Devil Child

Devil Child
Chapter 26


__ADS_3

Senyum terukir di wajah Sean saat melihat tabung besar berisi kekuatan. Ia mengelus permukaan tabung itu lalu memukulnya hingga terdengar suara pecahan kaca. Sean memejamkan matanya sembari merasakan kekuatan yang perlahan terserap ke dalam tubuhnya. Lelaki itu terkekeh saat ia selesai menyerap seluruh kekuatan yang telah dikumpulkan oleh bawahannya.



Sean melirik iblis penjaga yang berdiri tak jauh darinya. Ia mengarahkan tangan kanannya ke arah iblis itu yang dengan segera iblis tadi terbakar. Sean hanya terkekeh melihat pemandangan yang menurutnya lucu, hingga iblis penjaga itu lenyap tanpa tersisa. Sean melihat telapak tangannya dan tersenyum miring.



"Tak akan ada yang bisa mengalahkanku termasuk Ky sekalipun."



Lelaki itu menoleh ke belakang saat pintu di belakangnya terbuka.



"Semua sudah siap. Anda bisa memulainya." ucap Ayah Taeyun yang barusaja memasuki ruangan.



Saat ini Sean duduk di hadapan para petinggi yang setia melayani raja iblis. Ya, ia sedang ada pertemuan dengan pada iblis itu.



"Jika kalian tak ingin setia padaku, ku persilahkan kalian keluar sekarang. Tapi jika kalian tetap di sini dan menghianatiku, aku tak segan-segan membunuh kalian."



Sean memejamkan mata, menunggu iblis yang memang tak ingin bekerja dengannya. Lima menit kemudian ia kembali membuka matanya dan dilihatnya tak ada satupun iblis yang meninggalkan tempatnya.



"Baiklah, ku anggap kalian setia padaku."



Ayah Taeyun memberikan setiap iblis yang ada disana sebuah kertas.



"Itu tugas kalian." ucap Sean sembari menyeringai.



Iblis-iblis itu membaca tulisan yang ada di kertas, mata mereka terbelak mendapati maksud dan tujuan dari isi kertas itu.



"Apakah kita benar-benar akan melakukannya?" tanya salah satu iblis.



"Apakah kau ragu? Bukankah kau akan setia padaku?"



"Ta-Tapi.."



Sean menatap iblis itu tajam dan dalam sekejap mata iblis itu terbakar oleh api milik Sean.



"Apakah ada yang masih ragu?" tanyanya sembari melihat wajah para iblis di depannya.



Mereka semua terdiam, tak ada yang berani melawan.



"Panggil Taeyun kemari. Ada pekerjaan khusus untuknya." perintah Sean pada ayah Taeyun yang langsung dikerjakan.





***





Sung Ha menghampiri Jovian saat ia melihat lelaki itu sedang berdiri sembari melihat ke arah taman.



"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanyanya.



Jovian mengalihkan pandangannya ke arah Sung Ha yang berada di sampingnya dan kembali mengalihkannya kembali ke taman. Ia terbelak mendapati sosok yang sedang ia pantau telah menghilang, hanya ada anak kecil yang sedang bermain di taman.



"Sial!" umpatnya dan berlari mencari sosok yang telah menghilang.



Jovian mengedarkan pandangannya, matanya menangkap sosok hitam yang baru saja berbelok memasuki sebuah gang yang cukup besar. Tanpa pikir panjang ia segera mengejar sosok itu. Sementara itu, Sung Ha melihat Jovian bingung. Kenapa lelaki itu tiba-tiba berlari seperti itu?



"Kau mau ke mana?!" tanyanya yang sama sekali tak digubris Jovian.



Jovian berlari ke arah gang dimana ia melihat sosok hitam tadi. Namun hilang, tak ada apapun di sana.



Jauh di dalam pikiran Jovian ia sama sekali tak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa makhluk mengerikan tadi bisa berkeliaran di dunia manusia. Dan seharusnya makhluk itu telah tersegel di dunia iblis sejak dulu. Tapi kenapa? Kenapa makhluk mengerikan itu bisa bebas?! Makhluk yang mengerikan baru saja muncul di dunia manusia.



