
Ayu mulai bisa mengendalikan diri nya. Walaupun sesekali ada Isak kan tangis nya, Ayu mulai berdiri ada yang ingin dia tunjukan kepada MD. Karena pertaruhan tadi, memang sudah disepakati. siapa yang kalah akan menyetujui permintaan, si pemenang dan MD memenang kan nya. Sedang kan diposisi Ayu, dia sudah rela dengan apa yang akan terjadi. Walaupun akan menanggung malu di masa depan nya. Tapi, belum sempat Ayu membuktikan apa yang dia simpan. MD mengangkat tangan nya, "Lusi! Sebaik nya kamu melindungi nya. Karena ini akan bersangkut-paut dengan \*\*\*\*\*\*\*\* Ayu, Dan Belahan pantat nya," Kata MD.
Sementara berbicara seperti itu, MD mengajak Iwan untuk mundur beberapa langkah. Dari mereka agar Privasi' Ayu tetap terjaga. Iwan yang tak tahu apa-apa pun, hanya mengiringi MD dengan santai nya. Dirasa sudah cukup aman, Lusi mulai mengerjakan apa yang diperintahkan MD. Ayu membuka Paha nya sedikit, agak lebar. Karena Ayu ini mempunyai Dada dan pantat, yang besar. Dikarenakan Perawakan nya yang besar. Belahan Pantat nya sangat besar, bahkan telapak tangan laki-laki dewasa, bisa muat kedalam sana.
Tiba tiba saja, entah dari mana datang nya; sebuah Handphone dengan silikon nya. Jatuh, dari dalam belahan pantat Ayu. Awal nya lusi tidak ada berpikiran macam-macam, bahkan menganggap MD lah yang berhalusinasi. Tapi sekarang, dia melihat sendiri bahwa Handphone yang sebesar telapak tangan tersebut. Bisa muat kedalam sana, betapa kaget nya, dia.
Bahkan, Lusi tak bisa berkata-kata lagi, sambil melindungi bawahan Ayu yang sedikit terbuka. Dia cuma mengerjap kan Mata nya berulang-ulang, seakan tak percaya apa yang dia lihat. Setelah itu Ayu langsung mengambil Hape nya itu, Lalu membersihkan nya. Walaupun, terlindung dalaman nya. Tetap saja, ada sedikit kotor didalam sana.
Setelah dirasa selesai, MD langsung menghampiri mereka berdua. Lusi masih terkagum-kagum, dan masih tidak bisa bicara, dengan apa yang sudah terjadi tadi. Dan lusi pun duduk di samping Iwan, melihat hal yang aneh terjadi dengan lusi
Iwan lalu menyapa Lusi. "Lusi apa kamu baik-baik saja?" Kata Iwan.
Seakan seperti ditarik dari alam mimpi yang dalam. Lusi langsung mengerjap-ngerjap kan mata nya, "Iya kak' Saya baik-baik saja." Kata Lusi, masih penasaran. Dia ingin segera tau, Bagaimana bisa? Handphone itu bertahan disitu? Cukup lama!" Pikir Lusi, dengan sejuta pertanyaan.
"Lusi maafkan aku!" Kata Ayu, memulai pembicaraan.
"Aku membuat semua orang, panik karena olah ku. Kak Iwan! Aku juga minta maaf, dengan Kakak. Karena membuat Kakak panik juga." kata Ayu, dengan sendu.
MD hanya diam dan mendengarkan, karena pikir nya. Dia tak perlu bicara, karena yang jadi korban adalah Iwan dengan keponakan nya itu. "Biarlah! Mereka yang memecahkan masalah nya, masalah mereka." Gumam MD.
Iwan kemudian menarik napas nya, "Ayu kamu gadis yang pintar, dan baik. Tapi kenapa? Sempat-sempat nya kamu berbuat seperti itu kepada kami?" Kata Iwan. "Apakah? Ada masalah Ayu!" Lanjut Iwan lagi, penuh pertanyaan. Yang melayang di otak Iwan, yang akhir nya bisa Ia utarakan ke Ayu.
Lusi, cuma manggut-manggut' seolah menunggu bagaimana Ayu, akan menjelaskan semua nya.
