
"Baju inikan!!" Ucap Udin, setengah tidak percaya.
"Benar sekali, ini memang baju yang Mas Udin pikirkan." Kata MD dengan sedikit tersenyum,
"Luar, biasa!! Baju ini hanya boleh dipakai oleh tentara khusus dimedan perang, bagaimana mungkin, Mas MD bisa memilik nya?" Ucap Udin, masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Mas Udin ingat, dengan bu Widia?" Tanya MD, membalikan pertanyaan Udin dengan pertanyaan lain.
Udin cuma mengangguk mengiyakan bahwa dia ingat dengan ibu Widia, dan MD menjelaskan bahwa Ibu Widia lah yang telah memberikan baju itu kepada MD dan juga Iwan sebagai hadiah karena telah menyelamat kan ibu Widia dari sidang kasus 'PENCURI HEWAN' dulu. Udin langsung paham dengan semua nya dan cuma menggeleng kan kepala nya karena kekaguman nya dengan baju itu, Udin tidak iri hanya saja dia merasa kaos itu terlalu istimewa dan baru pertama kali dia melihat secara langsung. Biasa nya dia hanya bisa melihat di video-video internet saja dan sekarang dia melihat langsung baju yang luar biasa itu.
"Kalau bukan karena kaos ini, saya sudah menjadi mayat Mas." Ucap MD, sambil menenteng baju tersebut dan mencari-cari sesuatu dibaju tersebut lalu memperlihatkan nya ke arah Udin, ada bekas terbakar seperti bulatan seukuran biji kacang. Dibelakang baju tersebut. Udin langsung terbelalak karena dia tahu persis bekas apa itu, "Ini bekas tembakan senjata berpeluru banyak, Mustahil!" Ucap Udin dengan menyapukan tangan nya kemuka nya membayangkan bagaimana MD ditembak dari belakang sebanyak itu. "Kamu nekat sekali Mas!" Kata Udin, lalu meneruskan kata-kata nya, "Apa kamu tidak apa-apa di bagian belakang ini?" kata Udin, perihatin, menurut Udin memang benar kaos itu menahan peluru, tapi efek kejut dari peluru tersebut membuat kejutan ke arah saraf-saraf belakang, bahkan lebih parah nya menurut Udin, bisa membuat retakan pada tulang-tulang pemakai kaos tersebut.
MD masih tak bisa berbalik karena tubuh nya yang masih terasa sakit, MD pun langsung memperlihatkan belakang nya, benar saja, dengan memperlihatkan photo belakang nya. Belakang MD terlihat lebam-lebam diantara pinggang kanan memanjang sampai pinggang kiri nya, sungguh sangat mengerikan, seandai nya MD tidak diobati oleh tim medis pasti semua lebam tersebut akan membuat sebuah pola yang akan membuat retakan tulang yang akan membuat MD tidak bisa berjalan dalam beberapa bulan.
__ADS_1
Membayangkan seperti itu saja Udin bergidik ngeri, tapi untung nya MD setelah kejadian yang berlangsung pada malam tadi. Dia langsung di periksa dan diobati oleh tim medis. Udin memulai percakapan nya dengan MD karena merasa tidak enak dengan MD.
"Mas MD, apa yang sebenar nya terjadi malam tadi?" Tanya Udin membuka percakapan nya.
MD pun dengan menarik napas nya dengan perlahan lalu menjawab nya, sambil mengingat-ngingat kejadian malam tadi. "Saat saya datang, penyenderaan nya sudah berlangsung Mas, seperti nya kejadian nya saat dimana kepala saya sedang pusing saat ditambang, dan seperti nya saat itu juga teman saya berusaha melawan sekuat tenaga, sebelum saya datang." Jelas MD menerangkan, Udin yang mendengar hal tersebut mengeluarkan kertas catatan nya yang selalu Ia bawa saat bertugas. Udin cuma menganggukkan kepala nya mendengarkan perkataan MD tanpa ada sela'an apa pun dari nya, MD lalu melanjutkan dengan cerita nya menyusup dan mengendap-ngendap dan mematikan terminal lampu dibelakang villa untuk mempermudah dia masuk kedalam villa walaupun itu juga akan membuat MD juga kesusahan akan hal itu. Dan MD juga menceritakan bagaimana bisa jendela itu hancur dan berlubang.
Udin mengangguk'kan kepala nya sambil menuliskan semua yang Ia dengar dan merangkumkan tulisan nya, agar nanti atasan nya tinggal membaca rangkuman nya tentang penjelasan-penjelasan yang Ia dapatkan dari semua saksi, tentang kasus ini. MD juga menceritakan pertarungan yang terjadi sedetail-detailnya agar Udin tidak bingung mendengarkan nya. Pada akhir nya berakhirlah semua penjelasan MD tentang semua rincian kasus yang terjadi dalam beberapa menit selesailah MD menceritakan semua kejadian malam tadi.
Udin pun juga menutup buku tulisan kecil nya karena juga sudah selesai merangkum semua penuturan MD, "Terima kasih atas semua keterangan dan penjelasannya Mas, tinggal Mas Iwan saja yang belum saya tanya tentang kasus ini." Ucap Udin, sambil memasukan buku kecil dan polpen disaku nya.
