DETECTIVE AMATIR

DETECTIVE AMATIR
hadiah dari ibu pejabat


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu. Dengan kasus pencurian Hewan yang berakhir. Dengan tertangkap nya orang penting di kota ini. Akibat semua itu dunia berita, seakan sedang hujan lebat karena dimana-mana. Semua berita dari per Televisian Analog dan surat kabar. Apa lagi media sosial memberitakan akan hal itu. Yang lebih parah, semua memburukkan Pejabat tersebut.


Banyak yang mencacinya. Seolah dia adalah Manusia paling bersalah dimuka bumi ini. Begitu lah keadaan Manusia kalau sudah melakukan kesalahan. Karena sudah tertimpa masalah, yang awal nya pejabat itu adalah seorang wakil Wali kota. sekarang dia berbaju Oranye dan Borgol ditangan nya.


Berita di Tv juga membuat wawancara terhadap pihak kepolisian. karena polisi kota ini, sangat ahli dalam melakukan tugas nya. Pak Jumbran sebagai kepala kepolisian. Sebagai Juru bicara kasus tersebut pun, hadir memberikan keterangan nya. Tentang perihal kasus yang awal mula nya biasa saja. Bahkan Media pun seperti nya enggan nenilisik tentang kasus itu. Tapi pada akhir nya bisa sebesar itu.


Pak Jumbran memberi kan keterangan nya dengan sangat detail. Tapi juga di bumbui dengan sedikit kebohongan. Karena dia menjaga privasi seseorang yang telah membantu nya. Sedikit pun Nama Pemuda yang pernah dipukuli puluhan orang penjahat bersama teman nya. Yang juga ikut serta juga tidak pernah keluar ucapan di Mulutnya.


Untuk ibu widia yang ternyata istri dari pejabat tersebut. Sama sekali tak Terekspos oleh media karena berkat bantuan MD. Ibu itu selamat dari Cecaran manusia-manusia dengan mulut tajam mereka.


Beberapa hari sebelum satu Minggu ini berlalu. MD memberikan keringan kepada ibu tersebut, melewat siapa lagi kalau bukan Pak Jumbran dengan fakta-fakta yang sudah ada. Dengan syarat, semua milik dari pejabat yang terlibat. Untuk uang, dan pasilitas diambil oleh Negara. Dengan begitu semua Media tidak akan berpikir tentang Keluarga si pejabat. Walaupun ada mereka tidak akan mengatahui dimana Istri pak Pejabat saat ini. Karena semua yang terlihat diluar sangat menyilaukan mata mereka. Sekaligus membuat Media jijik tentang hal itu.


Jadi ibu Widia meng Iyakan karena dia sangat malu. Kalau sampai dia juga ikut terlibat dengan kasus tersebut. bahkan dia tak tahu apa-apa tentang apa yang sudah diperbuat Suami nya. Saat ini ibu Widia berdiam ditempat di lorong yang sekitaran seminggu kemaren gelap menjadi terang dan benderang. Setelah diubah menjadi tempat layak huni oleh nya bersama pembantu nya. Dan Ibu Widia juga pernah menyuruh MD untuk mampir kerumahnya tersebut. Tapi masih belum MD iyakan karena dia ingin istirahat dirumahnya sendiri. Yang mana dia lebih suka sendiri saat sedang berdiam diri atau santai.


MD yang melihat berita di hape nya sangat bosan karena tidak ada sama sekali hal baru yang bisa iya tonton dia mematikan layar hape nya dan menaruh nya di atas meja


Sambil menguap dia terpikir, "Kalau begini terus! Otak ku bisa mati rasa dan membatu." Kata MD.


Beberapa detik kemudian pintu rumah nya diketuk Seseorang. Dengan malas MD bangun dari sofa nya yang berbentuk siku-siku, menempel dipojokan dinding. "Perasaan tak enak apa ini?" Kata MD, menghampiri pintu dan membuka nya.


"Hai!" Kata seseorang,


Belum sempat pintu terbuka lebar, sudah muncul kepala Iwan menyembul dari daun pintu.


"Kenapa lama sekali? Aku sempat lemas berdiri!" Kata Iwan, membuat lelucon yang sebenar nya tidak lucu.


MD dengan Wajah malas nya cuma terdiam didepan pintu yang terbuka. Iwan tanpa permisi langsung masuk. Begitu lah keadaan kedua nya kalau mereka lagi berdua. Moral kedua nya tidak bisa di adaptasikan, ke keadaan untuk jadi tamu dan menerima tamu.


