DETECTIVE AMATIR

DETECTIVE AMATIR
pak ubab


__ADS_3

Terik Matahari pagi sudah sangat tinggi, menunjuk waktu yang berjalan ke arah siang kegiatan para gadis, hanya berphoto dan bersantai di villa. Waktu sudah berjalan dua hari dengan hari ini, entah kenapa sangat lama menurut Iwan yang cuma duduk-duduk di dekat para perempuan tersebut. Sekaligus menunggu seseorang yang akan datang hari ini, dan entah kenapa sangat lama menurut Iwan.


Beda sekali dengan MD dia merasa sangat panas di ruangan tersebut, dan rasa resah ditubuh nya. Lalu dia terbangun dengan nafas yang tak beraturan, tubuh nya mengeluarkan keringat. Ternyata pendingin di sana mati, karena pagi tadi Iwan memang sengaja mematikan nya tanpa sadar bahwa kawan nya tersebut masih didalam.


Sebenar nya kantuk MD masih menempel dimata nya, akan tetapi dia memaksa bangun dari ranjang nya. Seakan tak ingin berlama-lama di sana, walaupun rasa nya enak sekali. Dia menggapai handuk nya dengan cepat dan langsung ke kamar mandi dengan cepat dan teliti, MD merasa dia sudah sangat terlambat hari ini. Dia berniat ingin lebih menggali cerita malam tadi, tentang kebenaran nya karena semalaman tadi dia sudah mengumpulkan Informasi yang menurut nya itu akan menjadi perlengkapan nya untuk menulusuri hal tersebut.


Hari ini dia berencana menuju kerumahnya pak Ubab, yang pernah mengalami hal yang menurut MD bisa dijelaskan secara logika akan keanehan nya.


Setelah beberapa waktu, akhir nya selesai lah MD dengan setelan pakaian nya dengan baju seadanya; celana panjang warna biru dan jaket hoodie hitam dan dalaman baju pemberian bu Widia, dan pakai topi. Begitu saja tanpa aksesories yang berharga terkecuali Handphone nya yang selalu dia bawa. Dia keluar dari kamar tersebut, setelah beberapa langkah seorang pelayan datang menghampiri nya. "Mas anda belum makan kata mas Iwan, dan saya diperintahkan untuk menawari anda makan." Kata pelayan tersebut, dengan logat khas nya. MD mengangguk karena dia juga ingin makan untuk mengisi tenaga nya karena dia juga tak tau apakah perjalanan nya akan lama atau sebentar.


Beberapa waktu MD memulai makan dengan lahap dia memakan makanan tersebut.


Ditempat Iwan berada, suara klakson mobil berbunyi, membuat mereka yang berkumpul di teras besar villa tersebut langsung melihat kearah mobil.


Iwan segera berdiri, karena dia tau siapa yang datang. Mobil terparkir dengan sempurna dan pintu pun terbuka, Lusi dengan berlari dari teras dan sambil berteriak bahagia memanggil orang tua nya yang datang. Ibu nya juga langsung merentangkan tangan nya ingin menangkap Lusi, mereka berpelukan, sedangkan Ayah Lusi membuka pintu dan dihampiri oleh Iwan dengan sedikit berbasa-basi mereka berjabat tangan.


Para pelayan membantu mengeluarkan barang didalam bagasi mobil dengan cepat seakan sudah terbiasa melakukan hal itu. Sambil berjalan ke teras villa orang tua Lusi menyapa teman-teman Lusi dengan ramah. Sambil ber dehem Iwan mengambil alih perhatian mereka, "Sekarang penjaga kalian bertambah satu! Kali ini akan bertambah ketat yak!" Kata iwan sambil tersenyum kecut.


"Mohon bantuan nya!" Kata Ayah Lusi sambil tersenyum.


Di arah pintu MD keluar, mereka tak memperhatikan, karena tempat mereka dengan pintu agak jauh. Iwan yang merasakan keberadaan MD, entah kenapa kalau kawan nya tersebut ada. Iwan selalu merasa akan kehadiran nya, mungkin itu lah nama nya kawan semasa kecil. Iwan yang melihat MD keluar, memanggil MD


Dan menyuruh nya kearah nya dengan melambaikan tangan nya. MD dengan wajah datar dia menghampiri kawan nya tersebut, "Paman, perkenalkan ini lah teman saya yang saya bicarakan itu!" Kata Iwan sambil merentang kan tangan menggapai bahu MD, "Dan MD, ini perkenalkan Ayah Lusi." Kata Iwan, "Nama beliau adalah pak Amat." Kata Iwan memperkenalkan mereka berdua.

