Devil Child

Devil Child
Chapter 22


__ADS_3

Jovian keluar dari kamar mandi dan segera memakai seragamnya. Setelah itu ia menuju meja makan untuk memakan makanan yang telah dimasak oleh Sung Ha.



Sekilas ia mengedarkan pandangannya mencari sesosok gadis yang telah memasak untuknya. Namun tak ada seorangpun yang nampak. Sorot matanya menangkap secarik surat yang terletak di dekat piringnya. Di dalam surat itu tulis..



Aku berangkat dulu..



Habiskan sarapanmu aku telah membuatnya dengan susah payah..



-Sung Ha-



Jovian tersenyum sekilas membaca surat itu dan segera memakan makanannya. Suasana hati Sung Ha mungkin sedang baik, pikirnya.





***





Sung Ha mengambil buku pelajarannya dan beberapa baju ganti. Setelah itu ia segera menuju sekolah untuk mengikuti pelajaran. Namun belum sempat tiba di sekolah, langkahnya terhenti karena melihat seorang lelaki yang berdiri sekitar empat meter darinya. Mata mereka bertemu beberapa saat hingga lelaki itu tersenyum.



"Sampai jumpa nanti.." ucapnya pelan hingga Sung Ha tak bisa mendengarnya. Lelaki itu menjentikkan jarinya. Menimbuklan sebuah suara.



Dahi Sung Ha berkerut, bingung akan tingkah dan tatapan Taeyun yang aneh. Apa maksudnya dengan jentikan itu?



"Kyaa!"



Namun sedetik kemudian Sung Ha menjerit karena tiba-tiba tubuhnya terperosok ke dalam sebuah lubang yang tepat berada di bawahnya. Taeyun menarik sebelah ujung bibirnya. Rencananya berhasil.



"Sebaiknya kau diam di sana untuk beberapa saat. Aku akan menemuimu nanti.."





***





Gelap.. Aku tak bisa melihat apapun.. Di mana ini?



Perlahan Sung Ha memajukan langkahnya dan meraba-raba benda yang ada di sekitarnya. Tak ada apapun. Setelah beberapa saat, Sung Ha menemukan suatu benda yang dingin dan berjumlah cukup banyak. Apa ini? Ini seperti sebuah besi. Besi? Apakah dia sedang berada di dalam penjara? Sung Ha mengedarkan pandangannya saat mendengar suara pintu terbuka. Tak selang lama sebuah cahaya lilin berjalan mendekatinya.



"Ya! Taeyun! Apa yang kau lakukan!!" teriak Sung Ha pada pemilik cahaya lilin yang semakin mendekat itu.



Ia menaruh lilin yang ia bawa di dekat Sung Ha. Dia bukan Taeyun, Siapa dia?



"Lebih baik kau diam, jika tak ingin mati di sini." ucapnya dingin yang bahkan membuat Sung Ha merinding.



Lelaki itu kembali pergi setelah menaruh benda bercahaya itu.



"Siapa kau? Di mana aku? Kenapa aku bisa berada di sini?! Lepaskan aku!"



Lelaki itu tak menjawab dan keluar dari pintu yang beberapa saat yang lalu baru saja ia masuki.





***





Mendengar bunyi bel tanda jam pelajaran akan dimulai Jovian segera keluar dari kelas dan mencari ke setiap sudut kelas yang ada di sekolah itu. Namun ia masih tetap tak menemukan gadis yang ia cari.



Tadi pagi Sung Ha pamit berangkat lebih awal, tapi kenapa dia tidak ada? Apakah dia membolos dan kabur? Namun apa untungnya dia kabur?



Jovian berlari ke rumah milik Sung Ha. Kosong. Tak ada satupun orang di sana.



"Di mana dia.." gumam Jovian.



Jovian memiliki firasat buruk akan hal ini. Taeyun! Apakah dia melakukan hal yang aneh lagi?



Jovian segera kembali ke sekolah dan masuk ke kelas. Seluruh murid di kelas itu menatap Jovian bingung dan takut tak terkecuali guru yang tengah mengajar. Wajar saja jika semua murid di kelas itu menatapnya, karena ia masuk ke kelas yang berbeda. Itu bukan kelasnya.



Jovian menghampiri seorang lelaki dan menyeretnya keluar. Ia menarik kerah lelaki itu dan membantingnya ke dinding.



"Apakah kau melakukannya?!" tanya Jovian dengan nada yang mulai meninggi.



"Melakukan apa?" Jovian melonggarkan cengkramannya saat mendapati lelaki di hadapannya itu menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan. Ia menghembuskan nafasnya frustasi.



