DETECTIVE AMATIR

DETECTIVE AMATIR
WANITA PENCURI HEWAN


__ADS_3

Seorang pemuda mengejar, sesosok Wanita bertudung Hoodie. Disebuah perempatan kota, Yang banyak sekali orang berlalu lalang.


Suara helaan nafas, yang ia hembuskan. Memburu, Dan menggebu. Keringat yang menetes, tidak membuat pemuda ini bertahan, mau pun berhenti. Seperti lomba maraton, dia memastikan nya, untuk mencapai finishing. Yang ada didepan nya.


Sosok berHoodie pun terus saja lari. Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada didepan nya. Sering kali tertabrak, bahkan dia tidak perduli.


Pemuda yang mengejarnya dibelakang pun tak mau kalah. Dia selalu menghindari apa yang ada didepan nya. Dan berteriak, "MINGGIR, AWAS!"


Di perempatan jalan, sosok berhoodie itu pun, mengambil jalan berbelok.


Karena melihat lawan nya berbelok, pemuda dibelakang nya, dengan cepat berlari. Dan menerjang, sosok berHoodie tersebut, dan kedua nya tersungkur.


Akibat kejadian tersebut, orang-orang, pun langsung menoleh dan terdiam, Melihat kejadian tersebut. Seakan ada Festipal, dipinggir jalan. Yang mengumumkan; Bahwasanya, ada acara disini. Semua orang menoleh, kearah keramaian.


Dan tak perduli dengan keadaan tersebut, si pemuda, tetap fokus. Kearah lawan nya yang masih tetap tersungkur.


Si pemuda berdiri, dan menghampiri sosok berhoodie yang tidak lain. Adalah seorang Wanita.


Karena melihat lawan nya mendekat, wanita berhoodie pun ingin berpaling dan mulai lari lagi.


"Berhentilah! sudah tidak ada guna nya lagi, kamu lari!" Sedikit mengeraskan, kata-katanya. Pemuda itu langsung memegang, tangan si wanita berHoodie tersebut, dengan erat.


Wanita berHoodie, membuka Hoodie nya. Ternyata dia seorang perempuan dewasa, sambil tersengal wanita itu berkata. "Saya tidak bersalah! Bukan saya pelaku nya!"


Pemuda yang mendengar hal itu tak ambil pusing, seperti telah banyak, mendengar hal omong kosong.


Dia langsung menyela, "Tidak perlu berkata-kata, yang tidak perlu. Lebih baik, anda menyerah! dan berikan, penjelasan nya. Kepada pihak berwajib." Kata sang pemuda.


Lalu setelah itu. Mobil Kepolisian berbondong-bondong, datang ke tempat tersebut.


Seolah tau. Apa yang akan terjadi, saat pihak kepolisian datang. Orang-orang yang tadi nya berkerumun pun, membukakan jalan. Dan membentuk, ruang pagar. Seolah membukakan, kepada orang, untuk masuk ketengah keramaian. Dan disana Pria Muda dan Wanita berhoodie, menatap orang yang datang.


Dari jarak agak sedikit jauh, Seseorang berucap. "Kita keduluan lagi." ucap, Polisi yang berpangkat, sambil melihat kearah si Pemuda.


Lalu polisi berpangkat tersebut, memerintahkan. Kepada anak buahnya. "Bereskan, semuanya! Bawa pelaku ke kantor, untuk introgasi." ucap, polisi sambil menutup mobil.


Anak buah polisi tersebut pun, langsung membawa pelaku, ke mobil. Dan saat mau dibawa, Sosok berhoodie, yang ternyata Wanita itu bersuara, "Saya tidak bersalah! Saya tidak melakukan hal apa pun! Saya dijebak!" kata, sipelaku sambil meronta-ronta, tapi apalah daya. Borgol sudah menyilang dibelakang tubuh nya. Mengikat pergelangan tangannya.


Salah satu polisi berucap, "Maaf Nona, tapi anda tetap kami bawa ke kantor. Untuk Informasi, lebih lanjut." kata, Polisi yang berpangkat, dan Nama polisi tersebut, adalah Jumbran.


Setelah itu. Pelaku, dan beberapa mobil polisi meninggalkan, tempat kejadian itu. Karena melihat semua nya, sudah berakhir. Semua Warga dan orang-orang dijalan, disuruh bubar. Bagaikan, acara konser yang telah selesai.


