
Tegang
Hawa saat, menuruni lorong pepohonan. Yang sengaja, ditaruh, menghalang jalan tersebut. Sangat berbeda, saat mereka berada disekitaran mobil.
Hawa yang tadi nya sangat panas, sangat menyengat, ke kepala mereka. Sekarang berubah menjadi sangat dingin, dan aroma-aroma basah, sangat tercium didaerah itu. Sangat berasa, seakan waktu terulang ke pagi hari.
Emdi yang memulai duluan pun, merasa hal itu tak wajar bagi nya. Beberapa langkah sudah dijalani, dia menahan laju jalan nya dan berhenti sebentar. Terus satu tangan nya di arah kan nya ke arah samping, untuk memerintah Udin yang dibelakang nya juga berhenti.
Udin yang melihat apa yang di perintahkan Emdi pun berhenti, karena dia yakin. Pemuda yang didepan dia ini, sedang memikirkan sesuatu. Dan merasakan hal aneh, Udin juga merasa aneh, dengan tempat yang mereka jalani ini. Tempat yang begitu sejuk, tak ingin lama-lama melamun Udin langsung menanyakan apa yang tadi dia pikirkan.
"Apa ada hal yang mencurigakan Mas?" Ujar udin bertanya, dengan menghampiri Emdi, sampai dia bersampingan dengan Emdi.
Emdi dengan ekspresi datar, dan mata nya menatap tajam, dengan arah dihadapan nya.
"Apa Mas udin, melihat kilatan cahaya berkilap di depan itu?" Ucap Emdi, sambil menunjuk hal yang sangat samar terlihat, bahkan hampir tak terlihat.
Udin sebenar sangat ragu, bisa melihat apa yang dilihat Emdi. Tapi dia tak ingin dilihat oleh Emdi, bahwa tak melihat sesuatu. Dia dengan sedikit maju, beberapa langkah.
Akan tetapi, langkah nya ditahan oleh MD, bahkan, bahu udin langsung ditarik MD. Sampai udin terduduk ketanah.
"Apa Mas tak melihat nya! Ini jebakan, sedikit saja Mas maju, habis sudah! Entah apa yang akan terjadi." Jelas MD, sedikit mengeraskan suara nya.
Udin masih kelagapan, dengan perlakuan Emdi, yang membuat nya terduduk ditanah yang sedikit berasa basah.
Udin perlahan, melihat kilatan cahaya didepan nya. Berkelipan tepat didepan muka nya, dia langsung mundur, dengan mendorong kaki nya satu demi satu. Kaki nya mendorong kebelakang, kilatan yang berkilap itu. Adalah tali pancing, yang sangat terang. Membentang, antara sisi kanan dan kiri beberapa pohon.
MD melihat kiri kanan, sambil memutar tubuh nya. Lalu dia sesekali berjongkok, dan melihat sisi benang tersebut.
Lalu dia mengambil arah kanan, sesuai jalur benang mengkilap itu dan menulusuri nya.
Melihat hal tersebut Udin yang tadi nya tegang, hampir saja dia tak bernyawa. Gara - gara salah melangkah, membangunkan diri nya dan bergegas kearah yang sama dengan MD. Dia tak ingin lagi kejadian seperti tadi, terjadi lagi pada nya.
"Mas Udin apa Mas punya pisau?" Kata MD, tanpa menoleh kearah Udin terus fokos, melihat arah benang, yang sedari tadi dia ikuti.
Udin langsung mengambil pisau yang ada dikantong rompi nya, dan menyerahkan nya kepada Emdi.
__ADS_1
"Ini Mas pisau nya," Kata Udin, sembari menyerahkan pisau tersebut.
Kali ini Udin, tak mempertanyakan lagi apa yang MD kerjakan. karena kejadian awal tadi.
Emdi sendiri melewati pohon besar seukuran tubuh mereka. Lalu memberi jarak pada pohon tersebut. Dengan tali itu lalu dipotong nya,
Saat memotong tali tersebut, tali tersebut. Langsung melesat, menjauh dari mereka dengan cepat, bahkan tak terlihat lagi.
