
Udin memeriksa lagi catatan-catatan nya sekali lagi kalau-kalau ada yang tak jelas dia tulis, dan Iwan juga dengan sabar menunggu Udin mengoreksi semua catatan nya, ini adalah hal penting karena semua rangkuman yang Udin tulis nanti akan diserahkan kepada pak Jumbran untuk keterangan nya saat sidang dari pihak kepala kepolisian, sebenar nya sangat banyak yang akan Udin tanyakan kepada kedua sahabat itu seperti tentang; Ibu yang ada didalam lorong tambang, yang mempunyai akun MAP dan GPS aktif, bernama Hamidah ahmadi dan juga tentang pak Ihsan yang sempat menceritakan perihal kedua sahabat yang mencari tau kenapa pak Ubab bisa mengalami hal yang gaib, sebenar nya bisa dijelaskan dengan logika, akan tetapi cerita itu malah diketahui oleh pihak petugas tambang dan malah menjadi jalan buat menyerang keluarga pak Amat, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang belum Udin tanyakan kepada Iwan dan MD akan tetapi mengingat kondisi mereka yang seperti ini ada baik nya Udin berpikir untuk menanyakan hal yang paling penting saja agar mereka juga tak masalah dalam menjawab nya.
Lagi pula kalau dia menanyakan hal-hal yang seperti dibuku nya tadi nampak nya itu bisa terjawab, karena selama semua petugas yang berada di tambang di interogasi pasti semua nya juga akan ketahuan, menurut Udin sambil memainkan pikiran nya juga masih membalik-balik lembaran kertas-kertas dibuku kecil nya tersebut.
"Menurut Mas Iwan? apakah Reza ini ada hubungan darah dengan pak Ubab dan Ibu Ubab?" Kata Udin, menanyakan hal yang sebenar nya diluar pikiran Iwan bahkan tak sempat Iwan pikirkan, Iwan berpikir sejenak lalu menggelengkan kepala nya sambil berucap, "Saya rasa tidak ada, Mas, sama sekali tak mirip dengan kedua orang tua itu." Ucap Iwan memastikan, "Tapi menurut saya ada kaitan nya tentang keluarga pak Ubab itu." Sambung Iwan lagi.
"Ini sangat rumit dan seperti kata saya tadi, ini seperti gelang!" Ucap Udin dengan sedikit menggaruk-garuk kepala nya yang sebenar nya tak gatal.
"Mas Udin jangan pusing, saya rasa sudah saat nya Mas, ke ruangan MD lagi untuk menunjukkan rangkuman yang sudah Mas Udin catat, saya yakin kawan saya itu punya cara sendiri tentang kasus ini." Jelas Iwan, memberikan solusi agar Udin tak terlalu banyak pikiran.
Udin cuma mengangguk dengan pelan, karena bukan hanya otak nya yang diberi tugas, juga mental nya diserang oleh kebingungan-kebingungan yang datang dari cerita kedua sahabat itu, tiba-tiba ponsel Udin bergetar disaku nya, lalu dia mengambil ponsel disaku nya tersebut dan melihat bahwa atasan nya memanggil nya, melihat itu Udin menatap Iwan meminta persetujuan, Iwan yang paham pun tak mempermasalahkan hal itu dan menyuruh Udin untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo Pak." Ucap Udin.
"Iya Udin, saya dengar dari MD kamu belum tidur dari tadi malam, benarkah itu?" Ucap pak Jumbran diseberang telpon seolah-seolah dia tau akan keadaan asisten nya tersebut.
Udin terkejut, sejak kapan MD tau dengan keadaan nya, padahal tak sampai satu jam dia berbincang dengan MD tadi pagi, Udin mengerjapkan dan menggelengkan kepala nya dan menjawab tanya atasan nya, "Iya pak, maafkan saya pak." Jawab Udin dengan ragu-ragu.
"Udin kamu tidurlah! Jangan paksakan dirimu, kalau tidak, rangkuman yang tadi nya kamu buat, tidak bisa dipakai saat sidang nanti!" Kata pak Jumbran menasehati.
__ADS_1
Udin tak bisa membantah lagi, "Baik pak!" Kata Udin dengan siap nya.
"Bagus, MD juga berpesan kepada saya agar menyuruh kamu menyerahkan buku catatan kamu kepada dia, kata nya." Perintah pak Jumbran kepada Udin.
Udin cuma melongo karena ucapan pak Jumbran, dan MD bisa tau akan hal yang dibicarakan dia dan Iwan tadi, "Bagaimana dia bisa tau?" Gumam Udin dengan sekali lagi menggaruk kepala nya yang tidak gatal. "Baik pak! Saya laksanakan." Ucap Udin dengan tegas. Lalu ponsel itu pun diakhiri oleh pak Jumbran. Udin hanya tak habis pikir dan memohon Iwan menjelaskan kepada nya.
Iwan hanya tersenyum tapi tak bisa dilihat oleh Udin karena muka Iwan saat ini lebih mirip tempelan Mading disekolahan melainkan wajah, karena banyak sekali kapas-kapas menempel diwajah nya. "Jangan bingung begitu lah Mas! Santai saja, saya sudah sering mengalami hal itu saat bersama dia." Ucap Iwan yang seolah-olah sudah sering mengalami hal itu.
