
Pulang sekolah, Min Ri membawa Sung Ha ke rumahnya. Mereka di sambut oleh sosok lelaki yang tak lain adalah Min Jin. Sung Ha segera menuju ruang utama dan duduk di hadapan Min Ri dan juga Min Jin.
"Sung Ha aku akan terus terang padamu." ucap Min Jin mengawali pembicaraan.
"Ada apa?" tanya Sung Ha sedikit ragu.
"Tinggallah bersama kami. Kami akan menjagamu."
Sung Ha mengerutkan keningnya, tinggal bersama?
"Kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Ini demi kebaikanmu. Dan ini perintah dari ibumu." sambung Min Ri.
"Ibuku?" Sung Ha menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sosok lain yang mungkin ada di rumah itu. "Di mana dia?"
"Ibumu tak ada di sini. Dua bulan lagi, ibumu menyuruh kami untuk membawamu ke dunia malaikat. Dan selama itu kami harus menjaga dan mengawasimu agar kau tak berubah menjadi iblis." jelas Min Jin.
Sung Ha tediam. Dunia malaikat? Itu dunia yang sama sekali belum pernah dilihat Sung Ha.
"Kenapa dia tak menemuiku sendiri?"
"Karena ibumu adalah ratu. Itu sebabnya ibumu tak bisa menemuimu."
"Ra-ratu? Maksudmu ratu malaikat?!" Sung Ha menghela nafasnya tak percaya. Kenyataan apa lagi yang harus ia terima setelah ini?
"Ya. Ibumu sangat mengkhawatirkan kekuatan yang ada di dalam tubuhmu."
"Lalu jika ingin bertemu denganku kenapa harus menunggu dua bulan? Kenapa sekarang kau tak membawaku ke sana? Aku sangat ingin bertemu dengannya. Aku.." Sung Ha melihat cincin yang kembali ia kenakan saat ia berubah menjadi iblis kembali. "Aku merindukannya. Dan aku ingin melihat bagaimana wajah Ibuku."
Min Jin dan Min Ri saling bertuka pandangan. Walaupun mereka tak mengatakannya tapi mereka tau apa yang mereka pikirkan satu sama lain.
"Maafkan kami, kami tak bisa melakukan itu. Misi kami adalah melindungimu dan juga membawamu ke dunia malaikat setelah berusia 18 tahun."
"Jika kalian tak bisa membawaku sekarang bisakah kalian menyampaikan pesanku kepada ibuku?"
Min Jin dan Min Ri kembali bertukar pandangan dan pada akhirnya mereka menggangguk kepada Sung Ha.
Sung Ha menulis setiap kata yang ingin ia sampaikan dan ia tanyakan kepada ibunya di selembar kertas yang telah di siapkan oleh Min Ri. Cukup panjang memang, tapi setidaknya beberapa pertanyaan yang ia tulis bisa mewakili kerinduannya dan rasa penasarannya.
Setelah selesai Sung Ha memasukkan kertas itu ke dalam amplop dan menutupnya. Gadis itu memberikannya kepada Minri.
"Tolong sampaikan surat ini."
"Baiklah." Min Ri menggambil surat itu dan tersenyum kepada Sung Ha.
__ADS_1
***
Jovian masuk ke dalam rumahnya dan mendapati Sean yang sedang berbaring di sofa dengan sebuah majalah dewasa di tangannya. Melihat itu Jovian hanya tertawa geli.
"Tak kusangka kau membaca seperti itu." ucap Jovian sembari berjalan ke dapur.
"Kau sudah pulang? Di mana Sung Ha?"
Sean mendudukkan tubuhnya dan menaruh majalah itu di meja.
Jovian mengambil sebuah soda kaleng dari kulkas dan meminumnya. "Dia sedang bersama seseorang."
"Sayang sekali aku tak bisa melihatnya sebelum pergi."
Dengan soda kaleng di tangannya Jovian mendekati Sean dan duduk di sofa di depan lelaki itu.
"Kau mau pergi?"
"Ada yang harus aku urus di dunia iblis." Sean bangkit dari duduknya. "Sampaikan salamku pada Sung Ha. Katakan padanya aku akan merindukannya." ucap Sean sembari berjalan ke arah pintu keluar.
Mata Jovian menangkap sebuah majalah yang tergeletak di meja. "Ya! Kau tak membawa majalahmu?"
