
Jovian mengajari banyak hal pada Sung Ha dari mulai siapa dirinya, hingga bangaimana sikap para makhluk padanya. Tapi Jovian mengatakan jika Sung Ha memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Kekuatan malaikat dan iblis yang luar biasa.
"Keluarkanlah sayapmu." perintah Jovian.
"Aku tidak bisa." jawab Sung Ha setelah mencobanya.
"Lakukan seperti dulu yang pernah aku ajarkan padamu."
"Tidak bisa. Sayapku tak mau keluar."
Jovian melihat Sung Ha bingung. Dan pada akhirnya menyuruh gadis itu berdiri.
"Pejamkan matamu."
Sung Ha segera melakukan apa yang diperintah Jovian. Lelaki itu mengkecup bibir Sung Ha yang membuat gadis itu membuka matanya. Tapi sayap itu tetap tidak keluar.
"Sebenarnya kau itu makhluk apa?" tanyanya sedikit emosi.
Sung Ha masih diam terpaku, ini kedua kalinya Jovian mengkecupnya. Jantung Sung Ha berdebar melihat wajah Jovian yang tampak kebingungan. Gadis itu memegang dadanya dengan kedua telapak tangannya. Dan sayap putih keluar dari punggungnya.
Mata Jovian melebar melihat Sung Ha dengan sayap putih bersihnya. Ia tampak sangat cantik. Tanpa perintah dari Jovian sayap hitam miliknya keluar begitu saja. Lelaki itu berbalik dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Jantungnya berdebar melihat Sung Ha seperti itu.
"Aku akan mengambilkanmu makanan dan minuman. Kau pasti haus."
Jovian mencari alasan untuk bisa tidak menatap Sung Ha dan memilih sedikit menenangkan dirinya. Ia pergi tanpa menatap Sung Ha.
Dari kejauhan Jovian bisa milihat wajah Sung Ha yang senang melihat sayap putihnya. Tanpa ia sadari ia ikut tersenyum milihat kejadian itu. Jovian menyembunyikan sayapnya kembali dan mengambil minuman di kulkas. Tak lupa ia juga mengambil beberapa cemilan yang ia punya di rumahnya. Jovian menaruh minuman dan cemilan itu di meja di depan Sung Ha.
"Kau tampak begitu senang." ucap Jovian dan duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan Sung Ha.
"Kau lihat sayapku bisa muncul kembali, bangaiman aku tidak senang." lelah berdiri ia akhirnya memilih duduk dan meminum minuman yang Jovian bawakan untuknya.
"Sayapmu sudah kembali normal."
Sung Ha hanya mengangguk mengiyakan perkataan Jovian.
"Sepertinya kau akan menjadi malaikat jika kau senang dan menjadi iblis jika kau sedang marah. Sebaiknya kau benar-benar mengatur emosimu."
Sung Ha terdiam sesaat. Ia teringat tentang kedua orang tuanya yang tidak bersalah. Walaupun mereka bukan orang yang melahirkannya tapi mereka telah merawatnya sejak masih bayi hingga sekarang. Dan bagi Sung Ha, mereka tetaplah orang tuanya.
"Jovian.."
Sung Ha menatap minuman yang ia genggam.
"Apakah lelaki tadi juga seorang iblis sepertimu? Dan kenapa dia melakukan itu kepada kedua orang tuaku?"
Sung Ha menatap Jovian dengan penuh harapan. Berharap lelaki itu menceritakan semuanya padanya. Semua yang ia ketahui.
"Di dalam tubuh lelaki tadi adalah iblis. Dia adalah Taeyun, iblis api hijau. Kau harus berhati-hati dengannya karena dia tertarik padamu."
"Tertarik?" ulang Sung Ha. Jovian mengangguk.
"Sejak kau mengeluarkan sayapmu di cafe waktu itu, kau memancarkan aura yang dapat membuat iblis tertarik. Bukan hanya itu, tadipun kau kembali mengeluarkan aura yang sangat kuat. Tapi kau bisa sedikit tenang karena hanya iblis tertentu yang bisa merasakan aura."
"Lalu apa yang harus aku lakukan supaya auraku tidak terlihat?"
"Tidak ada."
