DETECTIVE AMATIR

DETECTIVE AMATIR
PULANG


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu, sore sudah menjelang malam memancarkan warna keemasan Matahari yang akan tenggelam, membuat sudut-sudut villa menjadi sedikit agak gelap, terlihat tiga pria sedang duduk di bangku taman, sambil menjaga para gadis-gadis yang lagi santai menikmati semilir angin yang sejuk menerpa tubuh mereka, seakan mereka tak pernah tau apa yang telah terjadi beberapa hari yang lalu. Adapun Tiga laki-laki itu adalah MD, Iwan, dan Udin, mereka berbincang dengan santai sambil memperhatikan gadis-gadis tersebut, ternyata saran MD memang sangat berguna buat para gadis remaja dengan mendatangkan psikiater untuk memulihkan mental gadis-gadis ini yang beberapa hari lagi akan kembali melanjutkan belajar mereka.


Beberapa buah mobil polisi juga sudah berjejer dihalaman villa dan para tim Udin menyiapkan perlengkapan mereka untuk berangkat pulang. MD dan Iwan sepenuh nya sudah membaik, mereka berdua sudah bisa berjalan dengan nyaman setelah tim medis melakukan perawatan yang konsisten kepada mereka berdua, Udin sendiri sudah memiliki Informasi yang sangat akurat tentang masa lalu pelaku tambang ilegal tersebut, dan semua informasi sudah dikirimkan nya ke pada atasan nya yaitu pak Jumbran.


"Terimakasih buat kalian berdua, berkat kalian semua rangkuman saya selesai dan ini akan menjadikan laporan yang sangat berguna di pengadilan nanti." Ucap Udin yang berada di samping kanan MD, karena MD duduk ditengah dan Iwan di samping kiri MD. Membuat kedua sahabat itu menoleh kearah Udin.


MD pun menyahut, "Sama-sama Mas, ini juga bisa berhasil, karena usaha Mas Udin yang tak mengeluh membujuk pak Ubab dan istri, untuk menceritakan apa yang sebenar nya terjadi, dan saya tak menduga bahwa akan ada cek DNA untuk kedua orang tua tersebut?" Ucap MD, masih menatap Udin dengan santai.


"Saya tak ingin tanggung-tanggung dalam bertugas Mas, apalagi tentang kasus sebesar ini. Semakin kita lemah dalam interogasi, semakin berbelit-belit pula mereka dalam memberi jawaban! Tapi bersyukur nya, mereka tetap korporatif dan bekerjasama dengan baik saat interogasi, itu membuat saya lebih nyaman saat dalam perbincangan dengan mereka." Jelas Udin, sambil membuka buku catatan mini nya.


Iwan sebenar nya tak tahu ada panggilan khusus kepada pak ubab dan istri ke villa ini untuk tanya jawab seputar Reza, siapa itu Reza, dan apa hubungan pak Ubab dan istri dengan Reza tersebut, karena menurut Iwan perawakan Reza dan perawakan Pak Ubab dan istri, serta perilaku nya sangat berbanding terbalik, itulah kenapa Iwan penasaran dengan pernyataan dua pasangan suami-istri itu tanpa pikir panjang Iwan langsung menanyakan hal itu kepada Udin. "Apakah saya boleh tau?, apa saja pernyataan dari pak Ubab dan Istri nya tentang perihal pelaku? Maksud saya, si Reza ini?" Tanya Iwan sambil membungkukkan posisi duduk nya dan tangan nya bertumpu pada paha nya terus jari-jari nya ditangkupkan secara bersamaan lalu dengan wajah penasaran menoleh kearah Udin.


