Devil Child

Devil Child
Chapter 19


__ADS_3

Sean masuk dengan seenaknya ke dalam ruangan ayahnya. Ia tak memedulikan para pengawal yang terus saja menahannya.



"Ayah! Sudah aku bilang hentikan rencana itu! Kau ingin semua dunia hancur?!"



Ayah Sean yang tak lain adalah raja iblis menatap anaknya tajam. Ia tak mengerti kenapa semua anaknya tak ada yang sepikiran dengannya.



"Sean. Kau tak punya hak untuk mencampuri rencana itu. Dan rencana itu akan tetap aku lakukan."



"Tapi ayah! Jika kau menghancurkan dunia malaikat makan seluruh dunia tidak akan seimbang!"



"Tau apa kau tentang keseimbangan dunia?! Hah?! Malaikat adalah musuh kita! Kau jangan lupa itu!"



"Tch!" dengus Sean tak suka akan perkataan ayahnya itu.



Ia merindukan saudaranya yang selalu bermain dengannya saat kecil. Walaupun mereka berbeda ibu, jarak umur mereka tak terlalu jauh hanya berjarak beberapa bulan lebih tua. Ky sebagai kakak dan Sean sebagai sang adik. Walaupun begitu mereka mengangap diri mereka sama. Sean suka cara berpikir Ky yang sependapat dengannya. Tapi semenjak ia pergi dari dunia iblis, Sean tak pernah lagi membuat kontak langsung dengan saudaranya itu.



"Jika ayah tetap melakukannya. Aku akan pergi dari dunia iblis!"



"KAU..!!"



Tatapan amarah diterima Sean saat itu juga.



"APAKAH KAU AKAN MENGIKUTI ANAK TAK TAU DIRI ITU?!!"



Nada bicara raja itu sudah mulai meninggi. Api di sekelilingnya pun juga mulai membara menyelimuti tubuh sang raja.



"Aku tidak akan mengikuti 'anak tak tau diri' tapi aku akan mengikuti saudara laki-lakiku." ucapnya santai dan pergi.



Api biru keunguan melingkar membuat lingkaran cincin di sekeliling Sean.



"BERHENTI DI SITU!!"



Api itu mau tak mau memaksa Sean untuk menghentikan langkahnya. Lelaki itu memijat keningnya tak suka. Ia tau apa maksud dari lingkaran api ini. Lelaki itu berbalik dan menatap ayahnya tak suka.



"Ayah.." ucap Sean dengan nada memohon.



"Ayolah. Ayah bahkan pernah melawan anak umur tujuh tahun dan ayah tau kan bagaimana keadaan dunia iblis saat itu? Ayah ingin itu terulang?"



Sean tak ingin bertarung dengan ayahnya itu. Ia tau jika ia ceroboh ia bisa hangus terbakar oleh api ayahnya sendiri.



"Jika kau tak mau. Duduklah manis di kamarmu dan dengarkan semua perintahku!"



"Tch! Baiklah!"



Sean berbalik dan saat itu juga api yang melingkarinya menghilang. Dengan wajah tak suka lelaki itu meninggalkan ruangan ayahnya dan menutup pintu itu dengan kasar, menimbulkan suara yang cukup keras. Ia harus memikirkan bagaimana cara ia bisa keluar tanpa harus melawan ayahnya.





***





Sejak pagi hingga sore suhu badan Sung Ha masih tak turun. Ia pun hanya tidur tanpa mau memakan makanan yang telah dibawakan Jovian. Beberapa kali ia kembali memanggil nama 'Savaredia..' dan 'Armour..' Jovian tau Savaredia. Tapi ia tak tau apa itu Armour, apakah itu juga sebuah nama?



Jovian mengganti kompres Sung Ha setiap kali ia merasa kompres itu mulai kering. Ia menggenggam erat tangan Sung Ha. Entah kenapa ia merasa sedih dan hatinya terasa ngilu melihat keadaan Sung Ha yang belum membaik. Jovian menempelkan tangan Sung Ha di pipinya dan menatap wajah gadis itu lekat, berharap ia cepat sembuh. Jovian menutup matanya merasakan suhu tubuh Sung Ha yang menyalur dari tangannya.



Jovian membuka matanya saat ia merasakan salah satu jari Sung Ha bergerak pelan di pipinya. Saat ia melihat ke arah Sung Ha, gadis itu masih saja menutup matanya dan nafasnya pun masih sama seperti tadi pagi.





***



__ADS_1



Senyum lebar terlukis di wajah Jun Ki saat melihat seorang gadis tengah duduk bersandar di sandaran ranjang rumah sakit. Dengan cepat ia memeluk gadis itu.



"Min So."



Air mata Jun Ki menetes karena terharu. Ia melepas pelukannya itu, dan menatapnya dengan penuh kebahagiaan.



"Kau benar Min So kan?"



Gadis itu menatap Jun Ki bingung.



"Kau pikir aku siapa? Gadis lain?" ucapnya dan tersenyum. Min So melihat air mata Jun Ki yang menetes.



"Ya! Kau menangis?"



Lelaki itu dengan cepat mengusap air matanya. Ia tak ingin pacarnya itu melihat jika ia sedang menangis, walaupun sebenarnya ia memang sedang menangis.



"Tidak. Aku membawakanmu makanan. Sudah sebulan kau tidak makan. Kau pasti laparkan?" Jun Ki menaruh makanan yang ia bawa tadi ke atas meja.



