DETECTIVE AMATIR

DETECTIVE AMATIR
FLASHBACK KE DUA


__ADS_3

Iwan melanjutkan cerita nya dan sambil mengingat kejadian yang sangat mendebarkan itu. Ribut-ribut diluar rumah semakin mendekat kevilla dan suara orang teriak-teriak juga terdengar sampai kedalam villa, orang yang berada didalam villa langsung memasang telinga mereka mendengarkan itu suara teriakan itu semakin nyaring terdengar. "KURANG AJAR KAU!" Teriak orang itu, pintu depan villa terbuka berbarengan dengan terpental nya pak Ihsan melalui pintu depan tersebut sampai kearah sofa yang diduduki oleh keluarga pak Amat dan para gadis-gadis tersebut, terutama gadis-gadis yang berada melihat kejadian tersebut langsung berteriak histeris.


Iwan tak tinggal diam dan menghampiri pak Ihsan, "Pak Ihsan! ada apa ini!" Kata Iwan sambil membangunkan pak Ihsan yang bibir nya berdarah dan batuk-batuk akibat keributan diluar. "Gawat Mas! mereka mencari anda dan kawan anda!" Ucap pak Ihsan sambil batuk-batuk. Mendengar hal itu Iwan langsung bangkit dari jongkok nya dan langsung menuju pintu depan, sebelum sempat sampai kepintu tersebut, dua satpam yang lain juga terlempar kearah pintu depan, satu kesebelah kanan pintu dan yang satu nya kiri pintu, pada akhir nya pintu itu terbuka lebar, saat itu juga Iwan melihat para petugas tambang sama persis dengan yang dia lihat saat menyusup kearah tambang kemarin. Iwan sebenar nya sempat kaget dengan itu, karena mereka tau villa ini dan yang Iwan yang khawatirkan adalah orang-orang yang ada didalam ruangan villa.


Beberapa saat berpikir tiba-tiba di arah tengah kerumunan para petugas tambang, ada seorang yang sangat besar badan nya bersembunyi dibalik jas nya, Iwan terbalalak melihat orang tersebut, orang besar itu juga menatap Iwan heran. Iwan bergumam dalam hati, "Dia orang yang sangat mirip dengan photo yang ada di dinding pak Ubab, siapa dia?" Gumam Iwan, dan tanpa berlama-lama Iwan mengerjapkan mata nya menyadarkan diri nya. Lelaki besar itu lalu berbicara, "Dimana orang yang bernama MD!" Ucap nya garang sampai pelosok ruangan itu penuh dengan suara nya.


Iwan yang berada didepan mereka langsung menjawab dengan lantang nya, "Dia tidak ada disini dan kenapa kalian menyerang villa ini dan petugas disini!" Ucap Iwan dengan tegas, petugas tambang dan kawan-kawan nya langsung tertawa keras seolah mereka sedang berhadapan dengan bocah ingusan yang sedang sakit-sakitan, "HEY, BOCAH INGUSAN JANGAN MENJADI SOK PAHLAWAN!! BOS KAMI BERTANYA!! JAWAB PERTANYAAN NYA!!" Teriak petugas itu, Iwan pun tanpa pikir panjang dia menjawab, "Apa kalian tuli! Yang nama nya MD tak ada disini!" Kata Iwan masih menyembunyikan Fakta tentang keberadaan MD.


"Tangkap bocah ini!! Dia bocah ingusan tak tau adab sama orang tua!!" Suara nyaring dari petugas tersebut. Beberapa orang langsung mendekat kearah Iwan, Iwan sebenar nya sudah yakin tak bisa melawan mereka walaupun bisa, dia tak akan sanggup bertahan dengan tenaga nya sekarang tapi dia, bertaruh dengan cara lain. Saat para petugas itu mendekat dan ingin menangkap leher Iwan, Iwan menginjak sepatu salah satu petugas tersebut dengan keras hingga yang punya sepatu sangat kesakitan, melihat hal itu para penjaga geram dengan olah Iwan dan langsung memegang kerah leher Iwan. Iwan dengan cepat menendang ************ petugas tersebut hingga genggaman nya terlepas dan kesakitan sambil memegang ************ nya. Tak tinggal diam para petugas yang lain masing-masing dari mereka menyerang Iwan, Iwan sendiri mencoba lepas dari serangan mereka tapi apalah daya satu dua orang mungkin bisa hadapi tapi kalau sebanyak itu sudah jelas Iwan langsung terlempar kearah sofa, semua gadis berteriak lagi, dengan histeris dan ketakutan.

__ADS_1


Sang lelaki besar tersebut yang sudah disebutkan oleh Udin dengan nama Reza yang mempunyai tambang ilegal, mendekati Iwan dan jongkok dihadapan Iwan yang ingin bangun dari terlempar nya tadi, "Kau teman nya MD benarkan, sekarang katakan, dimana MD berada." Sambil memegang dagu Iwan, tiba-tiba tangan kasar orang tua langsung memegang tangan Reza dan melepaskan tangan Reza dari dagu Iwan, "Jangan lakukan itu brengsek!" Kata pak Amat, memegang tangan Reza dan menghempaskan nya kesamping Reza. Tapi pak Amat tak bisa berbuat apa-apa moncong senjata api langsung berada disamping kepala nya, "SEKALI LAGI KAU MELAKUKAN ITU KEPADA BOS!! KEPALA MU AKAN PECAH PAK TUA!!" Teriak Anak buah Reza dengan nyaring, melihat hal itu, Iwan langsung mencoba bangun dan mengancam Reza, "Jangan lakukan hal itu! Sedikit saja kau melukai dia, kau juga akan merasakan hal yang sama!" Ucap Iwan dengan membangunkan diri nya.