Udin lalu membuka lembar demi lembar buku kecil nya, setelah menemukan tulisan yang dirasanya benar dia langsung menyelipkan ibu jari nya ditengah-tengah buku tersebut, lalu sambil menarik nafas pelan, dia lalu berusaha menerangkan semua yang sudah ditulis nya. "Sebenarnya Reza bukanlah anak kandung dari kedua pasangan suami-istri itu, melainkan pak Ubablah yang menemukan Reza di kawasan pinggir jalan didaerah sini, dan kejadian itu sudah lebih dari 20 tahun silam. Seorang balita lengkap dengan pakaian bayi didalam koper terletak dipinggir jalan." Ucap Udin, yang berhenti menjelaskan bacaan nya.


MD hanya mendengarkan dengan seksama, sedangkan Iwan menjetikkan jari nya seolah dia sudah tau akan hal itu, lebih tepat nya tebakkan nya tidak salah, karena ini rangkuman dari Udin, sudah pasti drama-drama tangisan tak akan ada dalam rangkuman tersebut, melainkan hanya catatan tentang pernyataan pak Ubab dan istri. Jadi Iwan tak berharap banyak dengan drama-drama yang akan muncul seperti, pak Ubab tak menduga bahwa anak asuh nya melakukan kejahatan, atau anak yang pak Ubab asuh membuat tambang ilegal dan pak Ubab syok, tak ada hal seperti itu, dan Iwan tak menuntut banyak akan hal itu.

__ADS_1


Lalu melihat kedua sahabat itu dengan tenang masih mendengarkan dia lalu melanjutkan bacaan nya sekaligus menjelaskan apa yang sebenar nya terjadi. "Bertahun-tahun sesudah itu Reza tumbuh dan dibesarkan oleh dua suami-istri tersebut, pak Ubab dan istri tak pernah mempunyai anak karena salah satu penyakit yang dideritanya, dan hingga pada masa nya, Reza dewasa dan mengetahui bahwa dia bukan anak kandung dari pak Ubab dan istri, Reza memutuskan untuk merantau kekota mencari bapak dan ibu kandung nya dengan meminta ijin kepada pak Ubab, pak Ubab yang tak memiliki keuangan yang memadai cuma bisa mengijinkan Reza pergi begitu saja, dan sampai saat info ini ditulis mereka baru tau bahwa anak asuh mereka ternyata seorang pengusaha dan kriminal tingkat tinggi. Cuma itu saja, info yang bisa saya ambil dari kedua pasangan itu Mas." Jelas Udin sambil menutup buku nya.


Iwan membayangkan, pasti sebagai orang tua pak Ubab dan istri pasti sangat sedih mendengar anak asuh mereka adalah seorang kriminal, tapi apalah dikata jalur hidup seseorang tidak ada yang tau, Beberapa detik, mereka terdiam mencerna semua penjelasan tersebut dan MD pun berucap, "Nampak nya kita harus menemui Reza itu untuk informasi lebih lanjut, bagaimana bisa dia dari yang dulu nya, cuma anak pungut tetapi bisa menghasilkan uang yang begitu berlimpah sampai bisa membuat tambang pribadi tanpa sepengatahuan orang disini, bahkan dari rangkuman Mas Udin pun tak tertulis bahwa pak Ubab tau akan hal itu." Ucap MD, dengan menganalisa semua penjelasan Udin, dan MD lanjut beranalisa, "Karena Informasi nya hanya pelaku yang tau, bisa dikatakan perubahan yang Reza alami saat dia berpindah ke kota dan yang paling menggangguku adalah pemikiran Reza yang bisa memutuskan dia akan pergi kekota, aku sebenarnya tak masalah bahwa dia telah mengetahui dia bukan anak pak Ubab dan istri karena sangat ketahuan sekali. Sebagai anak asuh Reza pasti akan membalas baik budi orang tua yang sudah mengasuh nya, entah itu membantu nya sampai tua atau bekerja didaerah sini sebagai petani Teh atau semacamnya. Dan dia kepikiran bisa sampai kearah jauh ya itu ke kota, itu sangat menggangguku?" Kata MD, panjang lebar.


"Apa itu Mas?" Ucap Udin, penasaran.