"MD! Apakah kamu sibuk untuk minggu depan?" Kata Iwan. Sambil menaruh pantat nya ke sofa yang tadi duduki MD. MD yang melihat itu cuma bisa menerima apa ada nya. Dia sangat ingin duduk ditempat nya semula. Tapi sudah lah tidak mungkin juga Iwan mau berpindah tempat lagi


"Sebenar nya Aku ingin bertemu dengan Ibu Widia, beberapa hari ini." Kata MD, menyahut sekali lagi dia mengambil Hape yang terletak di atas meja. dan membuka kunci nya. bahkan sambil bicara tadi dia tak menatap Muka Iwan. "Ada apa dengan beliau?" Kata Iwan, menyambung ucapan MD.


"Aku disuruh untuk mampir ke sana. Ada hadiah buat ku, sebagai ucapan Terima kasih." Kata MD Iwan melihat langit langit rumah MD terus mengerjap kan mata nya dan berucap kembali, "Benarkah? Apa aku boleh ikut! Karena aku tidak pernah bertegur sapa dengan beliau." Ucap Iwan, dengan nada meminta. "Sebenar nya cuma Aku saja yang disuruh!" Kata MD. Sambil memberikan Handphone nya ke arah Iwan.


Iwan yang melihat apa yang dilakukan MD pun. Melakukan hal yang sama untuk mengambil handphone tersebut. Handphone yang sudah terbuka layar nya tersebut pun, terlihat Chat ibu Widia. Dan MD yang cuma membalas chat itu dengan ketikan, "iya, Bu." Kepada Ibu Widia.

__ADS_1


"Apa kau ingin ke sana? Mumpung aku membawa kendaraan Ku!" Kata Iwan, Memberikan solusi. MD menatap Wajah kawan nya tersebut heran, lalu menjawab nya juga. Tapi dengan menanyakan hal lain yang membuat Iwan sering terkejut.


"Kamu memang nya, mau nya apa bro? Kalau ada yang dibicarakan. Bilang saja? Terlihat sekali ada yang disembunyikan!" Tegas MD.


Iwan hanya pasrah. Dia sebenar nya ingin membuat suatu kejutan untuk MD. Tapi tidak jadi karena kalau masalah menilai seseorang, sahabat nya ini tidak bisa didustakan. Iwan menghela napas lalu menghembuskan nya. lalu berucap, "Keponakan ku mengajak kita berdua. Untuk menginap diVilla Ayah nya. Karena satu minggu kedepan, keponakan ku ini akan libur dari kuliah nya." Kata Iwan menjelaskan, lalu Iwan berucap lagi. "Sebelum kamu membahas masalah orang tua nya. Aku memang disuruh, atau kita berdua disuruh. Menjaga Keponakan ku itu, dan sekaligus menjaga teman-teman nya." Kata Iwan, langsung berucap lagi kepada MD.


Benar saja, MD juga sudah berpikir. Kenapa tidak orang tua nya saja yang ke sana. Dan menjaga anak mereka, kan lebih aman. "Kemana orang tua dia?" Kata MD. Menanyakan hal yang sedikit privasi ke Iwan.


"Kerja Bro, dan biasa nya. Baru pulang sampai Akhir pekan." Kata Iwan, memberikan alasan nya. "Gimana MD? Apakah kau mau?" Kata Iwan. Sekali menegaskan keinginan nya.


MD terpikir. "Pantas saja! Dia mau langsung mengajak ku, ke rumah Ibu Widia. Ternyata ini alasan nya!" Kata MD, dalam hati. Setelah berpikir sejenak MD tanpa berucap apa pun. Langsung ke kamar nya dengan jalan yang agak cepat. Melihat itu Iwan langsung senang, entah kenapa persahabatan yang mereka jalin selama ini koneksi nya. Bagaikan koneksi Internet yang sangat bagus.


Iwan melihat kawan nya sudah hilang ditelan kamar nya. Lalu Iwan pun tanpa pikir panjang, langsung berdiri dan menuju ke arah luar rumah. Untuk memutar kendaraan nya yang terparkir dihalaman rumah MD.


Beberapa menit kemudiaan. MD siap dengan setelan baju sederhana nya. Melihat teman nya sudah tidak ada. Dan mendengar suara kendaraan yang sudah berbunyi. Akibat Mesin yang bergerak di di Jantung nya. Tapi belum bisa berjalan karena Operator nya sedang menunggu seseorang, yang mau dia antar.


