DETECTIVE AMATIR

DETECTIVE AMATIR
piknik


__ADS_3

Bus mini melaju sedang, dijalan Tol yang banyak para pengandara juga ikut berlalu-lalang dijalan tol tersebut. Banyak gadis muda didalam Bus tersebut sedang bersenda gurau, beberapa sedang bernyanyi dan beberapa nya sedang sibuk dengan Handphone mereka.


Di Bagian depan ada Tiga laki-laki yang mengawasi mereka, yang sebentar-sebentar mata laki-laki itu menengok ke kaca spion diatasnya kadang dia menegur, kadang dia memberi arahan. Di kanan mobil ada Sopir paruh baya yang mengemudikan Bus ini, sudah satu setengah jam dia menyetir dan terlihat sekali urat-murat muka nya yang menandakan dia sudah berumur kepala empat. Tapi fokus nya dalam menyetir bisa diandalkan, dan hiruk-pikuk gadis-gadis tak membuat si sopir goyah menandakan bus yang Ia jalan kan tetap terkendali. Ditengah nya ada Iwan pria muda yang selalu mengawasi gadis-gadis di belakang yang menurut nya tidak wajar, kalau perilaku gadis itu bersuara nyaring saat diperjalanan. Atau membuat Onar didalam bus yang ukuran nya hanya beberapa rentang tangan saja. Dan disebelah kiri Iwan yaitu MD, muka nya lusuh bagaikan seminggu ini sudah bekerja keras. Padahal dia akhir-akhir ini cuma uring-uringan didalam rumah nya. Tapi entah kenapa muka nya sangat kelelahan.


Pagi tadi Matahari belum terbit, Iwan dan rombongan sudah tiba di rumah MD untuk menjemput dia. Tapi beberapa menit Iwan mengetuk pintu dan beberapa kali dia membuka Hapenya buat menghubungi kawan nya itu, tetap tidak berhasil. Setelah hampir setengah jam berusaha Iwan berhasil membangun kan MD yang muka nya awut-awutan saat membukakan pintu ke Iwan. Ingin sekali Iwan memarahi MD karena janji mereka beberapa waktu lalu sudah diiyakan oleh MD sendiri. Tapi melihat wajah kawan nya yang begitu, malah membuat perasaan Iwan aneh sendiri, dia mengurungkan niat nya. "Mana barang-barang mu? Kita berangkat!" Kata Iwan,


MD menggeser tubuh nya membukakan pintu lebih besar, dan menunjuk kearah sofa, cuma ada tas berukuran sedang cuma ada itu. Iwan bingung dengan itu cuma dia tak menggubris hal semacam itu, lalu mengambil tas nya menggendong tas dan berjalan ke arah pintu keluar. MD mengekor dibelakang setelah mengunci rumah nya, setelah itu bus mini pun berangkat meninggal kan pekarangan rumah MD.


Dan sekarang diperjalanan, muka MD masih sama mata nya sayu muka nya datar seperti boneka yang tak bernyawa. Melihat keadaan seperti itu Iwan ngeri sendiri, sudah lama berteman baru kali ini dia melihat MD seperti begitu. Tapi Iwan malas berkata-berkata, lagi pula dia sudah sering melihat tingkah aneh kawan nya tersebut. Jadi kali ini dia memang merasa ada yang aneh, tapi biasa saja. Lagi pula beruntung saja dia mau menemani nya menjaga anak-anak remaja dibelakang nya ini. Kalau tidak sudah pasti dia akan kesunyian kalau tidak ada kawan yang menemani.



Dua jam empat puluh menit baru lah mereka sudah sampai di Vila keponakan nya Iwan. Villa yang sangat besar didirikan diatas bukit yang luas, halaman nya luas banyak tanaman hias berbaris didepan rombongan. Seakan sudah siap menerima tamu, para rombongan masing-masing mengeluarkan Hape mereka untuk mengabadikan momen itu.


Setelah beberapa lama terpana, Iwan berseru kepada rombongan nya. "Lebih baik kita masuk kedalam Vila! dan Bereskan semua barang-barang kalian. Dan atur dimana saja kalian mau tidur, tapi tetap jaga satu sama lain, jangan ribut, Oke!" Kata Iwan nyaring. "Oke!" Kata para remaja gadis itu serempak.


