
Malam hari Jovian terus saja duduk di samping Sung Ha. Bola matanya fokus memandangi wajah Sung Ha yang pucat. Beberapa jam lalu Jovian bisa merasakan aura aneh muncul dari diri Sung Ha. Walaupun aura itu sangat kecil tapi ia khawatir karena aura yang ia rasakan adalah aura iblis. Ia memeriksa kembali suhu tubuh Sung Ha. Suhu tubuhnya sudah sedikit menurun, tetapi tetap saja suhu tubuh gadis itu tergolong masih tinggi.
Secara reflek Jovian mengecup kening Sung Ha. Namun saat lelaki itu sadar ia mengecup kening Sung Ha ia segera menutup mulutnya dengan punggung telapak tangannya dan segera keluar kamar meninggalkan Sung Ha yang masih tertidur.
Jovian bersandar di pintu kamarnya dan mengacak rambutnya frustasi. "Apa yang aku lakukan?"
Jovian membelakkan matanya saat merasakan aura yang aneh, ia kembali memasuki kamarnya dan melihat Sung Ha. Ia terkejut saat mendapati aura hitam tipis mulai menyelimuti tubuh gadis itu. Namun sebuah cahaya menyilaukan pandangan Jovian. Tepatnya sebuah cahaya yang berasal dari dalam saku baju yang Sung Ha kenakan.
Dengan ragu lelaki itu mendekati dan memeriksa cahaya itu. Diambilnya sebuah cincin yang bersinar dari dalam saku Sung Ha. Jovian melihat Sung Ha dan cincin itu bergantian. Entah ide dari mana Jovian memakaikan cincin itu pada Sung Ha yang seketika aura hitam yang menyelimutinya terserap masuk ke dalam cincin.
"Apakah cincin ini penyebabnya?"
Jovian mengacak rambutnya frustasi. Ia tak bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi dengan Sung Ha. Dan siapa sebenarnya dia? Kenapa bisa ada malaikat setengah iblis? Bahkan malaikat maupun iblis dilarang bertemu secara langsung. Dan kenapa Sung Ha....?
"Aishhh"
"Jovian?" panggil Sung Ha saat melihat Jovian sedang berdiri dan mengacak rambutnya. Lelaki itu tersentak saat melihat Sung Ha telah membuka matanya.
"Kau sudah bangun.."
"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa tidur di sini?" tanya Sung Ha sembari mendudukkan tubuhnya.
***
Taeyun telah cukup puas berjalan-jalan. Gemerlap bintang dan cahaya bulan telah menerangi langit malam yang gelap.
Lelaki itu menulis sesuatu di tembok di dekatnya dengan jari telunjuknya. Ia masuk ke dalam tembok yang baru saja ia tulisi tadi.
Tae Hyun berjalan menyusuri istana untuk mencari ayahnya yang tak lain adalah penasehat raja. Lelaki itu membuka sebuah pintu yang cukup besar.
"Kau sudah kembali?" ucap lelaki yang ada di dalam ruangan.
Lelaki itu tampak tengah sibuk dengan beberapa kertas di tangannya.
"Hmm." Taeyun duduk di hadapan ayahnya .
"Apa yang kau dapatkan?"
"Si pangeran, dan..."
Taeyun menggantungkan kalimatnya itu yang membuat ayahnya menghentikan aktivitasnya dan menatap anaknya.
"Dan apa?"
Taeyun memikirkan ulang apa yang akan ia katakan. Ia tak mau memberi tau ayahnya tentang Sung Ha. Karena jika ia memberi taunya ayahnya lah yang akan bertindak duluan dan Sung Ha akan menjadi milik ayahnya. Ia tak mau itu terjadi.
"Dan, aku ingin bertanya. Berapa persen ayah yakin Ky akan kembali dan membalaskan dendamnya?"
"Seratus persen." ucapnya dan kembali fokus pada kertas yang ia pegang.
Taeyun hanya menganggukkan kepalanya. Mengerti dengan jawaban itu.
¬"Apakah rencana itu sudah disetujui raja?"
Ayah Taeyun kembali menghentikan aktivitasnya dan tersenyum menatap anaknya.
"Begitulah. Entah kenapa raja langsung menyetujuinya. Tapi Sean menentang keputusan itu."
