
Om Ihsan masih menceritakan kisah tentang Ubab. "Ubab sendiri masih kebingungan, dengan bagaimana dia bisa lewat. Dengan keadaan itu, sedangkan jalan yang dia lalui cuma satu-satu nya akses, dimana biasa nya dia ke hutan mencari kayu.
Ada pun ditepi jalan kiri kanan nya, penuh dengan lebat dan tebal nya, semua jenis rumput. Bahkan, tidak bisa dilalui seorang manusia.
Beberapa langkah kemudian, Ubab maju ke lorong jalan itu. tapi, beberapa detik setelah nya, bunyi mendengung memekakkan Telinga nya. Dan suara itu berasal dari lorong segitiga tersebut. Ubab merasa langsung tak bisa bergerak, dia kehilangan kesadaran nya dan pingsan. Beberapa waktu lama nya Ubab sudah berada diluar hutan, dan barang-barangnya sudah tidak ada bersama nya.
Lama nya Ubab pingsan menandakan hari sudah gelap. Merasa ada yang tak beres, Ubab langsung pulang kerumahnya dengan ketakutan sepanjang jalan.
Saat pulang kerumahnya, Ubab merasa telinga nya mengeluarkan cairan merah Ubab sangat kaget, dengan keadaan nya." Kata Om Ihsan, sambil sekali-kali menghisap rokok nya dengan santai.
Iwan yang mendengar hal itu, seakan mendapat hadiah yang sangat berharga.
Bukan untuk dia, tapi untuk teman nya yang sekarang tidak bersama nya. "Kejadian ini, sudah berapa lama Om?" kata Iwan, bertanya memastikan.
"Baru Dua hari yang lalu bahkan, cerita ini sama sekali tak dipercaya oleh Warga. Tapi saya sedikit percaya akan hal ini Mas," Kata Om Ihsan, dan berbicara kembali. "Dua minggu yang lalu, suara seperti dentuman kencang mengejutkan semua Warga di daerah sini. Menurut segelintir Warga dan tetua Masyarakat, bahwa ditengah hutan ini masih ada Monster raksasa yang bersembunyi didalam sana. Ukuran nya seperti gunung dan akan keluar mencari makan!" Ucap Om Ihsan, dengan nada berbisik dan menegaskan.
Separuh tak percaya Iwan ingin tertawa tapi dia tahan, untuk menghormati Om Ihsan "Sekarang bagaimana? keadaan Pak Ubab itu, Om?" Kata Iwan bertanya kembali, seakan tak puas dengan pernyataan dan cerita Om Ihsan.
"Karena kejadian nya baru-baru ini Ubab tak pernah lagi kehutan, dia takut. Mungkin bukan barang-barang nya yang akan hilang! Tapi Diri nya lah yang akan hilang, kalau dia memaksa ke sana!"
Jelas Om Ihsan.
__ADS_1
Iwan manggut-manggut mendengarkan cerita Om Ihsan, Iwan sebenar nya ingin mendengarkan lagi cerita itu tapi Lusi dan kawan-kawan nya memanggil nya karena mereka ingin istirahat dan tidur. Tapi Iwan tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya dia tetap harus mengawasi gadis-gadis itu
Setelah pamit kepada Om Ihsan, Iwan pun meninggalkan nya dan menghampiri para gadis itu, untuk membereskan semua nya dan menyuruh mereka untuk istirahat. Lalu mengabsen semua nya agar hal tak diinginkan tidak terjadi, terlihat Lucu bagi gadis-gadis tersebut. Tapi hal kecil seperti ini, membuat orang akan selalu tertib dan tak semena-mena, walaupun mereka bebas untuk liburan.
"Oke! masuk kedalam, periksa semua nya jangan ada yang ketinggalan!" Kata Iwan memberi perintah, dan semua nya masuk kedalam villa.