Lalu mulai mengemasi barang-barang mereka, rombongan itu terdiri dari 13 orang; 11 perempuan dan 2 orang laki-laki


Tinggal lah dua sahabat itu dihalaman yang luas tersebut. 'Hey! apa kamu baik-baik saja?" Kata Iwan, mengkhawatirkan kawan nya itu yang dari tadi sedikitpun tak mau bicara. MD mengangguk dan melepaskan Tas nya lalu membuka tas nya tersebut. Dia merogoh dalam, kedalam tas nya lalu mengangkat benda didalam nya.


"Ini pakailah!" Kata MD ke Iwan memberikan kaos yang diberikan ibu Widia beberapa waktu lalu. Sambil terheran dan sedikit terkejut. Iwan mengambil kaos tersebut, "Ini punya mu kan? Kenapa kamu berikan kepada ku?" Tolak Iwan, yang masih memegangi kaos tersebut. "Pakailah, Kan kaos nya juga ada beberapa, kamu juga menyaksikan nya. bukan," Kata MD, "Baik lah' terimakasih," Ucap Iwan tersenyum, lalu menepuk bahu kawan nya itu menyuruh masuk kedalam Vila mewah didepan mereka. MD hanya mengangguk lalu masuk bersama-sama kedalam vila itu.

__ADS_1


Villa tersebut, didepan nya saja sudah ada pilar besar yang menjulang tinggi menahan langit-langit rumah, dengan gagah nya. Pintu nya terbuat dari kayu jati, dan besar pintu tersebut empat kali lebih besar dari ukuran tubuh MD dan Iwan. Setelah masuk kedalam villa nya, ruangan nya seperti lapangan futsal, sangat luar biasa luas. Dan dipojok-pojok nya ada kamar-kamar seperti menjaga ruangan tersebut di kiri kanan nya. Di samping pintu ada tangga besar yang melengkung keatas menuju lantai Dua, villa itu.


Iwan sebenar nya ingin mengajak MD keatas lantai dua, tapi dia memilih untuk kawan nya itu istirahat dulu, disalah satu kamar yang disediakan. Dia mengantar MD di salah satu kamar dilantai bawah di villa, MD yang mengekor dibelakang cuma ikut. Seakan dia Sapi yang di colok hidung nya lalu ditarik. Beberapa langkah sampai lah Iwan dikamar yang ia rasa cocok buat MD, "Masuklah, istirahatlah dulu. Saat kamu sudah lebih baik, kamu bisa membantu aku," Ucap Iwan


MD hanya mengangguk dan dia berucap, "Jangan lupa dipakai kaos itu! Itu sangat penting," kata MD. Iwan pasti nya heran, dengan apa yang diucapkan MD. Tapi sekali lagi karena persahabatan mereka yang lama, membuat Iwan ikut saja apa kata MD, dan akan memakai nya sehabis mengantar MD ini, memakai kaos itu tak akan membuat nya rugi juga.


Waktu sudah berlalu berjam-jam, Iwan yang menjaga gadis-gadis itu duduk di taman yang jauh dengan para gadis tersebut. Tugas dia disini dia menjaga bukan untuk bersenang-senang, menurut nya kalau dia ikut bersenang-senang, itu bukan tugas tapi memang dia nya aja yang tidak rela melihat orang bersenang-senang lalu ikut. Tapi dia buang jauh-jauh hal semacam itu, dan tetap teguh pada pendirian nya.


Beberapa jam ini tidak ada apa-apa yang terjadi, suara gadis langsung memecah keheningan. "Kak Iwan! kata Ibu tadi dia berpesan' bahwa pembantu dan tukang kebun, besok baru sampai kesini! Kerumah ini, jadi kakak kita malam ini gimana?" Kata gadis itu, dan gadis tersebut iyalah keponakan Iwan sendiri yaitu Lusi anak kesayangan paman nya.


Sejak lahir Lusi selalu dibimbing ibu Iwan jadi dia lebih senang tinggal bersama Bibi nya tapi juga bukan berarti dia tidak sayang dengan Papa Mamanya, hanya saja dia senang dengan bibi nya yaitu ibu Iwan.