Beberapa menit kemudian mereka sudah melaju. Enak nya Angin saat melajukan kendaraan, Iwan tidak pedulikan. Dia terus berjalan memutar Setang berkaret Hitam di bawah tangan nya. Semakin dia putar, Semakin melaju juga kendaraan tersebut.


Iwan sangat ingin bicara saat dia mengemudikan kendaraan nya. Tetapi dia urungkan karena suara Angin yang berhembus Menampar-nampar Wajah nya. Membuat nya tidak jadi, dan fokus terus. Dengan jalan yang dijalani pengendara lain juga.


Tibalah MD dan Iwan. Ke gang yang sangat kecil, bahkan untuk menjalankan kendaraan pun. Kalau Ber selisihan tidak muat. MD seperti mengulang waktu beberapa hari yang lalu. Sedang bejalan ditempat ini. Tapi sekarang tempat itu berbeda dan jauh lebih terang dari biasa nya. Sekarang juga ada lampu-lampu jalan yang mengarah kesatu rumah. Yang berwarna Putih bersih, dan didepan rumah nya banyak pot bunga. Menandakan orang yang didalam rumah sangat suka tanaman-tanaman Hias.


Saat sudah dekat mereka bersalaman. MD tak banyak bicara dia hanya mengangguk dan mengiyakan. Hari ini pun pertama kali nya Iwan bertemu secara Empat mata dengan ibu Widia. Tak seperti ibu-ibu lain nya, Ibu Widia ini sangat menjaga penampilan nya yang elegan dan mewah. Walaupun Suami nya sudah dikurung didalam Lapas, di daerah perkotaan ini. Sama sekali tidak menyurutkan gaya berpakaian nya.


Setelah dipersilahkan masuk. MD dan Iwan kali ini menjaga moral mereka saat bertamu. Di depan orang sangat sopan, bahkan kalaupun ada yang melihat mereka seperti saat dirumahnya MD tadi. Pasti tidak akan mengenali mereka kalau mereka seperti ini.


"Selamat datang dirumah Kecil ku ini! Terimakasih! Sudah mau mampir!" Kata ibu Widia. Dengan lemah lembut dan Muka senang. Bukan karena apa-apa, hanya saja dia sangat berterima kasih kepada MD. karena MD lah yang menyelamatkan harga diri nya saat kasus pencurian Hewan tersebut terbongkar.


"Oh, tidak apa apa Bu. Malah kami yang sangat berterima kasih kepada Ibu. Karena sudah diijinkan masuk kerumahnya ibu!" Kata MD dengan sedikit meninggikan suara nya.


"Baguslah, kalau begitu." Ucap, ibu Widia sambil tersenyum.


"Oh iya Ibu! Perkenalkan Nama saya Iwan kawan nya MD," Kata Iwan. Sambil mengulurkan tangan nya. Ibu Widia mendengar hal itu. Langsung menyambut tangan Iwan bersalaman. "Saya Widia. Terima kasih sudah mau mampir." Kata Ibu widia lagi-lagi dengan Muka senang nya.


Kemudian, ibu Widia mempersilahkan mereka duduk disofa panjang. Yang ada dipojokan Ruang tamu dirumahnya tersebut.

__ADS_1


MD sekilas melihat sesuatu yang terlintas pandangan nya. Seperti histori di otak nya, teringat perkataan Udin anak buah Pak Jumbran. Kalau diruang tamu ini ada satu Set pisau.


MD langsung menyadarkan diri nya setelah beberapa detik terlintas itu. Tapi dia tau bahwa rumah ini sangat berbeda dalam nya. Tidak seperti gambaran Udin waktu itu. Dan tentu saja itu sudah seminggu yang lalu.


Beberapa menit setelah nya. Mereka sudah menghabiskan waktu berbincang di sana membahas semua nya yang belum sempat ibu Widia ceritakan ke MD dan Iwan.


Saat dalam obrolan. MD memotong pembicaraan itu. "Ibu apakah ibu memborong, semua makanan Hewan yang ada di toko makanan Hewan itu?" Kata MD. Tanpa jeda yang lama dia menyambung kata-kata nya lagi, "Karena sangat tidak Relevan, semua yang dibicarakan oleh penjaga toko. Ibu memborong semua nya. Tapi, tanpa bantuan siapa pun?" Kata MD, mulai ber Analisa ria.