Jovian berbalik hendak kembali, ia terkejut mendapati sosok makhluk besar yang melayang tepat di hadapannya.



Sayap hitam seperti kelelawar, kedua matanya yang melotot dan tubuhnya yang besar ditambah aura mengerikan yang terpancar dari makhluk itu membuat Jovian memundurkan langkahnya. Ia berusaha menjaga jarak dengan makhluk itu.



Ini pertamakalinya Jovian melihat makhluk yang ia tau bernama Teros. Ada sekitar sepuluh Teros yang tersegel di dunia iblis. Manusia memang tak bisa melihat Teros. Namun, jika dibiarkan Teros bisa membuat kekacauan.



Jovian mengeluarkan sayapnya bersiap melawan Teros, namun belum sempat Jovian menyerang, kepala makhluk itu telah terpisah dari tubuhnya. Dan mata Jovian menangkap sosok gadis yang berdiri di balik tubuh Teros.



"Sung Ha.." gumam Jovian saat tubuh Teros terjatuh dan memperjelas wajah gadis itu.



"Kau tidak apa-apa?" tanya Sung Ha berlari mendekati Jovian.

__ADS_1



Pedang perak yang ada di tangan Sung Ha perlahan menghilang.



"Apa tadi?" tanya Jovian meminta penjelasan terhadap pedang tadi.



"Aku hanya menginginkan pedang dan tiba-tiba muncul begitu saja di tanganku."



"Aaarrrgghhh!!"



Secara bersamaan Jovian dan Sung Ha menoleh ke arah suara erangan yang cukup keras itu. Mata Sung Ha terbelak mendapati Teros yang baru saja ia tebas kembali bangkit dan kepala yang awalnya terpisah kembali tumbuh.



"Sung Ha pergi dari sini." perintah Jovian.



Sung Ha masih terdiam, kaki gadis itu terasa membeku. Makhluk bernama Teros itu menggerang dan menyerang Sung Ha. Dengan sigap Jovian menahan makluk itu dengan apinya agar tak mengenai Sung Ha.



"CEPAT PERGI!!"



"Tapi-"



"PERGI!"



Jovian berhasil mendorong Teros dan sedikit menjauhkannya dari Sung Ha. Sung Ha kembali mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya kepada Teros.



"Aku tidak akan meninggalkanmu."



"SUDAH KU BILANG PERGI! KAU TAK AKAN BISA MENEBASNYA!"



Teros itu mengeluarkan api hitam kecoklatan dan melemparkannya ke arah Jovian. Dengan sigap lelaki itu menahannya dengan perisai api birunya.



"PERGI SEKARANG!!"



Sung Ha menatap Jovian tak mengerti. Kenapa lelaki itu terus memaksanya untuk pergi? Niat Sung Ha saat ini hanyalah ingin membantu, tak lebih.



"Aku tid-"



Sung Ha tak melanjutkan kata-katanya saat Jovian menatapnya tajam. Sebuah tatapan yang dapat membuat orang yang melihatnya bergetar. Dengan berat hati gadis itu pergi.




Jovian memukul dan menendang perut Teros bertubi-tubi hingga membentuk lubang-lubang di tubuh Teros, namun itu tetaplah percuma, karena tubuh makhluk itu kembali seperti semula.



Jovian terpental dan membentur dinding di dekatnya saat Teros berhasil meraih tangannya dan membantingnya. Jovian bangkit dan menatap tajam Teros.



"Mati kau.."



Dalam sekejap mata, Jovian telah berada di hadapan Teros dan memukulnya. Sedetik kemudian Jovian berada di belakang Teros dan kembali memukul punggung makhluk itu hingga terpental.



"Beraninya makhluk sepertimu menyentuhku.."



Sedetik kemudian Jovian berada di depan Teros dan mengarahkan tangannya tepat di jantung makhluk itu.



"Mati kau!"



Kobaran api biru dengan cepat menyambar ke arah jantung Teros dan membuat lubang di dadanya. Perlahan tubuh makhluk itu menghilang menjadi abu dan tertiup angin. Jovian memegangi punggungnya yang sedikit nyeri karena terhantam tadi. Untung saja tadi ia menemukan Teros dan bisa memusnahkannya. Jika tidak maka kekacauan tak mungkin bisa dihindarkan.





