Devil Child

Devil Child
Chapter 5


__ADS_3

Hana kembali duduk di samping teman-temannya yang masih berada di pinggir lapangan.



"Di mana Sung Ha?" tanya salah seorang teman.



"Ahhh.. Aku tadi melihatnya sedang bersama Jovian.. Menurutmu, mereka sedang apa? Apakah Sung Ha membuat masalah dengan Jovian. Aisshh nyawa Sung Ha dalam bahaya."



Hana sangat khawatir dengan keadaan temannya itu. Apakah dia masih hidup? Tak ada seorang pun yang berani bahkan mendekati Jovian karena mereka semua takut jika Jovian akan melukai mereka jika mereka melakukan kesalahan padanya.



"Sung Ha? Rim Sung Ha? Dia berbicara dengan Jovian?? Benarkah?"



Gadis itu tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sung Ha yang notabennya tidak terlalu banyak bergaul dengan lelaki bisa berbicara dengan Kim Jovian, itu sangat mengejutkan. Hana menganggukan kepalanya.



"Wahh luar biasa! Tapi apa yang mereka bicarakan?" Hana menggeleng, karena memang ia tak mendengar apa yang sedang Sung Ha bicarakan dengan Jovian.



"Aku tidak tau. Semoga saja bukan pembicaraan yang dapat menghilangkan nyawa seseorang." harap Hana.



Sung Ha mengulurkan botol minum kepada Hana yang terduduk.



"Maaf lama." ucapnya dan duduk di samping Hana. Hana menggambil botol minum yang baru saja diulurkan padanya.



"Ya, Sung Ha. Kau tidak terlukakan?" Hana mengecek tubuh Sung Ha, khawatir temannya itu kenapa-kenapa.



"Terluka? Kenapa?" tanya Sung Ha bingung.



"Kau tidak membuat masalah dengan Jovian kan? Kau tau akibatnya jika kau membuat masalah kan?"



"Tidak. Aku tadi hanya berbicara dengannya."



"Apa yang kau bicarakan dengannya?"



"Aku hanya berterima kasih padanya karena dia pernah menyelamatkanku."



"Jovian menyelamatkan orang? Kau tak salah?" Hana menunjukkan wajah tak percayanya pada Sung Ha. Bagaimana bisa orang sebrutal dan sekeji Jovian, menyelamatkan orang?

__ADS_1



"Hilangkanlah penilaian buruk kalian terhadap Jovian. Dia tidak seburuk yang kalian kira." Hana memegang kening Sung Ha, memeriksa apakah temannya itu sakit atau tidak.



"Kau tidak sakitkan?" Sung Ha menyingkirkan tangan Hana dari keningnya.



"Tidak. Mungkin jika kalian bisa terbuka dan tidak membencinya dia akan baik pada kalian." Hana menggelengkan kepalanya cepat. Ia tak ingin mengambil resiko terburuk jika berteman dengan Jovian.



***



Sung Ha berjalan pulang menuju rumahnya. Jarak rumahnya dan sekolah tidak terlalu jauh. Oleh karena itu ia lebih memilih berjalan kaki, dari pada naik kendaraan. Alasan lain juga karena jalan yang ia lalui terkadang tak bisa ditempuh oleh kendaraan semacam mobil atau bus.



Dalam sekejap mata seseorang membungkam mulut Sung Ha dari belakang dan menariknya ke sebuah gang kecil di dekatnya. Sung Ha mencengkram tangan orang yang membungkam mulutnya itu.



"Diamlah. Ini aku." ucap seseorang itu.



Sung Ha mengenal suara itu, suara berat itu. Ia melirik wajah lelaki yang membungkam mulutnya, Jovian. Sung Ha memukul pelan tangan Jovian yang masih membungkam mulutnya, menyuruhnya untuk cepat melepaskannya. Dan tak butuh waktu lama Jovian segera melepaskannya.




Sung Ha tak terima dengan perlakuan Jovian terhadapnya. Tak mau membahasnya di sini lelaki itu menarik tangan Sung Ha, membawanya lebih masuk ke dalam gang. Langkah mereka berhenti di ujung dinding di gang itu. Gang itu memang tak menembus ke jalan manapun atau lebih tepatnya buntu. Walaupun belum malam di dalam gang itu cukup gelap, karena tak ada cahaya yang dapat menembus dua rumah tinggi yang mengapitnya.



