DETECTIVE AMATIR

DETECTIVE AMATIR
menyelamatkan diri


__ADS_3

Iwan masih terkagum-kagum dengan apa yang dia lihat, bahkan dia saja lupa bahwa sudah ditarik MD, kearah semak-semak lorong itu untuk bersembunyi. Beberapa detik kemudian dia baru bisa mencerna semua nya, Dia menoleh kearah MD, seakan ingin bertanya, "Apa selanjut nya yang kita lakukan?" MD, menatap Iwan sebentar lalu mengalihkan pandangan nya kearah pos keamanan disebelah mereka, dengan dagu nya berusaha mengasih kode ke Iwan, "Bahwa kita akan menuju ke Pos keamanan itu!" Seakan mengerti perkataan kawan nya tersebut, Iwan mengangguk kan kepala nya. Mereka meletakkan Parang mereka, karena akan membuat semua nya kacau kalau mereka membawa nya. Kemungkinan terburuk nya adalah; kalau ketahuan mereka pun tidak ada alasan lagi, dan kalau itu terjadi, bisa-bisa mereka juga tidak akan pulang ke villa dengan keadaan utuh. Dengan mengendap-ngendap dan penuh hati-hati MD berjalan perlahan ke pos itu, Iwan menggiringi MD dari belakang. Pos keamanan yang dimaksud tidak lah besar, paling cukup untuk dua orang, walaupun mereka ke sana paling ingin mencari sesuatu yang tak bernilai. Tapi pemikiran MD lain, dia tetap ke sana dengan perlahan dan hati-hati, karena tidak tau kalau memang ada orang di pos tersebut.


Beberapa langkah kemudian mereka sudah sampai di Pos tersebut, sangat sempit, memang cuma pos keamanan, dan memang untuk berjaga. Tidak ada apa-apa didalam sana, MD mencari-cari sesuatu seakan dia pernah ke pos tersebut sebelumnya, dia membuka laci meja yang ada di sana dan tidak menemukan apa pun. Beberapa saat kemudian, MD berdiri seakan dia sudah tua karena pinggang nya sakit, MD menghampiri Iwan yang dari tadi masih di pinggir Pos karena kedua nya selalu punya taktik sendiri saat menyusup. "Aku tak menemukannya?" kata MD, Sambil menyapu pandangan nya ke pos itu. "Apa yang kau cari?" Tanya Iwan, sambil masih tetap waspada kalau-kalau ada orang datang dan memergoki mereka, MD menjawab, "Teropong jarak jauh, untuk melihat atau mengawasi truk-truk yang diseberang jurang ini, karena posisi Pos ini mempunyai keuntungan akan hal itu!" Jawab MD, Mata nya masih-mencari cari sesuatu.


Dengan menepuk bahu MD, Iwan memberi kode bahwa dia yang akan mencari nya, dengan bergantian mereka bertukar posisi Iwan mulai mengendap-ngendap masuk ke pos itu, memang cuma ada lemari dan tempat duduk disana. Iwan mencoba meraba-raba dibawah kolong lemari tersebut dan sama sekali tak menemukan apa pun. Dia mencoba menggeser kursi yang ada didekat lemari itu dan menaiki nya, Karena lemari tersebut bisa ia gapai dengan tangan nya dan dengan kursi tersebut buat dia menambah tinggi badan nya agar bisa leluasa mencoba meraba keatas lemari tersebut.


Benar saja, tangan nya menyentuh sesuatu seperti ayaman jerami dan mencoba menggapai nya dan mengambil nya. Ternyata itu adalah bultah yang sudah lusuh berisikan Parang pemotong kayu, dan tali, juga baju cadangan, juga ada dibultah itu botol air yang masih ada isi nya, "Ini barang milik pak Ubab!" Kata Iwan sambil bergumam, Iwan memberikan isyarat kepada MD dengan memuncungkan bibir nya dan mengatup gigi nya lebih seperti berdesis, MD mendengar desisan kawan nya tersebut.Dan MD Dengan perlahan dan masih waspada lalu menghampiri Iwan, Iwan mengulurkan bultah yang langsung disambut oleh MD, Tiba-tiba saja, sebuah Train panjang dan kail besar lewat disamping Pos tersebut. Mengeluarkan suara mesin yang mengagetkan mereka, Nafas kedua nya berhenti sejenak, seolah sedang dituding oleh mesin besar di luar pos tersebut. Suara seseorang lantang sedang mengatur Train itu, "TERUS-TERUS! LAGI-LAGI! OKE, TURUNKAN!" Kata nya sambil berteriak, MD dan Iwan tak berani bergerak, seakan mereka membatu. Otak MD langsung memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan ide-ide secara cepat karena MD yang memiliki kejeniusan yang bisa memikirkan seribu kemungkinan dalam satu detik pun langsung fokus.


