Devil Child

Devil Child
Chapter 27


__ADS_3

"Apa?! Dia dibawa iblis keluarga kerajaan?" Min Ri menghela nafasnya tak percaya. "Bagaimana bisa?" tanyanya pada lelaki yang duduk di depannya, Min Jin.


Min Jin menaruh sebuah pistol di atas meja. Pistol berwarna putih yang digunakan khusus untuk membunuh malaikat maupun iblis. Tak sembarangan malaikat memiliki pistol itu, hanya malaikat tertentu yang memang ditugaskan untuk mencari ataupun membunuh makhluk sebangsanya yang bisa memilikinya.


"Sebaiknya kau cepat melenyapkannya sebelum semua menjadi rumit."


Min Ri mengalihkan pandangannya ke pistol yang tergeletak tepat di depannya.


"Apakah ini tidak terburu-buru? Kita masih punya banyak waktu."


"Sebaiknya jangan mengulur waktu dan segera selesaikan misi ini. Di sini mulai tak aman."


"Aku ingin meminta bantuanmu," ucap Min Ri.


"Bantuan?"


"Tolong selidiki lelaki bernama Kim Jovian, sepertinya dia tau bahwa aku adalah malaikat."


"Apa maksudmu?"


"Jika dia benar-benar tau diriku adalah malaikat, pasti dia bukan manusia. Lelaki itu berada di kelas yang sama denganku. Dan setiap pagi lelaki itu lewat depan rumahku. Besok kuberitau yang mana orangnya."


"Apakah kau yakin jika dia mengetahuinya?"


"Aku masih ragu, tapi tak ada salahnya menyelidikinya."


***


Sung Ha masuk ke dalam kamar barunya. Pada awalnya di rumah Jovian memang hanya terdapat satu kamar tetapi entah apa yang dilakukan lelaki itu. Sekarang muncul kamar lain dan beberapa bagian rumah pun juga berubah. Setelah selesai menata barang-barangnya, Sung Ha pergi menuju tempat Jovian berada, sofa tempat mereka biasa bercengkrama.


"Makhluk tadi adalah Teros," ucap Jovian bersamaan dengan duduknya Sung Ha.


"Teros?" ulang Sung Ha.


"Dia tidak bisa ditebas dengan pedang. Satu-satunya cara mengalahkannya adalah membakar habis jantungnya. Walaupun hanya tersisa sedikit, ia masih bisa membuat tubuhnya seperti semula. Dan oleh karena itu Teros telah lama disegel karena tak semua iblis bisa membakar sesuatu hingga tak tersisa." jelas Jovian panjang lebar.


"Jika Teros telah disegel lalu bagaimana bisa Teros tadi berada di sini?"


"Itulah yang tidak ku mengerti. Sepertinya ada yang membuka segel itu."


"Memang seberapa bahaya Teros itu?"


"Waktu aku kecil, sekumpulan Teros mengamuk di wilayah di dekat istana. Dan membunuh banyak iblis. Para penjaga telah dikerahkan tapi pada akhirnya hanya iblis api birulah yang benar-benar bisa memusnahkannya. Dan atas persetujuan raja, Teros akhirnya disegel dan tidak ada yang boleh membukanya."


Jovian bangkit dari duduknya. Lelaki itu menatap Sung Ha.


"Sung Ha, jika kau bertemu Teros, jangan sekali-kali kau melawannya." ucapnya dan pergi menuju pintu keluar.


"Aku akan segera kembali.." lelaki itu menghilangbegitu saja di balik pintu.


Jovian berjalan menyusuri trotoar. Lelaki itu mengeluarkan sayapnya dan terbang, mencari sembilan Teros yang masih tersisa. Makhluk itu tak boleh berkeliaran di dunia manapun.


Jovian terdiam di atas gedung, merasakan darimana aura yang ia rasakan. Dengan cepat ia meluncur ke asal aura itu berasal, dan benar saja. Sesosok Teros tampak sedang memakan sesuatu di sudut sebuah gang. Perlahan, Jovian berjalan mendekati Teros yang membelakanginya. Darah? Kenapa ada darah di sekeliling Teros duduk?


Teros itu telah selesai memakan makanannya dan berbalik hendak pergi. Jovian terbelak melihat bekas makanan Teros, ada sebuah tangan manusia di dekat kaki Teros.


Teros itu melihat Jovian dan menunjukkan gigi-giginya yang tak rata dengan air liur yang menetes. Ia masih lapar, manusia yang baru saja ia makan sama sekali belum bisa membuatnya kenyang. Ia menginginkan sesuatu yang lebih unruk menghilangkan rasa laparnya.


