
Selama pelajaran Jovian tak bisa fokus dan terus saja memandang ke arah jendela di sampingnya. Pikirannya masih pada dua Teros yang belum dia temukan hingga saat ini. Dengan cepat Jovian mengalihkan pandangannya ke sisi kelas yang lain tepatnya ke jendela yang berada di sisi lain kelas. Ia merasakan aura Teros baru saja melintas, namun aura itu kembali menghilang. Jovian bangkit dari duduknya.
"Aku tidak enak badan," ucapnya saat melintas di depan guru Jung yang sedang mengajar.
Mengerti apa maksud Jovian, guru Jung hanya mendiamkannya tak peduli dengan apapun yang dilakukan anak itu.
Berbeda dengan itu, Sung Ha dan Min Ri tampak memperhatikan Jovian yang berjalan keluar dari kelas.
"Apakah dia selalu begitu?" ucap Minri tak sadar.
"Ya, jika kau belum mengenal Jovian kau akan terkejut dibuatnya. Tapi sebenarnya Jovian adalah lelaki yang perhatian." jelas Sung Ha yang duduk di bangku depan Min Ri.
"Sepertinya kau tau banyak tentang dia."
"Em?" Sung Ha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak juga."
Min Ri hanya bisa menatap punggung Sung Ha dengan datar. Ia memikirkan kata-kata Min Jin untuk tidak mengulur waktu.
"Sung Ha?" panggil Min Ri pelan agar guru Jung tak menyadarinya.
"Ya?" Sung Ha menoleh saat ia merasa Min Ri memanggil namanya.
"Pulang sekolah kau ada waktu? Aku ingin semakin akrab denganmu."
***
Jovian berjalan mengelilingi setiap sudut sekolah. Ini aneh, ia tak merasakan aura Teros lagi hingga bel tanda berakhirnya seluruh pelajaran berbunyi. Ia memutuskan untuk kembali ke kelas, mengambil tasnya yang masih berada di sana. Tak ada satupun murid di kelas. Apakah Sung Ha sudah pulang? Pikirnya.
Setelah melewati gerbang sekolah Jovian merasakan aura Teros kembali muncul. Lelaki itu mengedarkan pandangannya mencari pemilik aura. Dilihatnya seorang lelaki yang tengah berjalan mengikuti dua gadis. Jovian menyipitkan pandangannya saat mengenal siapa salah seorang gadis itu, Sung Ha. Ya, salah satu di antara dua gadis itu adalah Sung Ha. Jovian yakin itu. Kedua gadis itu masuk ke halaman sebuah rumah yang Jovian tau rumah itu adalah rumah milik Min Ri.
Dor!!
Sung Ha dan Min Ri terkejut saat sebuah peluru melesat melewati mereka. Dengan cepat Sung Ha melihat ke arah belakang, ia mendengar ada sesuatu yang tumbang. Dan benar saja, seorang lelaki tergeletak begitu saja di tanah.
Berbeda dengan Sung Ha, Min Ri melihat ke sosok lelaki yang berdiri di lantai dua yang telah menembakan peluru tadi.
"KALIAN! PERGI DARI SANA!"
Lelaki tadi berteriak, memberi isarat pada Min Ri maupun Sung Ha agar menjauh dari lelaki yang baru saja ia tembak.
Min Ri mengalihkan pandangannya ke belakang, lelaki yang awalnya tergeletak itu kembali bangkit dan Min Jin kembali meluncurkan beberapa peluru ke arah lelaki itu.
"MIN RI! MENJAUH DARI IBLIS ITU!"
Min Ri tersadar dan segera menarik tangan Sung Ha untuk masuk ke dalam rumah.
Melihat itu, Jovian segera mengeluarkan sayapnya dan meluncur ke arah Teros. Lelaki itu menyuruh Min Jin untuk tidak menembaknya, karena itu akan percuma.
Seperti biasa ia tak lupa menggunakan kekuatannya untuk membuat dirinya tak terlihat oleh manusia.
