
Dua orang lelaki berseragam sekolah Daehwa High School, merintih kesakitan. Wajah memar dan darah yang keluar dari hidung maupun mulut mereka tak bisa ditutupi lagi. Salah satu lelaki itu telah tersungkur tak berdaya di trotoar. Dan seorang lagi, terus meminta ampun pada lelaki berambut pirang, yang sedang memukulinya.
Tak ada sedikitpun belas kasihan yang ditunjukkan lelaki berambut pirang itu. Matanya yang tajam dan wajahnya yang tak mengekspresikan rasa takut maupun bersalah, menceriminkan seorang lelaki yang memang memiliki sifat angkuh dan tak peduli dengan orang lain. Bukan tak peduli, tetapi orang-orang yang tidak memedulikannya, menyebabkan sifat ketidak pedulian tumbuh pada dirinya.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku mohon ampunilah aku!" untuk kesekian kalinya lelaki itu kembali memohon agar dirinya tak lagi menerima pukulan.
Lelaki berambut pirang itu menarik kerah seragam lelaki yang sudah dibuatnya babak belur, dengan mudah tubuh itu terangkat begitu saja.
"Jangan pernah menghalangi jalanku." lelaki itu kembali menunjukkan tatapan membunuhnya.
Awal dari perkelahian ini bukanlah hal yang besar. Bahkan sangat sepele dan tidak pantas untuk diperdebatkan.
Saat lelaki berambut pirang itu sedang berjalan dengan kedua tangan yang ia masuk ke dalam saku celananya. Mata tajamnya itu tertuju ke dua sosok lelaki yang menggunakan seragam sama seperti yang ia kenakan. Kedua sosok itu tengah asik mengobrol di depannya. Ia menendang kaleng minuman kosong yang baru saja dijatuhkan oleh salah seorang diantara mereka tepat di hadapannya.
Taak!
__ADS_1
Kaleng itu tepat mengenai kepala salah satu diantaranya yang membuat lelaki tadi berbalik mencari tau siapa orang yang berani melempar kepalanya dengan kaleng minuman. Tapi, rasa takut dan kecemasan seketika melanda mereka saat tau siapa yang menendang kaleng itu, Kim Jovian. Lelaki yang sangat ditakuti dan dijauhi banyak orang karena sifatnya yang seperti Iblis.
Jovian adalah lelaki yang suka melukai orang-orang yang ia rasa mengganggunya. Oleh sebab itu, tak ada satupun orang yang ingin mendekat padanya apalagi berteman dengannya. Bahkan ia pernah menghajar siswa sekolah lain hingga siswa itu mengalami patah tulang yang parah, dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyembuhkannya.
Jovian menghempaskan begitu saja tubuh lelaki itu, dan kembali melanjutkan langkahnya menuju sekolah yang sudah tidak jauh lagi jaraknya. Sekolah yang tak lain adalah tempat di mana selama ini ia menempuh pendidikannya, Daehwa High School.
***
Murid-murid itu berhamburan duduk di tempatnya masing-masing, saat melihat guru mereka telah memasuki kelas. Dia adalah guru Han, wali kelas dari kelas 11-3. Selain menjadi wali kelas, guru Han juga mengajar sebagai guru olahraga. Guru Han berjalan mendekati Jovian yang tengah asik mendengarkan musik lewat earphonenya, di bangku kiri di sudut kelas. Tanpa sepatah katapun ia menarik earphone itu. Mata mereka bertemu, menunjukkan sorot membunuh mereka masing-masing. Tak mau mencari ribut dengan gurunya itu, lelaki pirang itu menurunkan kakinya dan kembali duduk dengan normal, layaknya murid yang lain.
Ya, guru Han adalah satu-satunya guru yang berani menegur maupun menasehati Jovian, lelaki brutal yang tak kenal ampun. Selama ini juga, Jovian tak pernah mau mencari ribut dengan setiap guru yang ada di sekolahnya. Karena ia tau jika dirinya mencari ribut resikonya adalah dikeluarkan dari sekolah ini. Dan Jovian tak mau itu terjadi.
Guru Han kembali ke depan kelas untuk membuka kelas, sebelum jam pelajaran benar-benar akan dimulai.
__ADS_1
Dari meja belakang di ujung kanan, seorang gadis tengah fokus menatap Jovian dengan sorot mata menyelidik. Ia yakin lelaki yang malam itu menolongnya adalah Jovian. Tapi kenapa ada sepasang sayap yang keluar dari punggungnya? Apakah itu hanya halusinasinya saja?
Banyak pertanyaan yang ingin gadis itu tanyakan kepada Jovian, lelaki pendiam, angkuh, dan menakutkan. Tak ada yang tau pasti siapa orang tua dan kapan dia dilahirkan. Setiap kali ada orang yang bertanya tentang hal itu ia hanya akan menjawab 'Memang itu semua penting?' Bahkan sampai saat ini pihak sekolah pun tidak ada yang tau, dan terpaksa membuatkan identitas palsu untuknya. Begitupun tentang di mana ia tinggal, dan keluarganya selama ini.
"Sung Ha? ...Sung Ha?!" gadis itu tersentak saat mendapati guru Han telah berdiri di dekat bangku tempat ia duduk. Guru Han memukul kepala Sung Ha menggunakan bulpen yang ia bawa. "Apa yang kau pikirkan?"
Sung Ha mengelus kepalanya yang terasa ngilu karena pukulan kecil itu.
Jovian melihat ke arah gadis yang baru saja dibentak guru Han, dan dengan tidak tertarik ia kembali mengalihkan pandangannya dengan malas ke arah kirinya. Lebih tepatnya ke arah jendela yang tepat berada di sebelah kirinya.
"Maafkan aku," sesal Sung Ha karena ia telah melamun pagi-pagi.
__ADS_1