"Sean?" ulang Taeyun. "Bukankah dia masih tak memiliki hak untuk membuat keputusan maupun memberikan usulan. "
"Begitulah. Tapi bagaimanapun juga dia adalah anak raja. Dan.. Aku harap Ky tidak tau tentang rencana ini. Anak umur tujuh tahun bahkan bisa mengeluarkan kekuatan yang tidak terduga. Anak itu memiliki potensi untuk menjadi raja. Kau harus terus mengawasinya."
"Dia tak sehebat yang ayah pikirkan."
"Kau jangan terlalu lama bermain-main dengannya. Walaupun aku belum melihatnya sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi aku yakin dia bertambah kuat."
__ADS_1
"Aku mengerti."
-You’re My Devil Child-
Sung Ha memakan makanannya dengan lahap. Setelah Jovian menceritakan perihal dirinya yang jatuh sakit dengan tiba-tiba, dan perihal masalah cincin yang saat ini ia kenakan. Jovian menaruh segelas air putih dingin di dekat piring Sung Ha lalu duduk di samping gadis itu.
"Apakah kau selapar itu?" tanya Jovian yang melihat begitu lahapnya Sung Ha memakan makanannya.
"Ya. Aku dari pagi belum makan jadi wajar jika aku kelaparan." jawab Sung Ha disela aktivitas makannya.
***
Jun Ki keluar dari rumah sakit sekitar pukul lima dini hari. Semalam ia memutuskan untuk menginap dan menemani pacarnya yang baru saja tersadar dari tidur panjangnya. Sesampainya di rumah ia melihat Taeyun yang tengah berbaring membaca komik di tempat tidur miliknya.
"Kau baru pulang.." ucapnya masih fokus pada komik yang ia pegang.
"Ya." lelaki itu berjalan ke meja belajarnya dan menyiapkan buku pelajaran untuk hari ini.
"Pulang sekolah kau akan menemaninya lagi?" tanya Taeyun.
"Iya. Apakah kau membutuhkanku? Jika kau membutuhkanku bilang saja."
Taeyun membuka lembaran baru dari komik yang ia baca.
"Aku tidak bisa memastikan karena semua akan tergantung reaksinya."
"Reaksinya?" ulang Jun Ki tak mengerti apa yang dikatakan Taeyun.
"Bukan apa-apa. Kau tak perlu tau."
***
Sung Ha menjaga jaraknya dengan Jovian. Gadis itu tak ingin teman-temannya mengatakan hal aneh dengannya dan juga Jovian. Ditambah kemarin ia dan Jovian tidak masuk sekolah bersama, hal itu tambah membuat teman-temannya berpikir aneh. Sung Ha memasuki kelas dan beberapa pasang mata menyambut kedatangan Sung Ha.
"Ya Sung Ha. Apakah kau sakit?" tanya Hana saat Sung Ha mendudukkan dirinya di bangku lamanya, di ujung kanan belakang.
"Aku hanya deman. Jadi tak perlu khawatir." tak berapa lama Jovian pun memasuki kelas.
"Kau tau? Kemarin dia juga tidak masuk. Banyak yang mengatakan kalian bersama. Karena waktu itu Jovian lah yang mengantarmu pulang saat kau sakit."
Sung Ha melambai-lambaikan kedua tangannya cepat tanda tak setuju. "Tidak. Aku tidak bersamanya." ucap Sung Ha berbohong.
Hana melirik Jovian dari kejauhan. Diikuti oleh Sung Ha.
"Kau sebaiknya menjaga jarak dengannya."
"Dia tak seburuk yang kalian pikirkan." ucap Sung Ha yang spontan membuat Hana menatapnya dengan penuh tanya.
Bel istirahat telah berbunyi Sung Ha segera berlari menuju toilet karena ia sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
Tak jauh dari toilet. Ahri melihat seorang gadis yang tak lain adalah Sung Ha. Mata Ahri berkilau kehijauan dan gadis itu memutuskan untuk mengikuti Sung Ha masuk ke dalam toilet. Lima menit kemudian Sung Ha keluar dari salah satu bilik toilet.
"Hai." sapa Ahri pada Sung Ha.
Sung Ha menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada orang selain dirinya dan gadis itu.
"Aku?" tanya Sung Ha sembari menunjuk dirinya sendiri. Ia pernah melihat gadis itu tapi ia sama sekali tak mengenalnya.
Ahri tersenyum. "Ya, kau Sung Ha kan?"
"Benar... Ada apa?"
"Ikut aku.." Ahri menarik tangan Sung Ha keluar dari toilet. Dengan penuh kebingungan dan tanda tanya Sung Ha beritu saja mengikuti tarikan Ahri. Ia membawa Sung Ha menuju atap sekolah.
