
Setelah berkeliling melihat bagaimana dunia yang menjadi tempat tinggal saudaranya itu Sean memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Jovian.
Pertamakali melihatnya, lelaki itu terdiam. Rumah Jovian tak seperti yang Sean bayangkan, bahkan ini sangat jauh berbeda dengan di dunia iblis.
Sean mengelilingi rumah itu, ia membuka satu persatu ruangan yang ada di sana. Dari mulai dapur, kamar mandi, kamar Jovian dan kamar Sung Ha. Lelaki itu melihat setiap benda yang ada di sana, tak terkecuali buku merah yang tertata rapi di meja Sung Ha.
Dibukanya halaman pertama yang tertulis nama 'Rim Sung Ha'. Lelaki itu kembali membuka lembar demi lembar hingga tangannya berhenti membuka pada sebuah halaman yang tertempel foto lelaki yang ia kenal. Namun Sean lebih tertarik dengan seorang gadis yang ada di sebelah Jovian.
"Apakah dia gadis yang dibawa Taeyun ke dunia iblis?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Sean membaca sebuah tulisan yang ada di bawah foto itu.
'Walaupun kita berbeda, tapi aku ingin tetap bersamanya, selamanya. Karena aku mencintainya.'
Sean membuka halaman yang berada di depan halaman tadi. Di halaman itu terdapat foto Sung Ha yang lebih terlihat jelas. Lelaki itu menutup buku berwarna merah itu dan mengembalikannya. Ia kembali mengelilingi kamar Sung Ha.
"Apakah Ky benar-benar membawa gadis itu tinggal di rumahnya? Sebegitu percayakah dia dengan gadis itu?" ucap Sean setelah melihat lembari berisi pakaian.
***
Jauh di tempat yang sangat telihat bersih dan tenang Min Jin dan Min Ri memasuki istana yang sangat terlihat megah. Kedua malaikat itu masuk ke ruangan ratu yang bernama Savaredia.
"Kalian telah kembali?" tanya sesosok gadis yang tengah duduk di kursi yang telihat sangat mewah.
Min Jin dan Min Ri membungkuk bersamaan, memberi hormat kepada sang Ratu.
"Ratu, maafkan kami karena telah lancang bertanya seperti ini. Tapi kenapa anda ingin memusnahkan anak anda sendiri?" tanya Min Jin yang menatap Ratunya.
Savaredia hanya terdiam. Ia ingin menjawab tapi di sisi lain ia tak ingin membocorkan rahasianya sendiri.
"Apakah kau mengetahuinya?"
Min Jin mengangguk, ia tau maksud pertanyaan itu.
"Maafkan kami, kami tak sengaja melihat aura milik Sung Ha."
Savaredia menghela nafasnya. Sepertinya sudah saatnya ia membagikan cerita itu.
"Ya, Sung Ha adalah anakku dengan pangeran Armour. Awalnya memang berat untuk mengutus malaikat untuk membunuhnya. Dia sudah tumbuh dewasa."
Gadis itu mengingat-ingat bagaimana wajah Sung Ha dulu setelah lahir, wajah polos itu sangat menggemaskan.
"Dan jiwa iblis yang ada di tubuhnya mulai bangkit. Kalian tau? Iblis yang ada di dalam tubuh anak itu sangat mengerikan. Dia bahkan bisa menghancurkan apapun tanpa ia menyadarinya." lanjutnya.
"Maksud anda, saat menjadi iblis ia tak bisa mengontrol kekuatannya?"
"Ya, aku mulai menyesali keputusan Armour menyegel kekuatan yang ia miliki pada tubuh Sung Ha. Walaupun aku tak ingin melakukannya, tapi ini demi seluruh bangsa, malaikat maupun iblis."
"Saat kami bertemu dengannya, kami juga melihat pangeran iblis bersamanya."
Savaredia tampak terkejut dengan apa yang barusaja Min Jin katakan.
"Pangeran iblis?" ulangnya, meminta penjelasan lebih.
"Ya. Dia terlihat sangat akrab dengan Sung Ha. Namanya adalah Jovian. Bahkan ketika Jovian sekarat Sung Ha tampak begitu khawatir."
Tidak mungkin itu Armour, Armour telah mati di tangan Raja iblis. Batin Savaredia. Sung Ha tak boleh berhubungan dengan iblis manapun.
Hingga saat ini Savaredia masih tak tau penyebab bangkitnya kekuatan malaikat dan iblis Sung Ha. Dan itulah yang membuat Savaredia mengambil keputusan untuk melenyapkan anaknya sendiri, walaupun itu sangat berat. Karena jika dibiarkan terlalu lama tubuhnya tak akan bisa menahan kekuatan dari cahaya malaikat dan api biru yang ia miliki. Itu artinya jika kekuatan itu semakin sering berbenturan makan Sung Ha akan lenyap.
