
Kedua nya saling menatap dan merasakan pikiran yang sama, tapi masih tak ingin berekspektasi berlebihan akan hal itu karena menurut MD selama kita tau nama nya tapi tak melihat orang nya langsung percuma. Dan juga saat malam pertarungan dengan nya muka si pelaku samar-samar terlihat karena gelap yang memang direncanakan oleh MD, walaupun sudah selesai ketiga nya pun tumbang. Beberapa detik terdiam, Udin lalu men scroll lagi layar ponsel itu membaca group WA tersebut, mereka berdua membaca nya dari atas kebawah karena chat tersebut sangat banyak isi nya.
"Bos tolong kami."
"Bos kami diserbu pasukan polisi"
"Bos ada penyusup!"
"Apa yang terjadi? Aman segera! Semua nya saya tak tau apa pun yang terjadi! Bereskan kekacauan itu!" Kata Reza
"Bos bagaimana ini? ada dua penyusup yang masuk kedalam lorong bawah tanah!"
"Bos para keamanan menemukan petugas yang terikat di samping alat berat!"
Dan banyak lagi pesan-pesan yang belum tersecroll tapi MD menghentikan Udin membaca pesan tersebut. Menurut MD, dia sudah tau apa isi group tersebut, group tersebut dibuat untuk keluh kesah para anak buah yang bernama Reza itu. MD menyuruh Udin untuk men skip bagian-bagian minta tolong, dan cari fakta yang lebih penting dari itu discrollan pertama masih tentang tambang yang disusupi oleh penyusup, scrollan kedua tentang kehidupan ditambang dan scrollan ketiga, membuat MD menghentikan lagi jari Udin seandai nya anak kecil yang melakukan hal tersebut, pasti Udin akan memarahi nya tapi dia hanya mengikuti apa kata MD dia menghentikan scrollan nya.
Dichat tersebut berisi tentang anak buah nya Reza yang duduk diwarung santai dan sambil memakan gorengan dan minum kopi, lalu dia mendengar salah satu bapak-bapak bicara tentang dua orang pemuda yang mau mencari tau tentang satu bapak yang mendengar suara auman yang membuat nya pingsan. Membaca chat tersebut MD langsung memikirkan pola kasus, tepat nya bagaimana bisa villa ini diserang semua tali-tali putus yang tercerai berai akhir nya bisa diikat dan menyambung satu sama lain. MD langsung termenung jauh menembus hayalan-hayalan nya, melihat itu Udin lebih dari satu menit mendiamkan MD dia tak berani menggeser layar nya, tapi karena takut MD kenapa-kenapa, Udin langsung membangunkan MD dari hayalan nya.
"Ada apa Mas." Ucap Udin dengan sedikit penasaran.
__ADS_1
MD mengerjap-ngerjapkan mata nya lalu menjelaskan seada nya, "Inilah yang membuat villa ini diserang Mas dan saya tau siapa orang yang menceritakan itu." Kata MD dengan masih melihat pesan group dilayar ponsel tersebut.
Penasaran dengan hal itu Udin lalu mempertanyakan apa yang dimaksud MD, kenal dengan orang itu. "Siapa? dia Mas!" Ucap Udin dengan nada menekankan kata SIAPA diawalan kata nya.
"Nama nya adalah pak Ihsan, dia adalah penjaga villa ini di pos keamanan didepan, tapi saat saya malam tadi masuk, kewilayah villa ini. Pos itu kosong dan ternyata mereka juga disekap didalam rumah ini." Ucap MD, menjelaskan.
