
Beberapa menit telah berlalu, MD berucap dengan sedikit menekan kan. Bahwa apakah benar pak Ubab melihat dengan jelas apa yang terjadi pada waktu itu. Pak Ubab pun jelas sekali menjelaskan apa yang terjadi, memang sama persis cerita nya, tidak ada kurang dan tak lebih, sama persis dengan cerita om Ihsan
"Apakah ada hal hal lain, selain dari seluruh cerita ini Pak?" Kata MD, masih me nelisik pikiran Pak Ubab, Menyuruh pak Ubab untuk sedikit lagi berpikir. Kalau memang ada hal kecil yang bisa dia ingat.
Pak ubab melihat langit-langit, sambil sesekali mengerjapkan mata nya. Lalu terdiam sejenak
Dengan sedikit menghentakkan tangan nya kelantai, berkata sedikit berteriak. "Demi Langit dan bumi! Memang benar! Saat suara yang memekakkan telinga itu terdengar! Di dalam lorong segitiga itu. Ada corong besar dari kejauhan nya. Tapi saya tak paham corong apa itu, besar berwarna hitam." Kata pak Ubab, MD sedikit memejamkan mata nya lalu menatap sedikit ke pak Ubab, "Apakah sempat Bapak masuk kedalam lorong tersebut?" tanya MD,
"Saya sama sekali tak memasuki nya, diluar nya saja sudah ada suara itu! Dan saya dibuat pingsan oleh nya." Jelas pak Ubab, dengan sedikit menggaruk kepala nya. Melihat para pemuda ini pak Ubab penasaran kenapa mereka menanyakan hal itu, Ragu-ragu pak Ubab pun bertanya, "Kalian ini siapa sebenar nya? Kenapa kejadian yang ada pada saya ini, sangat membuat kalian sebegitu nya ingin tau?" Tanya pak Ubab lagi, karena pak Ubab wajar sebagai seseorang yang jauh dari perkotaan ketemu mereka berdua siapa pun pasti menanyakan hal yang sama.
"Kami akan masuk kedalam hutan itu Pak, ingin mencari tahu, apa yang sebenar nya terjadi." Kata MD dengan nada datar nya. Bahkan sedikit pun wajah nya tak menunjuk bahwa ia tersenyum.
"Kalian gila!!" Kata pak Ubab dengan sedikit berteriak. Hampir saja mata nya terlepas dari lobang nya, karena terkejut nya dia Ada dua pemuda dihadapan nya yang sudah gila masuk kedalam Neraka. MD hanya terdiam dia tak perduli dengan perkataan pak Ubab, karena keseringan mendapatkan kata-kata hinaan' dari pak Jumbran yang saat ini ada di otak MD, sama persis dengan kelakuan pak Ubab sendiri.
Pak Ubab menatap kedua nya secara bergantian, seakan masih tak percaya. Saat tatapan nya menuju ke Iwan, Iwan menatap balik pak Ubab. Lalu menggelengkan kepala nya ke pak Ubab, Iwan tau bagaimana pun keras nya pak Ubab melarang. Itu tak akan merubah pendirian kawan nya tersebut.
Melihat hal itu pak Ubab melemaskan semua urat-urat nya, yang tadi hampir saja berteriak lagi untuk menceramahi kedua nya. Tapi melihat reaksi kedua nya dan Iwan yang memberikan isyarat dia mengalah dan diam. "Kami akan mencoba mengembalikan barang-barang bapak." Kata MD, sambil bangun dari duduk nya,
Pak Ubab pun berdiri seakan tak bisa berbuat apa apa. Dia hanya bisa berpesan agar mereka hati-hati saat didalam hutan nanti.
MD dan Iwan pun berpamitan kepada pak Ubab, karena sudah tak ada lagi informasi yang bisa digali dari pak Ubab.
__ADS_1
Pak Ubab pun mengantar mereka sampai ke teras sambil ber basa-basi sedikit. "Terimakasih Pak atas Informasi nya." Kata MD, sambil memalingkan tubuh nya berjalan kearah jalan.
Beberapa langkah sebelum keluar dari halaman rumah tersebut. Pak Ubab berteriak sedikit kencang memanggil mereka, "Nak MD!! Tunggu sebentar!" Teriak pak Ubab, sambil berlari agak sedikit cepat menghampiri kedua nya. "Ini terima lah!" Kata pak Ubab sambil memberikan dua bilah parang, penebang pohon. Ukuran nya sendiri tak besar, hanya saja nyaman dipakai buat merintis jalan yang banyak ranting atau rumput yang menghalangi.
Kali ini MD tak menolak dia langsung menerima pemberian pak Ubab, "Terima kasih pak, tapi ini saya akan kembalikan kalau misi ini berhasil." Kata MD, sambil menundukkan kepala nya sedikit dan langsung memalingkan tubuh nya dan lanjut berjalan ke arah jalan, begitu juga Iwan sudah mengikatkan parang yang ber kumpang tersebut di pinggang nya.
Hutan itu tidak begitu jauh dengan rumah pak Ubab hanya saja jalan nya begitu susah dijalani banyak bukit yang naik dan turun.
Matahari sudah ada di atas kepala mereka dan panas nya pun sudah mulai terasa, tapi kedua pemuda tersebut tetap berjalan. Sudah tiga bukit mereka jalani pada akhir nya sampai lah mereka dengan hutan, yang sudah membuat pak Ubab pingsan.
Wilayah hutan tersebut sangat lebat hanya menyisakan jalan setapak yang bisa dimasuki pejalan kaki, setelah istirahat sejenak mereka berlanjut berjalan. Lelah pasti sudah menyelimuti mereka, MD menyuruh Iwan menelpon pak Amat sebentar, lalu mereka lanjut berangkat.
