
Siang sudah berganti malam, Vila yang tadi siang luar biasa megah. Sekarang berubah menjadi Vila yang diselimuti gelap. Yang bisa saja membuat Vila tersebut, tenggelam didalam kegelapan yang panjang. Tetapi cahaya dari lampu-lampu besar, seakan mengusir kegelapan itu. Dengan menyisihkan sedikit kegelapan menjadi sebuah lingkaran, ber area bulat. Didalam villa tersebut, sudah ada sekolompok orang, yang sedang makan malam. Dengan amat riang dan senang, Seakan masalah yang siang tadi hilang dan dilupakan.
Lusi dan teman teman nya, sangat menikmati liburan mereka. Seakan mereka sudah berjuang, berbulan-bulan menghadapi pelajaran yang membuat kepala mereka menjadi besar. Makan malam yang disiapkan oleh mereka. Seakan nikmat, karena disantap dengan berkumpul bersama. Ayu juga tak lagi merasa canggung, karena teman-teman nya sekarang tak lagi membuat perbedaan yang kentara. Semua sama, sekarang tak ada lagi yang pamer, dan tak ada lagi yang bilang. "Aku akan minta dibelikan!" Suara itu tak lagi terdengar, walaupun terdengar. Itu hanya ingin menggoda Ayu, agar bisa juga menerima kemewahan yang ada di diri mereka.
Tak Selama nya juga pamer itu buruk, karena kalau kita sudah berteman. Semakin dekat kita bersama teman-teman kita. Juga sisi yang baik yang dibangun secara palsu, juga akan sedikit berkurang, karena mereka menilai dari sisi buruk agar bisa saling melindungi satu sama lain.
Menurut MD sendiri, Ayu juga agak baper disini. Kenapa dia sempat melakukan itu, padahal kalau dia sedikit saja, membuka diri nya kepada teman-temannya dan berkata jujur. Kemungkinan nya juga, mereka akan mengerti akan hal itu. Menurut MD sendiri, lebih baik terlihat buruk didepan, agar tak menilai berlebihan. Akan diri kita, ke timbang; dari pada terlihat baik, tapi ujung-ujungnya tak bisa menepati kebaikan yang dibuat. Dan sekarang itu lah, yang terjadi semua nya menjadi normal.
Para pembantu di Vila tersebut, sudah semua nya, datang dan melayani mereka semua. Pembantu di dapur dan bersih-bersih, ada; 10 orang. Dan penjaga ada 4 orang, tukang kebun 4 orang, semua nya sudah berkumpul di vila tersebut, terasa seperti pasar sekarang, didalam. Tapi tak membuat vila itu menyempit sama sekali, tak membuat ruangan itu terasa mengecil. Dia tetap gagah dan luas didalam nya.
Setelah semua nya menghabiskan, santapan makan malam tersebut. Semua nya lalu keluar Vila, untuk menikmati malam yang indah dan gelap. Iwan seperti biasa menjaga mereka. Sambil duduk-duduk dibawah terang nya lampu besar, di taman itu.
Para gadis itu, juga santai dan menikmati apa yang mereka dambakan, sejak liburan ini. Santai dialam terbuka, dan menikmati api unggun yang dinyalakan oleh penjaga vila.
MD kembali ke kamar nya untuk berbaring, dia sama sekali tak ingin beranjak dari tempat itu. Sambil melihat-melihat berita yang ada di kota ini.
Selain Iwan, ada lagi teman MD yang selalu menemani nya. Ia lah berita, tak bosan-bosan dia membaca berita. Apa lagi kalau tema nya ada lah sebuah kasus, dia pasti dengan antusias membacanya. Tapi, malam itu seakan kejahatan tak pernah terdengar. Semua berita sama saja tentang Politik, Negara, dan Asosiasi, dipikiran MD itu semua bukan tempat nya. Tapi dia tetap menyimak nya hitung-hitung dia sudah membuang kouta internet nya. Apa salahnya, untuk mendengarkan dan mengamati.
Setelah sekian lama men scroll, dan melihat-lihat layar Hape nya dia bosan, dan menaruh Hape nya ke atas meja. Dan mencoba untuk memejamkan mata nya. Padahal waktu belum menunjukkan setengah malam, tapi dia berusaha tidur. MD sendiri tak ingat, bahwa dia disini untuk menemani Iwan. Menjaga gadis-gadis itu. Tapi dia sama sekali tak berminat, bahkan melihat para gadis tersebut membuat nya kehilangan semangat.