Udin hanya mengangguk-ngangguk paham, Udin lalu melihat lagi ponsel tersebut dalam beberapa menit Udin lalu menekan tombol kembali lalu melihat-lihat nama-nama dilist WA tersebut. Memang menarik banyak transaksi yang dilakukan oleh orang yang bernama Reza ini. Lalu dia membuka fropil pria tersebut, cuma ada photo kursi dan dia duduk tapi tampilan nya jarak jauh, saat dizoom pun photo nya blur sangat tak nampak wajah nya. " Sial! Sama sekali tak terlihat wajah nya." Kata Udin, dengan melepaskan ponsel itu tepat kearah MD, melihat tampilan photo tersebut MD dengan ingatan nya dia berasa pernah berjumpa dengan wajah ini tapi dia tak ingat dimana, lalu terpikirkan oleh nya akan Iwan,lalu MD langsung berucap, "Mas seperti nya Mas harus menemui Iwan untuk tau lebih detail tentang orang ini, saya yakin dia mengetahui nya!" Kata MD serius, "Iya Mas sebaik nya juga begitu, karena Mas Iwan yang tau dari awal nya, pasti saat penyekapan berlangsung Mas Iwan sangat ingat wajah nya." Ucap Udin melanjutkan apa yang dimaksud MD.
Lebih setengah jam Udin dikamar MD membicarakan tentang kasus itu, setelah dirasa cukup Udin merapikan ponsel tersebut dan memasukan nya kembali keplastik klip saat pertama kali Udin mengeluarkan ponsel tadi. Tim medis juga masih sibuk dengan obat-obat yang mereka kemasi dan membereskan sisa obat-obat yang mereka gunakan untuk menyembuhkan MD, melihat itu Udin pun paham, dianjuga tak ingin berlama-lama disana karena juga masih orihatin dengan keadaan MD, "Baiklah Mas, sudah saat nya Mas MD beristirahat, dan minum obat. Saya pamit dulu dan ingin menjengok Mas Iwan dikamar yang satu nya." Ucap Udin, menyudahi percakapan nya dengan MD, MD hanya mengangguk mengiyakan, sebelum Udin memulai langkah berjalan keluar, MD bersuara kepada Udin.
"Kalau boleh saya meminta, tolong sampaikan kepada pak Jumbran, untuk membawakan para gadis-gadis itu psikiator, saya khawatir dengan keadaan mereka." Ucap MD dengan membenarkan posisi nya yang tadi bersender di bahu ranjang medis kembali ke bantal nya yang menjadi sandaran punggung nya dari awal berbicara dengan Udin tadi.
Udin pun berbalik dan mengangguk, "Siap Mas! saya akan menghubungi beliau secepat nya!" Kata Udin mantap.
Udin pun berpaling dan menuju pintu keluar dari dalam ruangan tersebut membuka dan lalu menutup nya dari luar, lalu juga berpamitan dengan tentara yang menjaga kamar tersebut.
Sebenar nya kamar yang ditempati Iwan dan MD bersebelahan tapi karena Villa itu besar jadi serasa kamar tersebut berjauhan, Udin sambil memegang ponsel nya, dia mengetikkan sesuatu kelayar ponsel nya lalu mengirim nya, serasa sudah cukup dia lalu menyimpan ponsel nya tersebut dan beberapa langkah kemudian sampai lah Udin dikamar Iwan, disana juga ada tentara yang berjaga seperti yang tadi Udin juga hormat kepada tentara tersebut, lalu tentara tersebut membukakan pintu kamar tersebut dan Udin mengucapkan kata terima kasih kepada tentara tersebut. Ruangan tersebut tak jauh beda dengan ruangan yang MD tempati bau obat-obatan tercium pekat didalam ruangan itu, yang membuat Udin bergidik ngilu luka Iwan sangat banyak tangan nya penuh dengan perban-perban yang melilit, muka lebam nya juga banyak, sampai mata Iwan menyipit karena disekitaran mata nya lebam, tangan Iwan memakai gip dan kain putih yang melingkar ditangan nya yang melilit tangan nya. Walaupun begitu Iwan masih bisa makan saat ini. Iwan sedang makan dengan lahap tanpa memperdulikan luka-luka nya yang banyak.