"Di mana Taehyung?" tanya Jovian.



"Taeyun siapa?" Jovian mendesisi tak percaya.



Apakah Taeyun sudah pergi dan menghapus ingatan Jun Ki? Kenapa jadi seperti ini!



Tak mau bertanya lagi. Jovian segera pergi mencari keberadaan Sung Ha. Ia berharap Taeyun tidak mambawa Sung Ha ke dunia iblis.



Jovian meninju sebuah dinding di samping kanannya. Yang menyebabkan sebuah lubang yang sangat nampak di antara tinjuan tangan Jovian. Ia merasa dirinya marah. Tapi kenapa? Kenapa dia marah?





***





Sung Ha duduk memeluk lututnya karena takut. Ia masih hanya ditemani sebuah lilin yang semakin lama semakin meleleh.



"Jovian.." lirihnya.



Sung Ha kembali mendengar suara pintu yang terbuka. Ia pun kembali menoleh ke arah yang sama saat pintu pertama terbuka. Perlahan setiap obor yang menghiasi dinding itu menyala dengan api kehijauannya.



"Bagaimanapun juga jangan beritau ayah jika aku membawanya ke sini. Dan bawakan benda itu." ucap Taeyun pada lelaki di belakangnya.



"Apakah anda yakin akan menggunakannya?" Taeyun hanya menoleh dan menatap lelaki itu tajam



"Dimengerti." lelaki itu membungkuk memberi hormat dan pergi meninggalkan Taeyun di dalam bersama Sung Ha.

__ADS_1



"Hai.." sapa Taeyun dan duduk berjongkok di depan Sung Ha.



Mereka hanya terhalang beberapa buah besi yang terangkai sedemikian rapinya yang menyebabkan Sung Ha tak bisa kabur.



Sung Ha hanya membalas dengan tatapan kebenciannya. Namun tatapan itu membuat Taeyun tertawa puas.



"Benar! Tataplah aku seperti itu!" ia menarik wajah Sung Ha dari sela-sela besi itu untuk mendekat ke wajahnya.



"Aku harap kau mau membantuku. Jika tidak... Kau dan teman-teman mu di dunia manusia akan merasakan penyiksaan yang tak pernah kau bayangkan. Kau mengerti?"



"Ya! Jangan libatkan mereka! Jangan pernah sentuh teman-temanku!"



Taeyun segera berdiri dan keluar dari ruangan itu.



"Taeyun!!" ia tak peduli dengan Sung Ha yang terus saja meneriaki namanya.





***





Taeyun masuk ke dalam ruangan ayahnya.



"Kenapa kau di sini?" tanya sang ayah karena melihat anaknya berada di depannya.



"Aku sudah puas berjalan-jalan.. Sepertinya dunia iblis akan menerima tamu besar.."



"Maksudmu?"



"Dia kembali.." ayah Taeyun menatap anaknya itu dengan ekspresi aneh.



"Maksudmu Ky? Ya! Apakah kau mengundangnya kembali?! Kita belum melakukan penyerangan ke dunia malaikat! Dia bisa merusak rencana kita! Kenapa kau begitu bodoh!!" ayah Taeyun mendengus kesal dan segera keluar untuk menemui sang raja. Ia ingin mengatakan pada raja jika akan ada penyusup yang berhasil masuk ke dunia iblis.



Taeyun mengepalkan tangannya. Dan tertawa geli.



"Seharusnya kau berterima kasih padaku.. Bukan kau yang akan menjadi raja.. Tapi aku.." lelaki itu keluar meninggalkan ruangan ayahnya yang telah kosong.





***





Dengan menggunakan jaket bertudung kepala lelaki itu berjalan melewati beberapa makhluk berwujud seperti manusia. Dengan susah payah dan dengan segala cara ia bisa melewati para iblis penjaga yang berjaga di sekitar pintu perbatasan antara dunia iblis dan dunia manusia.



Lelaki itu bersembunyi di gang kecil saat dua iblis penjaga sedang berpatroli tak jauh dengannya.



"Kenapa sekarang banyak iblis penjaga yang berkeliaran.." gumamnya sembari melihat kondisi sekitar.



Seandainya kekuatan teleportasinya bisa berfungsi di dunia iblis ia pasti akan langsung memakainya dan menyelinap ke dalam istana. Tapi sayangnya kekuatan itu tak bisa ia gunakan sekarang.




Setelah dirasa aman ia kembali melanjutkan jalannya menuju ke istana, dimana ia meyakini ditempat itu terdapat seorang gadis yang tengah ia cari.



