Devil Child

Devil Child
Chapter 30


__ADS_3

Perlahan mata Jovian terbuka. Kedua tangannya terlentang, tubuhnya terikat di sebuah tiang yang terbuat yang dari batu. Kepala lelaki itu masih terasa pusing, pandangannya juga masih sedikit kabur. Tapi ia bisa mendengar suara ayah Taeyun yang sedang berbicara dengan iblis lain. Jovian bisa mendengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya.



"Kau sudah sadar?" tanya pemilik langkah itu.



Jovian mengerjapkan matanya beberapa kali, memperjelas pandangannya. Ayah Taeyun tengah berdiri di hadapannya sekarang.



"Kita bertemu lagi, Ky." sapa ayah Taeyun.



Setelah cukup sadar, Jovian mengedarkan pandangannya mencari tau di mana ia berada sekarang.



Apa ini? Jovian bisa melihat kota dunia iblis dari sana. Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Istana? Apakah dia sedang berada di atas istana? Jovian melihat tubuhnya yang terikat.



"Apa ini?" tanya Jovian meminta penjelasan. "Kenapa aku bisa ada di sini?"



Ayah Taeyun semakin mendekat diikuti beberapa iblis penjaga yang membawa sebuah tabung yang sangat besar. Tangan kanan ayah Taeyun memegang kening Jovian.



"Apa yang kau lakukan?" tanya Jovian bingung.



Ayah Taeyun mengucapkan suatu kata-kata yang tak bisa Jovian dengar dengan jelas karena terlalu pelan. Jovian terbatuk saat tangan kiri ayah Taeyun tiba-tiba menekan dadanya.



"Apa yang kau.. Lakukan?"



Jovian kembali terbatuk dan bercak darah keluar dari mulutnya. Nafasnya memburu seakan ia merasa sangat kelelahan. Lelaki itu menggerang saat merasa ada sesuatu di dalam tubuhnya yang tertarik keluar. Aura berwarna biru mengalir masuk ke dalam tabung kaca besar yang ada di depan Jovian.



"Aarrrgghhh!!"



Jovian semakin menggerang saat secara perlahan kekuatannya terpisah dari tubuhnya.



"Kau awasi dia. Panggil aku jika ada sesuatu." ucap ayah Taeyun pada salah satu iblis penjaga yang ada di sana.





***





Sung Ha berjalan ke sana kemari di kamarnya. Ini sudah siang, tapi Jovian masih juga belum kembali. Sejak dini hari ia telah berkeliling Seoul tapi tetap saja, ia tak bisa menemukan lelaki itu. Sung Ha mengedarkan pandangannya saat merasakan hawa di dalam kamarnya mulai terasa panas.



"Kenapa tiba-tiba di sini terasa panas." keluhnya.



Sung Ha keluar dari kamarnya. Ia terkejut saat mendapati sofa tempatnya biasa duduk telah tiada. Ia mengedarkan pandangannya dan kembali mendapati beberapa benda menghilang.



"Apa yang terjadi?"





***





Di tempat lain, di dunia iblis. Jovian terus saja menggerang. Ia berteriak sekuat yang ia bisa,, menahan rasa sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.



Salah satu iblis penjaga yang berdiri di dekat tabung itu berbisik pada iblis di sampingnya. Iblis yang dibisiki itu segera masuk ke istana. Beberapa menit kemudian iblis itu kembali bersama dengan ayah Taeyun. Ayah Tae Hyun melihat tabung yang sudah penuh.



"Hentikan. Ini sudah cukup." perintahnya pada iblis di sampingnya yang langsung dikerjakan.



Ayah Taeyun menghampiri tabung yang sekarang berwarna biru itu. Ia meraba permukaan tabung seakan kagum dengan benda yang ada di hadapannya.



Wajah Jovian tertunduk, tak sadarkan diri. Hampir seluruh kekuatannya habis terhisap dan masuk ke dalam tabung.



"Buang dia ke dunia manusia." perintah ayah Taeyun pada beberapa iblis yang berdiri di sekitarnya.





***




__ADS_1


Sung Ha diam menatap sebuah dinding yang belum lama ia lewati. Di sentuhnya dinding yang dingin itu. Berulangkali ia mencoba menuliskan nama Ky. Namun tetap saja dinding itu tak berubah.



Sung Ha benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Kenapa Jovian menghilang, dan kenapa rumahnya juga lenyap. Apakah terjadi sesuatu kepadanya?



