
Jovian bersandar di dinding di dekat gerbang masuk sekolahnya. Walaupun ia tak membuat onar ataupun menghajar orang−hari−ini, setiap murid yang akan lewat di depannya memilih menjaga jarak dengan lelaki berambut pirang yang memancarkan aura menyeramkan itu. Cukup lama ia menunggu akhirnya Sung Ha datang menghampirinya dengan nafas yang terengah-engah.
"Maafkan aku. Aku harus membersihkan kelas tadi."
Tanpa mengatakan apapun Jovian menegakkan tubuhnya dan memasukkan tangannya ke saku celana. Lelaki itu berjalan tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Ya! Jovian? Kau mau ke mana?"
Bukankah Jovian menunggu Sung Ha? Kenapa dia malah pergi saat gadis itu menghampirinya. Sung Ha berlari mengejar Jovian karena lelaki itu telah berjalan cukup jauh.
"Ya! Tunggu!"
Sung Ha segera menyusul dan mensejajarkan jalannya dengan Jovian, tapi tetap saja ia selalu tertinggal dan harus berlari kecil untuk kembali mensejajarkannya.
"Jovian! Kau mau ke mana? Bukankah kau berjanji akan menjelaskan tentang diriku?"
"Kita cari tempat lain. Jika kita bicara di sana mereka akan memandangi kita. Aku tak suka itu."
"Tapi kita mau ke mana?"
Setelah berjalan cukup jauh, Jovian masuk kesebuah cafe diikuti Sung Ha di belakangnya. Kedatangannya di sambut dengan suara lonceng yang tergantung di depan pintu sehingga saat ada seseorang yang membukanya, lonceng itu akan berbunyi. Cafe itu terlihat sederhana, namun tetap terdapat unsur tradisional modern di dalamnya. Jovian duduk di bangku di dekat jendela dan memesan dua minuman untuknya dan gadis itu.
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Kenapa kita di sini?"
"Kau jadi bertanya tidak?"
"Jadi!" jawab Sung Ha.
"Jovian, kau pernah bilang jika aku bukan manusia. Apa maksudmu?"
Jovian diam sesaat ketika seorang gadis datang dengan sebuah nampan ditangannya. Tanpa ada yang menyuruhya gadis itu segera menaruh dua gelas minuman di meja yang Jovian dan Sung Ha tempati, lalu pergi.
Sebelum menjawab pertanyaan Sung Ha, Jovian meminum minuman yang baru saja ia pesan.
__ADS_1
"Sudah jelas kau bukan seorang manusia. Jika kau seorang manusia kau tidak akan bisa melihat sayapku."
"Lalu anak kecil itu juga bukan manusia?" Jovian mengangguk.
"Dia seorang anak malaikat yang entah kenapa bisa berada di dunia manusia."
"Lalu kenapa dia dibunuh?"
"Kami, sebagai bangsa iblis dilarang berhubungan dengan para malaikat bahkan sampai menyelamatkan nyawa malaikat. Saat aku membawanya ke dunia iblis, dan akan mengembalikannya ke dunia malaikat entah ayahku tau dari mana. Ia mengerahkan para pasukannya untuk mencariku dan anak itu. Saat aku akan menaruhnya kembali ke dunia manusia, ternyata ada pasukan yang melihatnya dan mengejar anak itu. Saat itu aku tak sanggup melawan pasukan yang terus bertambah. Dan pada akhirnya anak itu dibunuh di depan mataku."
"Jika bukan manusia makhluk apa aku ini?"
"Jawabannya sudah pasti. Jika bukan iblis sepertiku, kau adalah malaikat."
"Lalu bagaimana cara untukku mengetahuinya?"
"Kau ingin mengetahuinya?" Sung Ha mengangguk pasti.
Jovian membuat isyarat dengan telunjuknya, menyuruh Sung Ha mendekatkan wajah padanya dan gadis itu dengan cepat mendekatkannya.
Jovian mengecup bibir Sung Ha sekilas. Mata gadis itu melebar dan pipinya merona. Seketika sepasang sayap putih bersih keluar dari punggung Sung Ha. Jovian cukup terkejut melihat sayap itu. Dan tanpa ia sadari sayap miliknya keluar begitu saja.
"K-kau...." gumam Jovian terkejut.
Sung Ha masih terpaku dengan kecupan itu, tak pernah terpikir dibenaknya Jovian akan mengecupnya. Ia merasakan tubuhnya berbeda dari sebelumnya.
"Y-ya! Apa yang kau lakukan?!" dengan wajah meronanya ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya, berusaha menghilangkan bekas kecupan itu.
"Kenapa kau bisa berada di dunia manusia?" tanya Jovian yang entah memandang Sung Ha dengan tatapan apa. "Lihatlah sayap mu." Jovian menghela nafasnya tak percaya.
"Bagaimana bisa malaikat sepertimu, berada di dunia seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi di dunia itu."
"Sayap?" Sung Ha melihat ke kanan dan ke kirinya. Ia terkejut saat melihat sayap berwarna putih muncul di belakangnya.
"Ya! Sihir apa yang kau gunakan?! Jangan menyihirku sembarangan. Hilangkan sayap ini! Aku tak ingin orang tau aku memiliki sayap seperti ini!"
__ADS_1
"Aku tidak menyihirmu. Itulah wujud aslimu. Manusia tidak akan bisa melihat sayap kita." Jovian menatap Sung Ha serius.
"Apa tujuanmu datang ke dunia ini?"
"Tujuan? Apa maksudmu?" tanya Sung Ha bingung.
"Kau jangan pura-pura bodoh di depanku. Tak mungkin malaikat sepertimu datang ke dunia manusia tanpa memiliki tujuan apapun."
"Aku benar-benar tidak tau. Aku dirawat dari kecil oleh orang tuaku. Walaupun aku tidak terlahir dari rahim ibuku, aku tetaplah anak mereka. Dan aku adalah manusia bukan malaikat!"
Sung Ha tak tahan dengan pembicaraan ini dan memilih untuk pergi. Ia sedikit menyesal telah menemui Jovian.
"Kau harus menyembunyikan sayapmu itu." ucap Jovian sebelum Sung Ha melangkah lebih jauh. "Beberapa bulan ini iblis-iblis mulai berkeliaran di dunia manusia dan mereka bisa saja membunuhmu saat mereka melihat sayapmu."
Sung Ha berbalik dan menatap Jovian. Apakah lelaki itu sedang menakut-nakutinya?
"Tapi jika kau ingin terbunuh, maka pergilah." lanjut Jovian.
Sayap yang ada di punggung Jovian perlahan menghilang bersamaan saat ia berdiri.
"Aku pergi." ucapnya dan pergi.
Jovian berjalan melewati Sung Ha yang masih menatap ke arah meja yang sudah kosong itu.
"Tunggu."
Sung Ha berbalik dan menahan lengan Jovian. Sayap lelaki itu kembali keluar tanpa ia menyuruhnya. Melihat ada keanehan pada dirinya, Jovian menatap Sung Ha dengan penuh tanya.
Sung Ha melepaskan lengan Jovian perlahan.
"Jika benar aku adalah malaikat. Beri waktu untukku, untuk bisa menerima kenyataan ini. Dan bagaimana menyembunyikan sayapku?" tanya Sung Ha polos.
Jovian hendak memegang lengan Sung Ha dan membawanya ikut dengannya. Tapi entah kenapa lelaki itu mengurungkan niatnya.
"Ikut aku." ucap Jovian dan pergi diikuti Sung Ha di belakangnya.
__ADS_1