Dia tau akan terlalu bahaya kalau mereka terus disini, setelah Iwan turun dari kursi, MD langsung memberi isyarat ke Iwan dengan tangan nya, untuk kembali ke arah lorong bersemak tersebut. Dengan mengendap-ngendap, MD lebih dulu berjalan keluar dari pos tersebut. Dia melihat seorang berbaju satpam sedang mengarahkan mesin Train yang dikemudikan dari bawah, Train tersebut mengangkut beberapa batang pohon besar dengan kail besar nya, dan mulai mengitari tebing yang saat ini MD dan Iwan ada diatas nya. Bersama seorang satpam yang masih sibuk mengatur arah Train tersebut, MD berhasil masuk kedalam semak-semak bersama bultah yang sudah digendong nya, dibelakang Iwan berjingkit-jingkit melewati satpam tersebut. Jarak nya memang jauh beberapa meter dia dengan satpam tersebut, karena terlalu fokus berjingkit, Iwan tergelincir, karena salah satu kaki nya salah melangkah dan membuat Iwan terjerembab, beruntung nya dia sudah hampir dekat dengan semak-semak. Merasa ada yang aneh satpam tersebut langsung menoleh kebalakang, tapi tak terlihat ada yang mencurigakan, hanya tumpukan semak-semak yang ada disana, sebenar nya dia heran, kenapa tumpukan semak-semak itu ada disitu. Tapi dia tak memperdulikan nya dia masih sibuk dengan mengarahkan motor pancingan itu keposisi yang tepat. Sebelum nya, saat Beberapa detik sebelum Iwan jatuh, MD sudah memperhitungkan kalau langkah iwan akan terpeleset, Sebelum itu terjadi MD dengan cepat mengambil Parang yang mereka tinggalkan tadi, karena posisi nya dengan Parang tersebut dekat, dia langsung memotong semak-semak itu dengan cepat, lalu langsung menggompal nya dengan acak-acakan dengan perhitungan MD yang akurat, dia melempar gompalan semak-semak itu lalu Iwan terjatuh, semak-semak itu pun langsung berada di atas Iwan yang tertulungkup, dan MD langsung mengisyaratkan Iwan agar bertahan disana saat waktu nya tepat MD langsung menarik Iwan dan segera masuk melewati corong besar yang tadi mereka lewati, dan lebih dalam ke lorong semak-semak tersebut, dengan mempercepat langkah mereka.

__ADS_1


Ditengah perjalanan yang sempit itu, ada yang aneh, suara Train itu sangat dekat dengan mereka. Semak-semak yang tadi nya menjadi lorong seolah menyusut dengan cepat, Kedua nya menoleh dan kaget, ternyata kayu besar yang dibawa Train tersebut langsung melimpihkan semak-semak tersebut dengan cepat. Kedua sahabat itu lari sekuat tenaga dengan membungkuk kan diri mereka, supaya tak terlalu bergesekan dengan semak-semak lorong tersebut. Kayu besar tersebut, semakin menghampiri mereka, Iwan yakin tak akan sempat keluar dari lorong tersebut, dia berinisiatif berlari lebih cepat, dan memegang tangan MD lebih kencang lagi, Karena posisi Iwan dibelakang, dia langsung mempercepat laju kaki nya, dengan menahan kaki nya, menumpukan kaki nya kuat-kuat, seolah-olah kaki nya ada lah rem cakram mobil, dia menarik pergelangan tangan MD sekuat mungkin dan mengayunkan nya. Dalam beberapa detik, MD yang belum siap dengan apa yang Iwan lakukan langsung terpental, maju keluar dari lorong dengan bultah yang langsung terlepas dari belakang nya. Iwan yang merasa lega kawan nya sudah keluar dari semak-semak tidak sadar, hal itu juga akan membuat dia dalam bahaya.


