret sampai depan rumah.
Tubuhnya sudah tak berbentuk, tertutup darah segar yang keluar dari luka di sekujur tubuh.
"Adek manis, tolong lepaskan Aku!" pinta Dina merengek, memandang Wahyu dengan tatapan memohon.
"Aku sudah lelah main sama Kamu! Kamu gak asik." terang Wahyu melanjutkan aksinya, menyeret tubuh Dina hingga masuk ke dalam rumah.
Jasad Adit dibiarkan terkapar di sisi hutan, di kerumuni lalat dan beberapa serangga.
Bau darah Adit, tercium oleh beberapa Anjing liar yang langsung mendekati jasadnya dan mengoyak-oyak tubuh Adit.
Para Anjing kelaparan tersebut berebut untuk menyantap bagian tubuhnya.
Dina ditarik sampai masuk ke dalam kamar dan kedua tangannya diikat dikaki ranjang.
Dina berontak dengan sisa tenaga, tapi dia tak bisa melepaskan ikatan Wahyu.
"Kamu kotor, Aku bersihkan dulu!" terang Wahyu meninggalkan Dina dan pergi menuju sumur yang ada dibelakang rumah.
Wahyu menimba air dan membawa ember tersebut dengan kedua tangan.
Ember tersebut di bawa masuk ke dalam kamar danĀ Wahyu langsung menyiramkan air tersebut ke tubuh Dina.
"Aduh ... Perih ...." teriak Dina meronta-ronta kesakitan.
"Nah, kalau udah agak bersih kan enak di pandang." ucap Wahyu cekikikan sambil memandang setiap jengkal tubuh Dina.
Kulit putih halus, dengan kemolekan tubuhnya, membuat siapa pun lelaki yang memandangnya akan berhasrat, tak terkecuali Wahyu.
Walau masih kecil, tapi hasratnya begitu tinggi. Apalagi, Wahyu sudah pernah melakukan hal tersebut.
Wahyu melepaskan pakaiannya dan kembali menikmati tubuh Dina.
Dina tak bisa berbuat apa-apa, dia takut akan mendapatkan hukuman yang lebih kalau mencoba berontak.
Sebenarnya, Bayu ada didalam tubuh Wahyu dan menikmati apa yang Wahyu lakukan.
Wahyu sendiri setengah sadar waktu melakukan hal bejad tersebut.
Karena Bayu hanya mengambil setengah kesadaran Wahyu.
Tapi, Bayu pura tak tahu dengan apa yang dilakukan oleh Wahyu.
Bayu hanya mendengar apa yang Wahyu ceritakan.
__ADS_1
Dina tak mendapatkan siksaan dari Wahyu. Tapi sebaliknya, Wahyu menikmati setiap jengkal tubuh Dina.
Hampir 3 hari, Dina terperangkap di rumah tersebut.
Dia di beri makan tanpa piring dan minum tanpa gelas.
Dina makan dan minum di lantai yang sudah Wahyu letakkan makanan atau air yang sengaja dia tumpahkan.
Pada hari ketiga, Wahyu tak langsung pulang ke rumah, karena di sekolah ada ekstrakurikuler yang membuatnya pulang sore.
Hari itu, Wahyu lupa memberikan Dina sarapan, karena dia bangun kesiangan dan buru-buru berangkat sekolah.
Pukul 17.30, Wahyu sampai rumah dan mendapati Dina yang sudah meregang nyawa.
Bukan karena tak makan, tapi karena kekurangan darah dan tanpa pengobatan. Hal itu membuat Dina tak mampu bertahan.
Wahyu menangis, bukan karena menyesali perbuatannya.
Tapi, Wahyu menangis karena mainannya sudah tak ada.
Dengan berat hati, Wahyu menyeret tubuh Dina dan meletakkannya di samping jasad Adit yang hampir sisa tulangnya saja.
******************************
"Tak adanya Mbak Dina, Aku mulai kesepian.
Tapi untungnya, beberapa minggu kemudian aku bertemu dengan anak perempuan yang terpisah dari orang tuanya dan Aku membawa anak tersebut ke rumah.
"Anak tersebut Kamu bunuh seperti yang lain?" tanya Bayu yang pura-pura tak tahu.