"Iya Mas, hanya saja saya masih tak tau bagaimana? dia bisa secepat itu mendemonstrasikan kepada pak Jumbran, akan hal yang kita berdua saja baru terpikirkan akan hal itu!" Ucap Udin, Iwan hanya memejamkan mata jya lalu membuka nya lagi, "Mas Udin perlu lebih bnayak mengenal kawan saya itu, sampai Mas Udin bosan dengan rasa kaget dan aneh nya dia." Ucap Iwan tanpa memberi jawaban yang relevan terhadap Udin.
Udin masih termenung dalam diam lalu menggelengkan kepala nya, mungkin dia seperti ini, karena kurang tidur atau semacam nya karena dalam beberapa hari ini dia sangat sibuk mengurus kasus ini sampai-sampai dia dibawa kehutan yang memutus jalan dan tiba-tiba ada jebakan yang sangat berbahaya didalam sana, semua berlalu begitu cepat, tanpa menunggu terlalu lama Udin mengemasi semua barang bukti dan hal lain nya setelah itu Udin pamit kepada Iwan.
Beberapa langkah kemudian Udin sampai kemobil patroli yang dia gunakan beberapa hari ini, Udin membuka pintu mobil sambil menguap, menurut nya mobil ini sudah cukup membuat dia bisa beristirahat, dia duduk santai di kursi penumpang mobil itu dengan sedikit memiringkan kursi itu lalu mencoba untuk tidur setelah membereskan dan meletakkan semua yang ada dikantong nya. Udin juga memasang alarm buat mengatur kapan dia bangun, dan selesai sudah dia memejamkan mata nya.
___________________
Diposisi MD dengan keadaan nya yang sekarang dia belum bisa bergerak bebas karena rasa sakit yang masih menjalar ditubuh nya, setelah menelpon pak Jumbran tadi dan memberi solusi sedikit-sedikit, Ia masih memikirkan tentang kasus yang masih membuat tanda tanya besar bagi dia. tapi sebentar lagi dia akan menemukan jawaban nya, lama menunggu kehadiran Udin MD sudah mulai bosan, setelah dia menyuruh pak Jumbran memberi keringan tentang kerjaan Udin, malah permintaan nya dilupakan oleh Udin sendiri.
Tanpa pikir panjang MD berusaha lagi membuat cara supaya dia mendapatkan buku rangkuman yang sudah ditulis Udin agar dia dapatkan, karena ini sangat penting dalam memecahkan kasus yang sangat berputar-putar ini. MD lalu membuka pesan nya dan mencari nama Udin, setelah mendapatkan nomor Udin dia langsung memanggil nya via telpon agar lebih mudah dalam bicara nanti nya. MD sendiri sudah tau Udin pasti sudah ketiduran tapi MD saat ini sangat perlu apa yang sudah Udin dapatkan. Bunyi ponsel Udin berdering dengan keras, membuat Udin jadi gelisah dan merasa jengkel dengan telpon yang berbunyi, dia menggeleng-gelengkan kepala nya lalu membukakan mata nya perlahan, Udin segera membuka ponsel nya terlihat nama MD yang sedang menghubungi nya, dengan sedikit sayu Udin langsung mengangkat telpon MD.
__ADS_1
"Iya Mas, ada apa?" Tanya Udin dengan suara serak bangun tidur nya.
MD dengan suara datar nya menjawab dengan serius, "Maaf karena telah membangunkan tidur Mas Udin, tapi ini mengenai buku rangkuman yang Mas punya." Kata MD, dengan datar.
"DEMI LANGIT DAN BUMI!" Kata Udin, langsung bangun dari kursi mobil nya yang nyaman karena, lupa akan sesuatu. "Maaf Mas MD! Atas keteledoran saya, akan janji saya!" Kata Udin, dengan batuk-batuk karena kaget dan suara serak bangun tidur nya membuat kerongkongan nya kering, menyebabkan dia batuk.
"Tidak apa-apa Mas, hanya saja, saya sangat menginginkan buku rangkuman Mas Udin, untuk analisa selanjut nya." Jelas MD, menerangkan kenapa dia memang harus membangunkan Udin dari tidur nya.
"Baiklah Mas, akan saya kirimkan kekamar Mas MD melalui anggota saya. Sekali lagi saya minta maaf Mas!" Udin memohon.
"Iya Mas tidak apa-apa, saya tunggu buku nya." Kata MD, tanpa harus meladeni Udin, yang MD butuhkan sekarang Buku rangkuman milik Udin, MD mematikan langsung panggilan nya. Karena dia tau nanti akan tambah panjang cerita Udin kepada nya.
Beberapa menit berlalu, akhir nya buku rangkuman Udin sudah sampai di kamar MD, seorang anggota polisi datang menyerahkan buku tersebut dan juga polpen, petugas tersebut menyampaikan pesan Udin, kalau seandai nya MD bisa menambahkan data yang akurat, bisa langsung sekaligus mencatat nya dirangkuman tersebut. Lalu dengan hormat polisi itu keluar dari kamar MD.
Dengan perlahan MD membuka catatan itu selembar demi selembar, mencari sesuatu yang dia ingin tau dari buku rangkuman tersebut, beberapa lembar kertas sudah terlewati. Akhir nya MD menemukan apa yang dia cari, yaitu keterangan dari Iwan, MD membaca nya dengan seksama, sambil dia manggut-manggut sendiri membaca rangkuman tersebut, lalu dalam beberapa menit kemudian nya dia langsung membuka penuh mata nya karena, terkejut akan kebenaran yang Iwan jelaskan kepada Udin. Sebagai pencatat yang baik Udin selalu merangkumkan apa yang saksi katakan tanpa melebihi apa pun tentang rangkuman nya tersebut.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan like nya ya teman-teman.
__ADS_1