"Nyali mu besar juga bocah!" Ucap Reza dan melanjutkan kata-kata nya, "Sekarang bilang dimana MD itu." Kata Reza sambil mendekatkan diri nya kearah Iwan. "Kalau kau tak mau menjawab maka mereka semua akan satu-persatu akan kami habisi." Ucap Reza dengan sangar.


"IKAT MEREKA SEMUA!! TANPA TERKECUALI! TERMASUK BOCAH INI, KALAU DIA MACAM-MACAM SIKSA GADIS-GADIS ITU ATAU ORANG TUA ITU!!!" Kata Reza kasar dan suara nya menggelegar sampai keruangan dapur villa.


Iwan tak bisa berpikir dengan jernih sekarang, karena kalau dia berbuat yang macam-macam maka nyawa keluarga nya dan teman-teman Lisa dalam bahaya, para gadis-gadis menangis dan ditodongkan senjata kearah muka mereka, Lisa dan ayah-ibu nya diikat bersama dengan tali yang dikelilingkan kearah Ibu dan Ayah Lisa dan Lisa juga ada ditengah-tengah mereka dia tak mau berpisah, alhasil mereka bertiga diikat bersamaan.


"BRENGSEK KAU BOCAH!!" Kata salah petugas tambang sambil menembakkan senjata api nya kearah Iwan tepat dihadapan Iwan semua orang berteriak terkaget-kaget karena itu, apalagi gadis-gadis yang sangat histeris menambah kengerian yang sedang terjadi, akan tetapi nyata nya tak terjadi apa-apa peluru itu tak mengenai Iwan, hanya saja tepat dihadapan Iwan yang berlutut keramik nya terbongkar akibat tembakan beruntun tersebut. Iwan juga sangat kaget dia tak mengira dia akan selamat karena itu. "SEKALI LAGI KAU BERKATA KASAR, KEPADA BOS. BOCAH SEPERTI MU TAK AKAN MEMPUNYAI KAKI LAGI!!" Teriak petugas itu dengan kasar sambil menendang-nendang pinggang Iwan. Iwan hanya bisa meringis kesakitan akan itu, Tiba-tiba lampu didalam villa mati semua, merasa itu kesempatan baik Iwan berusaha berdiri, tangan nya yang terikat pun, Iwan mencoba mengalihkan tangan nya kedepannya, setelah berhasil dia lalu melihat seluet senjata yang mengkilap, Iwan tak ingin membuang kesempatannya. Dia langsung menyerang dengan membungkukkan badan nya dan mengarahkan siku nya kearah lawan yang didepan nya dengan kuat dan cepat, dia tak perduli dengan rasa sakit nya yang jelas dia sedang berusaha, dia berteriak dengan keras dan pada akhir nya kedua nya menghantam dinding jendela villa membuat jendela itu remuk dan pecah. Tak habis karena itu dia langsung menghajar petugas itu dengan tangan nya yang terikat, dia tak perduli dengan menangkupkan tangan nya dia terus menghajar petugas tersebut.

__ADS_1


Terdengar tipis-tipis bunyi pelatuk senjata yang ingin ditembakkan, Iwan tak sempat berpaling senjata itu sudah berbunyi akan tapi bunyi tembakan nya terdengar seperti mengenai sesuatu tapi bukan badan Iwan, melainkan MD yang sudah ada dibelakang Iwan menahan tembakan tersebut dengan tubuh nya. "Selanjut nya seperti yang sudah MD jelaskan Mas." Ucap Iwan, dengan mengakhiri cerita nya, Udin masih menulis rangkuman nya dengan serius seperti sedang ujian kelulusan sekolah, setelah nya dia lalu mengangguk-nganggukan kepala nya.


Udin yang mendengar cerita Iwan langsung menanyakan dan terkaget-kaget dengan status pelaku yang bernama Reza itu, "Sungguh diluar nalar! Kasus ini seperti gelang Mas!" Ucap Udin, sambil melihat-lihat lagi buku kecil nya yang sudah dia tulis.


"Benar sekali! Sebetul nya kasus ini masih akan berlanjut kalau MD tau Mas, soal nya dia cuma tak ingat bahwa laki-laki besar itu pernah dia lihat photo nya dirumah pak Ubab, mengenai Reza ini saya tak bisa banyak bicara tentang perjalanan hidup nya karena saya juga baru tau, tapi yang jelas sedikit saja salah dalam bertindak kami berdua sudah tak bisa diselamatkan." Ucap Iwan, sambil melihat ke kaos yang juga berlobang sebesar biji kacang di bahu nya.


Udin juga menatap baju itu, cuma bisa menggelengkan kepala nya dia hanya tak terpikir betapa bahaya nya mereka saat itu, sebagai pelindung masyarakat Udin merasa gagal saat ini. Karena tak dapat membantu masyarakat yang kesusahan. Lalu dia menoleh kearah Iwan dan terlihat bahu Iwan yang lebam-lebam seperti kartu domino balak tiga, "Mas bagaimana keadaan Mas sekarang?" Kata Udin, mengkhawatirkan Iwan, Iwan pun menoleh, "Saya tak bisa bilang saya baik-baik saja Mas, tapi saya pastikan saya bisa pulih dalam beberapa hari." Ucap Iwan, santai dan mengharap kepada Udin, jangan terlalu memikirkan nasib nya.


Lalu Udin mencatat lagi laporan nya, dan berucap, " Saya akan segera menemukan pak Ubab dan ibu nya Reza secepat mungkin." Ucap Udin.

__ADS_1


Bersambung.


Mohon like nya kawan-kawan, agar semangat ku dalam menulis tetap menyala.


__ADS_2