"Apa? Lalu maksudmu aku akan selalu dikejar oleh iblis?"
"Secara tidak langsung iya."
"Kau tidak bisa diandalkan."
__ADS_1
Sung Ha menghabiskan minumnya dan kembali manaruh gelas itu dengan sedikit emosi. Ia tak percaya akan menjadi target buruan para iblis. Bahakan ia juga bisa di bunuh oleh para malaikat jika ketahuan dirinya adalah setengah iblis.
"Jika kau dikejar oleh iblis kau bisa bersembunyi di rumahku. Tak ada yang bisa masuk ke rumah ini kecuali mendapat kunci dariku. Aku akan memberimu kunci. Ulurkan tanganmu."
Sung Ha mengulurkan tangannya dengan ragu. Lelaki itu menulis sesuatu di telapak tangan Sung Ha. Entah apa yang ia tulis tapi Sung Ha bisa melihat cahaya biru yang keluar dari setiap ayunan jari Jovian di telapak tangannya.
"Selesai."
"Selesai?"
Sung Ha melihat telapak tangannya. Dimana kuncinya? Tak ada apapun di telapak tangannya.
"Tulislah 'KY' di mana pun kau mau. Itu akan menjadi pintu masuk ke rumahku. Tapi kau jangan masuk di depan banyak orang dan jangan pernah membawa siapa pun masuk. Mengerti?"
Nada bicara Jovian seperti seseorang yang sedang mengancam. Tapi itulah nada yang biasa ia gunakan sehari-hari.
"'KY'? Apakah itu mantra?"
"Bukan. Itu nama asliku di dunia iblis."
Sung Ha mengangguk mengerti.
"Jovian, aku ingin bertanya sesuatu.. Bagaimana caranya ke dunia malaikat?"
Walaupun sepanjang hidup Sung Ha dihabiskan di dunia manusia ia juga ingin melihat bagaimana dunia malaikat, dan ia ingin bertemu keluarganya. Ayah dan ibu kandungnya.
"Aku tidak tau. Kami bangsa iblis tidak diperbolehkan ke dunia itu. Maka dari itu raja iblis tidak memberi kunci ke dunia malaikat dengan begitu mudahnya."
Seketika Sung Ha merasa dirinya hancur. Apakah ia benar-benar tidak bisa melihat makhluk sepertinya seumur hidupnya?
"Tapi ada satu jalan untuk bisa ke sana. Di sebuah ruangan di istana iblis ada sebuah pintu yang menghubungkan antara dunia iblis dan dunia malaikat. Tapi pintu itu dijaga ketat oleh para penjaga dan dilarang untuk didekati. Hanya raja dan yang berkepentingan saja yang diperbolehkan mendekati pintu itu."
"Aku tidak akan kesana."
"Kenapa?"
"Aku sudah berjanji pada diriku tidak akan kembali sebelum diriku bertambah kuat."
"Kalau begitu cepatlah berlatih supaya kita bisa ke sana!"
"Kau pikir semudah itu?!" Sung Ha diam seketika ketika Jovian membentaknya.
"Bertahun-tahun aku hidup di dunia ini sendiri. Aku tidak bisa menghitung seberapa kekuatanku sekarang. Aku hanya bisa berlatih dan terus berlatih hinga aku merasa lelah. Ketika aku bertemu denganmu aku ingin mencoba berlatih seberapa kuat diriku. Tapi kau seorang malaikat. Aku tak bisa berlatih denganmu."
"Aku bisa menjadi iblis! Kau bisa berlatih denganku!"
"Kau gila?! Kau bahkan merasa kesakitan saat kau menjadi setengah iblis. Kau belum bisa mengendalikan dirimu. Kau bisa mati."
Sung Ha menyipitkan matanya kesal. Niatnya yang awalnya ingin membantu malah ditolak mentah-mentah oleh Jovian.
"Ah Jovian, aku lupa menceritakan padamu. Hari itu Taeyun meninggalkan surat untukku."
Bencilah aku..
Buat dirimu penuh dengan kebencian..
Karena kebencian akan membuatmu jauh lebih mempesona..
Cepat atau lambat kau akan menjadi milikku..