Tinggallah Jumbran, dan pemuda tadi duduk di bangku, pinggir jalan. Sambil memegang, sebotol minuman dingin.


"Ternyata kami keduluan lagi. MD, kamu memang cepat! Kalau masalah kasus seperti ini." kata Jumbran, dengan menepuk bahu pemuda itu.


MD, adalah nama si Pemuda yang ternyata masih muda. Umur dia baru, 22 tahun.


"Saya juga tak menyangka. Akan secepat ini, berhadapan dengan tersangka, alias pelaku. Informasi yang saya dapat begitu mudah, dan terlalu mencolok pak, bapak pasti sudah tau Tentang kasus pencurian hewan?" kata MD, ‌seolah dia meramal masa depan kepada pak Jumbran.


Emdi, adalah seorang detective amatiran. Intuisi, dan ketajaman pikiran nya. Membuat dia bisa memikirkan, Seribu kemungkinan, yang menjadi nyata. Kepada sesuatu yang dilihat nya, maupun itu kasus, atau Gerak-Gerik seseorang.


"Memang, akhir-akhir ini. Banyak sekali laporan, tentang hewan peliharaan ditempat ini, yang hilang dan mati." ucap Jumbran, sambil mengangkat topi polisi nya, dan menggaruk kepala nya.

__ADS_1


Jumbran sendiri, adalah kepala polisi didaerah, tempat sekarang MD tinggal ini. Dia sudah menjabat, menjadi kepala polisi, sekitar 2 tahun lama nya dikota ini


"Menurut mu? kenapa wanita tersebut, mencuri hewan peliharaan?" Ucap Jumbran, bertanya kepada Pemuda disebelah nya.


Emdi sambil mengelus dagu nya bercerita, "Saat saya melihat kantong-kantong sampah yang dibuang pelaku, banyak sekali bulu hewan disana. Dan tempat nya sangat gelap, bagi kawasan gang sempit itu. Saya juga terkejut awal nya, tapi saya kurang bukti. Waktu itu, jadi saya tidak berani melaporkan nya ke Anda pak." Cerita MD, sambil menatap Jumbran.


"Kenapa kamu tidak melaporkan nya lebih dulu. Kamu, bisa membuat korban baru! Kalau kamu lambat melaporkan ke pihak berwajib." Tegas Jumbran


"Maaf sebelumnya pak, karena saya teledor akan hal itu. Tapi ada alasan, kenapa saya tidak melapor kan nya ke pada pihak bapak?" Jelas Emdi, dan dia melanjutkan ucapan nya lagi.


"Tapi saya menyelidiki penemuan saya sendiri, karena saya khawatir. Kalau saya laporkan ke pihak bapak, malah menakuti pelaku tersebut. Dan memicu pelaku buat melarikan diri." Kata Emdi, menjelaskan kepada Jumbran.


Jumbran masih memikirkan kata-kata Emdi, dan termangut-manggut, mendengarkan nya. Andai saja bukan Emdi yang menjelaskan. Pasti pemuda yang ada dihadapan nya ini akan dia Hukum, karena main-main sama kasus yang berbahaya. Tapi dia urungkan. Karena, pemuda dihadapan nya ini bukanlah, Pemuda seperti yang dia pikirkan itu. Dia tau kemampuan Pemuda ini diatas rata - rata.


Setelah itu. Jumbran menyuruh MD (singakatan dari MD). Melanjutkan, cerita nya.


MD pun, melanjutkan cerita nya. Pada saat itu, MD baru saja bersiap, keluar dari rumah nya. Saat dia mengunci pintu. Terdengar riuh, beberapa tetangganya, mengeluh. Akan hewan peliharaan mereka yang menghilang, dan ramai sekali yang membicarakan nya.


MD merasa terganggu akan hal itu. Tidak seperti biasa nya orang-orang di perumahan, dimana dia tinggal, segaduh ini. Seperti, sedang ada pasar dadakan, didekat rumah nya.


Dengan rasa penasaran, MD mendekati kerumunan tersebut. Dan menyentuh, pundak seorang pria tua disana.