Setelah sampai di depan pintu gerbang Jovian kembali bersembunyi karena pintu itu tiba-tiba terbuka dan para iblis penjaga keluar dengan berbondong-bondong keluar dari istana. Jovian hanya melihat dari tempat ia bersembunyi.



"Apa yang terjadi?" ucapnya bingung karena melihat begitu banyak iblis penjaga yang keluar dari istana.



Dengan tak mau membuang waktu terlalu banyak. Jovian menyelinap diantara iblis lain yang sedang menonton disekitar istana.



Dengan sedikit halangan lelaki itu berhasil melewati gerbang dan masuk ke area istana. Ia membuka tudung yang sedari tadi menutupi kepalanya. Lelaki itu lega karena dia berhasil masuk ke istana yang sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu tidak ia kunjungi.



Dengan perlahan dan sembunyi-sembunyi ia menyelusuri setiap sudut istana. Cukup banyak yang berubah dari istana itu. Ia membuka sebuah ruangan yang ia yakini itu adalah kamar milik saudaranya, Sean. Kosong. Tak ada siapapun di sana dan ruangan itu sudah tak tampak seperti sebuah kamar melainkan lebih mirip sebagai ruang kerja.



"Apakah dia sudah pindah kamar?" pikirnya.





***





Raja iblis dan juga ayah Taeyun melihat kesebuah rekaman di hadapan mereka yang menampilkan seorang lelaki yang sedang sibuk mengelilingi istana dan membuka beberapa pintu.



"Kau benar.. Dia berhasil masuk ke istana." ucap sang raja dengan wajah serius.



"Saya akan menyiapkan pasukan untuk menangkapnya."



"Tidak perlu. Biarkan dia mencari apa yang dia inginkan. Aku penasaran kenapa dia kembali.."



"Baik yang mulia.."





***





Jovian kembali menyusuri setiap sudut istana. Ia sangat bingung dengan ruangan-ruangan di istana itu. Hampir semua ruangan telah beralih fungsi.



Lelaki itu membuka sebuah pintu yang cukup besar. Dan dilihatnya seorang lelaki yang tengah terduduk dengan membaca buku di mejanya.



"Ky?!" lelaki yang awalnya terduduk itu menghampiri lelaki bernama Ky.



Ia bertanya-tanya kenapa saudaranya itu bisa di sini. Ia melihat ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada yang melihat mereka. Lalu ia menutup dan mengunci pintu itu.



"Kenapa kau baru kembali, ha?" ucapnya.



Ky membaringkan dirinya di tempat tidur milik Sean



"Maaf." ucapnya singkat.

__ADS_1



"Bagaimana kau bisa masuk tanpa ketahuan?" tanya Sean sembari duduk di samping Ky.



"Aku sudah ketahuan." jawabnya.



Sedari masuk ke istana ia bisa merasakan sesuatu membuntutinya. Walaupun tak melihatnya Ky bisa merasakannya. Dan ia memiliki firasat ayahnyalah yang membuntutinya. Sean tertawa pelan, mendengarkan ocehan singkat dari Ky.



"Itu pasti. Tak mungkin iblis ceroboh sepertimu tidak ketahuan."



"Sean, apakah kau melihat Taeyun membawa gadis ke istana?"



"Gadis?" ulang Sean.



"Aku sudah lama tak melihat Taeyun. Kenapa?" lanjutnya.



"Tidak.."



Sean teringat sesuatu akan hal penting yang sudah lama ingin ia sampaikan pada Ky, hal yang menuntutnya untuk mengirim iblis ke dunia manusia tetapi saudaranya itu tidak meresponnya.



"Ky. Raja membuat keputusan ingin menghancurkan dunia malaikat."



Karena terkejut, seketika Ky langsung mendudukkan dirinya.



"Menghancurkan dunia malaikat?!" ulangnya Ky.



"Apakah dia ingin mengacaukan seluruh dunia?!" lanjutnya.



"Aku sudah menentangnya tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanyalah iblis lemah yang menyandang gelar pangeran. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak sepertimu yang berani melawan Ayah."



"Dimana ruangannya?"



Ky bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.



"Apa yang akan kau lakukan?"



Sean segera mengikuti saudaranya itu yang tetap berjalan meninggalkan kamarnya. Ia tak mau jika Ky berbuat yang tidak-tidak. Ditambah ketidaksukaan Ayahnya terhadap Ky dapat memicu pertumpahan darah.



"Jika kau takut mati. Kau diamlah di situ. Dan.. aku ingin meminta bantuanmu. Carikan aku gadis berambut panjang dan tubuhnya tak terlalu tinggi. Taeyun menyembunyikannya di istana. Jika kau menemukannya jaga dia. Jangan sampai gadis itu mati."