Min Jin hanya terdiam melihat lelaki yang ia tau bernama Jovian itu adalah salah satu keluarga kerajaan. Apakah dia iblis yang waktu itu? Tanyanya pada dirinya sendiri.
Min Ri dan Sung Ha menghampiri Min Jin.
"Apa yang terjadi? Makhluk apa itu?" tanya Min Ri pada Min Jin.
"Aku tidak tau."
Sung Ha menatap Min Jin menyelidik. Sepertinya ia pernah melihat wajah lelaki itu.
Merasa jika sedang dipandangi, Min Jin melirik Sung Ha. Mata mereka bertemu beberapa saat.
"Kau?!" pekik Sung Ha saat ia mengingat wajah itu.
"Kau lelaki yang ingin membunuhku waktu itu?!"
Sung Ha menatap wajah Min Jin dan Min Ri bergantian.
"Kalian kembar?" tanyanya saat melihat kemiripan di antara mereka.
Min Jin menatap Sung Ha datar dan mengarahkan pistolnya pada Sung Ha.
"Apakah kau tau siapa kau sebenarnya?" ucap Min Jin.
Sung Ha terdiam, ia tau kemana arah pembicaraan ini.
"Aku tau.. Aku tau jika aku adalah malaikat setengah iblis! Dan aku juga tau, makhluk sepertiku tak dibutuhkan di dunia ini! Tapi aku punya roh maupun jiwa! Aku juga ingin hidup seperti makhluk yang lain! Apakah aku salah jika aku memiliki keinginan seperti itu?!"
"Tak ada salahnya kau menginginkan sesuatu, tapi tak semua keinginanmu bisa terpemuhi."
"Mau kau apakan Sung Ha?"
Min Jin menoleh ke kanan saat mendengar suara lelaki. Ternyata Jovian yang tengah melayang di dekatnya. Jovian menatap tajam Min Jin.
"Jangan pernah arahkan pistolmu kepada Sung Ha!"
Lelaki itu memukul wajah Min Jin hingga terpental. Min Ri yang melihat itu segera menolongnya dan membantunya berdiri. Sedangkan Jovian, ia segera menggengam tangan Sung Ha.
"Jangan pernah mengincarnya lagi."
Jovian membawa Sung Ha terbang turun dari lantai dua dan pergi dari rumah itu.
***
__ADS_1
"Dia telah memusnahkan sembilan dari sepuluh Teros yang telah kita bebaskan."
Sean hanya diam menanggapi ucapan dari lelaki di sebelahnya. Saudaranya yang satu itu memang tak bisa diremehkan.
"Cari Teros yang terakhir, beri dia sedikit kekuatan supaya dia bisa membuat onar di dunia manusia."
"Baiklah."
Lelaki itu bersiap akan pergi namun langkahnya terhenti saat Sean memanggilnya.
"Bagaimana dengan Taeyun? Apakah dia sudah mencari gadis itu?"
"Taeyun mengatakan, gadis yang ia bawa waktu itu hanyalah manusia biasa, dan tak ada gunanya mencarinya."
Sean tersenyum miring akan apa yang barusaja ia dengar.
"Gadis biasa? Apakah Ky mau kembali ke dunia iblis hanya karena seorang gadis biasa?! Bilang padanya, siapapun gadis itu. Bawa dia kemari!"
"Baiklah."
***
Min Jin menatap tajam ke arah Jovian dan Sung Ha. Dengan cepat ia mengarahkan pistolnya ke arah Jovian dan menembaknya.
Menyadari ada peluru yang mengarah padanya, lelaki itu segera melepaskan gengamannya pada tangan Sung Ha dan menghindarinya, ia melesat ke arah Min Jin. Min Jin terlempar ketika Jovian berhasil menendang tubuh lelaki itu.
"Apakah kau ingin membunuhku?"
Melihat Min Jin yang terkapar, Min Ri mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke sebelah kanan kepala Jovian. Jovian melirik tangan gadis itu.
"Apakah kau ingin menembakku?"
"Jika kau bergerak, aku akan menembakmu!"
Jovian menyeringai. Ia seperti barusaja mendengar sebuah lelucon yang menggelikan.