***





Tubuh Sung Ha dengan mudah tertarik saat seseorang menariknya untuk ikut bersamanya.



"Ya! Ada apa ini?!" protes Sung Ha pada lelaki yang menariknya.



Lelaki itu melepas tangan Sung Ha dengan kasar. Dan menatap wajah Sung Ha.



"Benarkah kau yang bernama Rim Sung Ha?"



Sung Ha menatap wajah lelaki itu, sepertinya ia pernah melihat lelaki itu, tapi dimana? Dimana ia pernah melihatnya?



"Ya," jawab Sung Ha.

__ADS_1



Lelaki itu mengeluarkan pistol putih dari sakunya dan mengarahkannya ke kepala Sung Ha. Mata Sung Ha terbelak melihat mulut pistol yang terarah padanya. Apa apaan ini? Pikir Sung Ha.



"Makhluk sepertimu tak pantas hidup. Kau hanya akan menimbulkan kehancuran."



Lelaki itu menarik pelatuk pistolnya yang membuat peluru keluar dari mulut pintol. Dengan cepat Sung Ha duduk berjongkok yang membuat peluru itu tak mengenainya.



"Ya! Apakah kau mau membunuhku?!"



Lelaki itu menurunkan bidikannya, masih ke arah kepala Sung Ha.



"Aku memang akan membunuhmu."



Lelaki itu perlahan menarik pelatuknya namun Sung Ha menggeser tubuhnya sehingga peluru itu tak mengenainya lagi.



"Kenapa kau tiba-tiba ingin membunuhku?!"



Sung Ha mendongakan kepalanya menatap wajah lelaki yang sedari tadi mengarahkan pistol miliknya ke arahnya. Lelaki itu sepertinya serius ingin membunuh Sung Ha.



"Aku? Aku hanyalah malaikat yang diutus untuk memusnahkanmu dari dunia ini."



Namja itu kembali mengarahkan pistol miliknya.



"Selamat tinggal.."



Sung Ha menutup matanya erat-erat, takut melihat apa yang akan terjadi padanya.



Dor!



Sung Ha membuka matanya saat merasakan dirinya terangkat oleh seseorang.



"Jovian?" gumamnya.



Lelaki yang awalnya berniat menembak Sung Ha tersentak tak percaya mendapati iblis yang terbang membawa Sung Ha. Ditambah sayap berapi biru yang dimiliki iblis itu. Semakin membuatnya bertanya-tanya.



"K-kenapa keluarga kerajaan bisa berada disini?"



Lelaki itu menurunkan pistolnya dan mengambil ponselnya. Ia mengetik suatu pesan dan mengirimkannya kepada seseorang dikontaknya.





-Teros-





Jovian menurunkan Sung Ha di tempat yang aman. Sayap lelaki itu perlahan menghilang.



"Sepertinya aku tepat waktu."



"Apa-apaan lelaki tadi?! Kenapa dia tiba-tiba ingin membunuhku?!"



Sung Ha tampak menggerutu. Gadis itu melipat tangannya di bawah dada, ia masih tak terima dengan perlakuan lelaki tadi. Karena tak tahan melihatnya, Jong In menjitak kepala Sung Ha.



"Itu salahmu karena tak menyembunyikan sayapmu. Dan lelaki tadi bukanlah manusia, dia malaikat."



"Tapi kenapa dia.."



"Bukankah sedari awal aku sudah mengatakannya? bukan hanya bangsa iblis yang mengincarmu, tapi bangsa malaikat juga."



"Jadi maksudmu mereka tau jika aku adalah malaikat setengah iblis?"



"Mungkin.." jawab Jovian. "Mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku, kemasi barang-barangmu dan bawa kerumahku." lanjutnya.



"Kenapa aku harus tinggal bersamamu?"



"Itu karena terlalu bahaya tinggal sendiri, ditambah Teros yang tadi muncul, dia bisa membunuhmu saat kau tidur."



"Jangan menakut-nakutiku!"




__ADS_1


__ADS_2