Devil Child

Devil Child
Chapter 18


__ADS_3

Seperti biasa Jun Ki mengerjakan tugasnya di waktu sebelum makan malam. Lelaki itu berhenti sejenak dan melihat sebuah bingkai foto yang terletak di meja belajarnya. Seorang lelaki dan gadis tampak sangat serasi dan sangat berbahagia di foto itu. Senyum terpancar di wajah mereka berdua.



"Kau pasti selamat.. Bertahanlah.." ucapnya dan tersenyum.



"Kau masih mengerjakan tugas?" tanya Taeyun dengan posisi tiduran dan sebuah komik di tangannya.



"Ya begitulah."



Taeyun melirik Jun Ki dan mendapati lelaki itu tengah tersenyum melihat foto dirinya dan pacarnya. Taeyun menarik sebelah sudut bibirnya membuat sebuah simpul senyuman, yang entah apa maksud dari senyumannya itu.



"Besok datanglah ke rumah sakit. Dia pasti sudah sadar." ucapnya dan kembali terfokus pada komik yang dipegangnya. Jun Ki menatap Taeyun penuh harapan.



"Benarkah?"



"Hmm. Bukankah aku sudah berjanji padamu.." jawabnya masih fokus pada komiknya.



"Tapi untuk apa kau meminjam tubuhku? Bukankah kau sendiri sudah berwujud manusia?"



Taeyun membuka lembar komik selanjutnya.



"Sejak kapan kau mulai banyak bertanya?"



"Jika kau tak mau menjawabnya tak apa."



Lelaki itu kembali mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda karena percakapan itu.





-Kebangkitan-





Jovian membaca buku tua di hadapannya itu dengan serius. Ia mendapatkan buku itu karena memaksa iblis api merah yang kebetulan lewat di depannya untuk meminjamnya di perpustakaan di dunia iblis. Buku yang Jovian baca memang tak ada di dunia manusia dan hanya ada di perpustakaan dunia iblis.



Cincin ini hanya bisa dibuat oleh sang raja iblis yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Jika seorang iblis memakainya maka kekuatan yang ia punya akan tertidur sementara. Walaupun begitu cincin ini memancarkan sinar yang berwarna indah jika sang iblis memakainya.



Tapi sejak jaman dahulu raja iblis telah menghentikan dan melarang cincin ini beredar karena ia merasa cincin ini tak ada gunanya bagi bangsa iblis.



"Kenapa orang tua Sung Ha bisa mendapatkannya?" ucapnya bingung. "Siapa kau sebenarnya?"


__ADS_1


Jovian menutup buku itu dengan kasar dan keluar dari kamarnya. Ia mendapati Sung Ha yang sedang tertawa-tawa sendiri menyaksikan acara televisi. Jovian menghampirinya dan duduk di sampingnya.



"Kau tidak pulang?" tanyanya.



Sung Ha tak memedulikan kehadiran Jovian dan masih tertawa melihat acara itu. Merasa tidak dianggap Jovian mengambil remot dan mematikannya.



"Dengarkan jika ada orang bicara!"



"Ya! Kenapa kau mematikannya!"



Sung Ha merebut remot itu dan terjadi saling rebut remot hingga Jovian membuang remot itu ke sofa lain.



"Ya!" protes Sung Ha.



"Pulanglah."



"Aku tak mau pulang." Sung Ha melipat tangannya di bawah dada dan menggembungkan pipinya tak suka dengan sikap Jovian yang telah mengganggu acara nonton tv nya.



"Kau boleh tidak pulang jika kau melihatkan sayap iblismu padaku." Jovian ingin memastika sesuatu. Ia pernah melihat sayap itu tapi hanya saat gadis itu pingsan. Dan sayap itu hanya berwarna hitam tanpa ada api sedikit pun.



"Kenapa? Bukankah kau tau jika aku belum bisa mengendalikan sayapku? Apalagi sayap iblisku, kau bercanda?!"




Jovian melakukan gerakan memotong lehernya dengan tangan. Sung Ha menelan salivanya takut jika Jovian benar-benar melakukannya pada dirinya. Lelaki itu segera masuk kekamarnya dan meninggalkan Sung Ha sendiri.