__ADS_1
Ditempat Iwan bersantai saat ini, semua gadis remaja itu, berkumpul sambil memandangi api unggun yang bercahaya. seperti Emas, membuat Mata menyipit karena cahaya kemilau nya.
Sambil bernyanyi mereka mengusahakan liburan itu menjadi kenangan yang indah.
Iwan sendiri hanya menyaksikan kegembiraan mereka, dia sangat fokus, menjaga gadis-gadis itu. Padahal biar tak dijaga pun, gadis-gadis itu tetap aman. Karena penjaga dan keamanan di sana sudah diutamakan oleh Ayahnya Lusi. Saat Iwan bersantai, Lusi yang memakai Jaket tebal, menghampiri Iwan. Dengan membawa Hape nya yang sedang menyala. "Kak! Ayah bilang, dia besok akan datang kesini. Dan Ayah, kirim salam kepada kalian berdua?" Kata Lusi, sambil ikut duduk di kursi yang panjang, dimana Iwan duduk bersantai disitu. "Begitu kah! Ayah mu selalu datang, disaat yang lama. Tapi tidak apa, Aku juga akan menyampaikan salam ayahmu, kepada MD." Ucap Iwan, sambil makin menyandarkan punggung nya. Ketempat kursi panjang itu.
"Dimana, kak MD?" Kata Lusi membuka pembicaraan.
"Entah lah? Dia itu, orang nya terkadang bisa introvet yang sangat berlebihan. Tapi disatu sisi, dia orang nya suka bergaul dengan siapa saja. Sampai sekarang aku masih bingung dengan sikap nya itu?" Kata Iwan, membalas ucapan Lusi. Sambil Mata nya tetap mengawasi para gadis didepan nya, yang sedang asik bersenda gurau.
"Aku baru tau! Kak MD itu, orang nya sejenius itu. Dia itu aneh? tapi jenius." Kata Lusi sambil terkekeh.
"Memang nya! Seaneh apa? Kak MD itu!" Kata Lusi, penasaran. Sambil menatap Iwan, dan beralih lagi menatap teman-teman nya.
"Kamu pikirkan kan saja sendiri, hal siang tadi. Terus kamu bayangkan, hal Dua kali lebih aneh, dari itu!" Kata Iwan. Menanggapi, dia tak ingin memburukkan, dan mengungkit-ungkit masalah keanehan teman nya tersebut. Karena dibalik keanehan MD, banyak hal luar biasa yang dia temukan.
'Begitukah! Siang tadi, Aku kira? Kak MD itu, orang yang Cabul! Sampai-sampai Ayu saja, dibuatnya hampir telanjang." Kata Lusi, sambil menegaskan. Kepada Iwan, supaya Iwan membuka rahasia MD kepada nya.
Iwan tertawa geli, "Hanya itu!" Kata Iwan. meremehkan keponakan nya itu. Sebenarnya Lusi sendiri, seharus nya memanggil Iwan, dengan sebutan Paman. Tapi Iwan menolak, menurut nya dia tak mau terlihat tua, itu saja.
Lusi ternganga, "Apa kak? Itu parah kak! Hanya laki-laki Cabul, yang menginginkan hal itu. Disaat ada kesempatan!" Kata Lusi, sambil meninggikan suara nya.
__ADS_1
Iwan sekarang menatap Lusi dengan Wajah perhatian nya. Dan ingin memberikan nasehat, kepada Lusi. "Aku memang tak melihat, kejadian saat kalian didalam tadi. Tapi aku yakin! Ada maksud, kenapa MD melakukan itu. Dan aku juga yakin! Dia pasti menundukkan diri nya. Atau berpaling tak melihat kearah Ayu. Saat itu terjadi, dan kamu! pasti menjadi pion penting, untuk nya? untuk menyelesaikan itu semua?" Kata Iwan, menjelaskan.
