Devil Child

Devil Child
Chapter 8


__ADS_3

Jovian membawa Sung Ha ke rumahnya untuk menjawab, sekaligus menerangkan tentang dirinya dan hal yang harus ia hindari sebagai malaikat. Jovian duduk di sofa di depan Sung Ha.



"Dengarkan baik-baik. Sayap mu akan keluar saat kau menginginkannya dan terkadang saat kau tak menginginkannya. Seperti tadi saat aku mengecupmu. Kau pasti merasa tersipu ataupun terlalu bahagia."



"Y-ya! Siapa yang terlalu bahagia?!" bantah Sung Ha.



"Selain itu ketika kau sangat marah dan sangat sedih sayapmu juga bisa keluar." Jovian memunculkan lagi sayapnya.



"Kau lihat api biru di sayapku kan? Jika iblis sedang merasa marah api itu akan menyebar dan menyelimuti sayapnya. Bahkan jika kemarahan seorang iblis sudah pada puncaknya api itu bukan hanya menyelimutinya tapi membesar membentuk sayap sendiri."



"Apakah malaikat juga bisa melakukannya?"



"Aku tidak tau. Sayapmu tidak memiliki api. Mungkin kau tidak bisa melakukannya."



"Lalu bagaimana menyembunyikan sayapku?"



"Cukup pikirkan kau ingin menyembunyikannya."



"Baiklah aku akan mencobanya."



Sung Ha memejamkan matanya dan melakukan apa yang dikatakan Jovian. Namun saat ia membuka matanya sayap itu masih berada di punggungnya.



"Kau membohongiku? Kenapa sayapku masih ada?" Jovian menghela nafasnya.



"Kau tak perlu terlalu berkonsentrasi. Bersikaplah biasa."



Sung Ha kembali mencobanya dan berhasil. Sayap itu menghilang begitu saja dari punggung Sung Ha.



"Sekarang dengarkan aku baik-baik. Kau adalah malaikat dan aku adalah iblis. Awalnya aku mengira kau iblis sepertiku dan bisa menolongku tapi aku salah. Seorang malaikat akan membuat dunia iblis lebih hancur. Dan jangan pernah tunjukkan sayapmu di luar sana karena itu sangat berbahaya bagimu." Sung Ha mengangguk mengerti.



"Tapi bagaimana cara mengeluarkan sayapku kembali?"



"Sama seperti menghilangkannya kau juga harus menginginkan sayapmu muncul."



Tanpa pikir panjang Sung Ha segera mencoba apa yang dikatakan Jovian dan sayap itu kembali muncul.



"Sung Ha. Ulurkan tanganmu." perintah Jovian.



Dengan masih terkagum karena memiliki sayap yang indah Sung Ha mengulurkan tangannya begitu saja. Jovian menulis sesuatu dengan jari telunjuknya di telapak tangan Sung Ha.



"Kau sedang apa?" tanya Sungha bingung.



Tapi Jovian tak menjawabnya dan beralih menulis sesuatu di meja di depannya. Sung Ha semakin bingung dengan tingkah Jovian. Tapi meja kaca yang baru saja Jovian tulisi itu tiba-tiba muncul sebuah rekaman video seorang bayi yang berada di depan sebuah rumah. Sung Ha tak asing dengan rumah itu, karena itu adalah rumahnya. Beberapa saat kemudian ia melihat ibunya yang keluar dan mengambil bayi yang ada di depan rumahnya iti.



"Siapa bayi itu?" tanya Sung Ha.



"Itu kau. Seharusnya mantraku menampilkan awal mula kelahiranmu tapi sepertinya memori itu telah dihapus."



"Aku?" Sung Ha kembali melihat rekaman itu. Tak mau terlalu lama, Jovian segera menghilangkan mantranya dan rekaman itu hilang.



"Sepertinya ada yang sengaja menaruhmu di depan rumah itu. Supaya mereka merawatmu."



"Tapi kenapa mereka menaruhku di rumah itu?"



