
Berbeda dengan manusia kebanyakan Jovian memiliki indera pendengaran lebih tajam dari manusia pada umumnya. Tak bisa dipungkiri, ia bisa mendengar para gadis yang mengatainya seorang iblis dengan sangat jelas. Tak mau mendengarnya, ia lebih memilih untuk kembali ke kelas dan tidur di sana.
"Jovian!" Jovian menghentikan langkahnya saat ia mendengar suara gadis memanggil namanya. Gadis itu mendekati Jovian dan tersenyum padanya.
"Sudah kuduga, kau tak akan ikut jam olahraga." gadis itu masih menunjukkan senyumnya.
"Kenapa kau selalu mendekatiku? Kau tidak takut padaku?" tanya Jovian yang mendapat balasan tertawa geli dari gadis tadi.
"Takut? Kenapa aku harus takut padamu? Memang kau hantu?"
Jovian menatap Ahri lekat. Ia satu-satunya gadis yang tidak akan menjauh walaupun ia tau bagaimana sifat Jovian selama ini. Lebih tepatnya, hanya dialah satu-satunya orang yang berani berbincang dengannya.
"Kau tidak ada kelas?" tanya Jovian sembari berjalan bersama Ahri menuju kelasnya.
"Guru di kelasku tidak masuk, jadi aku tidak ada kelas."
Ahri duduk di bangku yang terletak di samping Jovian. Suasana kelas terlihat sepi karena seluruh murid kelas 11-3 masih berada di lapangan. Hanya terdapat Jovian dan Ahri di sana.
"Jovian bolehkah aku ke rumahmu?" Jovian menatap gadis itu tajam.
"Hei, Jangan menatapku seperti itu."
"Kau tak perlu ke rumahku." ucap Jovian dingin. Lelaki itu kembali memasangkan earphone miliknya ke telinganya.
"Pergilah. Jangan ganggu aku."
"Ya! Kenapa?! Kenapa kau selalu melarangku ke rumahmu?! Kau bukan gelandangan kan? Kau punya keluarga dan rumah kan?"
Jovian menendang meja yang berada tepat di hadapannya hingga membuat beberapa meja yang ada di baris depannya ikut berantakan. Lelaki itu tak pernah suka jika ada seseorang yang menanyakan hal-hal pribadi seperti itu padanya.
"Apakah kau tidak bisa diam?! Jangan pernah urusi urusanku. Pergilah." ucap Jovian tajam.
Ahri melihat Jovian sinis, sedari awal ia memang sudah mempersiapkan dirinya untuk dibentak oleh Jovian. Tapi, ini semua ia lakukan untuk sebuah tujuan yang telah ia atur dengan seseorang.
__ADS_1
"Baiklah," Ahri menunjukkan senyum palsunya itu kembali. "Aku tidak akan memaksamu, tapi cepat atau lambat kau harus memberitauku, mengerti?" "Aku kembali ke kelas dulu." pamit Ahri
Jovian masih saja mengabaikan apa yang dikatakan Ahri. Gadis itu pergi dengan senyum meremeh yang terukir di wajahnya.
"Jika bukan karena dia, aku tak akan mau mendekatimu, bahkan berbicara denganmu." ucapnya pelan setelah benar-benar keluar dari kelas.
Jovian melirik ke arah pintu yang baru saja dilewati oleh Ahri. Jovian sudah tau sejak lama jika Ahri baik padanya bukan karena ia benar-benar peduli ataupun ingin berteman dengannya. Gadis itu adalah pacar dari salah satu lelaki yang pernah babak belur di tangan Jovian.
Sung Ha membuka pintu kelas dan mendapati Jovian tengah melakukan kebiasaannya sehari-harinya −Tidur di kelas dengan kaki di atas meja−. Tak mau mempedulikannya ia segera melakukan tujuan awalnya datang ke kelas. Yaitu mengambil botol minum milik temannya, Hana. Jovian membuka matanya perlahan dan melirik gadis yang tengah mengambil botol minum dari sebuah tas.
"Apakah jam olahraga telah berakhir?" tanya Jovian dengan ekspresi wajah biasanya.
Walaupun ekpresinya biasa, wajah itu tetap saja terkesan dingin dan sangat datar. Sung Ha tersentak saat suara berat Jovian terdengar di telinganya. Walaupun mereka di kelas yang sama, mereka belum pernah berbincang sama sekali.
"Be-belum, aku hanya mengambilkan botol minum milik Hana." jawab Sung Ha sedikit gugup.
