Devil Child

Devil Child
Chapter 17


__ADS_3

Entah kenapa Jovian merasa sangat khawatir dengan keadaan Sung Ha. Ia takut jika kejadian kemarin terulang kembali dan mengundang para iblis untuk datang mendekatinya. Bahkan hal yang terburuk adalah Sung Ha dapat terbunuh. Jovian meremas bolpoin yang ia pegang saat mengingat wajah Taeyun yang sangat menyebalkan baginya itu. Apa yang ia rencanakan? Tanpa Jovian sadari, bolpon itu patah menjadi dua.



"Akan kubunuh kau.." ucap Jovian pelan.



Namun karena keadaan kelas yang sunyi suara Jovian dapat terdengar dengan jelas hingga semua murid melihat ke arahnya tak terkecuali guru Kim yang sedang menulis di depan.



Sadar jika dirinya ditatap oleh banyak mata Jovian membalas tatapan itu dengan sorot mata membunuhnya, yang sontak membuat seluruh orang yang menatapnya memalingkan pandangan termasuk guru Kim yang notabennya takut dengan Jovian. Pelajaran kembali berlanjut walaupun dengan suasanya yang cukup canggung.



Setelah pelajaran usai Jovian segera mencari lelaki yang ia tau bernama Jun Ki. Yang tak lain adalah Taeyun. Lelaki itu tidak ada di kelasnya. Ke mana dia? Jovian mencari Jun Ki ke seluruh penjuru sekolah sampai ia melihat sesosok lelaki dan gadis yang sedang berbincang yang Jovian yakini itu adalah Jun Ki dan Ahri. Jovian segera menghampirinya dan menyeret Jun Ki ke tempat yang tidak terlalu banyak murid, belakang sekolah.



Lelaki itu menghempaskan tubuh Jun Ki bergitu saja.



"Apa rencanamu?" tanyanya.



Jun Ki merapikan bajunya yang ia rasa sudah kusut karena perbuatan Jovian itu.



"Itu rahasia." jawabnya santai dan tersenyum.



"Jangan ganggu dia lagi! Dan keluar dari tubuh itu pengecut!"



Jun Ki menyeringai. Pengecut? Yang benar saja.



"Kau pikir lebih pengecut mana dibanding seorang pangeran yang bahkan tidak berani pulang ke rumahnya." Jovian mencengkram kerah Jun Ki.



"Lebih baik kau diam jika tidak ingin mati di sini."



Jun Ki teringat sesuatu. Ia melirik kaki Jovian yang tengah berdiri tegap dan serasa tidak memiliki luka sedikit pun.



"Apakah malaikat itu, juga bisa menyembuhkan luka?" Jovian terdiam sesaat dan melepaskan tangannya dari kerah Jun Ki dengan kasar. "Dia sangat menarik bukan? Kau bisa memanfaatkannya untuk membalaskan dendammu pada ayahmu."



Jovian tak menanggapi Jun Ki dan memilih untuk mengganti topik pembicaraan.



"Keluarlah dari tubuh itu. Dia bisa mati jika kau terus berada di dalam tubuhnya."



"Aku tak peduli tubuh ini terluka maupun mati. Dia dan aku sudah membuat perjanjian yang tidak akan bisa dilanggar. Kau tau? Jika dia melanggar dia akan mati tapi jika dia mengikuti perjanjian itu dia juga akan mati."



"Apa maksudmu?"



"Sepertinya aku sudah berbicara terlalu banyak." Jong Kook memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.



"Aku pergi, ada hal yang masih harus aku lakukan."


__ADS_1


Jun Ki menunjukkan senyum yang entah apa itu artinya dan pergi meninggalkan Jovian. Yang saat ini ada dalam pikiran Jovian adalah perjanjian apa yang Jun Ki buat dengan Taeyun? Lelaki itu sangat yakin bahwa Taeyun telah melakukan perjanjian darah dengan Jun Ki. Tapi apa untungnya bagi Jun Ki?





***





Jovian tersentak saat mendapati Sung Ha yang tengah terlelap di sofa rumahnya. Apa yang ia lakukan di sini? Lelaki itu mendekatinya dan mengamatinya sesaat. Sung Ha tertidur dengan memeluk sebuah buku berwarna merah. Merasa tak nyaman dengan posisi tidur Sung Ha, Jovian mengambil buku itu dan membetulkan posisinya.



Jovian menaruh buku itu di meja dan pergi ke kamar untuk mengganti bajunya. Setelah mengganti seragam dengan kaos berwarna abu-abu dan dengan celana jeans yang sangat serasi membalut tubuhnya. Lelaki itu segera keluar dari kamarnya dan mengambil soda kaleng yang telah lelaki itu simpan di kulkas.