Sean keluar dari rumah itu meninggalkan sang pemilik rumah sendiri. Lelaki itu menatap langit biru yang terlihat cerah. "Sung Ha? Cepat atau lambat aku akan menjemputmu. Tunggulah aku." Sean menuliskan sesuatu di dinding yang ada di sebelahnya. Lelaki itu memasuki dinding yang seperti air itu dan menghilang.
Dengan ragu Jovian mengambil majalah yang Sean baca tadi. Dibukanya lembar demi lembar yang ada di majalah itu. Lelaki itu beberapa kali menelan salivanya saat melihat foto-foto yang terpampang di sana. Ini pertamakalinya Jovian membuka majalan dewasa.
Sung Ha masuk ke dalam rumah. Gadis itu segera melangkah menuju kamarnya tapi sebelum tiba di depan kamar gadis itu berhenti dan melihat Jovian yang sedang membaca. Jarang sekali Jovian membaca. Batin Sung Ha.
Sung Ha menyipitkan matanya melihat seksama cover majalah yang terpampang di sampul depan majalah yang saat ini Jovian pegang. Sung Ha melihat dadanya dan menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dada.
"Ya! Jovian! Tak ku sangka kau ternyata lelaki yang mesum!"
Jovian tersentak ia segera menoleh ke sosok Sung Ha yang tak jauh darinya. Matanya beralih ke majalah yang ada di tangannya. Ia segera menutupnya dengan cepat dan menaruhnya kembali di meja. Ia tau apa yang saat ini Sung Ha pikirkan terhadapnya.
"Sung Ha.. Aku tak seperti itu. Itu milik Sean."
"Itu sama saja jika kau juga membacanya."
Sung Ha segera masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu bersandar di pintu yang barusaja ia tutup. "Iblis mesum.." gerutu Sung Ha.
Jovian bisa mendengar itu, ia bisa mendengar dengan jelas saat Sung Ha mengatainya iblis mesum.
"Aisshh!"
__ADS_1
Dengan cepat Jovian membakar majalah itu hingga tak ada abu pun yang tersisa. "Kenapa dia harus meninggalkannya di sini?!" gerutunya saat mengingat pemilik majalah itu.
Jovian mengacak rambutnya dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia menatap langit-langit yang berwarna abu muda. "Aishh!" Jovian kembali mengacak rambutnya saat setiap foto yang ada di majalah itu tergambar di pikirannya.
Jovian segera pergi ke kamarnya dan menutup pintu itu dengan cukup keras. Ia bisa gila jika terus memikirkannya.
-Semuanya telah dimulai-
Min Ri memasuki ruangan yang biasa Ratu Savaredia tempati. Gadis itu membungkuk memberi hormat. Dan kembali berdiri dengan normal.
"Ratu. Sung Ha meminta saya untuk memberikan ini."
Min Ri melangkah maju beberapa langkah dan menyerahkan surat yang ia bawa dan langsung diterima oleh Savaredia. Min Ri kembali mundur, ketempat awal ia berdiri.
"Dia ingin bertemu dengan anda." lanjut Min Ri.
Savaredia membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya.
"Sung Ha menyuruh anda untuk membalas surat itu."
Savaredia membaca kalimat yang tertulis di kertas yang ada di tangannya.
"Bisakah kau keluar dulu? Aku akan memanggilmu jika aku telah membalasnya.
"Baik."
Min Ri membungkuk, dan meninggalkan ruangan itu.
Savaredia kembali melanjutkan membaca surat itu. Setelah selesai gadis itu mengadahkan tangannya dan muncullah alat perekam suara yang diselimuti oleh cahaya yang indah. Ia mengambilnya dan menekan sebuah tombol untuk merekam suaranya. Setelah selesai gadis itu memanggil Min Ri untuk masuk ke dalam ruangannya dan memberikan alat perekam itu pada Min Ri.
Min Ri sedikit bingung kenapa ratunya itu membalasnya dengan perekam suara bukan sebuah surat balasan.
Savaredia tersenyum, ia seperti tau apa yang ada di pikiran Min Ri.
"Dia ingin mendengar suaraku. Tolong berikan itu kepadanya dan dengarkan itu sendirian."
"Baik. Akan saya sampaikan."
Min Ri membungkuk memberi hormat dan meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke dunia manusia.
__ADS_1