Di atap Sung Ha bisa melihat seorang lelaki yang tengah berdiri membelakanginya. Ahri melepaskan tangan Sung Ha.
__ADS_1
"Aku membawanya kemari.." ucapnya pada lelaki itu.
Lelaki itu perlahan berbalik dan menatap Sungh Ha.
"Hai." sapanya dan tersenyum pada Sung Ha.
Mata Sung Ha melebar mendapati wajah lelaki yang tidak ia suka, bahkan yang ia benci, tengah berdiri di hadapannya. Untuk apa lelaki itu ada di sini?
"Kau..." gumam Sung Ha pelan.
Sebenarnya bukan wajahnya lah yang ia tidak suka. Tapi jiwa yang ada di dalam tubuh itu.
"Ya.. Aku adalah iblis yang membunuh orang tuamu." ucap Jun Ki dengan menekankan kata 'membunuh' dan tersenyum pada Sung Ha.
Sung Ha tak ingin melanjutkan pertemuan ini dan memilih untuk meninggalkan Jun Ki. Namun langkahnya terhalang oleh tubuh seorang gadis yang membawanya ke sana.
"Ya!" perotes Sung Ha.
Tak mau menyerah Sung Ha memilih jalan ke kanan namun langkahnya kembali terhalang oleh tubuh gadis itu.
"Kenapa kau terburu-buru seperti itu. Kemarilah ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap lelaki bernama Jun Ki.
Sung Ha mengepalkan tangannya menahan emosinya yang mulai muncul. Ia menghela nafasnya, mencoba untuk tenang dan berbalik.
"Apa yang kau inginkan? Apakah aku berbuat salah padamu? Apakah aku pernah membunuh orang tuamu? Apakah aku pernah mencacimu di depan orang lain?! Kenapa iblis selalu mengganggu kehidupanku?!" mata gadis itu mulai memerah menahan emosinya dan juga tangisnya.
"Jangan ganggu aku lagi."
Sung Ha segera pergi meninggalkan Jun Ki. Namun lagi-lagi langkah Sung Ha terhalang oleh Jun Ki yang sudah berdiri menghalangi pintu.
"Kau ingin tau jawabannya?" Jun Ki mulai melangkah maju mendesak Sung Ha dan memaksa gadis itu untuk memundurkan langkahnya.
"Kau memang tak memiliki kesalahan apapun padaku. Kau juga tak membunuh orang tuaku. Tapi kau salah besar karena telah membuatku tertarik padamu." Jun Ki dan Sung Ha berhenti tepat di tengah-tengah atap.
"Aku tak pernah menyuruhmu untuk tertarik padaku. Jadi kau tetap tak berhak mencampuri kehidupanku!"
Jun Ki tersenyum meremeh.
"Kau memang tak pernah menyuruhku untuk tertarik padamu. Tapi kekuatan dalam dirimu lah yang menyuruhku tertarik padamu."
"Aku tak memili−"
"Kau memang belum menyadarinya. Cepat atau lambat kau pasti akan menyadarinya. Tujuanku mencarimu adalah untuk mengajakmu ke dunia iblis." Potong Jun Ki.
"Dunia.. Iblis?"
"Ya."
Terlintas begitu saja di pikiran Sung Ha, anak kecil yang pernah Jovian selamatkan dan pada akhirnya terbunuh di tangan pasukan iblis. Anak itu di bawa oleh Jovian ke dunia iblis dan karena itulah nyawanya terancam.
"Aku tidak mau! Aku bukan iblis sepertimu!" Sung Ha berjalam melewati Jun Ki begitu saja.
Dengan sigap Jun Ki menahan lengan Sung Ha yang membuat gadis itu terputar dan mengecup sekilas bibir Sung Ha.
"Ikutlah denganku.."
Sayap putih Sung Ha keluar begitu saja tanpa Sung Ha memintanya. Sung Ha masih berdiri terpaku dengan lengan kirinya tertahan tangan Jun Ki. Wajahnya tersipu kemerahan karena Jun Ki. Tak lama gadis itu tersadar dan segera melepas paksa tangan Jun Ki.
"Ya! Apa yang kau lakukan!"
Sung Ha mengusap bibirnya menggunakan punggung telapak tangannya. Gadis itu menatap tajam Jun Ki.
"Aku akan menemuimu lagi nanti.. Jaga dirimu My Devil Child." Jun Ki mengacak pelan rambut Sung Ha dan berlalu begitu saja.
__ADS_1