Devil Child

Devil Child
Chapter 37


__ADS_3

Sung Ha mengambil jaketnya dan segera keluar. Sudah tiga jam yang lalu Sung Ha kembali, tapi hingga sekarang Jovian juga belum pulang. Ditambah jam yang telah menunjukkan pukul 11 malam.



"Aisshh kenapa dia selalu membuatku khawatir."



Di sepanjang jalan Sung Ha mengerutu karena ulah Jovian yang suka pergi dan tiba-tiba terluka. Itu membuat Sung Ha selalu mengkhawatirkannya.



Sung Ha terus saja mengedarkan pandangannya. Gadis itu menyipitkan pandangannya saat melihat sebuah cahaya biru di sebuah bangku yang masih cukup jauh dari tempatnya berdiri.



Dengan ragu Sung Ha mendekati bangku taman itu. Dan didapatilah sesosok lelaki dengan sayap iblisnya tengah berbaring di sana.



"Kenapa kau tidur di sini?!"



Jovian mengerjapkan matanya saat mendengar suara yang tak asing baginya. Tangan Jovian meraih tangan Sung Ha dan menarik gadis itu di pelukannya. Kepala gadis itu tepat berada di dada Jovian.



"Apa yang kau lakukan?"



Sung Ha menarik tubuhnya, tapi kepala Sung Ha tertahan oleh tangan milik Jovian.



Jovian memejamkan matanya.



"Hanya sebentar.." lirih Jovian.



Sung Ha hanya bisa terdiam. Detak jantungnya mulai berdetak tak normal.



Di bawah cahaya bulan kedua sosok itu masih menidurkan dirinya di sebuah bangku yang ada di pinggir jalan.



"Maaf.." ucap Jovian pelan.



"Kenapa?" tanya Sung Ha karena bingung kenapa Jovian meminta maaf padanya.



Lelaki itu membuka matanya dan menatap langit malam yang terhiasi banyak bintang.



"Bolehkah aku tidur di pangkuanmu?"



Jovian membiarkan Sung Ha untuk berdiri. Dengan sedikit ragu Sung Ha akhirnya mengabulkan permintaan Jovian itu. Jovian terus saja memandangi wajah Sung Ha yang sekarang tepat di atasnya.



"Apakah kau minum? Kau bau alkohol." tanya Sung Ha yang memang sudah ingin ia tanyakan semenjak Jovian memeluknya tadi.



Jovian hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.



"Jangan tinggalkan aku.."



Sung Ha menatap wajah Jovian yang sedari tadi telah menatapnya.



"Aku tak akan meninggalkanmu."



Jovian memejamkan matanya hingga ia tertidur di pangkuan Sung Ha.



Sung Ha terus saja menatap wajah lelaki yang ada di pangkuannya. Ia tak ingin kehilangan lelaki itu. Sung Ha menghela nafasnya. Matanya memerah menahan air mata yang mendesak keluar.



"Aku.. Akan tetap bersamamu hingga aku berumur 18 tahun."



Air mata Sung Ha mulai menetes. Dengan cepat ia menyekanya agar tak jatuh dan mengenai wajah Jovian.



Saat Sung Ha berkunjung ke rumah Min Ri pada akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti apa yang ibunya mau. Walaupun berat ia harus bisa menerima kenyataan bahwa dirinya berbeda dengan Jovian. Jika dirinya tetap bersama, kelak anak mereka akan memiliki penderitaan yang sama dengan yang dimiliki Sung Ha.



Perlahan Sung Ha menyeka rambut Jovian.



"Maaf.."



Tangan Sung Ha beralih menyentuh pipi kanan Jovian. Apakah dia berkelahi? Terdapat sedikit memar di pipi itu.



Cahaya keluar menyelimuti luka memar yang ada di pipi Jovian.



"Kau selalu membuatku khawatir.." ucap Sung Ha pelan.



Hari dimi hari Sung Ha jalani seperti biasa. Ia menuruti nasehat dari Min Ri maupun ibunya untuk tidak mengeluarkan kekuatan iblis.



Sung Ha melirik Jovian yang duduk di sebelahnya. Dua minggu lagi, Sung Ha akan pergi dari sisi lelaki itu. Ia tak tau bangaimana cara untuk mengatakannya. Oleh karena itu ia memutuskan akan pergi tanpa memberitau Jovian.

__ADS_1



Merasa ada yang sedang memandanginya, Jovian berhenti menulis. Ia melihat ke arah Sung Ha. Jovian merasa ada beberapa hal dari Sung Ha yang berubah. Gadis itu menjadi sedikit pemurung.



