Devil Child

Devil Child
Chapter 3


__ADS_3

Bangunan-bangunan kusam dan berwarna gelap menghiasi setiap sudut wilayah itu, suasana yang mencekam dan aura mengerikan membuat banyak orang tak akan berani datang ke wilayah itu. Tapi sayangnya memang tak ada seorang pun yang bisa ke sana maupun tinggal di sana. Karena tempat itu adalah Dunia Iblis. Dunia di mana para iblis tinggal dan menghabiskan hari-hari mereka sebagai seorang iblis. Dan di tempat itu pula dipimpin oleh raja iblis yang terkenal akan sifat ambisius dan kekejamannya.



Lelaki berambut coklat membuka sebuah pintu yang cukup besar di mana terdapat ukiran-ukiran yang tidak akan bisa di terjemahkan oleh manusia. Dengan suara denyitan, perlahan pintu itu terbuka. Pintu itu adalah pintu perbatasan antara istana di mana raja iblis tinggal dengan pemukiman tempat para iblis kelas bawah tinggal. Semua iblis sangat menghormati raja mereka. Tak ada yang berani menentang bahkan berdebat dengan keluarga kerajaan. Mereka tau betul hukuman apa yang akan mereka terima jika mereka menentang raja.



Lelaki tadi kembali membuka beberapa pintu, hingga sampailah ia di sebuah ruangan yang begitu luas, buku-buku tua dan beberapa lukisan menghiasi tempat itu. Tak ada lampu yang menerangi, hanya deretan obor yang memiliki api biru keunguan yang menjadi penerang ruangan.



"Mau apa kau kemari?" tanya sang raja, kepada lelaki di hadapannya.


Ruang itu memang ruang tempat raja iblis menghabiskan harinya untuk menggurus dunia yang ia pimpin.



"Ayah, bukankah ini sudah lebih dari sepuluh tahun? Kenapa kau tidak membawanya pulang kembali ke dunia iblis? Kurasa dia sudah banyak menderita di dunia manusia."



"Perintahku adalah mutlak. Dan tidak ada yang bisa menentangnya termasuk anakku sendiri. Dia sudah melanggar peraturan yang telah lama dibuat oleh raja terdahulu. Dan kurasa dia tidak ingin kembali ke dunia iblis lagi."



"Biarpun begitu dia tetaplah saudaraku."



"Kau dan dia lahir dari ibu yang berbeda."



"Tapi kita mimiliki ayah yang sama. Jadi dia tetaplah saudaraku."

__ADS_1



"Lebih baik kau berlatih dan tingkatkanlah kekuatanmu. Kau masih terlalu lemah untuk menjadi seorang raja."



"Aku tak pernah tertarik menjadi seorang raja." ucapnya acuh.



Api yang sedari tadi mengeliling raja, seketika membesar dan hampir menyelimuti seluruh ruangan yang raja dan lelaki berambut coklat itu tempati.



"APA KAU BILANG?!" suara gemuruh terdengar begitu keras.



"SEAN! BAGAIMANAPUN JUGA KAU HARUS MENJADI RAJA! KELUARLAH! AKU SEDANG TAK INGIN MELIHATMU!"




***



Jovian lebih memilih mengistirahatkan dirinya di bawah pohon yang rimbun dengan ditemani earphone hitam miliknya, daripada harus berlari-lari mengejar sebuah bola dan membuang bola itu ke tempat yang biasa orang menyebutnya sebagai ‘gawang’. Ia tak peduli jika wali kelas yang tak lain juga guru olahraganya itu menegurnya. Jovian hanya mau melakukan sesuatu, jika itu akan menghasilkan nilai untuknya. Tapi permainan sepak bola kali ini hanya sebuah pemanasan dan lelaki itu sama sekali tidak tertarik.



Sekitar lima ratus meter dari tempat Jovian memejamkan mata. Terlihat beberapa gadis yang sedang berkumpul di tepi lapangan, melihat ke arahnya.


__ADS_1


"Kau tau, dia memukul murid sekolah kita−lagi."



Beberapa gadis itu tampak terkejut dengan ucapan temannya.



"Benarkah? Jovian berkelahi lagi? Jika terus seperti itu dia pasti bisa dikeluarkan."



"Dia pasti punya alasan tersendiri memukul mereka." sahut Sung Ha yang membuat teman-temannya itu menoleh ke arahnya, mereka tidak menyadari kehadiran Sung Ha di samping mereka.



"Sejak kapan kau duduk di situ?"



"Sejak tadi, kenapa?"



"Tidak.. Tapi aku dengar dia berkelahi hanya karena sebuah kaleng minuman kosong. Bukankah itu berlebihan? Dan aku dengar murid itu sampai babak belur."



"Mengerikan.. Dia seperti iblis saja." teman yang lain pun ikut bersuara.


Sung Ha hanya diam mendengarkan setiap komentar yang keluar dari mulut teman-temannya itu. Saat ia melihat ke arah pohon, tempat Jovian tertidur. Lelaki itu telah pergi entah kemana.



__ADS_1


__ADS_2