"Aku tidak tau. Mungkin untuk menyelamatkan nyawamu."



"Menyelamatkan nyawaku?"

__ADS_1



Sung Ha kemabali teringat tentang apa yang dikatakan Jovian di cafe tadi.



"Jovian, kau bilang jika ada iblis yang melihatku mereka akan langsung membunuhku. Kenapa mereka melakukan itu?"



"Karena bangsa iblis tak menyukai malaikat. Kami bangsa iblis memiliki tujuan dan tempat yang berbeda dan itu tidak akan pernah sama."



"Lalu apakah kau akan membunuhku?" Jovian terdiam dan menatap Sung Ha. Lelaki itu mengangkat sebelah ujung bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang entah apa maksudnya.



"Apakah aku terlihat seperti iblis yang akan membunuh malaikat?"



"Iya." jawab Sung Ha langsung.



Jovian menatap Sung Ha datar. Itu bukanlah jawaban yang diharapkannya. Seketika suasana menjadi hening. Tak ada yang memulai percakapan lagi. Entah kenapa terasa sangat canggung. Setelah beberapa lama Jovian dan Sung Ha saling memanggil nama satu sama lain bersamaan. Dan beberapa saat kemudian keheningan kembali tercipta di antara keduanya.



Jovian memecah keheningan itu.



"Sung Ha sebaiknya kau pulang. Ini sudah mulai sore."



Gadis itu menyetujui saran Jovian dan segera pulang. Jovian mengantar Sung Ha hingga keluar gang.



"Kalau begitu aku pulang dulu." ucap Sung Ha dan pergi.



Jovian masih terus memandangi Sung Ha dari belakang. Saat ia kembali masuk ke dalam gang, ia merasakan aura yang aneh. Aura yang sangat tak asing baginya. Jovian mengedarkan pandangannya mencari asal aura itu muncul. Dan dilihatnya seorang lelaki dengan jaket hitamnya tengah memandangi Sung Ha dari kejauhan.



"Mau apa dia ke sini.." gumam Jovian.



Jovian terus melihat lelaki itu. Dan setelah puas melihat Sung Ha dan akan pergi lelaki tadi melihat ke arah Jovian yang berdiri menatapnya dengan sinis. Ia hanya membalas tatapan itu dengan senyuman yang lebih mirip dengan seringaian.



"Taeyun, si iblis api hijau. Apa yang kau lakukan di sini.."




"Selamat sore pangeran Ky." ucap Taeyun memberi salam, dengan menekan kata 'pangeran Ky'. Ky adalah nama asli Jovian di dunia iblis. Tak ada satu pun manusia yang mengetahui nama itu.



"Sudah lebih dari sepuluh tahun kita tidak bertemu. Apakah pangeran tidak merindukanku?"



"Mau apa kau datang ke sini?" Jovian masih menatap Taeyun dengan sinis.



Iblis api hijau adalah iblis yang berada ditingkatan di bawah iblis api biru. Mereka memang menghormati adanya raja yang mengatur dunia iblis, tetapi mereka tetap tidak suka dengan para iblis keluarga kerajaan.



"Aku hanya melihat-lihat bagaimana dunia yang ditempati oleh pangeran iblis. Dan sebagai pembuka aku telah menemukan aura yang cukup mengejutkan hari ini."



Taeyun tersenyum meremeh pada Jovian. Jovian tau pasti Sung Ha lah yang dimaksud Taeyun. Selain iblis api biru, iblis api hijau pun juga bisa merasakan aura yang terpancar dari tubuh setiap makhluk tak terkecuali makhluk sebangsanya sendiri. Tapi Jovian tak pernah menyangka jika sejak ia mengecup Sung Ha di cafe tadi, membuat aura malaikat gadis itu terpancar begitu kuat.



"Kembalilah ke dunia iblis." ucap Jovian ketus.



"Apakah gadis yang keluar dari gang tadi bukan manusia?"