"Kau mau membawaku ke mana? Jalan ini buntu." tanya Sung Ha.



Tak memedulikan pertanyaan Sung Ha, Jovian menggambar sesuatu di dinding dengan jari telunjuknya. Mata Sung Ha terbelak saat melihat dinding yang ada di hadapannya tiba-tiba berubah seperti air yang menggenang. Hanya saja dinding itu vertikal. Lelaki itu menarik tangan Sung Ha untuk melewati dinding. Awalnya Sung Ha ragu tapi pada akhirnya ia mengikuti Jovian yang masih menarik tangannya.



Sung Ha tercengang tak percaya saat melihat dirinya dan Jovian telah berada di dalam sebuah rumah. Ia tak ingat sudah memasuki sebuah rumah. Tapi kenapa sekarang dirinya bisa berada di dalam? Jovian melepaskan tangan Sung Ha.



"Ini rumahku." Sung Ha menatap Jovian penasaran sekaligus terpukau. Ia tak menyangka jika Jovian memiliki rumah sebagus ini.



"Setauku aku tidak masuk ke dalam sebuah rumah dan tadi aku hanya berdiri di depan sebuah dinding dan...." Jovian tersenyum, lalu meninggalkan Sung Ha, ia berjalan menuju ke sebuah ruangan.



"Jovian!" Panggil Sung Ha. Lelaki itu berhenti dan menoleh ke belakang, ke arah Sung Ha. "Siapa kau sebenarnya?"



"Aku akan mengganti bajuku. Kau tunggulah di ruang tamu, aku akan menjelaskan padamu nanti."

__ADS_1



Beberapa menit kemudian Jovian keluar dari sebuah ruangan yang bisa dipastikan itu adalah kamarnya. Lelaki itu duduk di sofa yang ada di dekat Sung Ha.



"Aku akan menjawab pertanyaanmu tadi. Kau pasti takut saat pertamakali melihatku. Aku memang tak bisa menutupi sifat asliku yang sebenarnya. Aku terlahir dengan sifat yang sudah menurun dalam diriku." Sung Ha memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Jovian.



"Kau percaya adanya iblis?" tanyanya.



"Aku pasti percaya. Iblis adalah musuh manusia." Jovian mengangkat sebelah sudut bibirnya, membentuk senyuman yang miris.



"Kau memang benar. Iblis adalah musuh manusia. Mereka tak akan pernah bisa berteman dengan manusia. Begitu pula denganku, sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa berteman dengan manusia."



Sung Ha menatap Jovian dengan sedikit bingung. Ia masih mencerna kata-kata yang lelaki itu ucapkan.



"Karena aku berbeda dengan manusia. Aku bukanlah seorang manusia."



"Apa?! Lalu kau apa?"



"Aku adalah seorang iblis." dengan reflek Sung Ha berdiri, ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Jovian. Iblis? Jangan bercanda!



"Itu tidak mungkin. Jika k-kau iblis bagaimana kau bisa terlihat oleh manusia? Bukankah iblis adalah mahluk yang tidak bisa manusia lihat?"



Punggung Jovian kembali mengeluarkan sayap hitam, sama seperti yang Sung Ha lihat sebelumnya.



"Kau bisa melihatnya kan? Setelah melihat ini apakah kau masih tidak percaya jika aku adalah seorang iblis?"



"T-tapi bagaimana mungkin.. Lalu kenapa kau menyamar menjadi manusia?"



"Aku tidak sedang menyamar,"



"Lalu apa yang kau lakukan di dunia manusia? Apakah kau ingin mengganggu manusia?"



"Sedari awal aku tak ingin mengganggu mereka tapi naluriku mengatakan jika aku harus menghajar orang yang menggangguku. Sebenarnya aku telah diusir dari dunia iblis sepuluh tahun yang lalu karena menyelamatkan seorang anak yang hampir tertabrak oleh mobil. Sama sepertimu, anak itu juga bisa melihat sayapku."


__ADS_1


__ADS_2