Udin tanpa memperlambat waktu nya langsung menyapa Iwan yang sedang makan, "permisi Mas." Kata Udin dengan sopan.
__ADS_1
Melihat Udin yang di depan pintu kamar, Iwan menelan kunyahan nya yang ada dimulut nya dan memanggil Udin, "Oh Mas Udin, kesini Mas, maaf ya saya sedang makan, Mas Udin mau makan juga?" Kata Iwan, Udin hanya melambaikan tangan nya dan berucap, "Terimakasih Mas, saya sudah di jamu oleh Pak Amat, tadi pagi sekali dia menyuruh beberapa pembantu untuk membuat beberapa makanan buat para anggota saya dan para tentara yang berjaga." Ucap Udin menjelaskan penolakan nya secara sopan.
"Begitu ya. Bagus lah kalau begitu." Kata Iwan sambil menyuap makanan nya.
Udin merasa tak enak sebenar nya mengganggu Iwan yang sedang makan, "Kalau saya mengganggu, saya menunggu diluar dulu Mas?" Kata Udin.
Iwan menggelengkan kepala nya dan mendadahkan tangan nya yang melepaskan sendok nya dari pegangangan tangan nya, "Tidak Mas, sama sekali tidak mengganggu kok! Mas Udin kesini pasti ada sesuatu yang sangat penting mari kita bicarakan dengan begini saja, dan saya juga punya sesuatu yang sangat penting buat Mas Udin." Kata Iwan, dengan membuat Udin juga heran akan itu, membuat dia penasaran.
"Baiklah Mas, kalau begitu, saya juga sangat tak keberatan juga." Kata Udin, dan melanjutkan perkataan nya, "Apa itu Mas? Sesuatu yang sangat penting itu?" Tanya Udin, sangat ingin mengetahui.
Iwan menggeleng lagi dan menelan makanan nya, "Mas Udin dulu, yang menceritakan apa saja yang mas Udin dapat dari TKP pagi ini." Kata Iwan dengan agak mendesak, Udin sedikit terkejut dan terpikir akan kelakuan MD yang baru saja dia temui, menurut Udin, kedua sahabat ini kelakuan nya berbanding terbalik antara kedua nya. Tapi dia tak banyak berpikir dan langsung mengeluarkan catatan nya dan mengeluarkan barang bukti yang dia simpan dikantong nya.
Udin lalu membacakan apa-apa saja yang dia catat dibuku kecil nya dari mulai cerita MD tadi dan penemuan nya setelah membuka ponsel milik pelaku, dan berkas-berkas yang ada ditambang kemaren. Iwan mendengar dengan seksama dan sampai selesai Iwan makan, Udin masih menjelaskan tapi sesekali Iwan juga menyela dan bertanya kepada Iwan tentang masalah yang belum dia pahami.
Sampai ketika Udin menjelaskan tentang masalah pak Ihsan Iwan lalu mengambil alih penjelasan Udin, "Mulai dari sini saya yang akan menerangkan bagaimana tambahan nya Mas, dan ini akan menjadi tambahan yang penting." Ucap Iwan dengan mantap nya.
Udin yang mendengar itu lalu membuka lembaran kosong dikertas nya, dan mengeluarkan polpen nya dari saku nya. Lalu Iwan mulai menceritakan apa yang terjadi sekitaran waktu dan kenapa juga pak Ihsan tersebut.
"Awal nya kami sekeluarga dan teman-teman lusi berada didalam villa dan sangat tidak mengetahui apa yang terjadi diluar, beberapa lama kemudian suara ribut-ribut diluar kedengaran sampai dalam villa karena waktu itu pintu depan villa tak ditutup karena rencana lusi mau santai lagi diluar bersama teman-teman nya." Kata Iwan lalu menarik nafas nya ingin melanjutkan cerita nya.
__ADS_1
Bersambung.
"Kejar target guys."