Ia membukanya dan meneguknya perlahan. Mata lelaki itu kembali terfokus pada sosok yang tengah tidur di sofa. Tanpa menaruh sodanya ia menghampiri Sung Ha dan melihat buku merah yang ada di atas meja.



"Buku apa ini?" gumamnya pelan karena penasaran. Kenapa Sung Ha sampai tidur memeluk buku tua itu?



Jovian menaruh sodanya dan menukarkannya dengan buku. Perlahan ia membuka dan melihat setiap foto yang terpampang di setiap lembarnya. Ia membaca tulisan yang berada di lembar paling belakang.



Setelah selesai Jovian kembali menaruh buku itu dan mengambil sodanya. Ia duduk di sofa yang letaknya berhadapan sengan Sung Ha. Matanya tak bisa lepas dari sosok yang sedang terlelap itu.



Detik berganti menit. Menit berganti jam. Namun Jovian masih tak beranjak dari tempatnya. Jangankan beranjak. Lelaki itu bahkan masih setia menatap gadis itu. Apa yang dia pikirkan sampai menatapnya seperti itu?




"Kenapa?" tanyanya.



Tapi Jovian tak menjawabnya dan masih terdiam menatap Sung Ha. Sung Ha mulai tak nyaman dengan tatapan yang diberikan Jovian padanya dan melempar bantal yang ada di sofa yang ia duduki.



"Ya! Kenapa kau melihatku seperti itu!" bantal itu tepat mengenai wajah Jovian.



Jovian mengambil bantal yang baru saja mengenainya itu dan melemparnya ke arah Sung Ha.



"Kenapa kau melemparku?! Hah?!"



"Kenapa kau melihatiku seperti itu?"



"Siapa yang melihatimu?!" Jovian berdiri dan menaruh tangannya di kedua pinggangnya.



"Jika kau hanya ingin tidur di sini, pergilah." lelaki itu mengacak rambutnya dan pergi.



"Kenapa dia?" ucap Sung Ha bingung.



Gadis itu melihat cincin yang melekat manis dijarinya. Setelah membaca buku itu dan menyadari tak ada cincin. Ia segera kembali ke kantar polisi tetapi mereka bilang hanya menemukan sebuah buku. Yakin jika cincin itu masih berada di kamar rumah sakit Sung Ha segera menuju ke sana dan benar saja. Ia menemukan cincin itu tergeletak begitu saja di lantai. Kenapa polisi tidak menemukannya? Jelas-jelas cincin ini sangat terlihat.

__ADS_1



Jika Sung Ha menyimpulkan dari pesan yang dituliskan di buku itu cincin ini adalah cincin pemberian orang tua kandungnya. Dan ia pasti akan menjaganya dengan sebaik mungkin.



Jovian kembali dan menghampiri Sung Ha.



"Kenapa kau kemari?" tanyanya. Sung Ha mendongakkan kepalanya menatap Jovian.



"Kenapa? Bukankah kau memperbolehkanku ke sini?"



Jovian berfikir sebentar, ia memang mengingat jika dirinya memberi kunci pada Sung Ha dan memperbolehkan gadis itu masuk jika dalam bahaya.



"Kau dikejar iblis?" tanyanya. Sung Ha menggeleng.



"Ohh.."



Jovian melihat sesuatu bersinar di salah satu jari Sung Ha. Mata Jovian melebar mendapati sebuah cincin yang membalut jari itu.



"Sejak kapan kau memaki cincin itu?" tanyanya dengan wajah yang terkesan serius.



"Ini?" Sung Ha merebahkan jari jemarinya dan melihat cincin yang ia kenakan.



"Ini adalah peninggalan orang tua kandungku. Kenapa? Tidak cocok ya?"



"Bisa aku melihatnya?"



"Tentu."



Sung Ha melepaskan cincin itu dan memberikannya kepada Jovian. Lelaki itu memutar-mutar cincin yang ada di tangannya dan meneliti setiap detailnya.



"Ada apa?" tanya Sung Ha bingung.



"Tidak."



Jovian mengembalikan cincin itu dan diterima langsung oleh Sung Ha. Jovian sangat yakin pernah membaca buku tentang cincin milik Sung Ha, sewaktu ia masih kecil. Motif yang terukir di cincin itu tak akan bisa dibuat oleh manusia.



"Sung Ha. Bisakah kau menyimpan cincin itu. Dan untuk sekarang lebih baik kau tidak memakainya."



Jovian tak bisa menerangkan apa yang sedang ia pikirkan dan ingatannya sedikit kabur karena sudah sangat lama ia membaca buku itu. Ia ingin memastikan suatu hal terlebih dahulu, sebelum menyimpulkannya.



"Kenapa?"



"Turuti saja perintahku."

__ADS_1



__ADS_2