Teros itu mendekat ke arah Jovian dan menyerang lelaki itu. Namun dengan cepat, Jovian berhasil menghindar. Mata lelaki itu menatap Teros tajam. Tak mau membuang waktu ia segera membakar tubuh Teros itu hingga tak tersisa. Setelah menyelesaikannya ia segera bergegas pergi mencari Teros lain. Jovian benar-benar harus bekerja ekstra untuk ini ditambah ia baru mengetahui bahwa Teros juga memakan manusia. Jika ini dibiarkan maka umat manusia akan menjadi korban.


***


Hingga larut malam, Jovian telah berhasil memusnahkan lima Teros. Cukup banyak kekuatan yang harus ia keluarkan karena setiap Teros memiliki kekuatan yang berbeda, dan terkadang itu menyulitkan Jovian.

__ADS_1


"Aaarrrgghhh!!"


BRAK!


Tanpa Jovian sadari sesosok Teros muncul dari belakang dan memukulnya hingga tersungkur di aspal. Belum sempat Jovian bangkit, Teros itu meluncur cepat ke arah Jovian, dan kembali menghantam tubuh lelaki itu. Jovian terbatuk saat tubuh Teros tepat mengenai punggungnya. Dan darah segar keluar dari mulutnya.


Teros itu terbang ke udara dan kembali menghantam tubuh Jovian. Tubuh lelaki itu terasa hancur karena tertimpa tubuh Teros yang besar dan berat.


"Beraninya kau membuatku berdarah.."


Jovian mengumpulkan seluruh kekuatannya dan behasil mendorong Teros, menyingkir dari punggungnya. Tubuh Jovian telah diselimuti api biru, tanda ia benar-benar marah. Dengan menahan rasa sakit di seluruh tubuhya, Jovian mulai menyerang. Namun serangan demi serangan yang Jovian keluarkan berhasil ditangkis oleh Teros.


"Aarrgghhh!!"


Teros itu kembali berteriak, membuat suara bising ditengah heningnya malam. Namun suara itu hanya bisa didengar oleh makhluk bukan manusia. Jadi seberapapun berisiknya tempat itu, manusia tetap menganggap tempat itu hening.


Jovian menghentikan serangannya saat melihat tubuh Teros mulai berubah.


"Aaarrggghhh!!!"


Jovian menatap tak percaya tubuh Teros yang ada di hadapannya. Tubuh yang awalnya besar, sekarang telah berubah menjadi seukuran manusia dan berwujud seperti manusia.


Dengan mata merahnya, Teros itu menatap Jovian. Senyum yang mengerika terukir di wajah Teros. Dengan sekali kedipan mata Teros itu telah berpindah di depan Jovian dan berhasil memukul lelaki itu hingga ia terpental. Namunn Jovian segera bangkit dan menyapu darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan ibu jari. Tatapan tajam Jovian berikan pada Teros. Serangan demi serangan mereka lakukan, tak ada yang ingin mengalah. Kecepatan yang Teros miliki setara dengan Jovian.


BRAK!


Jovian kembali terhantam ke aspal. Kali ini punggung Jovian lah yang pertamakali bertemu dengan aspal. Nafas lelaki itu tampak memburu. Sudah banyak tenaga yang ia keluarkan hari ini. Ia sudah hampir mencapai batasnya.


Teros itu memusatkan kekuatan di mulutnya hingga membentuk bola hitam. Tubuh Jovian terasa kaku, seluruh tubuhnya terasa hancur, ia hanya bisa melihat Teros itu semakin mengumpulkan kekuatannya. Dan siap melemparkan bola hitam itu kearahnya kapan saja makhluk itu mau.


***


Sung Ha terus saja melihat jam tangannya, sudah pukul 12 lewat tapi Jovian belum juga kembali. Sekitar pukul 8 Sung Ha telah tertidur tetapi ketika ia bangun, ia belum juga melihat sosok Jovian.


BRAK!


Suara benda jatuh tertangkap indra pendengar Sung Ha. Dengan segera ia menyalakan lampu dan matanya terbelak mendapati sosok Jovian yang tergeletak di dekat pintu. Tubuh itu penuh luka dan darah.


"Jovian?!" pekik Sung Ha dan ia segera menghampiri sosok itu.


Saat Teros tadi menyerang, Jovian teringat jika dirinya berada di dunia manusia, itu tandanya ia bisa masuk ke rumahnya kapan saja dan di mana saja.


"Jovian?!"


Mata Jovian perlahan terbuka, dan Sung Ha segera mengobati lelaki itu dengan kekuatannya.


