
Taeyun menyeringai gembira melihat Sung Ha yang di kelilingi oleh debu hitam. Gadis itu menjerit dan semakin memegang erat kepalanya.
"Akulah yang membunuh orang tuamu.. Mereka hanyalah manusia yang tak berguna dan rendah. Mereka sangat berbeda dengan kita. Ikutlah bersamaku.. Sung Ha."
Debu yang awalnya berwarna hitam mulai muncul beberapa api berwarna biru keunguan yang membuat Taeyun semakin tertarik dengan Sung Ha. Gadis itu kembali menjerit kesakitan dan setelahnya, muncullah sayap hitam dengan api biru keunguan yang mengitarinya.
"Kau.." gumam Sung Ha.
Sung Ha perlahan menurunkan tangan yang sedari tadi memegangi kepalanya. Kepala gadis itu masih saja tertunduk menatap kedua lututnya.
Tidak seperti tadi. Ekspresi Taeyun tanpak terkejut. Ia tak pernah menyangka aura gadis itu akan terus meningkat. Ditambah api biru keunguan yang hanya dimiliki oleh raja iblis yang semakin menyelimuti tubuh Sung Ha. Apa ini? Kenapa Taeyun tiba-tiba merasa sangat takut.
"Aku tak akan pernah memaafkanmu."
Sung Ha mengangkat kepalanya dan menatap Taeyun sangat tajam. Hingga membuat lelaki itu memundurkan langkahnya karena terkejut dengan tatapan yang Sung Ha berikan padanya.
Dengan secepat kitat Sung Ha menyerang Taeyun, namun gadis itu pingsan di pelukan Taeyun sebelum berhasil mengenai tubuh lelaki itu. Lelaki itu menghela nafas lega. Jika saja Sung Ha tidak pingsan ia pasti akan terbunuh di tempat ini. Terkadang ia memang terlalu ceroboh menghadapi sesuatu.
Jovian tiba dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Ia melihat dua jasad yang tergeletak di lantai dan Tae Hyun yang tengah memeluk Sung Ha. Ia melihat sayap yang ada di punggung gadis itu. Sayap berwarna hitam yang sangat lemas dan perlahan menghilang.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Jovian.
Taeyun tersenyum penuh kemenangan.
"Kau tertinggal sesuatu yang menakjubkan Ky." Taeyun mengeluarkan sayapnya yang berwarna hitan dan terdapat berjak api berwarna hijau itu.
"Aku akan membuat Sung Ha menjadi milikku selamanya dan aku akan mengangkat derajat iblis api hijau. Sepertinya ada beberapa iblis yang datang kemari. Kau bisa mengurusnyakan?"
Taeyun membopong Sung Ha layaknya seorang putri dan membuat sebuah lubang besar di dinding dengan kakinya. Lelaki itu menyulut api dan membakar dua ranjang di sana supaya tidak ada jejak yang tertinggal.
"Aku pergi."
Taeyun melompat dari lubang yang ia buat dan terbang bebas di udara. Tak mau tinggal diam Jovian segera mengejar Taeyun dan meluncurkan beberapa serangan yang sukses mengenainya. Namun ia hampir saja membuat kesalahan dan hampir membuat Sung Ha terkena apinya.
__ADS_1
Jovian dan Taeyun berhenti bermain kejar-kejaran dan saling menatap satu dengan yang lain.
"Kenapa kau menginginkan gadis ini?" tanya Taeyun.
"Itu bukan urusanmu."
Beberapa lama mereka terbang di atas kota, mereka tidak akan terlihat oleh para manusia karena mereka memang sedang tidak memperlihatkan wujud mereka. Jovian bisa merasakan dua iblis yang semakin mendekat ke arahnya sekarang.
"Baiklah aku akan memberikannya. Tapi aku akan merebutnya lagi karena aku harus merubah beberapa rencana karena melihatnya berubah tadi. Jika kau ingin gadis ini, ambillah.."
Taeyun melepas tubuh Sung Ha dari lengannya, yang membuat gadis itu dengan mudahnya terjatuh. Melihat itu Jovian segera mengejar Sung Ha karena ia tak ingin gadis itu terbentur tanah dan hancur berkeping-keping.
Saat melihat titik lemah Jovian, Taeyun mengarahkan apinya tepat di kaki kanan lelaki itu yang membuat lelaki itu merasakan sakit pada kaki kanannya. Namun ia masih terus terbang menukik dan berhasil menangkap Sung Ha. Kaki kanan lelaki itu terasa perih karena api hijau Taeyun yang tepat mengenai kakinya.
Di saat sedang terbang manahan rasa sakitnya dua iblis telah sampai dan menghadang Jovian. Sedangkan Taeyun? Lelaki itu telah menghilang entah ke mana.
"Sial!" umpatnya.
"Mau apa kalian kemari?" tanya Jovian yang mencoba nenenagkan dirinya dan memilih bicara baik-baik.
Mereka melihat api biru yang menyelimuti sayap Jovian. Siapa iblis yang tak tau dengan api biru? Api yang menyimbolkan keluarga kerajaan yang sangat dihormati.