__ADS_1
"Apa maksudnya?"
"Kebencian bagi seorang iblis adalah kekuatan. Tapi bagi seorang malaikat kebencian adalah kelemahan mereka."
"Jadi dia tau aku adalah malaikat dan dia ingin membunuhku dengan cara seperti itu?"
"Kurasa tidak. Sepertinya saat dia mengincarmu dia mengira kau adalah seorang iblis dan dia menginginkan kekuatanmu. Tapi sekarang dia sudah tau jika kau malaikat dan juga baru saja dia tau bahwa kau adalah setengah iblis. Dia akan semakin mengincarmu."
"Ya! Kenapa kau selalu mengatakan hal buruk padaku?! Tak bisakah kau sekali kali mengatakan jika aku beruntung terlahir sebagai setengah malaikat dan iblis? Aku seperti tidak dibutuhkan dan pembuat masalah di sini." keluh Sung Ha.
Ia sudah tidak tahan. Sedari awal Jovian terus saja mengatakan hal yang menambah takut Sung Ha. Dari dikejar pasukan iblis hingga diincar oleh para malaikat dan iblis. Dia terasa sangat tidak dibutuhkan.
"Itulah kenyataannya." Jovian dengan cepat menoleh ke arah pintu keluar rumahnya. Ia merasakan ada sesuatu yang mencoba memaksa masuk.
"Sung Ha, sepertinya ada yang sedang mencoba masuk ke sini."
Sung Ha melihat ke arah pintu yang juga Jovian lihat. Tak ada apapun bahkan suara juga tidak ada.
"Siapa?"
"Yang pasti dia bukan manusia. Kau tunggu di sini."
Jovian berdiri dan mendekat ke arah pintu lalu ia mengusap pintu itu yang seketika membuat pintu itu menjadi transparan, lebih tepatnya tembus pandang. Sung Ha terbelak melihat sesuatu yang melayang dengan sayap hitamnya. Sayap itu diselimuti oleh api hitam. Jika tidak salah Jovian pernah bercerita jika iblis api hitam adalah pasukan biasa.
"Mau apa makhluk seperti dia ke sini.." ucap Jovian tak suka.
Jovian berjalan cepat ke arah Sung Ha dan menyuruh gadis itu bersembunyi di kamarnya. Walaupun pasukan iblis tak memiliki kekuatan untuk merasakan aura tapi iblis itu bisa curiga jika ada gadis di rumahnya. Jovian keluar dari rumahnya. Ia tak menginginkan rumahnya itu dimasuki oleh iblis hitam.
"Ada apa?" tanya Jovian dengan nada tak suka.
"Pangeran Ky, Pangeran Sean ingin bertemu dengan anda, dia ingin membicarakan hal penting."
"Jika dia ingin bertemu denganku suruh dia untuk datang sendiri. Aku tidak ingin kembali ke tempat itu sebelum aku bisa mengalahkan raja. Pergilah."
Jovian kembali masuk ke dalam rumahnya meninggalkan iblis hitam yang juga terbang entah kemana.
"Ada apa? Apakah rumahmu sudah tidak aman?"
Sung Ha merasa sangat khawatir. Apakah iblis itu mencarinya dan ingin membunuhnya?
"Hanya iblis yang menyampaikan pesan. Rumahku akan selalu aman kecuali jika raja iblis dan pasukannya menyerang, itu baru tidak aman."
Sung Ha menghela nafas lega. Setidaknya dia tak harus mati hari ini. Walaupun dia sendiri memang belum ingin mati muda.
Di luar itu Jovian masih memikirkan perkataan iblis tadi, bahwaa Sean mencarinya. Untuk apa saudara laki-lakinya itu repot-repot mengirim iblis hitam untuk mencarinya? Apakah terjadi sesuatu di dunia iblis?
"Jovian? Jovian?!"
Lelaki itu tersentak dari lamunannya. Dan segera duduk di sofa yang ia tinggalkan tadi.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Sung Ha memastikan.
"Ya."
Jovian meminum habis minuman yang ada di hadapannya dengan sekali teguk.
"Jadi kau ingin bertanya apa lagi?"
"Bagaimana cara menggunaka kekuatanku?"
__ADS_1