Setelah pulang sekolah Sung Ha segera mengemasi barang-barangnya. Min Ri menghampiri Sung Ha, walaupun belum lama terdengar tanda bel pulang tapi kelas sudah hampir kosong sepenuhnya.



"Sung Ha bagaimana jika kau berkunjung ke rumahku hari ini?"



Jovian bangkit sari duduknya ia mengambil tasnya dan mengaitkannya ke pundak kanannya.



"Ayo pulang." ucapnya pada Sung Ha.



"Kau duluan saja aku ingin ke rumah Min Ri."



Min Ri terdiam saat ia merasa sebuah suara terngiang di pikirannya. Ia terbelak saat mengerti suara apa itu. Itu adalah tanda bahaya yang di siarkan untuk para malaikat yang ada di dunia manusia melalui telepati.



‘Seluruh pasukan! Lupakan misi kalian! Segera pergi ke perbatasan dunia malaikat dan dunia iblis. Ini keadaan darurat!’



Setidaknya itulah yang dapat Min Ri dengar.



Melihat Min Ri terdiam Sung Ha pun menyadarkannya.



"Ada apa?"



"Sung Ha. Aku harus pergi. Seluruh malaikat di tarik untuk ke perbatasan. Sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi."



Min Ri segera berlari meninggalkan Sung Ha dan Jovian. Sedari awal saat Min Jin diperintahkan untuk ke perbatasan, Min Ri sudah memiliki firsat bahwa ada sesuatu di sana.



"Perbatasan?" gumam Jovian pelan. Apakah ini ada hubungannya dengan bangsa iblis?



"Jovian ayo pulang. Sepertinya hari ini kau sedang beruntung." Sung Ha melangkah terlebih dahulu di ikuti Jovian di belakangnya.





***






"Apa yang terjadi? Dan apa itu?" tanya Min Ri yang masih menatap sebuah lingkaran bersar berwarna hitam menempel di dinding perbatasan yang bahkan tak terlihat seberapa tinggi dinding itu. Dinding itu seperti tak memiliki ujung.



"Sepertinya bangsa iblis mencoba menjebol dinding. Semakin hari lingkaran hitam itu semakin bertambah besar hingga puncaknya hari ini, sesosok iblis api merah muncul dari lubang hitam itu."



"Maksudmu kita di serang?"



"Ya. Seluruh malaikat dikumpulkan untuk menutup dinding itu karena jika tidak makan bangsa iblis akan masuk ke dunia kita."



Savaredia berjalan mendekat ke lubang hitam itu. Apakah ia tak salah lihat? Kenapa bangsa iblis bisa melakukan tindakan itu?



"Ini darurat! Seluruh pasukan bersiaga! Lenyapkan iblis yang keluar dari lubang itu! Jangan biarkan satu pun iblis masuk ke pemukiman!" perintah Savaredia yang dengan segera di laksanakan para pasukannya.



Percuma. Lubang hitam itu tak akan pernah bisa tertutup sebelum bisa mengalahkan sang pembuatnya. Savaredia masih memikirkan apa tujuan sebenarnya bangsa iblis membuat lubang itu. Apakah mereka benar-benar ingin menyerang dunia malaikat?



Di sisi lain, di dunia iblis. Sean menyeringai saat mendengar apa yang baru saja di katakan ratu malaikat. Di hadapannya sekarang sebuah lingkaran hitam besar yang ia ciptakan sejak lama.



"Sebentar lagi ini sempurna." ucapnya pada lelaki di sampingnya.



Di belakang Sean, telah berdiri ribuan ahh tidak, lebih tepatnya jutaan prajurit yang sengaja ia siapkan selama ini. Dan yang terspesial adalah dua iblis yang saat ini berdiri di kiri Sean. Dua iblis yang Sean ciptakan dari penemuan yang ia lakukan bersama ayah Taeyun dan beberapa peneliti yang bekerja sama dengannya.



"Setelah lubang ini berubah warna. Mulailah mengirim iblis ke sana." perintahnya pada ayah Taeyun. "Dan kalian." Sean menatap kedua iblis kesayangannya. "Kalian akan bertindak setelah aku memerintakhanmu."



"Baik." ucap kedua iblis itu kompak.



Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Tepat sehari setelah kemunculan iblis pertama yang melewati lubang itu. Perlahan tapi pasti lubang itu mulai berubah warna menjadi biru keunguan.



Para prajurit malaikat terus berjaga, mengawasi setiap perubahan yang terjadi di dinding di hadapan mereka.