__ADS_1
"Saya iri! Melihat teman-teman saya kak!" Kata ayu sambil menatap kepada Lusi. Dan melanjutkan kata-kata nya. "Mereka, kalau waktu di ruangan kelas. Selalu saja! Pamer kekayaan, dan selalu pamer barang-barang Mahal, ke sesama teman-teman nya." Kata Ayu, sambil mengepalkan kedua tangan nya.
"Apa mereka tak sadar! Kami yang tak berpunya ini, dan juga teman-teman yang lain. Yang sama nasib nya, dengan saya juga ingin mempunyai, yang mereka punya!" Lanjut nya.
"Apa mereka mengerti tentang perasaan saya? Walau pun saya selalu juara 1, dan selalu bagus dimata guru-guru. Tapi itu juga tak akan membuat saya, menjadi seperti mereka. Menjadi orang yang berpunya, apa saya salah? Sedikit saja! berkeinginan, memburukkan mereka karena kekayaan mereka."
Lagi dan lagi air Mata menetes dan mengalir dipermukaan wajah putih Ayu.
Kali ini Lusi tak berkutik, dengan apa yang sudah di ucapkan Ayu. Bahkan dia merasa' dia bersalah terhadap Ayu. Karena selama ini dia menganggap ayu sebagai teman. Dia bahkan saling tertawa bersama, ternyata itu hanya topeng Ayu yang menutupi, rasa Iri nya kepada teman nya. Lusi merasa sangat jauh sekarang dengan Ayu. Serasa ada dinding yang memisahkan dia dengan Ayu.
"Saya sudah tak tahan, melihat sikap mereka! Seakan-akan Harta adalah segala nya. Pamer! hanya karena uang dari Orang tua mereka, Setiap ada pertemuan. Pasti masalah harta! Saya yang dari keluarga tak mampu, bisa apa! Seakan saya akan diasingkan, selalu dan selalu!" Ayu mengucapkan kata-kata nya, dengan sangat dalam. Sangat terlihat Ayu yang sedih karena dia tak menemukan arti teman, saat dia berkumpul bersama mereka. Sambil menangis dia menutupi Wajah nya.
Kamu gadis baik. Dengan kejadian ini aku sadar, aku sudah lupa! Bahwa selama ini. Aku juga termasuk, menyakiti hati kamu." Kata Lusi, sambil duduk bersebelahan dengan Ayu.
Ayu masih menangis, karena rasa kesal, malu, berkecamuk dalam diri nya. Lusi memeluk Ayu dengan lembut. Lusi dalam Hati nya berjanji, akan menjaga perasaan kawan-kawan nya setelah ini. Begitu pun Ayu, Ia membenamkan Wajah nya karena rasa yang sudah sangat dalam. Dia rasakan, begitu terpendam akhir nya keluar dalam diri nya.
MD bangun dari duduk nya, melihat itu Iwan juga bangun. Cuma ditahan oleh MD, "Minta lagi penjelasan, kepada Ayu? Apa pun itu! Buat Ayu tetap nyaman." Kata MD, berbicara pelan, dan berlalu ke arah pintu keluar ruangan kecil tersebut. Entah apa yang dilakukan MD, tapi Iwan tak menghiraukan nya. Dia malah ikut sedih, melihat keadaan Ayu. Tapi dia tetap berusaha tenang supaya kondisi ini tetap terjaga.
Dua gadis yang berpelukan dihadapan Iwan pun mengakhiri, acara mereka. Mata mereka merah, akibat pecah nya tangisan mereka berdua.
__ADS_1
Ayu membuka suara nya, dengan berat. dan penuh penyesalan, diwajah nya. "Lusi, aku lebih baik pulang saja. Aku akan memanggil Taksi online." Kata Ayu, sambil ingin berdiri dari sofa, yang ia duduki tadi.
Akan tetapi, tangan lembut Lisa menahan pergelangan tangan Ayu. "Jangan lakukan itu," Kata Lusi. "Yang tau masalah ini. Hanya kami bertiga, pasti kak MD punya solusi tentang ini!" Kata Lusi, yang tak membiarkan Ayu pergi dan Iwan juga memberikan respon yang sama dengan Lusi kepada Ayu.
