Devil Child

Devil Child
Chapter 33


__ADS_3

Taeyun menggerang saat kaki kanannya terkena kobaran api.



Sean dan Taeyun mereka telah mengeluarkan sayap hitam mereka masing-masing. Terbang saling menyerang dan diserang di dalam ruangan Raja.



Sean terbang menatap Taeyun yang terbang di bawahnya.



"Kau mau mencoba kekuatan baruku?" tawar Sean dengan smirknya.



"Kau.. Sebenarnya apa tujuanmu?!"



"Tujuan? Kau mau tau tujuanku? Tujuanku adalah menguasai seluruh alam semesta."



"Itu mustahil! Tak ada yang bisa menguasainya. Termasuk kau!"



Wuss



Taeyun menelan salivanya saat api biru melilit tubuhnya, bak ular piton yang melilit mangsanya.



"Seandainya kau bersikap seperti ayahmu, kau tak akan berakhir di tanganku." ucap Sean datar. Sorot matanya menatap Taeyun tajam.



Taeyun menggerang saat api itu semakin melilit tubuhnya.



"Aarrrgghh!" tubuh Taeyun terjatuh membentur lantai.



Sean turun menghampiri Taeyun dan menjambak rambut lelaki itu, memaksanya untuk berdiri.



"Kau pikir kau itu siapa berani berbicara seperti itu padaku?"



"Kau tak akan pernah menguasai alam semesta. Terutama dunia manusia, karena manusia lebih menakutkan daripada kau!"



Brak!



Tubuh Taeyun terhempas membentur dinding. Dengan cepat kilat Sean sudah berada di depan Taeyun dan memukul perut lelaki itu hingga Taeyun semakin membentur dinding.



Darah keluar dari mulut Taeyun. Tangan Sean meraih kepala Taeyun ia mencengkramnya, membuat Taeyun kesakitan.



Api biru muncul dari bawah tubuh Taeyun, membara mengenai kaki lelaki itu yang membuatnya kembali merintih kesakitan.



"Iblis sepertimu tak pantas berada di sini!"



Sean menghempaskan tubuh Taeyun ke kanan. Membuat lelaki itu tersungkur di lantai.



Sean menatap Taeyun tajam. Lelaki itu berbalik keluar dari ruangannya dan seketika ruangan itu di penuhi api biru milik Sean.



Dengan mengerahkan kekuatannya Taeyun menulis sesuatu di lantai menggunakan jarinya. Tubuh lelaki itu tertelan ke dalam lantai dan lantai tempatnya berbaring tadi telah terpenuhi oleh api berwarna biru.





-Sean dan dramanya-





Jovian berjalan menuju ke gang tempat biasa dia masuk ke dalam rumahnya dengan sebuah kantong belanja di tangannya.



"Ky.."



Langkahnya terhenti saat ia mendengar seseorang memanggilnya dengan lirih.



"Ky.." suara itu kembali terdengar.



Lelaki itu membalikkan badannya mendekati sebuah gang yang belum lama ia lewati.



Dilihatnya seorang lelaki duduk bersandar di sudut gang. Lelaki itu tampak begitu mengenaskan dengan luka bakar di mana-mana.



Jovian hanya menatap lelaki itu datar karena ia tau siapa lelaki itu, Taeyun, iblis yang pernah membawa Sung Ha ke dunia iblis. Sampai kapanpun ia tak akan pernah lupa dengan iblis api hijau itu.



"Ky.. Kau harus kembali ke dunia iblis."



Wajah Taeyun jelas terlihat bahwa lelaki itu menahan rasa sakit di sekujut tubuhnya.



"Sean, dia telah menghianatimu." ucapnya pelan.



Jovian tersenyum sinis. Omong kosong macam apa yang di katakan iblis api hijau di depannya ini. Sean menghianatinya? Yang benar saja. Saudaranya yang satu itu tak mungkin menghianatinya. Ia kenal betul seperti apa Sean itu.