Emdi langsung mendatangi pria tua, yang suara nya paling tinggi. Yang menurut nya, orang yang kehilangan hewan peliharaan pasti memperbanyak kisah nya. Adalah Pria Tua tersebut.


"Permisi Bapak, apakah Anjing tuan, tak pernah Bapak ikat?" Timpal MD, dengan nada suara agak sedikit dia keraskan. MD yang ikut nimbrung, bersama orang sekitar, yang riuh nya sampai kedengaran empat buah rumah itu, penasaran, dan dengan nada tinggi dia pun, mencoba bertanya. Emdi langsung bertanya secara gamblang, seolah-olah dia sudah lama disana.


"Saya tak pernah mengikat anjing saya! Tapi ketika pagi tadi, saat saya mau memberi makan Anjing saya, Anjing saya itu, sudah tidak ada lagi? Dan aneh nya, tempat makanan nya pun, juga tidak ada!" Ulas Korban, yang kehilangan. Dengan nada sedikit agak keras.


Dari sudut kanan. Ada satu Ibu besar langsung menyela dan memberikan jawaban, bahkan sebelum nya, tidak ada yang bertanya kepada diri nya.


Ibu-ibu dengan badan besar, rambut bersanggul, dan pakai Daster. Langsung menyahut juga.


Kira-kira di perumahan yang Emdi tinggali, ada Tujuh kasus. Yang sama-sama kehilangan hewan.


Sambil keluar dari kerumunan orang itu, Emdi langsung memasuki Pekarangan rumah Bapak yang kehilangan Anjing tersebut. Nama Bapak tersebut, adalah pak Bagong.


Emdi langsung meminta izin kepada kepada pa Bagong, agar diijinkan masuk. Dan menyelidiki apa yang sebenar nya terjadi.


Pekarangan rumah pak Bagong sendiri tidak luas, sekitar panjang Delapan meter, sedangkan luasnya Empat meter. Dan rumah Anjing itu, berada di sebelah kiri rumah pak Bagong. Sambil menunduk Emdi melihat-lihat tempat dan rumput-rumput disana. Sesekali dia meraba tanah, seolah dia mendapatkan Harta karun, lalu menyimpan nya di Saku nya.


Beberapa detik kemudian Emdi menyapu pandangan, kesekililing pekarangan. Lalu Emdi langsung berbalik dan menuju ke arah pak Bagong.


"Pak, apakah malam tadi? Bapak juga memberikan, makanan ke Anjing bapak?" kata Emdi, dengan mengampik-ampikkan, tangan nya. Membersihkan Debu yang menempel di tangan nya. Sambil bertanya, kepada pak Bagong.


"Tidak," kata pak Bagong yakin. Lalu melanjutkan kata-kata nya. "Pagi tadi saja, saya memberi makan dia." Ulas pak Bagong, sejelas-jelas nya.


"Terima kasih pak." Kata Emdi, dia berlalu dan menghampiri korban lain. Bahkan, semua nya dia tanyakan. Dan sama, dia juga pergi, ke Halaman Orang-Orang yang kehilangan hewan peliharaannya, seperti hal nya pak Bagong.


Setelah selesai. Dia berpikir sejenak,


"Aku harus ke toko makanan hewan," Gumam Md.


Toko hewan yang Emdi maksud, tidak jauh dari perumahan milik nya. Setelah beberapa langkah. Dia sampai menuju toko makanan hewan tersebut.

__ADS_1


Toko nya tidak bisa dikatakan ramai. Tapi ada saja orang yang datang, untuk mencari makanan Hewan peliharaan mereka, ditoko tersebut.


Emdi membuka pintu masuk toko, dan tercium aroma wangi jeruk, yang samar-samar tercium.


Emdi langsung menuju kasir Wanita kurus, yang memakai Sanggul. Dan di Dada sebelah kiri nya, bertuliskan nama Ubai.


Dan bertanya, "Permisi mbak, apakah disini? Ada makanan hewan peliharaan, seperti ini?" Tanya Emdi, sambil menjulurkan tangan nya. Yang berisikan Serpihan-Serpihan sesuatu.


Ubai sipenjaga kasir pun langsung melihat ke tangan Emdi, yang berisikan serpihan makanan hewan peliharaan yang berAneka macam.