Tes tes tes



Sung Ha mendongakkan kepalanya saat butiran-butiran air mulai berjatuhan dari langit. Gadis itu lebih menepi saat hujan turun semakin deras. Ia mengusap kedua tangannya karena merasa kedinginan.



Brak!



Sung Ha terkejut saat mendengar suara benda jatuh. Matanya tertuju pada sebuah sosok yang tergeletak di ambang gang. Gadis itu menyipitkan matanya, memperjelas pandangannya. Hujan yang lebat menyulitkan Sung Ha melihat wajah sosok itu. Tapi sepertinya ia mengenali lelaki itu.



"Jovian?"



Gadis itu segera berlari menghampiri Jovian yang tergeletak di jalan. Ia tak peduli dengan tubuhnya yang saat ini basah kuyup terkena air hujan.



"Jovian?!"



Sung Ha memegang kedua pipi Jovian yang terasa dingin. Wajah lelaki itu pucat seperti orang yang kehilangan nyawanya.



Merasa ada yang aneh, Sung Ha mendekatkan telinganya pada dada Jovian. Ia memejamkan matanya untuk lebih bisa merasakan detak jantung lelaki itu.



Deg deg deg



Walaupun sangat pelan Sung Ha masih bisa mendengarnya. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang bisa menolongnya. Dengan susah payah Sung Ha memapah Jovian untuk berteduh di gang yang memang hanya bisa sedikit melindungi mereka dari hujan yang lebat.



Sung Ha menyandarkan tubuh Jovian di dinding. Gadis itu menaruh telapak tangannya di dada Jovian dan saat itu juga dari telapak tangan Sung Ha keluar cahaya.



"Aku mohon bangunlah."



Sung Ha menghentikan kegiatannya itu. Ia menoleh ke belakang, melihat hujan yang masih terus mengguyur. Dengan ragu gadis itu memapah Jovian menembus hujan yang lebat.



"Aku mohon bertahanlah.."



Berulangkali Sung Ha dan tubuh Jovian terjatuh. Namun berulangkali juga Sung Ha mencoba bangkit dan melanjutkan langkahnya dengan memapah tubuh Jovian yang menurutnya berat. Setelah beberapa lama, gadis itu tiba di sebuah rumah. Lantai tempat di mana Sung Ha berpijak telah basah karena air yang menetes dari tubuhnya dan Jovian.




"S-Sung Ha? Apa yang terjadi?"



Gadis itu tampak terkejut saat mendapati keadaan Sung Ha dan Jovian.



"Min Ri.." ucapnya lirih. "Tolong aku."



Min Ri menangkap tubuh Sung Ha dan Jovian saat gadis itu hampir saja jatuh.



"Min Jin! Cepat kemari!"





***





Min Ri membawakan segelas coklat panas dan memberikannya pada Min Jin. Setelah mengganti pakaian Sung Ha dan Jovian dengan makaian mereka. Min Ri dan Min Jin membiarkan mereka untuk tidur.



Dengan menyesap coklat panas itu Min Jin masih berpikir. Ketika ia mengganti pakaian Jovian tadi. Ia merasa tubuh lelaki itu terlalu dingin untuk seorang iblis. Ditambah saat ia memeriksa nadi dan detak jantungnya yang sangat lemah.



"Bagaimana keadaan Sung Ha?" tanya Min Jin pada Min Ri yang duduk di sampingnya.



"Dia hanya sedikit demam dan kelelahan. Dengan tidur dia akan bisa pulih dengan sendirinya."



"Em."



"Lalu bagaimana dengan Jovian? Dia terlihat sangat pucat tadi. Apakah dia baik-baik saja?"



Min Jin bangkit dari duduknya dengan segelas coklat panas yang masih di tangannya.



"Ikut aku." ucapnya dan masuk ke sebuah kamar tempat dimana Jovian berada.

__ADS_1



Tanpa perotes Min Ri berjalan mengikuti Min Jin.



Dengan menyesap coklat panasnya, Min Jin terus memandangi Jovian. "Lihatlah dia. Aku baru pertamakali melihat seperti ini."



Sung Ha berjalan mendekati Jovian yang terbaring di ranjang milik Min Jin.



"Apakah dia masih hidup?" tanya Min Ri saat melihat keadaan Jovian.



"Ya. Tapi, detak jantungnya begitu lemah."



