Devil Child

Devil Child
Chapter 16


__ADS_3

Sung Ha masuk ke dalam kelas di ikuti Jovian di belakangnya. Beberapa gadis mendekatinya dan memeluknya. Sung Ha terbingung-bingung dengan kelakuan temannya itu. Kenapa tiba-tiba memeluknya? Jovian melanjutkan jalannya yang sempat terhenti dan duduk di bangkunya.



"Ada apa?" tanya Sung Ha pada gadis yang memeluknya tadi. Gadis tadi melepaskan pelukannya.



"Kami sudah mendengar kabar tentang orang tuamu.. Kami semua turut berduka cita.." ucap gadis itu.



Berduka cita? .....mata Sung Ha terbelak dan menoleh ke arah Jovian yang sudah terduduk di bangkunya. Tapi lelaki itu tidak melihatnya karena matanya yang telah tertutup. Mata Sung Ha memerah menahan air mata yang sudah hampir tumpah. Ia segera keluar dari kelas dan pergi ke tempat di mana sekiranya ia bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.



"Ya! Sung Ha!" panggil gadis tadi.



"Kurasa dia masih terpukul.." ucap gadis di sebelahnya.



Jovian membuka matanya dan melihat ke luar jendela. Dari tempat ia duduk saat ini, ia bisa melihat seorang gadis yang tengah berlari dengan sekuat tenaga pergi meninggalkan gedung sekolah. Jovian hanya melihat gadis itu datar. Di sisi lain Jovian tau bagaimana perasaan Sung Ha saat ini.





***





Sung Ha tak bisa membendung tangisnya lagi. Ia terus berlari dengan meneteskan air mata. Tak jarang ia menabrak beberapa siswa yang akan masuk ke dalam area sekolah, karena ia tak bisa mengendalikan tubuhnya. Yang Sung Ha inginkan saat ini adalah segera bertemu dengan orang tuanya dan menyimpulkan kejadian itu hanya mimpi.



Seorang lelaki tersenyum saat seorang gadis melintas melewatinya dengan air mata yang terus menetes melewati pipi putihnya. Namun lelaki itu tak berpaling dan tetap melanjutkan jalannya menuju ke sekolah tempatnya bersekolah.





-Kebenaran-

__ADS_1





Sung Ha tiba di rumah sakit tempat orang tuanya dirawat dan segera menuju kamar tempat orang tuanya menjalani rawat inap.



Sung Ha terduduk lemas saat mendapati kamar itu kosong dengan lubang besar yang ada di dindingnya. Tempat tidurnya pun telah hangus terbakar. Sung Ha menangis terseduh-seduh di ambang pintu. Ia masih tak percaya jika ini benar-benar terjadi.



"Ayah.. Ibu.." ia terus saja menangis hingga seorang gadis menghampirinya.



"Maaf anda tidak bolah di sini.. Kasus ini masih ditangani kepolisian jadi anda belum boleh memasuki ruangan ini."



Sung Ha masih saja menangis. Ia tak ingin mendengarkan perawat itu. "Apakah anda putri mereka?" tebak sang perawat.



Sung Ha mengangguk tanpa mau mengangkat kepalanya.






***





Sung Ha duduk di sofa dan memeluk lututnya. Ia terus menatap sebuah buku yang berada di meja depannya. Buku itu ia dapatkan saat di kantor polisi. Saat ini ia memilih datang ke rumah Jovian karena ia masih belum mau pulang ke rumahnya. Itu mengingatkannya pada sosok orang tuanya. Tampaknya Jovian masih belum pulang.



Sung Ha mengulurkan tangannya perlahan, mengambil buku di hadapannya itu lalu membukanya. Hati Sung Ha ngilu melihat foto kecilnya bersama dengan kedua orang tuanya. Air matanya kembali menetes. Sung Ha kembali membuka lembar demi lembar buku itu. Namun ia kembali terisak saat melihat foto-fotonya yang semakin ia membuka buku itu ke belakang ia mendapati dirinya semakin tumbuh besar. Beberapa lembar di bagian buku itu masih bersih tanpa sebuah tulisan maupun goresan apapun. Saat Sung Ha ingin menutup buku itu ia melihat lembaran terakhir dari buku yang ia pegang.



Sung Ha membaca tulisan yang ia yakini sebagai tulisan Ibunya.

__ADS_1





Sung Ha..



Cepat atau lambat kau pasti akan mengetahuinya.



Saat itu, saat di mana Ibu merasa sangat bahagia dan sangat beruntung melihatmu yang penuh dengan senyuman.



Saat ibu di fonis dokter tidak akan memiliki keturunan ibu merasa ini adalah akhir dari segalanya namun ayahmu selalu menyemangati ibu dan selalu berada di sisi ibu.



Beberapa bulan setelah itu, ibu menemukanmu di depan pintu rumah bersama dengan sebuah cincin dan selembar surat yang menyatakan bahwa ibu harus merawatmu..



Ibu awalnya ragu namun di dalam hati ibu, ibu sangat bahagia karena mendapatkan berkah dari Tuhan.



Walaupun kau bukanlah anak yang terlahir dari rahim ibu tapi ibu telah mengangapmu sebagai anak ibu satu-satunya dan kami sangat menyayangimu..



Sung Ha, kau adalah kehidupan bagi kami, dan kau memberi kami kebahagiaan yang tidak bisa kami dapatkan sebelumnya..



Kami menyayangimu.. ♡





Sung Ha menangis terseduh-seduh dan memeluk buku yang ia pegang.



"Ayah.. Ibu.." ia kembali teringat dengan senyum kedua orang tuanya. Hatinya terasa sangat sakit.


__ADS_1




__ADS_2