"Mana mungkin Aku membunuh Selly. Biar kita masih seumur jagung, tapi sudah seperti suami istri." jelas Wahyu dengan wajah yang mulai memerah.
"Terus, di mana Selly?" tanya Bayu.
"Ada, Dia terus memantau Keysi. Selly satu kelas sama si kembar dan dia selalu mencoba membuat Keysi celaka. Tapi, Keysi selalu selamat, seolah ada malaikat yang melindunginya." ucap Wahyu dengan nada kesal.
"Apa yang pernah Selly lakukan?" tanya Bayu.
"Selly pernah memasukan kecoa ke dalam makanan Keysi. Tapi, Keysi tak mati." jelas Wahyu dengan tatapan polos.
Hal itu, membuat Bayu tertawa.
Sampai kedua penjaga pintu dibuat bingung olehnya karena mendengar suara tertawa seorang pria dari balik kamar Wahyu.
Mereka masuk dan mencari sumber suara tersebut. Sedangkan Wahyu, hanya diam sambil menatap kearah mereka yang tengah mencari sumber suara.
"Kri, suaranya dari sini. Tapi gak ada orang sama sekali."
"Benar Tom. Suaranya berasal dari sini dan masih terdengar begitu jelas. Aku takut, Tom!" jelas Akri kepada Thomas dengan raut wajah ketakutan.
__ADS_1
"Kamu ada-ada saja. Hantu itu tak ada!" teriak Thomas memandang ke arah Akri sambil sesekali melihat Wahyu yang tengah memandangi mereka berdua.
"Bruat ...." suara Kursi yang tiba-tiba terlempar kearah pintu.
"Hahahahaha ...." suara cekikikan pria tertawa.
Kedua penjaga pintu kebingungan dan saling berpegangan tangan memandang kesetiap penjuru arah.
Akri lari dan keluar dari kamar, Thomas mengejarnya dari belakang.
"Hahahahahaa .... Ayah hebat bisa membuat mereka takut." teriak Wahyu sambil tertawa terbahak dan memegangi perut.
"Sekali-kali di kasih pelajaran!" jelas Bayu dengan nada tinggi.
Tak lama, Bayu pamit meninggalkan Wahyu.
Wahyu kembali membaca buku-buku cerita psikopat sambil tiduran.
Dia tak sabar ingin cepat keluar dan membalaskan dendamnya pada Keysi.
Tapi sebelumnya, Wahyu berniat menikmati tubuh Keysi terlebih dahulu sebelum membunuhnya.
Tak hanya menjadi seorang Psikopat, Wahyu juga menjadi maniak sex yang selalu menikmati tubuh-tubuh mangsanya sebelum membunuh.
Tapi, dia tak sanggup membunuh Selly, karena telah jatuh hati.
******************************
Sebenarnya, bagaimana bisa aku berada disini?
Siapakah orang atau mahluk yang menyamar menjadi Mama dan membawaku ke alam ini. Sedangkan sebelumnya, aku tengah di makan sama Buto Ijo.
Aku terus memikirkan hal tersebut sambil berlari kembali dan berniat menyelamatkan Tante Vanessa beserta Adarrma.
Tapi, langkahku terhenti dan aku bersembunyi dibalik pohon sambil sesekali mengintip kearah Tante dan Adarrma yang tengah di siksa oleh beberapa makhluk.
Gadis berambut kepang dengan warna putih yang menyuruh mahluk-mahluk tersebut menyiksa Tante dan Adarrma.
Bingung dengan apa yang harus aku lakukan!
Bagaimana caranya menghadapi dia dan beberapa makhluk yang terlihat ganas?
"Keluarlah anak manis! Aku tahu, Kamu bersembunyi dibalik pohon." teriak gadis tersebut tanpa melihat kearahku yang bersembunyi dibelakang pohon.
Dia masih menatap lurus kedepan, melihat Tante dan Adarrma yang tengah di siksa sama anak buahnya.
Bersambung ... .
(Jangan lupa follow dan vote agar aku bisa lebih bersemangat untuk menulis.
__ADS_1
Dan tinggalkan komentar untuk setiap cerita yang aku tulis, agar bisa tahu akan kesan dan pesan yang ingin pembaca sampaikan.)