"Walaupun kami tidak bisa merasakan auran dengan sempurna tapi kami merasakan aura yang aneh. Apakah itu auran anda pangeran?"
"Iya. Itu auraku. Aku sedang berlatih, jadi jangan menggangguku."
Para iblis itu melihat Sung Ha yang tengah dibopong Jovian sekilas dan memilih pergi tak peduli dengan gadis itu.
Jovian tak heran jika dua iblis tadi bisa merasakan aura Sung Ha. Ini pertama kalinya ia merasakan aura yang hampir sama seperti ayahnya sang raja iblis. Kedua iblis itu memilih untuk pergi karena telah merasa aman. Tak mau berlama-lama Jovian segera membawa gadis itu pulang ke rumahnya.
Dengan berjalan pincang Jovian membopong Sung Ha ke dalam kamarnya dan menidurkannya di tempat tidur miliknya. Lelaki itu keluar dan duduk di sofa untuk melihat seberapa besar luka yang ia dapatkan. Luka iblis yang diciptakan karena api iblis lainnya memang akan membutuhkan banyak waktu untuk bisa kembali seperti semula. Ini kesalahan Jovian karena lengah melindungi dirinya sendiri dan membiarkan tubuhnya terluka.
Jovian meluruskan kakinya dan berbaring di sofa. Ia menahan kaki kanannya di salah satu lengan sofa yang membuatnya sedikit lebih tinggi.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu setelah Jovian membawa Sung Ha ke rumahnya. Tapi gadis itu tetap belum sadarkan diri. Sekitar pukul dua belas malam lewat beberapa menit perlahan Sung Ha membuka matanya. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari di mana dia sekarang. Kepala Sung Ha masih terasa sedikit sakit tapi ini tak sesakit saat ia berubah menjadi iblis.
Lelah berbaring, gadis itu memutuskan untuk bangkit dan keluar dari kamar yang entah milik siapa. Ia mimpi buruk malam ini. Sangat buruk sehinga ia tak ingin mengingatnya. Ia bermimpi kedua orang tuanya dengan sadisnya dibunuh oleh Taeyun. Salah satu iblis api hijau.
Sung Ha melihat Jovian yang tengah tertidur di sofa panjang miliknya. Ia tersenyum karena bisa melihat Jovian untuk saat ini. Perlahan gadis itu mendekati Jovian dan menatap Jovian lekat. Wajah lelaki itu sedikit pucat dan beberapa tetes keringat mengalir begitu saja disekitar pelipisnya. Apakah Jovian sakit?
Sung Ha memegang pelipis lelaki itu dan benar saja. Badan lelaki itu seperti api yang sedang membara. Sung Ha hanya tau cara mengobati manusia. Ia tak pernah mengobati iblis sebelumnya tapi ia rasa manusia dan Jovian hampir sama. Saat Sung Ha akan mengambil kompres untuk mendinginkan badan Jovian ia melihat luka bakar di kaki kanan lelaki itu.
Entah naluri dari mana, Sung Ha meraba luka itu dengan memberi jarak sekitar tiga centi dari luka. Luka itu diselimuti oleh cahaya putih dan beberapa saat kemudian luka itu menghilang tanpa bekas. Ia segera mengambil kompres dan air untuk mengkompres tubuh Jovian.
Dengan lihai dan penuh kasih sayang, gadis itu merawat Jovian dan mengganti kompres yang sudah mulai kering. Ia melakukannya berulang kali hingga ia tertidur dengan kepala berbantalkan sofa dan tubuhnya duduk bertumpu di lantai.
Jam menunjukkan pukul enam pagi. Jovian membuka matanya perlahan dan mengambil sesuatu yang tertempel di keningnya. Kompres? Ia melihat Sung Ha yang tertidur dengan posisi terduduk di sampingnya.
"Apa yang dia lakukan?" ucapnya pelan.
Lelaki itu mendudukkan dirinya. Ia terkejut melihat kakinya yang tidak terdapat bekas luka sedikitpun. Apakah Sung Ha yang melakukannya? Lelaki itu kembali menatap Sung Ha dan memilih menidurkan gadis itu di sofa tempat ia tertidur tadi.
Jovian telah membersihkan dirinya dan bersiap untuk bersekolah. Ia berniat membangunkan Sung Ha namun sebelum sempat membangunkannya gadis itu telah terbangun.
"Kau sudah bangun?" ucap Jovian dan menghampiri Sung Ha.
"Sepertinya aku bermimpi buruk tadi malam. Aku bermimpi melihat iblis yang membunuh kedua orang tuaku."
Sung Ha sangat takut. Ia tak ingin itu benar-benar terjadi. Walaupun kejadian itu seperti nyata. Sung Ha tak bisa menerimanya.
Jovian terdiam. Apakah Sung Ha menganggap kejadian semalam hanyalah sebuah mimpi? Haruskah ia memberitau bahwa kejadian itu bukan mimpi dan kedua orang tuanya telah tiada?
"Sung Ha.. Kau berangkat sekolah tidak?"
Sung Ha meloncat berdiri dari sofa. "Jam berapa ini?!" tanyanya panik.
__ADS_1