"Dia.. Uhuk! Uhuk!"



Taeyun terbatuk dan darah keluar dari mulutnya.



"Dia berusaha menguasai seluruh alam semesta. Dan aku dengar dalam waktu dekat ini, dia akan menyerang dunia malaikat." lanjutya.



"Berhentilah menjelekkan Sean di depanku." ucap Jovian dingin.



"Jika kau tak percaya. Aku baru saja melihat tabung berisi kekuatanmu di ruangannya."



"Apa maksudmu?"


__ADS_1


"Lindungilah Sung Ha darinya. Jangan biarkan dia tau siapa Sung Ha sebenarnya."



"Kau kira aku akan percaya dengan omong kosong seperti itu?"



Jovian mengeluarkan sayapnya.



"Ayahmulah yang telah mengambil kekuatanku. Kau tau betapa sakitnya itu?" sayap Jovian mulai terselimuti api birunya.



"Ky.. Untuk kali ini percayalah padaku."



"Tak ada alasan untuk mempercayaimu."



Taeyun menjerit saat kobaran api biru menyambar tubuhnya.



"K..y.."



Taeyun berusaha meraih Jovian namun semakin ia melakukannya api yang ada di tubuhnya semakin membara lebih besar hingga tubuh itu berubah menjadi abu dan lenyap tertiup angin.



Sayap Jovian menghilang perlahan. Lelaki itu memutuskan untuk menulis namanya di dinting sebelahnya, menggunakan dinding itu sebagai pintu menuju rumahnya.



Jovian menaruh kantong belanjaan itu di atas meja di dekat sofa di mana Sung Ha tertidur. Lelaki itu memandangi wajah Sung Ha yang tertidur tanpa beban.



'Lindungilah Sung Ha. Jangan biarkan Sean tau siapa Sung Ha sebenarnya.'



Kata-kata itu kembali terlintas di pikiran Jovian. Sebenarnya apa yang diinginkan Taeyun hingga lelaki itu membuat kebohongan seperti itu?



Jovian memasukkan tangan kirinya ke punggung Sung Ha dan tangan kanannya ke lutut Sung Ha. Lelaki itu mengendong Sung Ha untuk tidur di kamar. Gadis itu menggeliat pelan saat Jovian menaruh tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya.





***





Setiap hari Jovian dan Sung Ha selalu berangkat sekolah bersama dan setiap hari pula mereka menjadi pusat perhatian. Bagaimanapun juga sifat dingin dan brutal Jovian masih melekat pada dirinya dan itu akan sulit di hilangkan.



Sung Ha duduk di bangku di samping Jovian. Itulah bangku yang sekarang menjadi tempat duduknya.



"Lempar kemari!"



Seorang lelaki sedang asik melempas sebuah bola kertas dari depan kelas ke lelaki di belakang. Di tengah mereka terdapat seorang lelaki yang Sung Ha tau sedang apa tujuannya berdiri di tengah-tengah kedua lelaki tadi. Apa lagi jika bukan mengejar kertas yang terlempar melewatinya?



"Kembalikan!"




Kedua lelaki itu tertawa, Dong Jun, lelaki yang ada di belakang menghentikan aksinya dan membuka bola kertas itu.



"Ya! Shin Guk lihat ini, surat cinta untuk Sung Ha." ucapnya pada lelaki di depan saat membaca kalimat pertama yang tertulis di surat itu.



Mendengar namanya di panggil Sung Ha segera menoleh ke belakang, menatap Dong Jun terkejut.



"Apa maksudmu? Surat cinta apa?" tantanya penasaran.



"Kau mau membacanya?" Dong Jun memberika kertas itu kepada Sung Ha yang membuat lelaki pemilik kertas itu membelakkan matanya.



"Ya! Jangan dibaca!" ucapnya dan berlari mendekati Sung Ha. Dengan cepat ia merebut kertas itu dan meremasnya jadi kecil.