Beberapa detik, semua jalan didepan mereka lalui tadi berubah. Jadi lobang - lobang dalam, Yang didalam nya ada ranting - ranting tajam. Yang diraut sangat tajam, melihat itu Udin bergidik ngeri.
"Ini lah yang aku maksud itu, Mas." Kata MD, seandai nya Mas terus saja berjalan, dan aku biarkan saja. Saat tadi, cuma nama Mas, yang akan pulang." Ucap MD, lagi menjelaskan.
Emdi sendiri sengaja menjelaskan ke Udin, agar dia tak salah paham dengan sikap nya tadi. Takut nya, Udin menganggap nya kurang ajar, atas perlakuan nya tadi kepada Udin.
"Maafkan saya Mas MD," Ucap Udin, dengan tampang menyesal. Udin tau dia salah, bahkan ditempat seperti ini harus nya dia, lebih waspada dengan keadaan.
Emdi tak mempermasalahkan hal itu. Lalu dia menepuk bahu Udin, dan menunjuk kearah selanjut nya. Untuk melanjutkan perjalanan, mengingat mereka tak tau hutan buatan ini sampai mana. Tapi setelah, jebakan - jebakan tadi terlihat, jalur jalan nya semakin nampak.
Menurut Udin, itu adalah keburuntungan yang tak terduga.
Md menyipitkan mata nya kearah depan. Benar saja, cahaya terang menyeruak masuk kedalam hutan buatan itu. Tanda mereka sudah hendak keluar, akan tetapi, lagi dan lagi, Emdi menahan Udin dengan sebelah tangan nya. Kali ini seperti sedang melancangkan tangan, dia menoleh sedikit kearah Udin. Melihat hal itu, Udin cuma mengangguk mengerti disini. Karena Udin adalah seorang polisi, dia menyadari maksud MD. saat mereka keluar dari lebat nya pohon ini.
"Lagi pula, ini adalah pengepungan." Udin teringat kata - kata pak jumbran, dan Udin mengingat apa yang diperintahkan atasan nya tersebut.
Misi ini adalah mencari, dan menangkap dalang yang membuat tambang tersebut. Bukan untuk membuat kericuhan pihak tambang yang sedang bekerja. Karena kita tidak tau? Orang - Orang yang bekerja ditambang tersebut.
Bisa jadi, cuma masyarakat biasa. Yang sama sekali tak tahu menahu, akan asal usul tambang tersebut. Karna itulah pak jumbran menyarankan misi ini hanya pengepungan.
Udin melihat emdi yang perlahan - lahan mengambil jalan menyisiri hutan pohon itu, tanpa sedikit pun keluar dari batas nya. Dia dengan memalingkan tubuh nya kearah berlawan dengan MD. Niat Udin sama dengan Emdi yaitu sama, melindungi titik buta mereka, walaupun mereka masih belum keluar dari hutan tersebut.
"Apakah HT bisa digunakan saat ini?" Kata MD pelan.
Udin pun menjawab, "Masih tak berpungsi! channel kami tidak terkoneksi sama sekali, saat ini." Jelas Udin, sambil menekan tombol on/off HT nya.
"Kalau begitu, kita akan menyusup duluan. Saat waktu menjelang malam." Kata MD, memberi usulan.
__ADS_1
Emdi menjelaskan, "Kalau sampai malam sangat tak menguntungkan bagi mereka. Pekerja tambang dan para staf, akan keluyuran dengan cahaya senter, dan lampu lampu besar yang sangat terang. Malah, itu akan membuat kita dipersusah, oleh mereka. Waktu tepat untuk menyusup, adalah sebelum malam. Karena semua pekerja masih istirahat," Jelas MD, sambil terus mengendap ngendap, bersama Udin.
Beberapa langkah telah berlalu, mereka akhir nya sampai di ujung hutan. Dan didepan nya, ada jurang. Bekas galian mesin besar, sangat dalam. Dan tak ada jalan, yang bisa membuat mereka turun kesana. MD melihat dan menyapu semua pandangan nya, seolah mencari sesuatu yang hilang dengan mata nya. Tiba - tiba, dia sedikit membuka lebih lebar mata nya. Saat melihat keseberang jurang tersebut. Ada sebuah terowongan, yang bisa dimasuki manusia. Dan terlihat juga, beberapa orang masuk dan keluar dari terowongan tersebut.