Iwan yang terakhir masuk, mengucapkan selamat bertugas kepada petugas keamanan di sana. Menurut nya selama kita berbuat baik dan sopan kepada semua orang, kita juga akan mendapat kan kebaikan dari orang-orang itu.
Berat rasa nya tubuh nya setelah seharian bertugas menjaga gadis-gadis itu, seakan ingin langsung tidur. Tapi dia sadar tak baik langsung tidur kalau tubuh nya belum dibersihkan. Dia menuju ruangan nya, yang sekamar dengan MD. Saat membuka pintu nya, terlihat MD sedang tidur pulas dengan tengkurap seakan lagi menyembunyikan tubuh nya dari seseorang, tapi kenyataan nya dia sedang tidur pulas. "Ternyata orang jenius juga bisa tidur, seperti itu." Gumam Iwan sambil terkekeh, Iwan langsung berniat cepat-cepat mandi dan juga tidur. Karena besok juga, dia pasti seperti siang tadi, standby menjaga gadis-gadis remaja itu.
Beberapa waktu kemudian Iwan sudah berganti baju rambut basah nya diusap-usap dengan handuk nya, etelah melihat ke ranjang busa tebal itu MD sudah bangun, dan ditangan nya sudah ada segelas kopi. "Ternyata orang jenius ini tetap aneh," gumam Iwan sambil menghampiri MD.
"Ini sudah lewat tengah malam, kenapa minum kopi? Kenapa tidak besok pagi saja? Kata iwan sambil mencari-cari baju di Tas nya.
Lalu iwan teringat cerita Om Ihsan tadi, lalu dia berniat menceritakan nya. Iwan yang sudah rapi dengan baju kaos nya, langsung menaiki ranjang besar itu lalu merebahkan diri nya. "Tadi aku dapat cerita yang sangat bagus," Kata Iwan
Dengan nada teka-teki nya. "Begitu kah, mulai lah menceritakan nya." Sambung MD, Tapi pikir MD kawan nya ini tak akan selesai bercerita, melihat keadaan mata kawan nya itu. Maka nya dia langsung menyuruh Iwan mulai bercerita, Iwan dengan memejamkan mata nya, lalu membuka nya lagi seperti mengingat cerita, "Tadi aku bertemu Om Ihsan si penjaga keamanan, dia bercerita tentang seseorang yang dibuat pingsan lalu barang-barang nya dirampok!" Kata Iwan sambil menguap-nguap.
"Lanjutkan," Kata MD, mendengarkan secara seksama, mulai lah Iwan bercerita panjang lebar dan beberapa waktu kemudian. "Lalu Pak Ubab pun sekarang tak pernah lagi kedalam hutan tersebut." kata Iwan, mengakhiri cerita nya sambil menutup mata nya, beberpa saat kemudian dia pun mulai tertidur. Sudah MD duga hal itu akan terjadi, kawan nya itu tak akan sanggup bercerita lebih panjang lagi.
MD, mengambil handphone nya dan mulai membuka Google pencarian. Menurut MD, apa yang tak bisa dilakukan oleh Google, semua hal yang kita tidak tau pasti ada disitu.
__ADS_1
Dia mencari-cari dan beberapa kali kembali lagi ke awal pencarian, dan mengetikkan Dua atau Tiga suku kata lagi dan menggeser-geserkan layar nya. Mata nya tetap terjaga sampai waktu pagi sebentar lagi tiba, dia masih asik membaca dan mencari hal yang menurut nya penting.
Matahari mulai menyinari ujung atap Vila tersebut, dan suara burung, suara ayam bersahutan. MD dengan mata sayu yang merah
Mengerjap-ngerjapkan mata nya, saat dia mau meminum kopi nya ternyata sudah habis. Lalu dia menaruh hape dan gelas kopi tersebut, lalu merebahkan diri nya. Seakan sudah puas dengan apa yang dia cari dia memejamkan mata nya.