"Ya! Aku mau membacanya!"



"Tidak. Kau tidak boleh membacanya."



Lelaki itu memasukan bola kerta itu ke dalam mulutnya. Tak akan membiarkan Sung Ha membaca apa yang baru saja ia tulis.



Dong Jun dan Shin Guk tertawa bersama melihat Won Sik memasukkan kertas itu ke dalam mulutnya. Dong Jun yang ada di samping Won Sik menepuk punggung lelaki itu cekup keras, membuat kertas yang ada di mulut Won Sik terlempar mengenai Jovian.



"Oh tidak." ucap Dong Jun saat melihat kertas itu mengenai Jovian.



Dong Jun segera memberi isarat pada Shin Guk untuk pergi. Mengerti maksud Dong Jun. Shin Guk pun pergi di ikuti Dong Jun yang berlari keluar kelas.



Sung Ha hanya membulatkan mulutnya melihat kertas yang mengenai Jovian.



"J-Jovian.. M-maafkan aku.."



Won Sik tampak begitu takut karena ia tau perbuatannya telah mengganggu Jovian.



Jovian memejamkan matanya menahan emosi yang mendesak keluar. Ingin rasanya ia memukul lelaki yang melempari kertas menjijikkan itu padanya. Jovian bangkit dan mencengkram kerah lelaki bernama Won Sik, membuat murid di sekitarnya menjauh karena takut.



"Kau mau mati?" ancamnya.



Sung Ha hanya bisa menghela nafas melihat pertengkaran yang ada di belakang bangkunya.



"Jovian, hentikan."



Sung Ha bangkit dan melerai pertengkaran itu. Ia menurunkan lengan Jovian yang mencengkram kerah baju Won Sik. Bagaimanapun juga Jovian tak boleh berkelahi lagi. Ia harus berusaha menahan emosinya.



Kejadian itu tak luput dari setiap mata yang ada di dalam kelas. Apakah mereka tak salah lihat? Bagaimana bisa seorang Jovian dilunakkan oleh seorang Sung Ha? Itu hal yang menarik bagi mereka.

__ADS_1



"Ma-maaf."



Won Sik membungkuk beberapa kali pada Jovian, walaupun ini tak sepenuhnya salahnya tapi ia merasa bersalah pada Jovian.



"Aaiishh!"



Jovian mengacak rambutnya frustasi. Ia menarik bangkunya kasar dan duduk di bangku itu.



"Kau tidak apa-apa kan?"



Sung Ha membantu Won Sik merapikan bajunya yang sedikit berantakan karena ulah Jovian. Sedangkan Won Sik, ia terus menatap wajah Sung Ha, ia tak pernah menatap gadis itu sedekat ini sebelumnya. Dan itu membuatnya senang.



"Aku tidak apa-apa."



Dari belakang Sung Ha, jelas terlihat Jovian yang melirik tajam apa yang baru saja Sung Ha lakukan pada Won Sik. Setelah bajunya dirasa cukup rapi, namja itu pergi, kembali ke bangkunya yang terletak di depan, sedangkan Sung Ha kembali duduk di bangkunya.



"Sudah kubilang jangan lakukan itu lagi." ucap Sung Ha pelan tanpa melihat ke arah Jovian.



Lelaki itu hanya mendengus kesal. Ia kesal bukan hanya karena kertas itu, tapi juga karena isi kertas itu. Surat cinta untuk Sung Ha? Apa dia tak tau Sung Ha adalah milik Jovian sekarang? Bagaimana mereka bisa tau jika Jovian tak pernah membicarakannya pada mereka.



Dengan malas Jovian mengalihkan pandangannya ke arah jendela di samping kirinya. Pandangannya tertuju pada sebuah sosok lelaki yang ada di seberang sekolahnya, tengah berdiri memandangi sekolah.



"Sean?" gumamnya.



Jovian bangkit dari duduknya seketika setelah ia menyadari siapa lelaki itu.