"Benarkah?"
Jovian berbalik ke kanan, membuat mulut pistol itu tepat berada di hadapannya.
"Apakah kau berani menembakku?"
Min Ri berisap menarik pelatuknya namun dengan cepat Jovian memutar tangan gadis itu hingga pistol beralih mengarah ke kepala Min Ri.
"Apakah hanya sebatas ini kemampuan malaikat yang diutus untuk membunuh Sung Ha? Memalukan. Kembalilah ke dunia kalian. Anggap saja kalian telah menyelesaikan misi kalian."
Jovian membuang pistol itu ke lantai lalu menghampiri Sung Ha dan membawa gadis itu pergi.
Min Ri masih terdiam, ia masih mengingat kata-kata Jovian. Tak seharusnya agen rahasia seperti dirinya bisa dikalahkan semudah itu. Kaki Min Ri melemas dan tak mampu menopang tubuhnya, ia terjatuh dan menangis.
Melihat adiknya yang menangis Min Jin segera menghampirinya dan menenangkannya.
"Sudahlah, kau jangan memikirkan kata-kata lelaki tadi. Itu tidak ada gunanya."
"Tapi aku sudah mempermalukan nama baik agen rahasia kita. Aku memang tak berguna!"
Min Jin menarik Min Ri dalam pelukannya. Ia kembali mencoba menenangkan adiknya itu.
"Kau sudah bekerja keras, tanpamu aku tak akan permah menyelesaikan misi kita selama ini."
***
Sung Ha masuk ke dalam kamarnya, ia membaringkan tubuhnya di ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Masih bergulat di pikirannya tentang Min Ri dan lelaki berwajah mirip Min Ri tadi. Apakah mereka benar-benar malaikat sepertinya? Apakah Jovian sudah mengetahuinya sejak awal?
Cekrek
Pintu kamar Sung Ha terbuka dan menampilkan sosok Jovian yang berdiri di ambang pintu..
"Kau sudah tidur?" tanya Jovian, namun tak ada jawaban.
Jovian masuk dan menutup pintu itu, ia menghampiri Sung Ha untuk memastika gadis itu benar-benar tidur atau tidak.
Sung Ha menahan selimut itu tetap menutupinya saat Jovian mencoba menarik selimut itu.
"Aku tau kau belum tidur. Bangunlah, ada yang ingin aku bicarakan."
Sung Ha membalikan tubuhnya, membelakangi Jovian. Ia sedang tak ingin berbicara dengannya, kenapa Jovian tak mengatakan yang sebenarnya padanya? Kenapa ia harus menutupi kebenaran itu?
Jovian kembali menarik selimut Sung Ha.
"Sung Ha.. Rim Sung Ha!"
Jovian mendesah frustasi, semenjak pulang sekolah Sung Ha selalu menghindarinya, ia tak tau apa penyebab Sung Ha menghindarinya.
"Baiklah! Terserah kau saja!"
Jovian berjalan ke arah kanan dan berbaring di samping Sung Ha, ia menutup matanya. Menyadari ada tubuh lain di sampingnya Sung Ha segera membuka selimutnya dan mendapati wajah Jovian tepat di depannya.
"Ya! Apa yang kau lakukan?!"
Sung Ha segera bangkit dan menjauh dari Jovian.
"Ya! Keluar dari kamarku!" Sung Ha menggambil bantal dan memukul Jovian menggunakan bantal.
"Keluar dari sini!"
__ADS_1
Jovian melindungi tubuhnya dengan tangan.
"Ya! Hentikan!"
Sung Ha tak mendengarkan Jovian dan terus memukul lelaki itu.
"Keluar dari sini!"
Jovian menarik bantal yang digunakan Sung Ha untuk memukulnya. Karena terkejut dan tak menyangka jika Jovian akan menarik bantal itu, Sung Ha terjauh tepat di atas tubuh Jovian dan hampir saya bibir mereka bertemu satu dengan yang lain.
Manik mata mereka bertemu cukup lama hingga pada akhirnya Jovian tersadar dan mendorong tubuh Sung Ha untuk menyingkir.