__ADS_1


MD tersenyum kecut dan mengulurkan tangan nya ke arah pak Amat, begitu pun pak amat juga menjabat tangan MD. Para perempuan masih berkenalan dengan Ibu Lusi, dan Ibu Lusi mengeluarkan oleh-oleh buat mereka semua, jadi separu fokus terbagi gara-gara hal itu.


Pak amat dengan MD berbasa-basi sebentar, "Banyak sekali hal hebat yang saya dengar, tentang kamu dari Iwan." Kata pak Amat, "Begitu kah, semua yang anda dengar tak sehebat apa yang terjadi pak." MD menjawab, dengan tersenyum kecut.


Beberapa saat kemudian MD mohon pamit ke pak Amat. Tapi, ditahan oleh Iwan Karena tiba-tiba saja MD pamit. Hanya sendiri saja, sedangkan Iwan sudah tau MD mau kemana. "Kalau kamu sibuk, sebaik nya kamu disini saja." Kata MD datar, karena tidak mungkin juga dia membawa kawan nya itu. Karena Iwan sendiri ada kegiatan, Iwan menatap pak Amat sambil tersenyum, Pak amat Mengangguk mengerti. "Kalian berdua! Ceritakan saja nanti, apa yang terjadi di sana, jangan sampai memar-memar ya! Soalnya bapak yang repot nanti." Kata pak Amat. MD menggaruk kepala nya, tapi dia membalik kan badan nya lalu berjalan, dan Iwan membuntuti MD dari belakang.


Pak Amat cuma menghela nafas, ada kekhawatiran diwajahnya. Tapi lalu dia tersenyum dan menghampiri mereka yang sedang berkumpul.


Setelah keluar dari villa yang mewah itu, Iwan menghampiri MD. "Kenapa capek-capek, berjalan? Kan kita bisa saja memakai mobil bapak." Kata Iwan, ingin menuduh MD seakan bodoh karena berjalan kaki saja. MD tak menatap Iwan hanya fokus dijalan sambil berucap, "Aku tak ingin menjadi terlalu nampak, Aku masih ingin mengumpulkan Informasi, karena cerita malam tadi terlalu Ambigu ditelinga ku." Kata MD, "Seperti nya ada hal besar di daerah ini yang ditutupi oleh orang-orang berkuasa?" Lanjut MD menjelaskan.


"Benarkah begitu!?" Kata Iwan, sebenarnya Iwan juga tak begitu yakin, kalau cerita oleh om Ihsan itu benar ada nya. Tapi melihat MD, dengan tingkah nya seperti sedang memikirkan sesuatu, dia yakin memang ada hal yang aneh tentang cerita itu.


"Kita kemana?" Tanya Iwan menanyakan mereka harus kemana mencari informasi. MD pun menjawab, "Aku harus bicara ke pak Ubab, untuk tau bagaimana penuturan dia tentang hal ini. Karena dia sendiri yang mengalami kejadian nya, mungkin saja ada informasi kecil yang terlewat, yang belum dia ceritakan kepada om Ihsan?" Kata MD, dengan nada datar. Bahkan sama sekali tak menoleh kearah Iwan.


Beberapa langkah sudah berlalu, sebenar nya jauh sekali perjalanan mereka. Berjalan di puncak terasa tak senyaman jalanan di kota, jalan nya turun bukit dan naik bukit, ditambah jalan nya sangat berbatu. Hari yang sudah beranjak siang membuat Matahari mulai memancarkan hawa panas nya, tapi keuntungan nya angin selalu berhembus, seakan menolong dua orang pejalan kaki tersebut dari terik nya sengatan Matahari yang seakan memanggang mereka.


MD sebenar nya menyesal memakai hoodie nya, karena keringat ditubuh nya yang tak seutuh nya terkena angin, dan baju kaos nya yang sama sekali tak menolong, malah menambah panas tubuh nya.