Jovian kembali menutup matanya setelah mendengar jawaban itu. Saat Sung Ha akan pergi ia menunda niatnya dan berjalan mendekati Jovian.
Lelaki itu membuka mata dan melirik Sung Ha yang sudah berdiri di dekat bangkunya. Perlahan Sung Ha mulai membuka mulutnya dan mengatakan apa yang memang sudah lama ingin ia katakan pada Jovian.
"Aku.. Aku ingin berterima kasih padamu karena kau telah menyelamatkanku waktu itu. Jika kau tak ada, mungkin aku tidak akan bisa bernafas bebas di sini." masih tidak menurunkan kakinya lelaki itu melepas earphone yang tadi melekat di kepalanya.
"Memang kapan aku pernah menyelamatkanmu?"
"Apakah kau tidak ingat? Malam itu, di sebuah gang, kau menghajar dua orang pria yang terus saja mengejarku." Jovian tersenyum remeh.
"Aku terlalu sering memukul orang, jadi aku tak mengingatnya. Tapi, aku hanya menghajar orang jika orang itu menggangguku. Dan aku tak pernah merasa menyelamatkanmu."
Jelas-jelas lelaki malam itu adalah Jovian. Sung Ha sangat yakin akan hal itu, karena ia melihatnya sendiri. Rambut pirangnya yang tersapu oleh angin malam dan mata itu. Mata yang tidak dimiliki oleh orang lain.
"Tapi aku sangat yakin jika lelaki malam itu adalah kau.. Dan.." Sung Ha ragu untuk mengatakannya, tapi ia hanya ingin tau apakah yang ia lihat malam itu nyata atau hanya imajinasinya semata.
__ADS_1
"Dan aku melihat sepasang sayap hitam muncul dari punggungmu.." lanjutnya.
Jovian terbelak mendengar ucapan Sung Ha barusan. Kenapa dia bisa melihatnya? Lelaki itu menurunkan kakinya. Raut wajah Jovian berubah serius.
"Kau bisa melihatnya?" tanya Jovian memastikan apakah pendengarannya salah atau tidak. Walaupun ia tau bahwa ia tak akan salah mendengar.
Sung Ha mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Jovian.
Sung Ha menatap Jovian aneh. Ini pertama kalinya ia melihat ekspresi Jovian seperti itu. Mata gadis terbelak melihat sayap hitam dengan sedikit api biru tiba-tiba keluar dari punggung Jovian. Sayap yang sama seperti yang ia lihat malam itu. Hampir saja Sung Ha berteriak namun dengan cepat Jovian membungkam mulut Sung Ha dengan tangannya dan menyuruhnya untuk tidak berteriak.
"Kau benar-benar bisa melihatnya?" tanya Jovian memastikan.
Sung Ha hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Jovian. Lelaki itu melepaskan tangannya yang membungkam mulut Sung Ha lalu mengangkat sebelah sudut bibirnya, membuat sebuah senyuman. Sayap di punggung lelaki itu perlahan menghilang.
"Menarik." ucapnya, Sung Ha menatap Jovian dengan penuh kebingungan dan tanda tanya.
"K-kenapa kau memiliki sayap seperti itu? Siapa kau sebenarnya?" tanya Sung Ha.
Hana membuka pintu kelasnya. Ia memutuskan untuk mengambil sendiri air minumnya karena Sung Ha tak kunjung kembali ke lapangan. Ia melihat sesosok gadis yang tengah berdiri.
"Ya! Sung Ha kenapa kau lama−"
Hana menutup mulutnya segera dengan tangannya saat mendapati Sung Ha dan Jovian melihat ke arahnya. Hana tak melihat kehadiran Jovian tadi, karena tertutup oleh tubuh Sung Ha.
"M-maafkan aku." gadis itu takut jika kehadirannya mengganggu Jovian. Tak mau mengambil resiko ia segera pergi dan kembali ke lapangan bersama yang lain.
"Sepertinya kau sudah ditunggu. Lain kali kita bicarakan hal ini."
Jovian kembali memasang earphonenya, menaikkan kakinya ke meja dan melipat kedua tangannya di bawah dada lalu memejamkan matanya.
Walaupun pertanyaannya belum terjawab, Sung Ha pergi begitu saja dengan membawa botol minum di tangannya. Merasa gadis itu telah pergi Jovian perlahan membuka matanya kembali. Kedua tangan itu beralih ke belakang kepala, ditatapnya langit-langit kelas yang berwarna putih usam.
"Tak kusangka sudah sepuluh tahun berlalu semenjak ada manusia yang bisa melihat sayapku."
__ADS_1
***