Iwan ingat perkataan MD untuk menahan ayu lebih lama, dan buat dia senyaman mungkin. Iwan masih mencari cara yang cocok untuk itu. Tapi dia tak menemukan nya dipikiran nya. Kalau dia mengintrogasi lagi Ayu, itu akan membuat perasaan Ayu menjadi berkecamuk lagi. Dia pasti akan cepat-cepat pulang, itu juga akan membuat perasaan Lusi akan menjadi lebih tak nyaman, dengan keadaan sekarang. Sambil menggaruk-garuk kepala nya, Iwan berharap kepada Lusi agar bisa mencairkan suasana.
Tapi beberapa menit terdiam, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Ke semua rombongan masuk, gadis-gadis itu terlihat sedih. Wajah mereka terilihat sekali penyesalan yang dalam. Semua nya masuk keruangan tersebut, dan berkumpul dihadapan Ayu.
Ayu terlihat terkejut dengan hal itu, tapi sebelum keterkejutan itu menguasi nya. Salah satu dari kelompok itu, berbicara. "Ayu, maafkan kami! Karena telah berperilaku jahat kepada mu. Kami, di Butakan oleh harta keluarga kami, yang hanya mementing kan kehidupan kami. Dan sama sekali tak memperhatikan keadaan orang lain!" Kata seseorang dikelompok itu. Terus ada lagi yang berucap, "Aku pun! Ayu aku minta maaf dengan yang sering aku lakukan. Ternyata aku sudah salah! Bahwa tak seharusnya, milik orang tua dipamerkan didepan kawan-kawan.
Ayu kembali menangis, dan tangis nya tak bersuara. Seperti dia melampiaskan rasa Hati nya sekarang. "Kawan-kawan! Aku minta maaf! Aku minta maaf!" Suara Ayu tak beraturan, dengan keadaan nya sekarang. Dia menghamburkan pelukan nya, ke arah kawan-kawan dihadapan nya. Suasana langsung berubah jadi suka-cita. Lisa yang terduduk pun langsung berdiri dan menghampiri kawan-kawan nya.
Dari dinding samping pintu keluar, MD dengan melipat tangan nya, dan bersandar di dinding, kaki nya ditekuk nya satu, untuk menumpu tubuh nya. Sama sekali tak bersuara, seperti dia sedang menonton teather dikelas seni.
Iwan terharu, dengan keadaan yang ada dihadapan nya ini. Lalu terpikir, "Mereka tau seperti ini." Sambil ber decih, Iwan bergumam lagi. "Pasti! MD yang melakukan ini," lalu membalikkan tubuh nya. Ternyata MD sudah ada di samping pintu ruangan tersebut. Iwan menghampiri MD dan berucap, "Jadi ini. Ya aku tak bisa membantu mu kali ini," kata Iwan. MD pun membalas ucapan Iwan, "Tidak apa-apa. Lagi pula kamu, sudah melakukan tugas mu, dengan baik." Sahut MD, sambil melayangkan tangan nya kearah Iwan. Dan Iwan pun, melakukan hal yang sama, mereka TOS. Seperti rencana mereka berhasil sempurna.
"Kalau cuma kita yang tau perasaan Ayu. Lalu bagaimana? Dengan mereka? Tak akan sampai, kalau dibiarkan!" Kata MD sedikit antusias, memulai pembicaraan. "Lebih baik begini, jadi satu sama lain mengerti. Walaupun terlihat buruk diawal," Sambil mengeluarkan Hape nya. Dan memutar rekaman Hape nya, ketika Ayu berbicara. Iwan mendengar itu, sebenar nya tak heran. Tapi dia tak habis pikir, kawan nya ini persiapannya, luar biasa kalau masalah seperti ini. Iwan manggut-manggut, "Seperti nya kita harus mengakhiri nya. Biar mereka melanjutkan kerjaan mereka!" Kata MD, mendorong bahu kawan nya.
"Baiklah!" Kata Iwan, sambil berjalan dan menghampiri kelompok gadis itu, untuk memberi perintah. Dan MD sendiri keluar dari ruangan tersebut, dan menghilang dari balik pintu.
Bersambung.
__ADS_1
Untuk bagian ini aku selesaikan saja. Soal nya ini hanya permulaan.
Plot ini sendiri, akan bersambung dengan plot selanjut nya. "Terimakasih! Telah membaca."