Entah kenapa Taeyun sangat tertarik dengan aura yang terpancar dari tubuh Sung Ha. Gadis itu memiliki aura yang sangat berbeda dengan aura yang pernah ia rasakan.



"Aura yang dipancarkannya sangat indah." lanjutnya.



"Pergilah dari dunia ini. Jika tidak aku akan membakarmu dengan apiku."



Sorot mata Jovian memperlihatkan sorot mata lelaki yang akan membunuh seseorang. Bagaimanapun juga Taeyun tetaplah seorang iblis dan dia sebaiknya tidak mengetahui identitas Sung Ha yang sebenarnya.



"Kau masih saja suka cara kekerasan. Baiklah aku akan pergi."

__ADS_1



Taeyun menulis sesuatu di jalan yang ia injak dengan ujung sepatunya.



"Senang bisa melihatmu.." ucapnya dan masuk ke dalam jalan yang telah berubah menyerupai genangan air itu.



Setelah lelaki itu benar-benar menghilang, jalan tadi kembali mengeras dan Jovian kembali masuk ke dalam rumahnya. Namun, tak berselang lama, Taeyun kembali keluar dari tempatnya menghilang tadi. Dan melihat ke arah dinding yang ia tau itu adalah ujung dari sebuah gang.



"Aku tidak akan melepaskan gadis yang telah menarik perhatianku."



"Kau pikir aku akan menuruti perkataan pangeran buangan sepertimu? Kau jangan membuatku tertawa."




-Iblis Api Hijau-





Sung Ha membuka pintu rumahnya dengan malas. Ia merasa begitu lelah hari ini.



"Aku pulang.."



Sung Ha melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah berwarna coklat. Gadis itu melihat ke kanan dan ke kiri, mencari sosok penghuni rumah. Namun ia tak melihat orang tuanya.



"Apakah mereka pergi?" pikirnya saat itu.



Ketika Sung Ha hendak mencari di mana orang tuanya berada, langkah gadis itu terhenti tak jauh dari kamar orang tuanya. Dilihatnya bercak darah yang menuju ke kamar milik orang tuanya. Dengan cepat dan dengan penuh kekhawatir ia membuka pintu kamar itu, namun pintu itu terkunci.



"AYAH!! IBU!!"



Diketuknya pintu itu dengan keras. Sung Ha tak bisa berpikir jernih lagi sekarang, ia takut terjadi hal buruk pada orang tuanya.



"Ayah?! Ibu?!"



Sung Ha masih berusaha membuka pintu itu tapi itu percuma, pintu itu tetap tak mau terbuka.



Setelah hampir lima menit pintu itu akhirnya terbuka dengan sendirinya. Sung Ha tercengang melihat orang tuanya yang terkapar tak berdaya dengan bersimbah darah.



"Ada apa ini? Kenapa ayah dan ibu bisa seperti ini."



Sung Ha melihat ke arah jendela yang terbuka lebar dan ia melihat seseorang dengan jaket hitamnya, dan sayap yang menghiasi punggungnya, tengah melompat keluar dari jendela. Tangan Sung Ha terus menggenggam erat tangan ibunya.



"Ayah ibu, aku akan memanggil ambulance aku mohon bertahanlah."



Saat gadis itu akan pergi. Ia melihat selembar kertas yang mencolok di atas tempat tidur. Tanpa basa basi gadis itu mengambilnya dan membaca setiap kalimat yang ada di kertas itu.





Bencilah aku..



Buat dirimu penuh dengan kebencian..



Karena kebencian akan membuatmu jauh lebih mempesona..



Cepat atau lambat kau akan menjadi milikku..





Api hijau keluar dari kertas itu, dan membakar habis kertas yang baru saja selesai Sung Ha baca. Apa yang sebenarnya terjadi? Jovian apa maksudmu!! Sung Ha menatap tajam jendela yang terbuka lebar itu dengan penuh kebencian. Kenapa kau melakukan ini?!

__ADS_1




__ADS_2