MD Fokus ke depan dan Iwan melihat lihat belakang. Semakin masuk kedalam semakin pohon tak beraturan tercampur dengan tinggi nya rumput tinggi, Jalan setapak yang mereka lalui ada yang lurus juga ada yang berkelok. Setelah beberapa langkah dan menghabis kan waktu yang agak lama, akhir nya mereka sampai ditempat landai yang tepi jalan nya agak luas. Suhu di sana sangat dingin, karena pohon dan rumput yang menyatu memberikan nuansa dingin didalam hutan tersebut. Setelah menyapu pandangan beberapa lama, Terlihat lah penampakan rumput tinggi yang bercampur dengan rumput-rumput lain, saling condong kiri dan kanan nya membentuk piramid, dan didalam nya ada lorong kecil yang bisa dimasuki oleh manusia, ukuran MD dan Iwan
Tapi MD tak masuk, dia memeriksa kiri kanan tempat itu memang benar, kiri kanan nya hanya jurang yang berisikan rumput lebat. Lama MD menatap kebawah jurang tersebut, Iwan hanya memperhatikan apa yang kawan nya lakukan. Didekat lorong tersebut, terlihat samar ada rebahan benda besar berukuran panjang bulat, yang terbaring di sana dan seperti tergelinding keatas tapi sudah samar terlihat. Lalu MD melihat lagi kesebelahnya, persis sama dengan disebelah tadi, "Perlu alat berat melakukan ini, tapi tak ada jejak alat berat disini?" Gumam MD, menyudahi apa yang dia perhatikan tadi. Lalu menghampiri kawan nya yang ada didekat lorong tersebut. "Apa yang kau temukan ucap MD melihat Iwan yang dari mata nya selalu menatap kedalam lorong tersebut. "Aku seperti melihat sesuatu didalam sana. "Kata Iwan, setelah MD melihat-melihat ke sebelah liring-liring tersebut, dan saat itu mereka agak berjauhan dan setelah itu Iwan melihat kedalam lorong tersebut. "Benarkah!?" Kata MD, lalu MD juga menatap kedalam sana.
Di kejauhan di dalam lorong memang ada seluit hitam, tapi tak terlihat jelas karena sangat jauh. Iwan terpikirkan tentang apa yang dibicarakan pak Ubab beberapa waktu tadi, Lalu ingin mengatakan nya kepada MD.
Tapi MD sudah mengatakan nya dengan sedikit bergumam, "Sebuah corong TOA besar." Jawab MD, dengan nada pelan, karena di kejauhan terlihat kecil. Tapi MD sudah memperhitungkan kalau corong itu sama besar nya dengan tubuh mereka.
Hari sudah mulai beranjak dari siang nya matahari pun juga mulai turun perlahan walaupun masih di seperempat atas
__ADS_1
Saat mereka masih terdiam didalam sana
Bunyi suara tali ditarik seperti kerekkan sumur tapi lebih nyaring berbunyi bahkan ini sangat jelas berbunyi. Mereka berdua saling berpandangan seolah bertanya, apa yang terjadi. Hanya ada satu pilihan, mereka harus masuk kedalam lorong tersebut bagaiman pun cara nya supaya tau apa yang mereka dengarkan tadi itu.
MD mengeluarkan parang pemberian pak Ubab dan Iwan juga melakukan hal yang sama. Dengan sedikit menundukkan kepala nya sambil berjalan dengan hat-hati. Mereka memasuki lorong tersebut, sambil mengayun-ayunkan parang tersebut. Untuk menghilangkan hambatan yang ada didepan nya.
Lorong tersebut sangat lurus semakin mereka mendekat dengan corong tersebut. Angin di lorong tersebut sangat terasa membuat tubuh merasa segar, akan tetapi ada yang aneh. Lorong tersebut mulai memunculkan cahaya terang diujung nya, kedua nya sudah hampir sampai dengan corong itu ternyata benar corong tersebut sangatlah besar seukuran manusia yang berbaring dan kaki-kaki nya terbuat dari batang kayu yang besar.
Diujung lorong tersebut cahaya terang tersebut ternyata adalah langit. MD dan Iwan terkejut melihat itu, mereka seperti berada diujung bumi. Dengan hati-hati mereka keluar dari lorong tersebut, ternyata benar yang mereka jalani tadi adalah tepi jurang yang sangat dalam dan luas.
Sebuah lubang besar bekas tambangan yang masih beroperasi dan truk-truk pengangkut batu bara berkeluyuran di lereng jurang tersebut, sangat luas, bahkan seperti menelan dua buah perkampungan diarea itu. Tidak mau berlama-lama terpukau MD menarik tangan Iwan untuk bersembunyi ditepi lorong jalan, yang merupakan akses jalan keluar mereka tadi dengan berjongkok. mereka memperhatikan keseluruhan jurang tersebut dan tebing yang mereka tempati sekarang awal nya adalah bukit yang besar akibat penggalian terus-menerus akhir nya bukit itu menjadi tebing curam.
Dan disebelah tebing itu ada pos tempat para keamanan berjaga, corong yang dibelakang mereka adalah terompet tanda waktu saat para pekerja istirahat atau memulai bekerja.
Bersambung.
Kasus yang besar, kayak nya ini akan memakan waktu dan episode yang panjang, semoga tidak membuat para pembaca bosan.
Silahkan berikan ide atau saran buat kelanjutan nya terimakasih.
__ADS_1