Satu-satunya jalan Sung Ha adalah memilih hidup menjadi malaikat atau iblis, jika ia memilih malaikat maka ia akan bisa berpikir normal seperti biasa. Namun jika ia memilih iblis makan ia akan hidup dengan pikiran barunya.
Kenapa kekuatan itu bisa bangkit dalam waktu yang hampir bersamaan? Savaredia memejamkan matanya berpikir tentang apa yang akan ia lakukan sekarang.
"Sekarang aku merubah misi kalian. Lindungi dia dan jangan biarkan kekuatan iblisnya muncul. Bawa dia kemari setelah berusia 18 tahun. Aku akan membuatnya menjadi malaikat."
"Apa?" ucap Min Jin dan Min Ri bersama. Mereka saling bertukar pandangan satu sama lain.
"Sekarang pergi-lah."
__ADS_1
"Baik."
Min Jin dan Min Ri membungkuk sebelum pergi meninggalkan Savaredia di ruangannya.
Savaredia menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. Pada akhirnya ia harus melakukannya. Ritual yang hanya bisa dilakukan Sung Ha setelah berusia 18 tahun, pengubahan jiwa yang bisa membahayakan Savaredia sendiri.
***
Jovian dan Sung Ha masuk ke dalam rumah. Jovian mengedarkan pandangannya mencari sesosok lelaki yang ia temui pagi tadi. Tak ada siapapun di sana, hanya Jovian dan Sung Ha.
"Aaaaaaa!!"
Jovian segera masuk ke kamar Sung Ha sesaat setelah mendengar jeritan.
"Ada apa?" tanya Jovian yang khawatir karena Sung Ha tiba-tiba berteriak.
Sung Ha berlari mendekati Jovian yang masih berdiri di ambang pintu.
"Itu.." Sung Ha menunjuk ranjangnya yang terdapat seorang lelaki yang sedang terlelap.
Jovian mendekati lelaki itu, dan membangunkannya.
Sean mengerjapkan matanya saat ada seseorang yang membangunkannya. Ia bangkit dan mendudukkan dirinya.
"Kenapa kau tidur di sini?" tanya Jovian pada Sean.
Sean menoleh ke arah Jovian. Tapi sedetik kemudian sorot mata Sean beralih ke sosok gadis yang ada di belakang Jovian.
Aura ini.. Sangat berbeda, begitu kuat.. Pikir Sean.
Mengerti arah pandang Sean, Jovian akhirnya ikut menoleh ke arah Sung Ha yang ternyata juga sedang memandang Sean.
"Dia adalah pemilik kamar ini. Jadi pergilah." ucap Jovian membuyarkan pikiran Sean.
"Siapa dia?" tanya Sean sembari bangkit dari ranjang.
"Nama saya Rim Sung Ha. Anda bisa memanggil saya dengan Sung Ha." Sung Ha membungkuk memberi hormat, ia ingat betul siapa lelaki di hadapannya, Raja iblis.
"Sung Ha, kau tak perlu seformal itu."
Jovian menarik baju Sung Ha supaya tidak membungkuk kepada Sean. Walaupun sekarang Sean adalah raja iblis tapi tetap saja Jovian tak akan memperlakukannya seperti raja, melainkan seperti saudara biasa.
Sean tertawa melihat tingkah Sung Ha.
"Kau tak usah seperti itu. Bersikap biasalah kepadaku."
Obrolan itu berlanjut di ruang tamu. Sung Ha membawakan tiga soda kaleng. Pada awalnya Sung Ha ingin memberikan yang lain tapi hanya ada lima kaleng soda di kulkas.
Sung Ha menaruh kaleng pertama di meja depan Sean, kaleng ke dua di depan Jovian dan kaleng ke tiga di dekat kaleng soda milik Jovian.
Sung Ha duduk di samping Jovian ia tampak sedikit banyak mengerti tentang pembicaraan ini.
"Jadi apa yang membawamu kemari?" tanya Jovian.
"Bukankah aku sudah bilang ingin berjalan-jalan? Aku hanya penasaran kenapa kau betah hidup di dunia ini."
"Kapan kau kembali ke dunia iblis?"
"Memang kenapa? Kau mengusirku?"
"Bukankah kau harus mengurusi kerajaan?"
"Aku sudah membereskannya, kau tenang saja."
"Sean, apakah tinggal di dunia iblis menyenangkan?" tanya Sung Ha yang sukses membuat Jovian melirik ke arahnya.
"Emm, di sanalah aku lahir dan di sanalah aku tumbuh. Jadi menurutku di sana adalah dunia yang menyenangkan."