Ibu Widia sambil mengingat kejadian tersebut, juga langsung menceritakan apa yang terjadi waktu itu. "Sebenar nya iya! Tapi, yang sebenar nya terjadi adalah, Saya sama sekali tidak membawa nya, cuma memborong nya. Dan nak MD pasti tau? Pasokan makanan nya sudah habis. Dan saya cuma bicara kepada Penjaga toko tersebut. Agar bilang kepada semua orang! Bahwa makanan tersebut habis! Untuk beberapa saat. Itu saya lakukan hanya ingin memancing Suami saya." Kata ibu Widia, menjelaskan apa yang sebenar nya terjadi.


MD manggut-manggut, lalu dia berkata dalam hati nya. "Ternyata begitu kejadian nya! dan memang setelah nya. Ada orang yang ingin membeli nya." Terpikir oleh MD. "Sebenar nya ibu ini mempunyai Strategi yang bagus!" Kata MD, dalam Hati nya.


"Ibu Widia, bagaimana dengan kepemilikan rumah ini?" Kata MD, berbicara kembali.


"Saya Negosiasi kepada pihak kepolisian. Ternyata saya masih bisa memiliki tanah, dan perumahan ini. Karena ini memang murni uang hasil pendapatan Suami saya. Tanpa ikut campur Uang Haram tersebut." Ibu widia, menjelaskan.


Pembantu ibu Widia datang membawakan Satu kotak, yang tampilan kotak tersebut. Seperti kotak sepatu tapi lebih besar. Dan menyerahkan kotak itu kepada MD.


"Ini ada sedikit Hadiah. Karena nak MD sangat berjasa ke saya." Kata Ibu Widia sambil menyodorkan kotak tersebut, ke hadapan MD. MD memegang kotak tersebut. Dan memegang kotak tersebut.


Ibu Widia teringat kata-kata Pak Jumbran. Saat dia keluar dari kantor kepolisian. Bahwa Anak ini kelak menjadi seseorang yang sangat Jenius kelak nya.


Tanpa pikir panjang. Iwan yang melihat MD yang cuma memegang kotak tersebut. Langsung mengambil kotak tersebut dari hadapan MD. Lalu perlahan membuka nya tanpa persetujuan MD sendiri. Iwan setengah terkejut dan heran melihat isi kotak tersebut. Itu adalah kaos Tentara, tapi saat didalam kotak yang cahaya tak banyak masuk, Kaos itu langsung berkilauan. MD juga langsung menengok Kaos tersebut. Lalu mengambil nya, "Ini kaos Tentara anti peluru! Yang didesain khusus buat Tentara khusus." Ucap ibu Widia dengan serius.


Kedua sahabat itu langsung berpandangan satu sama lain. Iwan yang merasa ini terlalu hebat, untuk dipakai oleh bocah-bocah seperti mereka. Dua pasang kaos tersebut ada didalam kotak tersebut. "Ibu ini terlalu berlebihan." Kata MD, sambil meletakkan kaos tersebut lagi.


"Tidak apa-apa. Ini Saya memberi nya secara Sukarela. Karena nak MD juga telah membantu saya, itu juga sangat berarti bagi Saya." Jelas Ibu Widia, dengan senyum tulusnya kepada Bocah dihadapan nya itu.


"Ini bukan uang, dari itu kan bu!" Kata Iwan tanpa basa-basi. Karena dia masih tidak percaya.


"Oh tentu! nak MD dan Nak Iwan, tak perlu khawatir. Karna ini semua, adalah hasil jerih payah saya sendiri. Tanpa ikut campur masalah uang haram Itu!" Kata Ibu Widia.


Iwan pun lega mendengar hal itu, MD cuma diam karena dia sudah tau itu.


"Baik lah bu. Kami mau pamit! Dan Terima kasih banyak. Atas jamuan yang sudah ibu berikan." Kata MD. Sambil berdiri perlahan, dan menyalami ibu Widia begitu juga Iwan.

__ADS_1


Sambil berbincang bincang mereka sudah ada diteras rumah. Iwan yang sudah siap di kendaraan nya, menunggu MD dengan kotak hadiah yang dibawa nya. Kedua nya berpamitan dan menghilang dilorong yang dulu nya gelap. Sekarang sudah seperti gang kekinian yang terang benderang.


Bersambung.


__ADS_2