Akhir nya setelah menelusuri beberapa langkah yang lama. Dua kawan tersebut pun sampai pada rumah yang sederhana. Halaman nya tak begitu luas tapi rumput yang tebal seperti rumput lapangan bola yang indah, kanan kiri nya banyak pohon-pohon buah yang lebat. Serasi sekali dengan rumah yang diujung halaman nya, bewarna Hijau seluruh nya. Terkecuali jendela didepan nya yang berwarna putih mencolok, kontras sekali dengan rumah nya, warna nya begitu sama dengan area sekitar nya.


Perubahan udara di area itu langsung berubah saat mereka berdua memasuki halaman pak Ubab begitu nyaman dan rindang. Mereka berdua terus berjalan sampai ke teras rumah tersebut, rumah nya tertutup tapi jendela nya terbuka kebawah sedikit membiarkan angin masuk.


MD langsung mengetuk rumah tersebut beberapa kali dan mengucapkan kalimat yang biasa orang ucapkan saat bertamu. Didalam rumah terdengar sahutan santai seorang wanita yang terdengar bergetar beraturan. Menandakan dia agak sedikit mempercepat langkah nya saat membuka kan pintu.

__ADS_1


Pintu terbuka dan menyembul lah kepala wanita yang sudah berumur, dan wajah nya masih segar dan ada sedikit kerutan di kanan kiri mata nya. "Iya ada apa ya?" Kata wanita tersebut sambil membuka lebih lebar pintu rumah nya.


"Maaf sebelum nya, Ibu apa memang benar ini rumah pak Ubab?" Tanya MD, dengan sopan saat bertanya, yang sangat jarang sekali didengar oleh Iwan.


"Iya memang benar! Itu Ubab adalah suami saya." Jawab Ibu itu. "Kalian siapa ya?" Tanya ibu itu penasaran, jelas sekali dia tak mengenali mereka.


"Oh, iya. Maaf kan saya! Tak memberitahu ibu? Saya adalah kenalan nya om Ihsan; penjaga villa beberapa kilometer dari sini. Apa boleh saya bertemu dengan suami ibu? Kata om Ihsan pak Ubab terkena kemalangan beberapa waktu lalu?" Jawab MD sambil menunjukkan arah dari mana mereka berjalan tadi.


Iwan hanya diam dan sesekali tersenyum sambil manggut-manggut mendengar kan teman nya bicara, bahwa iya mengiyakan apa yang dikatakan MD. Istri pak Ubab berpikir sejenak, "Kenalan Ihsan ya, kalau begitu, tunggu sebentar saya akan memanggilkan Suami saya." Kata Ibu Itu, sambil menyuruh kedua sahabat itu masuk.


Sebenar nya MD tak ingin masuk karena niat nya hanya sebentar saja. Tapi karena menghargai tuan rumah dia pun masuk, lagi pula dia juga agak sedikit lelah. Sudah lama dia tak berjalan kaki selama dan sejauh ini.


Setelah melepaskan sepatu dan beralaskan kaos kaki mereka masuk, karena begitu lah adat dan kebiasaan orang-orang disini. Dan sangat sederhana sekali rumah pak Ubab, tak ada kursi di sana mereka cuma disuruh duduk dilantai ber alaskan tikar. MD sama sekali tak mempermasalahkan itu begitu juga dengan Iwan


Semenit sesudah nya pak Ubab muncul dibalik tirai ruangan tengah nya. Menuju ruangan tamu yang di sana sudah ada MD dan Iwan yang juga menatap pak Ubab sambil tersenyum kecut sambil memberi salam ke pak Ubab


Pak ubab masih dengan rasa bingung nya memperhatikan mereka berdua seakan mengingat apakah dia pernah bertemu dengan mereka.


Pada akhir pak Ubab berucap, "Ada apa gerangan adek-adek ini ingin mencari saya?" kata pak Ubab masih dengan pikiran nya yang bertanya-tanya.


Bersambung.


Secara perlahan saja ya guys ya. Soal nya materi untuk kasus ini masih aku rancang, buat kalian yang punya ide silahkan aja dikomentari jangan sungkan.

__ADS_1


__ADS_2