Sean mengambil soda kaleng yang ada di depannya dan meminumnya.
__ADS_1
"Ah, sedari tadi aku penasaran kenapa kau bisa dekat dengan Ky. Kau tau dia itu iblis yang menyeramkan."
Sung Ha tertawa mendengar candaan itu.
"Kau benar. Dia memang sangat menyeramkan."
"Tapi Ky, kenapa kau membiarkan manusia tinggal bersamamu?"
"Aku bu-" ucapan Sung Ha terpotong saat Jovian ikut menjawab pertanyaan dari Sean.
"Memang kenapa? Apakah kau kesepian tak ada gadis yang tinggal bersamamu?"
"Aishh kau ini."
Sean kembali neguk soda itu. Ia tau ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Dan sepertinya ini semakin menyenangkan.
"Apakah kau masih mengingat Taeyun?" tanya Jovian tiba-tiba.
Sung Ha menundukkan kepalanya menatap soda kaleng yang belum ia minum. Mendengar namanya saja mengingatkannya pada kejadian yang dulu pernah menimpanya.
"Iblis api hijau itu?"
"Ya. Kemarin aku bertemu dengannya."
"Kemarin?" tanya Sean, jika di ingat sepertinya ia telah membunuh Taeyun, apakah dia masih hidup?
"Aku telah melenyapkannya."
Dengan cepat Sung Ha menoleh ke arah Jovian. "Kau melenyapkannya?" tanya Sung Ha. Gadis itu cukup terkejut terkejut mendengarnya. Apakah benar Jovian melenyapkan Taeyun?
"Aku melakukannya karena dia telah bersikap keterlaluan padamu. Dan aku tak ingin dia muncul dan mengganggumu lagi."
Sean tersenyum tipis, ia tak menyangka saudaranya-lah yang membunuh Taeyun. Dulu saudaranya itu bahkan tak memiliki niat untuk melawan siapapun, kecuali ayahnya pastinya.
"Memang apa yang telah Taeyun perbuat pada Sung Ha?"
"Dia telah membunuh orang tuaku." jawab Sung Ha.
"Apa?" Sean mengerutkan keningnya. "Kenapa dia melakukannya?"
"Yang aku tau karena dia begitu menginginkanku. Tapi setidaknya aku lebih merasa tenang karena dia sudah tiada."
Sean bisa menebak kenapa Taeyun menginginkan Sung Ha. Dan kenapa lelaki itu selama ini tak pernah mau membawa Sung Ha kehadapannya. Itu semua karena Sung Ha memiliki aura yang tak dimiliki makhluk lain. Aura yang sangat Sean sukai. Dan Sean menginginkan itu.
***
Ketika istirahat tiba Min Ri duduk di bangku yang berada di depan bangku milik Sung Ha. Ia menghadap ke Sung Ha, ingin membicarakan sesuatu dengan gadis itu.
"Sung Ha, apakah kau pulang sekolah ada acara?" tanyanya.
"Tidak. Ada apa?"
"Maukah kau datang ke rumahku? Ada yang harus aku bicarakan denganmu."
"Kenapa kau tidak bicara di sini saja?"
"Aku tak bisa bicara di sini. Pulang sekolah aku akan menunggumu, oke?"
"Pulang sekolah dia tak akan ke mana-mana." suara berat Jovian membuat Min Ri dan Sung Ha menoleh ke arahnya. "Aku tak akan membiarkannya pergi bersamamu. Apakah kau dan kembaranmu itu masih mau membunuh Sung Ha?" sorot mata Jovian tertuju ke arah Min Ri. Dan sejak bertemu Jovian, Min Ri selalu tak suka dengan tatapan itu.
"Aku tak akan melakukannya. Ada hal yang lebih penting daripada itu."
Min Ri bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah Sung Ha dan membisikkan sesuatu agar Sung Ha mau ikut bersamamu. "Ini berkatian dengan ibumu." bisiknya dengan suara sepelan mungkin agar tak ada yang mendengarnya.
Mata Sung Ha melebar, dengan cepat ia menoleh ke arah Min Ri yang berdiri di sampingnya. "Apakah kau mengetahuinya?"
Dengan yakin Min Ri mengangguk mengiyakan pertanyaan itu.
Jovian menolehkan pandangannya ke arah jendela di sampingnya. Ia bisa mendengar apa yang dibisikkan Min Ri pada Sung Ha. Apakah Min Ri akan membawa Sung Ha pada ibunya? Pikir Jovian. Lelaki itu hanya memandang datar orang-orang yang ada di luar sana. Di dalam hati ia tak ingin jika Sung Ha harus pergi ke dunia malaikat bahkan jika gadis itu sampai menetap di sana.
__ADS_1