Sean berhenti mengikuti Ky dan menatap punggung lelaki yang semakin lama semakin menjauh itu.



Apakah dia kembali hanya untuk menemukan gadis yang Taeyun bawa? Pikirnya.



Sean berbalik dan melangkah berlawanan arah dengan Ky. Ia menurut dan memilih mencari gadis yang Ky maksud. Walaupun dalam hati Sean tak jelas dengan ciri-ciri yang disebutkan lelaki itu.





-Pertarungan dimulai-





Sang Raja tertawa terbahak-bahak melihat anaknya yang berjalan menuju ruangannya. Banyak lorong dan pintu yang harus Ky tembus untuk menghampiri ayahnya. Namun entah kenapa ia dengan mudanya menentukan jalan dan pintu mana yang akan membawanya pada sosok yang telah mengusirnya itu.



Ky berdiri di hadapan pintu yang cukup besar, ia menatapnya. Perlahan tapi pasti Ky membuka pintu itu dengan kedua tangannya.



Ditatapnya tajam, sosok lelaki yang berada di balik pintu itu. Mata tajam mereka saling bertemu beberapa saat. Hingga gejolak api biru keunguan dengan tak terduga melesat cepat ke arah Ky. Namun dengan sigap lelaki itu berhasil menghindarinya.



Ky mengeringai mendapati serangan yang mendadak itu. Ayahnya masih tak berubah. Ky mengeluarkan sayap yang sudah sepenuhnya terbalut dengan api birunya dan dengan cepat menyerang ayahnya yang tengah duduk dengan santainya. Namun serangan itu tertangkis oleh lelaki yang memiliki api hijau di sekeliling sayapnya.



"Tch!" dengus Ky saat mendapati serangannya dihalau oleh Ayah Taeyun.



"Cukup sampai di sini. Kau bisa menghancurkan dunia iblis." jelasnya singkat.



Ky mengangkat satu ujung bibirnya geli. Menghancurkan dunia iblis?



"Bukankah kalian juga ingin menghancurkannya?" Ky menatap ayahnya tajam.



"Bukankah menghancurkan dunia malaikat juga sama dengan menghancurkan dunia ibils!!"



Nada suara Ky mulai meninggi dan api biru yang menyelimuti sayap lelaki itu mulai membesar.



Raja itu berdiri dan menyuruh Ayah Taeyun untuk mundur dan tak ikut campur dengan urusannya. Ia mendekati Ky yang masih menatapnya dengan kebencian yang sangat jelas terukir di matanya.



"Apakah kau kembali karena ingin membunuhku?"



Ky tak menjawab pertanyaan itu.



"AKU TAK PERNAH MEMERINTAH ATAUPUN MENGIZINKANMU UNTUK KEMBALI!!"



Dinding di sekitar Ky dengan sekejap retak bahkan tiang penopang atap yang awalnya berdiri tegak sekarang telah runtuh. Namun Ky masih tenang pada posisinya.



"Batalkan rencana penghancuran dunia malaikat."



"Selama aku masih hidup, rencana itu tak akan pernah dibatalkan."



Karena melihat perdepatan yang ia rasa akan berujung dengan pertarungan Ayah Taeyun memilih untuk menyingkir dan mengurusi hal yang lebih penting.



"Kalau begitu aku akan membunuhmu." dengan gerkan cepat dan tak terduga Ky menendang perut ayahnya yang membuat ayahnya terlempar dan menembus beberapa dinding hingga berujung sang Ayah terlempar keluar istana dan menyeimbangkan diri di udara. Ia menyeringai mendapati serangan dari anaknya itu.



Dengan santai Ky berjalan melewati dinding yang telah berbentuk lubang yang cukup lebar untuk bisa membawanya ke tempat ayahnya.



"Sudah lama aku tak merasakannya."



Ayah Ky memejamkan matanya dan kembali membukanya. Api biru keunguan menyelimuti sayapnya yang mengembang di udara.



Ky kembali menyerang dengan gerakan cepat namun semua serangannya dapat tertangkis dengan mudah.



"Kau masih kurang cepat." Ayah Ky memukul perut Ky yang membuat lelaki itu terlempar membentur dinding luar istana dan menembus empat dinding sekaligus. Jika Ky tak menahan dengan kekuatannya mungkin ia bisa lebih jauh terlempar.



"Kau pikir kekuatanmu sudah cukup untuk membunuhku?"




__ADS_1


__ADS_2