Lalu dia menjawab nya, "Banyak macam nya, Mas." Dengan, masih menatap tangan Emdi. Beberapa detik kemudian. Dia mengakhiri pandangan nya.


"Saya tau beberapa makanan ini. Tapi beberapa makanan yang ada ditangan Mas ini, sdh habis terjual." Jelas sang kasir, memberikan penjelasan kepada Emdi.


Mendengar jawaban Kasir, Emdi langsung tersenyum, dan langsung menanyakan, siapakah pembeli nya.


Ubai menjawab, bahwa ada seorang Wanita umur Tiga puluhan datang kemari, dan membeli makanan hewan dalam jumlah banyak.


"Saya tidak pernah mengenal nya? Selama saya menjaga toko ini." Ucap Ubai.


"Apakah mbak tau? Nama nya siapa, dan alamat rumah nya?" Kata Emdi, masih mencari keterangan.


Ubai pun tetap kokoh dengan jawaban nya. "Saya tidak tau?" Ucap nya.


Dikarenakan, selama dia ditoko itu. Setiap yang datang disana, memang tak pernah menanyakan, Nama orang. Ulas Ubai sipenjaga toko. Akan tetapi beberapa detik kemudian. Ubai teringat, akan sesuatu. Lalu, dia menyampaikan nya kepada Emdi.


"Tapi! terakhir saat dia keluar, dia menuju arah Selatan Mas." Kata penjaga kasir.


Mendengar hal itu, Emdi segera bergegas berangkat lalu berucap, "Baik lah terima kasih." Kata Emdi, dan berpamitan kepada sang kasir.


Setelah keluar, Emdi berlari kearah selatan. Dengan tergesa-gesa, dia langsung menuju gang sempit. Belum habis MD bercerita dia langsung disela, oleh Jumbran.


"Tunggu!" Kata Jumbran, lalu melanjutkan pertanyaan nya. "Kenapa, kenapa kamu lari?"


Setelah, beberapa Menit Emdi bercerita. Dia memotong nya, seolah pemikiran nya. Tak sampai akan penjelasan yang diceritakan oleh Emdi.


Emdi pun, menjawab pertanyaan. Pak, Jumbran. "Ada sesuatu dipikiran saya yang membuat saya, memikirkan kemungkinan terburuk, yang terjadi akan hal ini. Jadi, saya lari." Ulas Emdi.


"Apa itu?" Jawab Jumbran, penasaran. "Lanjutkan, cerita mu! Kita, sambil berjalan. Menuju, tempat makan." Kata Jumbran.


Sambil berjalan, Emdi pun menceritakan lanjutan ceritanya. "Dipikiran saya adalah, diarah selatan toko tersebut. Ada Gang sempit, yang gelap. Sekitar, Tujuh kilo dari kota, kemungkinan nya adalah, hewan tersebut, dijual atau ... ?" Emdi terdiam, dan membuat Jumbran penasaran. "Apa itu? Jangan ditahan-tahan, begitu bocah!" Kata Jumbran, rada kesal.


MD menarik nafas nya, dan menghembuskan nya pelan lalu mulai menjawab. "Isi nya dikeluarkan, dan dijual dipasar gelap kota ini. Tapi ini hanya kemungkinan saja pak." Ulas MD menakuti Jumbran.


Jumbran langsung terkekeh "Mana ada Inti Sari, hewan seperti itu. Dijual? Emdi kamu ini, ada-ada saja." Ucap Jumbran, sambil terkekeh, meremehkan Emdi.


Emdi tak membalas hal itu. Dia melanjutkan cerita nya.


Sesampai di tempat tersebut. Gang itu, sangat kumuh dan gelap walaupun siang hari. Diikarena kan, Gedung-Gedung mengapit gang itu. Dan menyisakan jalan setapak, tercium aroma tidak enak seperti kotoran hewan, dan air kencing manusia.


Emdi menulusuri jalan, dan dia menemukan Rumah kosong. Dengan beberapa tarikan napas, dia menuju rumah yang gelap gulita itu.


Bersambung.

__ADS_1


"Beberapa bab aku ubah perlahan. Sambil belajar nulis juga, karena tulisanku berantakan dibagian PEUBI nya.


Mohon bantuan nya kawan-kawan."


__ADS_2