"Kenapa kau bisa terluka seperti ini?! Apa yang kau lakukan?!"


Dengan perlahan Jovian memegang lengan Sung Ha yang sedang mengobatinya.


"Sung Ha.." ucapnya lirih.


"Tolong sembuhkan lukaku, aku harus segera pergi.."


"Aku akan mengobati lukamu tapi kau tidak boleh pergi!"


Perlahan luka di tubuh Jovian mulai menghilang. Lelaki itu tak menjawab. Ia memejamkan matanya, mempercepat pernyembuhan. Lima menit kemudian Jovian membuka matanya saat ia tidak lagi merasakan sakit di tubuhnya. Lelaki itu bangkit.


"Kau tidak boleh pergi." cegah Sung Ha.


"Tapi aku harus pergi."


"Jika kau memaksa pergi, biar aku ikut denganmu."

__ADS_1


"AKU TAK AKAN MEMBIARKANMU IKUT!"


"Memang siapa yang kau lawan?! Apakah makhluk bernama Teros itu lagi?!"


Jovian terdiam. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Sung Ha? Tidak. Ini belum saatnya.


"Aku pergi."


Jovian akhirnya berjalan menuju pintu, sebelum ia keluar, lelaki itu berhenti di depan pintu.


"Pintu ini tak akan terbuka hingga pukul 6 pagi." ucap lelaki itu dan keluar.


"YA! JOVIAN!!"


Sung Ha berteriak memanggil nama Jovian namun lelaki itu sudah pergi dan tak akan bisa mendengarnya. Gadis itu hanya bisa manatap pintu itu dengan penuh rasa khawatir. Ia tak ingin Jovian terluka lagi. Lelaki itu sudah banyak terluka.


***


Setelah tujuh menit Jovian terbang mencari, akhirnya ia bertemu dengan Teros tadi. Lelaki itu perlahan turun tepat di hadapan Teros itu. Tanda awal dari pertarungan.


Tiga puluh menit berselang Jovian bisa melihat tubuh Teros itu mulai menghilang tersapu angin, akhirnya ia berhasil mengalahkannya. Namun masih ada empat Teros yang belum lelaki itu temukan, semoga keempat Teros itu belum memangsa manusia dan berevolusi seperti manusia, walaupun belum begitu sempurna tapi jika terus dibiarkan evolusi itu bisa menjadi sempurna. Itu akan semakin menyulitkan Jovian.


***


Jam telah menunjukkan pukul 5 pagi. Jovian masih berkeliling mencari dua Teros yang masih tersisa. Namun hingga pukul 6 pagi, ia sama sekali tak menemuka tanda-tanda keberadaan Teros dan aura mereka pun juga sudah tak terasa. Jovian akhirnya memutuskan untuk menyudahi perburuannya dan kembali. Ia tersentak saat mendapati Sung Ha telah berdiri di hadapannya dengan seragam sekolah.


"YA!" Sung Ha memukul lengan Jovian. "Kenapa kau selalu membuatku khawatir?!"


"Aww aww aww, jangan memukulku!"


Sung Ha menghentikan kegiatannya memukuli Jovian saat melihat goresan darah di pipi lelaki itu.


"Kau membuat tubuhmu terluka lagi!"


Jovian hanya meringis di hadapan Sung Ha.


"Kenapa kau begitu menghawatirkanku?" tanya Jovian tiba-tiba.


"Aku.. Aku hanya tak ingin mengeluarkan kekuatanku untuk menyembuhkan luka-lukamu!"


Entah kenapa Sung Ha menjadi salah tingkah. Ia sendiri juga tak tau kenapa ia begitu mengkhawatirkan Jovian.


"Aku akan buat sarapan, kau cepat bersiap untuk sekolah."


Sung Ha pergi tanpa mau menatap Jovian, itu membuat Jovian geli dan ingin tertawa.


"Ya."


Setelah selesai sarapan Jovian berangkat lebih awal karena ia tak mau menjadi tontonan murid-murid lain seperti kemarin-kemarin.


***


Min Ri dan Min Jin duduk memantau seseorang dari lantai dua rumah Min Ri.


"Itu dia."


Min Ri tampak menunjuk seorang lelaki yang barusaja melintas di depan rumahnya.


"Dia yang bernama Kim Jovian?" tanya Min Jin dan mendapat anggukan dari Min Ri.


"Tolong selidiki dia,"


"Baiklah. Tapi ingat, kau jangan mengulur waktu, segera selesaikan dan pergi dari sini."

__ADS_1



__ADS_2