Min Jin menaruh cangkir yang sudah kosong itu di meja di dekat ranjangnya.



"Min Ri, ambilah alat untuk mendeteksi aura."



"Baiklah."



Min Ri segera mengambil alat yang dimaksud oleh saudaranya itu. Saat ia ingin kembali ke kamar Min Jin ia melihat Sung Ha yang barusaja keluar dari kamarnya. Ia berjalan mendekati Sung Ha.



"Kau harus istirahat." ucapnya.



"Tidak. Aku harus melihat keadaan Jovian. Dimana dia?"



"Dia ada di kamar Min Jin. Ikut aku, aku juga mau ke sana."



Min Ri membuka pintu kamar Min Jin. Ia segera menaruh alat itu di dekat tubuh Jovian. Min Jin sedikit terkejcut mendapati sosok Sung Ha yang barusaja memasuki kamarnya.



"Sung Ha? Kenapa kau di sini? Kau seharusnya beristirahat."



"Bagaimana keadaannya?" tanyanya karena semenjak Sung Ha menemuka Jovian di jalan ia tampak begitu mencemaskan keadaan lelaki itu.



"Aku belum bisa mengatakan bagaimana keadaannya saat ini."



Min Jin mengambil alat yang belum lama ditaruh Min Ri di dekat tubuh Jovian. Lelaki itu tampak menekan beberapa tombol di sana. Menit berikutnya ia memakai kacamata yang memang pasangan dengan alat yang saat ini Min Jin bawa. Ia terdiam beberapa saat setelah melihat Jovian dengan kacamata itu.



"Sung Ha.." panggil Min Jin pelan.



"Ya?"



"Seberapa besar kekuatan yang dimiliki Jovian?" tanyanya tanpa memandang ke arah Sung Ha.



"Apa maksudmu?"



Min Jin melepas kacamata yang ia kenakan.



"Kekuatan yang ia miliki sangat sedikit. Mungkin itu yang menyebabkan Jovian tak sadarkan diri. Tapi, bagaimana bisa iblis hidup dengan kekuatan yang sangat minim seperti itu."



Tak mungin jika kekuatannya habis hanya karena bertarung, dan tak mungkin jika keturunan raja sepertinya hanya memiliki kekuatan seminim ini. Lalu, ke mana semua kekuatan yang ia miliki?



Dengan alat tadi Min Jin hanya bisa melihat satu perlima dari kekuatan yang ada pada diri Jovian.



"Apakah terjadi sesuatu?" tanyanya lagi.



"Sebenarnya.. Malam terakhir aku berbicara dengannya ada sedikit perdebatan di antara kami. Lalu pada akhirnya aku tidur lebih awal darinya. Tapi ketika aku terbangun, dini hari. Aku tak menemukannya di kamarnya. Dan aku berinisiatif mencarinya. Dan saat itu aku bertemu kalian. Setelah bertemu kalian aku kembali mencari di seluruh tempat tapi aku tetap tak menemukannya. Ketika aku kembali ke rumah. Aku tetap tak menemukannya. Dan tak lama berselang, ada yang aneh dengan rumah Jovian. Benda-benda di sana hilang satu persatu seperti sihir yang hilang. Aku tak tau apa yang terjadi, tapi setelah aku keluar dari rumah itu. Aku tak bisa masuk lagi." jelas Sung Ha panjang lebar.



"Di mana rumah itu berada?"



"Rumah milik Jovian bukanlah rumah biasa. Ia menciptakannya dengan kekuatan yang ia miliki dan tak ada yang bisa memasukinya kecuali jika Jovian memberi kunci. Dari luar kau tak akan menemukan sesuatu tapi jika kau sudah berada di dalamnya kau akan bisa mengetahui bahwa itu adalah sebuah rumah."



"Maksudmu Jovian tinggal di rumah yang ia bangun dengan kekuatannya?" tanya Min Ri.



"Ya."



"Kurasa itu sebabnya kau tak bisa membuka rumah itu lagi. Kurasa Jovian telah kehilangan banyak kekuatan hingga ia tak mampu mempertahankan rumah itu." jelas Min Jin, mengambil kesimpulan.



Min Jin, Sung Ha dan Min Ri menatap Jovian bersamaan. Jika benar apa yang disimpulkan oleh Min Jin, lalu apa penyebab Jovian kehilangan kekuatannya? Itulah yang ada dalam pikiran Min Jin sekarang.



__ADS_1



__ADS_2