"Apakah aku koma selama itu?"



"Ya." jawabnya sembari membuka makanan yang ia bawa.



Kali ini Jun Ki membawakan sushi untuk Min So. Ia mengambil salah satu sushi itu dan menyuapkannya ke mulut Min So.



"Aaaa.."



Jun Ki ikut membuka mulutnya saat sushi yang ia ambil tepat berada di depan mulut Min So. Dan dengan malu-malu Min So memakan sushi itu.



Setelah beberapa suapan Jun Ki tersadar jika ia belum membawa minum dan meminta izin ke Min So untuk pergi membeli minum. Dari kejauhan ia bisa melihat Taeyun yang tengah duduk santai sembari meminum minumannya. Karena lelaki itu duduk bersebelahan dengan mesin minuman yang akan Jun Ki datangi, ia segera menghampirinya untuk mengucapkan terima kasih dan membeli beberapa minuman untuk Min So.



Sesampainya di hadapan Taeyun, Jun Ki membungkuk sembilan puluh derajat.




Pada awalnya Taeyun melihat Jun Ki bingung karena tiba-tiba ia datang dan mengucapkan terima kasih.



Lelaki itu menyuruh Jun Ki untuk menegakkan tubuhnya.



"Kau jangan berterima kasih kepadaku. Aku tak pantas untuk menerima ucapan terima kasih."



Taeyun membuang botol minumannya yang telah kosong ke tempat sampah disampingnya. Lelaki itu berdiri dan menepuk pundak Jun Ki.



"Jaga dia baik-baik. Kau juga harus menjaga dirimu karena aku masih membutuhkanmu." Taeyun mulai melangkahkan kakinya pergi.



"Aku mau jalan-jalan." ucapnya.



Walaupun Jun Ki tau sifat Taeyun yang cukup angkuh tapi ia tetap berterima kasih padanya. Karena jika bukan karena Taeyun mungkin ia sudah tak bisa melihat senyum Min So lagi, untuk selamanya.





***





Taeyun berjalan entah ke mana. Ia sedang bosan karena tak ada hal menarik yang bisa merebut perhatiannya. Ditambah Jovian maupun Sung Ha yang tidak masuk sekolah hari ini, ia kehilangan penghilang kebosanannya.



"Membosankan.." Taeyun menendang sebuah kaleng minuman kosong di depannya.



Buukk



Seorang gadis kecil menangis karena terkena kaleng minuman yang Taeyun tendang. Dengan muka datarnya Taeyun menghampiri gadis kecil itu.



"Maaf. " ucapnya datar.

__ADS_1



Bukannya berhenti menangis, anak itu malah semakin menggeraskan suara tangisannya. Dan itu mengundang beberapa pasang mata menatap ke arah Taeyun.



Kenapa? Taeyun melihat ke sekelilingnya bingung. Apakah karena anak ini?



"Ya! Berhentilah menangis!"



Anak kecil itu semakin menggeraskan suara tangisannya dan membuat Taeyun panik. Ini pertamakali Taeyun melihat anak gadis menangis tepat di hadapannya.



"Ya!" lelaki itu mendekap mulut anak itu dengan tangannya.



"Jika kau tetap menangis aku akan membunuhmu."



Taeyun membuat anak itu semakin takut. Di dalam dekapan tangan Taeyun, anak itu masih tetap menangis. Semakin banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka berdua. Taeyun melepas dekapannya dan menggantinya dengan jari telunjuknya. Ia menempelkan jarinya itu di bibir anak itu.



"Diamlah." ucapnya sedikit lembut dari biasanya.



Anak itu berhenti menangis, namun isakan-isakan kecil masih terdengar.



"Sudah jangan menangis."



Taeyun mengusap air mata anak itu dengan kedua ibu jarinya. Entah kenapa ia tersenyum saat mengusap air mata itu.



"Ibu.." ucapnya disela isakan itu.



"Ibu?" Taeyun mengedarkan pandangannya mencari sosok yang anak itu sebut Ibu.



"Kau mencari ibumu?" anak itu mengangguk pelan.



"Kalau begitu ayo cari ibumu." anak itu kembali mengangguk pelan.



Taeyun menggandeng anak itu berjalan menyusuri keramaian. "Ibumu seperti apa?" tanya Taeyun.



"Ibu itu baik dan cantik, rambutnya panjang dan pintar memasak."



"Cantik? Lebih cantik mana ibumu dengan Sung Ha?"



"Sung Ha? Siapa?"



"Sung Ha adalah malaikat."



"Ibu juga malaikat. Dia baik, cantik seperti malaikat. Masakan Ibu juga enak."



"Sung Ha dan Ibumu berbeda. Sung Ha itu kuat dan dia setengah iblis."



"Ibu juga kuat. Tapi Ibu bukan iblis, Ibu itu malaikat."



"Sora!"



Taeyun dan anak itu menoleh bersamaan saat seorang gadis berlari ke arahnya. Anak itu melepaskan gengaman tangan Taeyun dan berlari menghampiri gadis tadi.



"Ibu.."



Mengerti jika itu adalah Ibunya, Taeyun memilih untuk pergi, namun langkahnya tertahan karena anak bernama Sora itu memanggilnya.



"Kakak!" lelaki itu menoleh kebelakang.



"Terima kasih.. " ucapnya dan tersenyum.



Taeyun membalas senyum itu dengan senyuman singkatnya dan pergi begitu saja.



"Dasar manusia.."


__ADS_1



__ADS_2