
Jun Ki berjalan mengitari sekolah. Karena wajah ramahnya, beberapa murid sering menyapanya ketika berpapasan dengannya.
"Manusia menarik juga.. Sepertinya tubuh ini begitu populer.."
Jun Ki berhenti di belakang gadis yang tengah asik berbincang dengan seseorang di telepon.
"Ya! Kenapa kau selalu menyuruhku untuk mendekati Jovian? Aku sudah tidak mau berurusan dengannya."
Jovian? Jun Ki pernah mendengar, bahwa Jovian adalah nama yang selama ini dipakai Ky semenjak berada di dunia manusia.
"...."
"Jika kau ingin balas dendam hadapi secara langsung! Jangan menyuruhku seperti itu!"
"...."
"Terserah kau! Baiklah kita berakhir sekarang! Jangan hubungi aku lagi!" gadis itu mematika sambungan telepon dengan emosi.
"Aku juga tidak mencintaimu lagi." gerutunya.
Gadis itu berbalik akan kembali ke kelasnya namun ia terkejut saat ada seorang lelaki yang berdiri tepat di hadapannya.
"Ahh ya Tuhan! Apa yang kau lakukan di sini?! Kau sedang menguping pembicaraanku?!" tanya gadis itu dengan kesal.
Bukannya menjawab, Jun Ki malah melipat kedua tangannya dan bersandar di dinding di dekatnya.
"Kau mengenal Jovian?" tanyanya.
"Memang apa urusanmu?"
Gadis itu memilih pergi karena untuk saat ini ia sedang tak ingin berurusan dengan seorang lelaki. Namun, Jun Ki menahan lengan gadis itu dan kedua mata mereka saling bertemu. Cahaya hijau mengkilap muncul dari kedua bola mata Jun Ki. Dan beberapa saat temudian juga muncul di bola mata gadis itu. Jun Ki melepas cengkramannya pada lengan gadis itu.
"Siapa namamu?"
"Song Ahri."
"Ahri. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Kau mau kan?"
"Ya."
__ADS_1
-Aku Tak Akan Memaafkanmu-
Jovian mengacak rambutnya frustasi. Sudah berulang kali Jovian mengajari Sung Ha tapi gadis itu masih saja tak bisa melakukan hal yang ia contohkan.
"Ya! Kenapa kau sangat buruk."
Lelaki itu menaruh keduatangannya di pinggang dan menatap Sung Ha tak percaya.
"Kau bahkan lebih buruk dari anak iblis yang baru saja lahir."
"Ya! Kenapa kau memarahiku seperti itu?!" protes Sung Ha.
"Mungkin kau yang salah mengajariku" lanjutnya.
Salah mengajari? Jovian teringat akan sesuatu yang penting. Sesuatu yang selama ini ia lupakan. Sesuatu dari permasalahan ini.
"Kau benar. Kau adalah malaikat jadi semua yang aku ajarkan tadi hanya berguna saat kau menjadi iblis."
"Kalau begitu ajari aku sebagai malaikat."
"Ya! Kau benar-benar..."
Sung Ha menahan emosinya yang memuncak pada lelaki itu.
"Kalau begitu tidak ada gunanya aku di sini. Sebaiknya aku segera pergi dan melihat keadaan kedua orang tuaku."
Sung Ha mengambil tasnya dan segera pergi. Saat ini ia ingin melihat keadaan orang tuanya. Ia merindukan mereka.
"Ingat. Jangan keluarkan sayapmu sembarangan. Nyawamu bisa melayang jika kau melakukannya." ucap Jovian tanpa melihat Sung Ha yang semakin dekat dengan pintu.
"Aku mengerti. Aku tidak sebodoh yang kau bayangkan."
***
__ADS_1
Sekitar jam enam sore, Sung Ha telah tiba di rumah sakit. Dengan membawa beberapa buah yang ia beli diperjalanan, ia berjalan menuju kamar di mana kedua orang tuanya dirawat.
"Ayah.. Ibu.." ucapnya saat membuka pintu kamar itu.
Kedatangan Sung Ha disambut oleh dua senyuman yang membuat hati Sung Ha sedikit tenang. Gadis itu menaruh buah-buahan yang ia bawa di meja. Dan duduk di bangku di antara kasur ayah dan ibunya.
"Bagaimana keadaan ayah dan ibu? Sudah merasa baikan?"
"Sudah lebih baik." jawab ayah Sung Ha.
"Sekolahmu bagaimana?"
"Sekolahku baik-baik saja. Tidak ada yang spesial."
"Memang yang spesial seperti apa?" tanya ibu Sung Ha.
"Dikelilingi banyak lelaki?" godanya.
"T-tidak!" Orang tua Sung Ha tertawa bersama melihat reaksi wajah anaknya itu.
"Sung Ha.."
Ibu Sung Ha membelai tangan anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Ibu Sung Ha melihat ke samping kanannya yang tak lain adalah suaminya. Lelaki itu mengangguk saat istrinya terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Ada apa?"
"Pulang dan ambillah sebuah buku di dalam laci di kamar ibu. Tapi kau tidak boleh membukanya sebelum kau sampai di sini."
"Buku?"
"Ya. Buku berwarna merah dengan gambar bunga disampul depannya."
"Sekarang?"
"Jika kau merasa penasaran cepat ambil dan bawa kemari." ucap ibu Sung Ha dengan senyum yang terpancar di wajahnya.
"Baiklah." Sung Ha berdiri dari duduknya.
"Aku akan secepat mungkin mengambilnya." gadis itu segera berpamitan dan pergi ke rumah untuk mengambil buku yang dimaksud oleh Ibunya.
__ADS_1