"Keluarlah, ada yang ingin aku bicarakan."
Jovian segera bangkit dan keluar. Lelaki itu bersandar di pintu kamar Sung Ha, ia memegang dadanya yang entah kenapa terasa aneh.
"Apa yang telah ku lakukan?" gumam Jovian.
Sung Ha menepuk-nepuk pelan pipinya menyadarkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah mimpi. Jantungnya berdegup kencang saat memikirkan wajah Jovian tadi.
Cekrek
Pintu kamar Sung Ha kembali terbuka dan mendapati sebuah sosok yang menjulurkan setengah badannya.
"Cepat keluar."
"Ya! Ketuk dulu sebelum masuk!" Sung Ha melempar bantal yang ada di dekatnya namun terlambat, sosok itu telah menghilang di balik pintu.
"Aisshh! Di mana sopan santunnya?" gerutu Sung Ha. Gadis itu akhirna keluar untuk menemui Jovian.
-Harapan-
Taeyun masuk ke ruangan Sean, wajahnya menggambarkan ketidak sukaan dan keterpaksaan. Walaupun Taeyun mau mengabdi pada Sean tapi tetap saja, ketidak sukaannya pada iblis api biru takkan pernah hilang.
"Duduklah, ada yang ingin ku bicarakan padamu."
Sean mempersilahkan duduk Taeyun dan dengan menurut lelaki itu duduk begitu saja.
"Ada apa?"
Sean menopang dagunya menggunakan tangan kanan.
"Aku ingin bertanya padamu dan kuharap kau bicara jujur padaku. Siapa y-"
"Dia bukan siapa-siapa." potong Taeyun yang sudah tau kemana arah pembicaraan ini.
Sean tersenyum. Entah karena apa.
"Benarkah? Apakah Ky rela kembali ke dunia iblis hanya demi gadis biasa? Kau jangan membuatku tertawa!"
Rahang Sean mulai mengeras, manahan amarahnya.
"Bawa gadis itu kemari! Aku tak mau tau dia adalah gadis biasa ataupun bukan, jika Ky bisa bersikap seperti itu, sepertinya dia gadis yang menarik." lanjutnya.
Taeyun terdiam, ia tak mau melakukan itu. Jika ia membawa Sung Ha kehadapan Sean, maka Sean akan lebih berkuasa.
"Maafkan aku, tapi aku sama sekali tak tau siapa gadis itu."
BRAK!
Tubuh Taeyun terlempar ke lantai saat kaki Sean mengenai tubuhnya.
"Apakah kau mau bermain-main denganku?"
Taeyun tersenyum miring dan bangkit.
"Apakah ini dirimu yang sebenarnya?! Kau bahkan menghianati saudaramu sendiri hanya untuk menjadi raja iblis!"
BRAK!
Tubuh Taeyun kembali terpental setelah Sean mendaratkan tendangannya kembali.
"Kau tak tau apa-apa."
Sean berjalan ke arah Taeyun dan mencengkram kerah lelaki itu, memaksanya untuk berdiri.
"Kau.. Kau hanyalah iblis rendahan yang tak akan bisa mengalahkanku. Ini untuk terakhir kalinya aku bertanya. Siapa gadis yang kau bawa ke dunia iblis?"
Taeyun tersenyum miring melihat ekspresi Sean.
"Kau ingin tau siapa dia? Dia adalah gadis yang dapat mengalahkanmu."
Sean melempar tubuh Taeyun ke dinding di sampingnya.
"Jaga bicaramu, jika kau belum ingin mati di tanganku."
Taeyun kembali bangkit dan menatap remeh Sean.
"Kau pikir apa yang akan dilakukan Ky padamu jika dia tau kau menghianatinya."
Sean mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah Taeyun.
"Aku sudah meperingatkanmu untuk menjaga bicaramu."
Mata Sean tajam menyorot wajah Taeyun.
"Apakah kau mau bertarung denganku?"
Taeyun membalas tatapan Sean dengan tatapan tajam yang ia miliki.
__ADS_1