Lusi tertunduk, mengaku salah, dia tak berpikiran begitu. kenapa dia didalam saat itu. Dan kenapa MD, melakukan hal itu. Dia tak sampai memikirkan itu, dia hanya ingin Ayu bisa menjelaskan perbuatan nya itu saja. "Dengar Lusi, saat kalian didalam. Dan berbagi duka satu sama lain. tadi, yang memanggil teman-teman mu masuk kedalam. Adalah MD, dan dia yang menjelaskan semua nya. Kepada teman-teman kamu," Jelas Iwan. Dengan penuh perhatian nya, menerangkan kepada keponakan nya itu. Lusi malu sendiri, tapi karena Iwan menjelaskan dengan baik. Dia berasa di nasehati dengan kasih sayang, oleh Kaka nya.
"Maafkan Lusi kak," Kata Lusi sendu. dengan pipi nya yang memerah, Iwan hanya tersenyum dan mencubit pipi Lusi lembut. "Aku wajar, kamu berpikiran seperti itu. karena memang seperti itu kejadian nya. Tapi ingat, jangan langsung memberikan cap! kepada orang lain buruk. Walaupun itu memang buruk, tapi kita tidak tahu? Bahwa mungkin saja! Ada makna kebaikan. Di balik keburukan orang tersebut." Kembali Iwan memberi nasehat. Iwan juga pernah dikasih tau MD, dengan kata-kata yang barusan dia pakai tadi. Secara tidak langsung dia juga pernah berbuat sama. Dengan apa yang Lusi lakukan saat ini, dan MD juga pernah menegur nya, dengan perkataan yang barusan Iwan ucapkan.
Lusi mengangguk dan kembali tersenyum. Lalu dia pamit, ke Iwan untuk berkumpul lagi ke tempat teman teman nya. Iwan menghela nafas saat kepergian Lusi dia tak menyangka dia sudah tua sekarang.
Waktu terus berjalan, sampai menunjukan sudah memasuki tengah malam. Para gadis tersebut masih asik saja dengan acara mereka.Iwan sendiri sekarang sedang ngobrol dengan para petugas vila. Dan dia sangat senang ternyata, petugas vila mempunyai kisah yang menarik, buat nya dan sahabat nya, yang sudah terlelap dialam mimpi. Petugas vila itu bernama; Om Ihsan. Seorang yang dikenal sebagai orang yang paling suka bercerita, tentang kasus-kasus yang akhir-akhir ini terjadi didaerah ini. Dari mana dia tau kisah nya, dia mengetahui nya dari sumber-sumber nya; seperti penjaga warung, Mamang-mamang yang cari kayu disekitaran sini. Dan korban itu sendiri
Om Ihsan sendiri tinggal tak jauh dari villa ini, mungkin sekitaran 10 kilo dari sini. Tapi dia orang nya suka bicara, dan suka mengumpulkan cerita. Untuk diceritakan ditempat tongkrongan nya, dikampung nya, mau pun di vila ini. "Bagaimana cerita nya, Om?" Kata Iwan. Yang duduk bersampingan, dengan Om Ihsan.
Om ihsan mulai menghisap rokoknya, lalu menghembuskan Asap nya ke udara lalu mengingat-ngingat kisah nya. "Korban ini bernama Ubab, dia seorang pencari kayu di arah barat vila ini. Pagi-pagi dia sudah berangkat mencari kayu. Seperti biasa dia membawa bultah, dan baju keseharian nya. Yang selalu dia pakai untuk menebang, dan memungut kayu, dan alat-alat nya. Baru saja setengah jam dia berjalan, Ubab merasa asing, dengan jalan yang selalu dia jalani tersebut. Jalan setapak yang dia jalani itu, seluruh nya tertutup oleh rumput-rumput yang tinggi. Seakan membentuk segitiga runcing ditengah jalan lalu. Dipinggir nya rumput yang saling berhadapan, dan diatas nya saling bersentuhan, satu sama lain. Membuat, jalan setapak itu menjadi lorong. Padahal kata Ubab sendiri, malam nya itu, tak ada angin kencang yang membuat jalan nya sampai menjadi segitiga seperti itu. seolah-olah ada Tangan Raksasa, yang mencoba membuat rumput-rumput itu menjadi mainan nya.
Bersambung.
Ingin melanjutkan, cuma karna ini, aku ingin membuat teka-teki nya menyatu, dengan kejadian yang akan ditemui oleh MD dan Iwan. Kayak nya aku mencari hal realistis nya dulu. Wokeh!!!! Selamat membaca.
__ADS_1