Dan mengiyakan, apa yang Iwan jelaskan tadi. Iwan tersenyum dan manggut-manggut men dealkan apa yang sudah disepakati.


Tiba tiba kawan Lusi sambil berlari datang ke Iwan, "Hape ku hilang kak! Bagaimana ini?" Kata nya gelisah, Iwan yang baru saja sudah bisa memecahkan masalah, langsung datang lagi masalah yang lain.


"Tadi menaruh nya dimana kamu?" Ucap Iwan sambil menatap gadis itu.


"Tadi saya taruh di Tas ini, dan photo-photo bersama mereka. Setelah selesai, saya taruh di Tas saya ini," Kata nya sambil menenteng Tas nya, dan membuka buka tas nya lagi menyatakan kebenaran bahwa Hape nya hilang.


Iwan langsung menatap semua kawan-kawan gadis yang kehilangan Hape nya itu. "Ini hari pertama kita di villa ini, jangan buat hal yang aneh' kalau memang kalian saling menjaga teman. Kalian tidak akan berbuat yang aneh-aneh bukan," Kata Iwan, sambil menatap semua nya sambil berkeliling, mata nya menatap gadis-gadis tersebut. Seperti guru yang mengintropsi anak murid nya.

__ADS_1


"Tentu tidak!" Kata mereka serempak. "Aku akan memeriksa semua yang ada di Tas kalian, tidak ada kata tidak! Harus patuh demi berlanjut nya acara ini." Kata Iwan, seperti sangat terampil akan hal seperti ini, karena dia sering melihat MD melakukan interogasi. Bahkan lebih kejam menurut nya saat MD melakukan interogasi.


Lusi diperintah Iwan untuk mengumpulkan Tas mereka dan memeriksa semua tas mereka.


Gadis-gadis itu saling berbisik, dan masing-masingnya sama sekali tak melakukan hal itu. Dan gadis yang kehilangan Hape nya, begitu gelisah.


Iwan terkejut ketika bahu nya ditepuk oleh MD, "Nampak nya ada yang seru?" Kata MD. Iwan langsung menjawab "Ada yang berbuat iseng," Kata Iwan. Mendengar hal itu MD manggut-manggut wajah nya tidak lagi aut-autan, dia kembali seperti biasa nya. Dan menatap semua gadis itu dalam tiga kali lirikan. "Ini menarik' boleh kah kita mengintrogasi si korban? Nampak nya dia bukan korban biasa," sambil berbisik ke Iwan.


"Apakah kau sudah tau?" Kata Iwan, sedikit terkejut. MD hanya tersenyum lalu dia menyuruh Iwan untuk membubarkan para gadis tersebut. Tetapi korban ditahan mereka berdua, Dan Lusi tetap bersama mereka juga. Semua teman-teman Lusi sudah berada di dapur, setelah diberi arahan oleh Iwan. Dan MD juga Lusi sudah ada bersama korban. "Siapa nama kamu dek?" Kata MD, dengan tenang seolah mau memberikan nasihat, dia membesarkan sedikit berat suara nya. "Nama aku Ayu kak," Dengan malu-malu gadis itu menjawab, "Aku tau dari teman ku, juga keponakan nya bahwa Hape kamu hilang?" Kata MD sambil menyandarkan pinggang nya ke sandaran kursi dibelakang nya.


"Iya kak, padahal dari tadi saat photo-photo Hape nya masih ada, tadi aku menaruh nya di Tas, saat ku tinggal agak jauh, untuk berphoto Di hape kawan yang lain. Setelah selesai mau liat-liat photo, malah hape nya sudah tak ada!" Kata nya menjelaskan dengan agak gelisah, bahkan dia beberapa kali meneguk air liur nya.


Lusi hanya diam bahwa dia tak tahu-menahu karena lagi berbicara dengan Iwan pada saat itu. Jadi dia diam, karena memang tidak ada yang bisa Ia katakan.


"Kira-kira menurut kamu, berapa detik waktu yang kamu habis kan, dari Tas mu menuju teman-teman mu tadi?" Tanya MD.


Sambil mengatupkan bibirnya, dan bergumam ria, lama baru dia menjawab. "Sekitaran sepuluh detik kak," Heran Ayu, dengan pertanyaan MD.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2