Tubuh belakang Iwan langsung dihantam oleh bahu kayu besar tersebut, dengan sekejap Iwan langsung terpental beberapa langkah diatas MD, dan terjatuh, beruntung nya dia jatuh diatas rumput hutan yang tebal. Tetapi tetap saja pergelangan tangan nya terkilir akibat pendaratan nya tak sempurna.


Train itu terdiam sejenak lalu perlahan menurunkan kayu-kayu besar itu tepat dihadapan MD, seolah membuat dinding pemisah dengan tebing jurang tadi, membuat getaran yang amat besar di sekitaran MD dan Iwan, Lalu suara teriakan terdengar lagi dibalik dinding kayu tersebut.


"BAGUS, SEKALI! Rapikan semua nya, baru kita istirahat!" Teriaknya, meneriaki orang yang ada didalam mesin train tersebut. MD terselamatkan Dengan cepat Dan tersengal-sengal MD menghampiri Iwan dan mengambil bultah dan merapikannya. Lalu menghampiri Iwan yang meringis kesakitan, tanpa pikir panjang, dia langsung memegang tangan Iwan yang ter kilir lalu meregangkan nya.


MD tanpa aba-aba langsung memutar pergelangan Iwan, seketika itu juga ada sedikit bunyi tulang yang bergeser ditangan Iwan, Iwan hanya bisa memejamkan mata nya dan menahan rasa ngilu dan kesakitan, tapi tak butuh waktu lama sakit nya mulai mereda, membuat iwan tersengal-sengal.

__ADS_1


MD langsung memapah Iwan dengan mengalungkan tangan Iwan yang tak sakit, ke leher nya, dan cepat-cepat segera keluar dari hutan itu.


Dijalan setapak yang pernah mereka lalui tadi MD sekuat tenaga memapah Iwan, "Lain kali, jangan lakukan hal gila ini lagi." Kata MD kepada Iwan, "Maafkan aku, aku tak punya pilihan lagi tadi." Ucap iwan, sambil meratapi tangan nya yang sudah mulai membengkak. Karena lebam akibat dia terpental tadi, dan mendarat nya tak beraturan.


Beberapa langkah kemudian jalanan besar sudah terlihat Menandakan mereka akhir nya sudah berhasil keluar. Pencarian mereka memang berhasil dan dapat membuktikan bahwa cerita itu bukan tahayul atau cuma mitos. Dan tidak sia-sia juga awal sampai ditepi hutan tadi, Iwan menelpon Pak Amat, setelah mereka keluar dari hutan. Mobil pak Amat sudah ada di sana, dengan Pak Amat yang sangat merasa khawatir, tentang keadaan mereka. DEMI LANGIT DAN BUMI! APA YANG TELAH TERJADI!?" Kata Pak Amat dengan berlari menghampiri Iwan, dan MD langsung menjawab, "Cerita nya panjang Pak kita harus menyelamatkan Iwan dulu!" Ucap MD, sambil mengalihkan pergelangan tangan Iwan ke arah pak Amat sambil tertatih-tatih, "Aku tak apa-apa, sungguh!" Kata Iwan masih berucap dengan keadaan lemas. "Tenang lah, kamu jangan terlalu banyak bicara." Kata pak Amat sambil memapah Iwan ke arah mobil, MD langsung menghampiri mobil pak Amat lalu membukakan pintu belakang agar pak Amat bisa mengarahkan Iwan dengan nyaman masuk kedalam mobil tersebut.


Beberapa saat kemudian mereka sudah dalam mobil Dengan dua orang sahabat yang hampir saja penyek di lendes kayu besar. Hari sudah sore dengan Matahari menyinari seluruh bukit-bukit tinggi, dengan warna keemasan. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa dalam sehari ini.


Beberapa waktu kemudian sampailah mereka di villa pak Amat, seketika itu juga para pelayan langsung menghampiri mobil dengan tandu dan beberapa obat-obatan. Ibu Lusi sangat khawatir, begitu juga pak Amat dan Lusi.

__ADS_1


Bersambung.


Sebenar nya sangat ingin membuat satu plot dimana mereka membongkar kasus nya di sana dan mengadakan pertempuran. Tetapi Sangat tak masuk Akal kalau dua pemuda yang umur nya tak begitu tua, ditambah melawan pria dewasa, jadi aku buat semi saja. Kalau ada saran, komentar aja ya ges ya. Nanti kan kelanjutan nya!


__ADS_2