Emdi, menepuk bahu Udin. Ingin memberi tahu apa yang MD lihat. Tetapi Udin menganggukkan kepala nya, dia juga melihat hal itu. Berbeda dengan MD, Udin malah ternganga, melihat keadaan itu. Seakan, dia sedang berada didunia lain, bukan dibumi yang dia tempati.
"Aneh sekali, ada tempat yang seperti itu, di tempat seperti ini." Kata Udin, sambil mengeluarkan hape nya, dan memoto nya beberapa kali.
Emdi tak mengubris hal itu. Akan tetapi, yang dia pikirkan sekarang. "Bagaimana, cara membuat terowongan tersebut? Misal nya ada mesin nya, pasti sangat terlihat. Tapi melihat dari atas ini, mesin itu tak ada." Pikir MD.
Emdi Melihat-Lihat, sisi tebing tersebut, dan pada akhir nya. Dia menemukan, apa yang dia cari. Sisi tebing tersebut, memang curam. Bahkan, sama sekali tak bisa dipanjat. Akan tetapi, disisi tebing itu, ada lereng yang sangat mirip, dengan perosotan yang bisa dituruni.
Udin yang melihat emdi mengarah ke sesuatu ditepi tebing, juga ikut. Dan memikirkan hal yang sama, dengan apa yang dipikirkan oleh MD.
Mereka sama sekali tak perduli, dengan celana mereka yang kotor. Yang jelas, misi mereka harus selesai. Karena, sisi tebing tersebut. Masih dilindungi, oleh pohon - pohon. Yang sengaja, ditaruh disana. Jadi dengan bebas, mereka bisa turun. Tanpa ada yang mengetahui, apa yang mereka lakukan.
Dengan duduk, dan menjulurkan kaki kedepan, Seperti main seluncur air. MD, memanfaatkan momen tubuh nya. Dalam beberapa detik, perlahan dan semakin turun. Dia berhasil menyerusut, turun kebawah, dengan pantat celana yang semua kotor dengan tanah. Dan juga sama, dengan Udin.
Dan mereka bahkan, sama sekali tak perduli. Lalu lanjut berjalan, sambil Mengendap-Ngendap, kearah Mesin-Mesin besar yang ada disana. Untuk melindungi mereka, karena bukan saat nya bagi mereka, keluar dan menampakkan diri.
Sebenar nya, Udin sudah menawari MD membawa senjata. Tapi MD sendiri, yang tak mau membawa nya.
Menurut MD, dia sangat terganggu dengan hal itu. Dia cuma ingin mencari kebenaran, bukan untuk mengancam orang. Dan terlebih lagi, dia memang bagian dari kepolisian. Tapi cuma investigasi. Terkecuali keadaan nya tak terduga.
Udin sendiri sudah siap, dengan senjata api nya. Yang dia pegang Erat-Erat, akan tetapi, setelah MD melihat Udin.
Md sendiri yang menegur Udin, untuk tak mengeluarkan senjata. Karena terlalu beresiko, dengan melambaikan tangan nya, dan membuka kelima jari nya.
Untung nya, Udin menurut saja. Karena yang benar tau kondisi saat ini, cuma MD. Sedangkan Udin, masih tak bisa melihat titik terang. Teman-Teman nya masih saja, belum mengontek nya lewat HT. Itu lah yang membuat Udin agak Was-Was.
Seorang keamanan, Tiba-Tiba saja lewat didepan mereka. Karena, tidak menyadari di samping mesin besar yang dia lewati tersebut. Ada orang, yang sedang mengintai.
Begitu juga Emdi dan Edin, mata mereka langsung terbelalak, melihat hal itu.
Udin yang dari tadi sudah Was - Was, langsung menyerang keamanan tersebut. Dengan langsung membekap mulut nya, dari belakang. Dan sikut yang satu nya, Udin gunakan untuk menghentak, bahu antara leher keamanan tersebut. Seketika itu juga, keamanan itu langsung pingsan. Dibuat serangan Udin.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa Like dan Subcribe ya geys ya. Karna like dan koment kalian, akan membuat aku tambah semngat dalam menulis cerita.