Pagi hari yang sangat cerah membuat Matahari sedikit menyingsingkan cahaya, padahal masih pagi. Embun-embun dingin membuat basah semua tumbuhan yang ada didekat vila tersebut, seperti baru saja turun hujan, tapi sama sekali malam tadi tidak hujan. Beberapa anak gadis sedang membantu para pembantu di dapur, sekaligus belajar bagaimana cara memasak yang benar. Ulah Ayu lah yang membuat anak-anak orang kaya ini akhir nya ingin merasakan bagaimana Orang-Orang di dapur bekerja. Mereka sangat Antusias dengan apa yang mereka pelajari, sedang kan Ayu mencoba menjelaskan dan sesekali dia membantu meracik dan mengaduk-ngaduk makanan yang masih dimasak Ibu dapur.
Iwan mengerjap kan mata nya seolah dia mendengar keramaian yang samar, lalu perlahan sadar bahwa hari sudah pagi. Dia menggeliat-liatkan tubuh nya seolah ingin memanjangkan tubuh nya. Beberapa saat kemudian dia bangun dan melihat ke samping, terlihat MD tidur dengan pulas seolah-olah dia tak pernah bangun. "Luar biasa! Jam berapa, dia tidur malam tadi?" Gumam Iwan, sambil bangun dari tidur nya, menuju kamar mandi. Menurut Iwan sendiri MD tak pernah telat kalau masalah kerjaan, tapi dia bisa melakukan, hal yang orang malas lakukan tapi dia lakukan. Contoh nya seperti malam tadi, bisa-bisa nya dia minum kopi se landung malam itu. Kebiasaan nya orang akan melakukan itu, langsung tidak tidur mulai dari awal malam sampai pagi. Dan kebiasaan yang MD lakukan itu adalah yang tak biasa, malahan itu adalah hal yang paling malas oleh kebanyakan orang lakukan.
Iwan sudah siap dengan segala keperluan nya dikamar mandi tadi, lalu dia keluar kamar
Dia teringat akan perkataan Lusi malam tadi, bahwa Ayah Ibu Lusi akan datang. Iwan pun bersiap seadanya menyambut Ayah dan Ibu Lusi itu. Menurut Iwan mereka berdua adalah orang yang gila kerja. Karena untuk menemui anak mereka saja mereka perlu satu tahun membuat janji baru kesampaian. Tapi walaupun begitu, hubungan mereka tetap rekat, karena keluarga Iwan tak berasa iri sedikit pun untuk itu. Bagi Iwan pun, walau pun mereka itu seperti itu, tetap saja mereka adalah paman dan bibi nya.
Iwan keluar dari kamar dan sudah menemui para gadis yang sudah ramai di meja makan. Ada yang menyajikan, ada pula yang santai menunggu makanan nya tiba, seperti sudah ada yang mengatur mereka. Melihat itu Iwan menghampiri mereka yang berada didekat meja makan. Karena sudah banyak hidangan yang sudah siap, tinggal menunggu makanan yang lain nya saja lagi. "Wah ... Sudah siap semua ini!" Kata Iwan, sambil melihat apa apa saja yang ada dimeja makan tersebut. "Para gadis sangat Antusias dalam menyiapkan makanan-makanan ini. Mungkin naluri mereka lah yang membuat mereka seperti itu," Pikir Iwan setelah duduk dengan santai di meja makan, menunggu persiapan yang sebentar lagi selesai.
Saat ini Iwan sama sekali tak memikirkan MD, karena dia juga lapar. Setelah bercerita tadi malam dia langsung terlelap karena kelelahan dengan aktifitas membosankan yang ia harap akan segera berakhir. Beberapa waktu kemudian mereka menyantap makanan dengan sama sekali tak bersuara. Yang ada cuma sentuhan garpu sendok dengan piring sesekali mungkin memang ada suara yang tak berarti.
__ADS_1
Bersambung.
Aku masih memikirkan bagaimana? MD dan Iwan menemukan cara menyelesaikan kasus ini. Karena pembukaan kasus nya sangat besar, semoga saja cukup memuaskan.