MD berpikir sejenak, lalu dia menggelengkan kepala nya, "Nampak nya tidak usah saya katakan Mas, karena secara nyata nya berhepotesa tanpa tau masalah, sama hal nya dengan menuang air digelas yang berlobang." Ucap MD menjelaskan.


"Kita akan tau nanti, saat sipelaku mengatakan hal apa yang terjadi dimasa lalu nya itu. Tapi membuat dia mengatakan tentang masa lalu nya adalah hal yang sangat susah nanti nya." Ucap MD dengan menyilangkan tangan nya kebelakang, dan jari-jari nya menupang belakang kepala nya.


Hari pun sudah sangat gelap menandakan senja ini akan berganti malam, perbincangan mereka bertiga tadi menghabiskan waktu satu jam lebih, mengingat hari sudah semakin gelap Iwan memanggil gadis-gadis yang sedang asik bermain, karena sudah waktu nya mereka masuk ke villa agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, bukan karena bahaya tapi karena kesehatan, menurut Iwan saat senja begini suhu tubuh tak stabil karena lelah dan cepat diserang penyakit. Gadis-gadis yang dipanggil Iwan pun cuma bisa melemaskan otot-otot mereka dan masing-masing dari mereka agak kesal dengan Iwan karena masih asik bermain malah dihentikan, tapi mereka juga paham semua itu demi kebaikan mereka.


Setelah semua gadis masuk, anggota tim Udin menghampiri mereka bertiga, "Senior, semua nya sudah beres, ayo kita berangkat." Ucap anggota tersebut. Udin pun mengangguk, dan memberi perintah, kepada salah satu anggota itu, "Baiklah! Suruh mereka yang sudah ada dimobil berangkat duluan, sebentar lagi saya juga akan berangkat." Kata Udin, mendengar hal itu dia lalu berpaling dan berjalan kearah anggota nya yang lain, memberi perintah yang diujarkan oleh Udin.


Beberapa menit kemudian mobil polisi yang berjejer didepan MD dan Iwan juga Udin masing-masing nya, secara berurutan berjalan kearah luar villa. tinggal salah satu mobil punya Udin yang masih ada didepan mereka, Udin pun cuma bisa menghembuskan nafas dan berpisah dengan dua sahabat yang sangat banyak membantu dia dalam kasus ini.

__ADS_1


"Baiklah Mas, sudah saat nya saya pamit, terimakasih atas semua bantuan nya, dan maaf sekali merepotkan kalian berdua." Kata Udin, dengan menjabat tangan MD dan Iwan secara bergantian.


"Kami juga sangat berterima kasih Mas, kalau tidak ada Mas Udin kemaren silam, entah bagaimana nasib kami berdua." Ucap Iwan, sambil bersalaman dengan Udin.


"Mungkin dalam dua hari atau lebih, saya akan menemui pak Jumbran." Ucap MD.


"Baik, Mas." Ucap Udin, dan Iwan pun mengarahkan Udin keteras villa, karena pak Amat dan istri sudah menunggu mereka, pak Amat juga ingin berpamitan dengan Udin dan berterimakasih atas semua nya. Udin pun menyalami pasangan suami istri itu dan berpamitan, beberapa menit kemudian MD dan Iwan mengantar Udin kemobil nya, sebagai seorang tamu.


"Hati-hati dijalan Mas!" Ucap Iwan, sambil menutupkan pintu mobil Udin dengan pelan, terlihat Udin yang menganggukkan kepala nya, juga berbicara diantara jeda Iwan menutup Mobil, "Termakasih Mas!" Ucap Udin, lalu mobil pun berjalan perlahan sampai keluar kawasan Villa.


Bersambung.


Jangan lupa like dan vote nya kawan-kawan, selamat membaca.


Catatan tambahan, aku tidak akan menambahkan cerita lagi dinoveltoon ini karena, karya ku tidak diterima disini, jadi aku mencari aplikasi lain yang sudah mau mempublish cerita novel ku tanpa embel-embel yang macam-macam

__ADS_1


__ADS_2