MD berpikir sejenak lalu menjawab nya dengan masih rada-rada berpikir, "Untuk Iwan, sudah dipastikan dia sebagai kunci saksi yang menjadi belakang tombak tentang penyerangan ini, karena dia yang selalu berada divilla ini sepanjang waktu saat kita ditambang Mas, dan saya juga yakin, mental Iwan tak akan melemah saat menerangkan semua kejadian tentang kasus malam tadi. Saya juga berpikir saat-saat saya bangun tadi, pasti Mas Udin sangat kesusahan mengumpulkan Informasi yang valid saat menanyakan bagaimana kejadian malam tadi berlangsung." Ucap MD, dengan nada santai dan lemah nya, Udin pun menjawab dengan menganggukkan kepala nya. Seolah mengiyakan apa yang dijelaskan MD itu benar ada nya, "Benar sekali Mas! Saya yakin pasti semua orang kecuali Mas MD dan Mas Iwan, pasti orang-orang itu akan kena mental nya dan terguncang keadaan nya saat kejadian malam tadi. Pak Amat saja sangat susah diajak bicara saat menjelaskan kejadian malam tadi, dia seakan tak bisa berkata-kata dengan baik dan benar saat menjelaskan semua nya." Ucap Udin, menambahkan apa yang MD bicarakan tadi.
MD lalu bertanya lagi tentang barang bukti apa yang dia temukan di TKP setelah kejadian malam tadi, Udin pun dengan respon yang cepat mengeluarkan barang bukti dari saku celananya yaitu berupa ponsel yang dibungkus plastik klip terang. "Anggota saya menemukan sebuah ponsel, yang mana ponsel ini diduga, milik pelaku' yaitu bos tambang itu Mas." Ucap Udin dengan menenteng plastik klip terang yang didalam nya, ada sebuah ponsel android berwarna putih melebihi ukuran telapak tangan.
__ADS_1
Melihat itu MD sedikit menyipitkan mata nya seolah itu adalah barang terkecil yang pernah dia lihat akan tetapi MD menyipitkan mata nya dia sambil berpikir bahwa ponsel tersebut adalah sesuatu bukti penting tentang kasus ini. "Bagus sekali! Ini akan menjadi sebuah titik terang yang selama ini kita cari!" Kata MD, dengan sedikit meninggikan suara nya. Dan MD melanjutkan bicara nya sambil bertanya, "Apa saja, yang Mas temukan, didalam ponsel tersebut?" Tanya MD penasaran agar Udin menjelaskan apa saja yang telah dia temukan diponsel tersebut.
Udin pun menjawab dengan sedikit membuat MD agak heran dengan tingkah Udin ini, "Sebenarnya saya belum membuka apa yang ada diponsel ini, tapi saya sudah mengubah pola kunci ponsel ini menjadi Nonlock permanen. Agar bisa sama-sama melihat apa saja yang ada di dalam ponsel tersebut tanpa harus membuka kunci pola terus-menerus, dan melihat bersama Mas MD dan Mas Iwan, pada awal nya. Akan tetapi saat saya masuk keruangan ini ternyata Mas MD dan Mas Iwan dirawat secara terpisah, jadi karena Mas MD, yang saya temui, lebih awal jadi mari bersama-sama kita lihat apa yang ada didalam ponsel ini." Ucap Udin, mengajak MD dengan membuka plastik klip tersebut dan mengambil ponsel tersebut, sebelum nya dia sudah memasang sarung tangan khas nya karena Udin selalu taat akan prosedur cara tindak kepolisian dalam hal barang bukti.
MD hanya menaikkan sedikit punggung nya kebantalan yang menupang antara dua bahu dan bersandar ke pandalan ranjang medis tersebut agar bisa dengan jelas melihat apa yang ada dilayar ponsel tersebut. MD hanya mengangguk dengan pelan tanpa bertanya apa pun tentang bagaimana Udin bisa membuka pola ponsel atau apa pun tentang bagaimana anggota nya bisa menemukan ponsel tersebut, karena MD sudah sangat tahu cara-cara kepolisian dalam bertindak.
Udin sedikit menggeser posisi duduk nya agar orang yang ada dihadapan nya ini bisa melihat dengan jelas apa yang ada dilayar ponselbtersebut dan menambahkan cahaya layar ponsel tersebut, agar lebih terang saat melihat nya. Pertama-tama Udin membuka file miniger ponsel itu dan terbuka semua file seperti; Audio, Album Photo, rekaman, dan file lain nya. Tapi saat meneruskan membuka file MD menyela Udin, "Mas, kita buka aplikasi WA terlebih dahulu." Ucap MD, menyela Udin, mendengar hal itu Udin mengiyakan apa yang MD sebutkan, lalu mengarahkan jempol nya kearah bawah layar ponsel yang ditengah-tengah nya terdapat tombol bulat kecil, agar bisa kembali keberanda layar awal ponsel, setelah berhasil Udin dengan cepat menggeser layar ponsel tersebut kearah samping nya, dan benar ada notif di icon WA tersebut sampai lebih dari 50 pesan.
Tanpa pikir panjang Iwan langsung membuka icon WA tersebut, tidak sempat beberapa detik WA tersebut terbuka, awal mula terbuka group WA paling atas terlihat dan menampilkan semua pesan dan yang paling nampak adalah pesan dengan tulisan minta tolong kepada seseorang yang bernama Bos Reza, MD dan Udin saling menatap ternyata yang selama ini mereka cari telah mereka dapatkan.
Bersambung.
"Selamat membaca guys!"
__ADS_1