***





Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam tetapi Sung Ha masih belum bisa melakukannya. Sebanyak apapun ia mencoba hanya sayap putihlah yang bisa ia keluarkan. Sung Ha lelah melakukannya berulang kali dan memutuskan untuk melakukannya lagi keesokan hari.



"Kenapa dia sangat jahat padaku.." keluhnya dan berbaring di sofa.



Mata gadis itu perlahan menutup tapi belum sempat menutup sempurna ia merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik kecil. Gadis itu mendudukkan dirinya.



"Apa tadi?" ia melihat telapak tangannya dengan masih kebingungan.



__ADS_1



***





Jovian bangun dari tempat tidurnya dan segera mandi untuk melanjutkan kegiatan ke sekolahnya. Sekilas ia melihat Sung Ha yang masih tertidur. Tak mau mengganggunya lelaki itu segera melanjutkan kegiatannya. Setelah berpaKyan rapi ia mengambil sebuah roti dan melapisi permukaan atas roti itu dengan selai strawberry. Merasa sudah terlalu cukup untuk tidur, Jovian menghampiri Sung Ha masih dengan roti di mulutnya.



"Bagunlah. Kau berangkat sekolah tidak?"



Jovian menghentikan kunyakan roti di mulutnya saat mendapati tubuh gadis yang tertidur di hadapannya itu menggigil. Ia menaruh sisa roti di atas meja dan memegang kening Sung Ha. Panas. Itulah yang ia rasakan.



"Sung Ha? Sung Ha kau dengar aku?! Bukalah matamu."



Entah apa yang terjadi tubuh gadis itu masih bergetar dan matanya masih tertutup rapat. Jovian memegang pipi Sung Ha yang juga terasa panas. Dari wajah Jovian sangat jelas terlihat jika ia merasa panik dan khawatir. Ia memutuskan untuk membopongnya dan membaringkannya di tempat tidur kamarnya.



Jovian membaringkan tubuh Sung Ha di tempat tidur kamarnya. Lelaki itu segera mengambil kompres dan mengkompres Sung Ha. Jovian menggenggam tangan Sung Ha yang juga terasa panas. Nafas gadis itu terengah-engah karena efek suhu tubuhnya yang tak normal.



"Savaredia.."



Jovian menatap wajah pucat Sung Ha saat mendengar gadis itu mengatakan sesuatu.



"Savaredia.. Ar−.." ucap Sung Ha lirih dengan masih menutup matanya rapat.



"Sung Ha? Sung Ha?"



Sung Ha membuka matanya perlahan ia belum bisa membuka matanya itu dengan sempurna namun ia bisa melihat sebuah sosok yang tengah duduk di sampingnya. Sung Ha menutup matanya lagi karena ia merasa tubuhnya sangat sulit digerakkan, walaupun hanya sekedar membuka mata.



Jovian melepaskan genggaman itu dan mengganti kompres Sung Ha yang mulai kering. Savaredia? Jovian merasa tak asing dengan nama itu. Dan nama itu cukup populer di kalangan iblis.



Lelaki itu mengambil buku yang memang ia bawa sejak dulu dari perpustakaan istana. Ia membaca setiap tulisan yang tertulis rapi di buku itu. Mencari nama Savaredia.





Savaredia adalah ratu dari para malaikat. Ia telah lama memimpin kerajaan. Ia memang sangat dipuji dan dibanggakan oleh para malaikat tetapi kita sebagai iblis tak sepatutnya memujinya. Perbuatan kejinya (kebaikan) yang ia lakukan telah terlewat batas. Sejak zaman dahulu bangsa iblis dan malaikat telah saling membenci dan itu tak akan pernah bisa berubah.....





Jovian menutup buku itu perlahan. Ratu malaikat? Kenapa Sung Ha bisa tau nama itu? Bahkan dia tak pernah tau jika dirinya adalah malaikat tapi kenapa ia bisa mengenal nama ratunya?



Sedang tak mau memikirkannya, lelaki itu memilih untuk pergi membeli makanan untuk Sung Ha. Namun sebelum itu ia mengganti baju seragam yang telah rapi ia kenakan dengan baju biasa. Mungkin hari ini Jovian tidak akan masuk sekolah.

__ADS_1



__ADS_2