Tanpa basa-basi Jovian berlari meninggalkan kelas. Ia tak peduli berulangkali Sung Ha meneriaki namanya karena sebentar lagi jam pelajaran dimulai.



Sean mengedarkan pandangannya menatap gedung yang manusia menyebutnya dengan sekolah.



"Apa bagusnya tempat seperti ini."



Sean menghentikan langkahnya ketika ia hendak pergi. Ia dapat merasakan sesuatu mendekat, tak salah lagi itu adalah Ky. Lelaki itu kembali menghadapa ke sekolah, menunggu sosok pemilik aura yang ia rasakan.



Tak lama mata Sean disambut oleh kehadiran sosok lelaki di seberang, Ky. Sean tersenyum, jadi seperti ini Ky ketika di dunia manusia. Batin Sean.



Ky menyeberang dan menghampiri Sean.



"Kenapa kau kemari? Bukankah kau tak suka pergi meninggalkan dunia iblis?"



"Aku? Aku hanya jalan-jalan." jawabnya biasa. "Kau punya rencana kembali ke dunia iblis?" tanya Sean yang sukses membuat Jovian terdiam.



"Aku tak pernah memikirkannya."



"Kau tinggal di mana? Apakah kau tinggal di sana?" Sean menunjuk gedung yang belum lama Jovian tinggalkan. Sontak Jovian tertawa karenanya.



"Tidak.. Itu bukan rumah. Ahh kau mau berkunjung?"



Jovian meraih tangan Sean dan menuliskan sesuatu di tangan itu.



"Kau tinggal menuliskan 'Ky' di manapun kau mau."



Sean tertawa tipis.



"Kau tak berubah. Suka tinggal di tempat yang tak di temukan."



"Sepertinya aku harus segera kembali sebelum ada yang mengoceh."



"Aku akan ke rumahmu setelah berjalan-jalan."



Jovian menepuk bahu Sean dan kembali ke dalam sekolah, lelaki itu tampak senang sudaranya mau berkunjung. Tapi bukankah dia sudah menjadi raja, lalu siapa yang menggurus dunia iblis jika dia di sini? Entahlah Jovian tak begitu peduli dengan itu, Sean pasti menyuruh iblis yang ia percayai untuk menggantikannya sementara.



Jovian membuka pintu kelasnya yang membuat seluruh murid termasuk guru Jang menoleh ke arah pintu. Tanpa menghiraukannya ia berjalan, kembali ke bangkunya. Guru Jang pun kembali meneruskan pembahasannya.



Sung Ha melemparkan kertas ke meja Jovian. Gadis itu memberi kode untuk membukanya dan Jovian pun membukanya.



'Kau darimana?'



Jovian meremas kertas itu dan menyingkirkannya dan itu membuat Sung Ha geram, ia kembali menuliskan hal yang sama dengan tambahan kata lain 'Jawab segera!' lalu memberikannya ke meja Jovian.



Dengan malas Jovian membukanya. Ia mengambil bolpoinnya dan membalas pesan itu. Sung Ha melirik Jovian dan saat itu juga lelaki itu melemparkan kertas ke meja Sung Ha. Dengan cepat gadis itu segera mengambilnya dan membukanya.



'Aku menemui Sean.'



Sung Ha mengerutkan keningnya. Sean? Apakah dia dari dunia iblis? Dengan cepat Sung Ha mengambil bolpoinnya. Ia memberikan kertas yang sudah ia balas kepada Jovian.



'Kau ke dunia iblis?!'



Jovian kembali membalasnya.



'Ani. Sudah perhatikan guru.'



Jovian menaruh kertas itu di meja Sung Ha. Gadis itu membacanya dan kembali membalasnya tapi Jovian mengacuhkannya dan tak membalas surat itu lagi. Lelaki itu menyibukkan dirinya dengan memperhatikan guru Jang yang menerangkan di depan dan itu sukses membuat Sung Ha tak suka.



__ADS_1



__ADS_2