Min Ri dan Min Jin yang memang ikut dalam pertempuran itu telah bersiap siaga jikalau ada iblis yang muncul.



Sesosok iblis muncul dari lubang yang telah berubah warna dari warna semulanya. Iblis itu tak sendiri, di belakangnya telah muncul ratusan iblis yang memiliki wujud yang hampir sama.

__ADS_1



Satu persatu para malaikat mulai menyerang, mempertahankan dunia mereka yang tengah diserang.



Berjam-jam mereka telah bertarung tapi tetap saja iblis-iblis itu tak kunjung habis. Min Ri dan Min Jin berdiri berlawanan, punggung mereka menempel satu sama lain, memperhatikan iblis-iblis yang sedang mengelilingi mereka.



Nafas Min Ri terengah-engah, ia sudah terlalu lelah dan kekuatannya pun mulai menipis.



"Min Ri bertahanlah. Kita selesaikan ini secepatnya." ucap Min Jin memberi semangat bagi MinRi.



Dengan pedang yang tiba-tiba muncul dari tangan Min Jin satu persatu iblis itu tertebas dan berubah menjadi debu.



Min Ri menebas setiap iblis yang ada di hadapannya. Ia tak boleh menyerah. Ini semua demi dunia yang sangat ia cintai. Di dunia ini Min Ri dan Min Jin dilahirkan. Dan menjadi prajurit adalah impiannya sejak kecil.



Min Ri menurunkan pedangnya saat ia telah selesai memusnahkan iblis yang ada di hadapannya. Ia segera berbalik dan menghampiri kembarannya itu.



"Ini tak ada habisnya."



Min Jin melihat keadaan sekelilingnya. Begitu kacau. Tak sedikit dari prajurit malaikat telah menjadi korban.



"Kita harus ke dunia iblis dan menghentikan lubang itu."



"Kau gila?! Itu sangat berbahaya!"



"Tapi itulah satu-satunya jalan untuk menghentikan ini." Min Jin meluncur ke arah lupang itu.



"Ya! Min Jin! Jangan lakukan itu!" berulangkali Min Ri meneriaki lelaki itu tapi tetap saja percuma. Kembarannya yang keras kepala memang sering tak mendengarkan perkataannya.



Dari kejauhan Savaredia dapat melihat salah satu dari prajuritnya mendekat ke arah lubang.



"Mau apa dia?"



Mata Savaredia sekarang tertuju kepada gadis yang sedang mengejar lelaki tadi. Apakah mereka?!



"Kalian hentika mereka! Jangan biarkan mereka masuk ke dunia iblis!" perintahnya kepada dua pengawal yang ada di belakangnya.



"Min Jin!"



Min Ri terbang mengikuti lelaki itu. Ia tak akan membiarkan lelaki itu memasuki lubang yang menghubungkannya ke dunia iblis. Itu sangat berbahaya!



Mata Min Ri terbelak saat menlihat Min Jin masuk ke dalam lubang biru itu. Dengan cepat ia terbang mengikutinya tapi tubuhnya dihadang oleh dua malaikat.



"Hentikan itu berbahaya!"



Air mata Min Ri tumpah. Ia tak ingin kehilangan saudaranya itu.



"Aku harus menyusulnya!" Min Ri memberontak tapi kedua malaikat itu tetap membawanya menjauhi lubang.



Min Ri menangis melihat lubang berwarna biru keunguan itu. Ia masih tak percaya jika saudara kembarnya masuk ke sana.



"Dia terlalu nekat." gumam Savaredia yang berdiri di dekat Min Ri.



"Aku akan pergi ke sana." Min Ri bersiap akan pergi tapi ia kembali di hadang oleh malaikat yang sama.



"Kau jangan ceroboh."



Min Ri terjatuh. Kedua kakinya melemas. Ia tak bisa membayangkan jika ia kehilangan Min Jin nantinya. Gadis itu teringat akan sesuatu. Jovian. Dia mungkin satu-satunya iblis yang bisa menolong Min Jin. Ia tak peduli walaupun ia harus bersujud meminta pertolongan kepada lelaki itu.



Min Ri bangkit dari duduknya.



"Aku ingin ke dunia manusia."



"Untuk apa?" tanya Savaredia.



"Untuk menjaga Sung Ha." jawabnya membuat alasan supaya dirinya bisa pergi. Savaredia menatap Min Ri. Ia belum lupa akan misi yang ia berika kepada Min Ri untuk menjaga anaknya.



"Pergilah."



Min Ri segera berlari meninggalkan tempat itu untuk pergi ke dunia manusia.


__ADS_1



__ADS_2