Devil Child

Devil Child
Chapter 31


__ADS_3

Ayah Taeyun masuk ke sebuah ruangan yang di kelilingi oleh api biru. Di ruangan itu hanya ada dirinya dan sesosok lelaki.



"Aku telah membawakannya."



"Bawa masuk."



"Ya."



Ayah Taeyun kembali membuka pintu di mana ia masuk tadi. Tiga iblis secara bersamaan masuk dengan membawa sebuah tabung besar yang berwarna biru.



"Apakah ini.."



Sean berjalan mendekati tabung itu sesaat setelah ketiga iblis itu menaruhnya di hadapannya.



"Ya. Ini milik Ky."



Sean menyeringai. Ia terlalu bahagia melihat benda biru yang ada di hadapannya.



"Kau bisa pergi sekarang." perintahnya pada ayah Taeyun dan ketiga iblis tadi.



Sean mengusap pelan tabung yang ada di hadapnannya. Lelaki itu tampak sangat mengagumi benda berwarna biru itu.



"Ky.. Kau memang bisa diandalkan."





***





Sung Ha terus saja menggenggam tangan Jovian yang terasa sangat dingin. Sudah tiga hari berselang. Namun kekhawatiran Sung Ha terhadap Jovian semakin bertambah, karena lelaki itu masih tak menunjukkan perubahan. Wajah lelaki itu masih pucat, tubuhnya pun dingin dan detak jantungnya yang masih lemah. Sampai hari itu juga Jovian belum juga membuka matanya, dan itu membuat Sung Ha ingin menangis.



"Jovian.."



Air mata Sung Ha akhirnya tumpah saat ia merasa takut jika ia harus kehilangan Jovian. Di kecupnya tangan kanan Jovian yang masih ia genggam dengan penuh harapan.



"Aku mohon.. Bangunlah.."



Air mata Sung Ha semakin tumpah saat ia merasakan sesak di dalam hatinya. Ia menangis dalam diam. Bagaimanapun juga Sung Ha tak ingin jika Min Jin ataupun Min Ri terganggu akan suara tangisannya.



Tanpa Sung Ha sadari Min Jin dan Min Ri telah memperhatikannya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Bukan berniat mengintip ataupun menguping, hanya saja saat mereka ingin melihat kondisi Jovian mereka mengurungkan niatnya saat mendengar suara Sung Ha yang sangat jelas terdengar parau.



Perlahan Min Jin menutup pintu itu dan membiarkan Sung Ha menangis. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan saat ini.



Sung Ha mengusap air matanya, ia menghela nafasnya, mencoba menenangkan diri. Tapi tetap tak bisa, air mata itu tetap mendesak keluar dan pada akhirnya ia kembali menangis.



Beberapa tetes air mata menetes membasahi tangan Jovian.



"Jovian.."





***





Jovian duduk terdiam di sebuah ruangan yang gelap gulita. Hanya sebuah api biru kecil yang ada di hadapannya yang menjadi penerang.



Ia terdiam mematung tak tau apa yang ada di pikirannya. Berulangkali ia mendengar seseorang memanggil namanya, tapi ia tetap terdiam dan lebih memilih memandangi api biru di depannya tanpa mengedip.



Tes



Jovian mengerjapkan matanya saat suara tetesan air tertangkap oleh indera pendengarannya.



"Jovian.."



Lelaki itu kembali mendengar seseorang memanggil namanya, kali ini lebih jelas terdengar.



Tes



Perlahan Jovian menoleh ke kanan saat tetesan air itu kembali terdengar. Ia terdiam, tak ada yang bisa ia lihat, hanya kegelapan yang ada.



Api biru yang ada di hadapan Jovian mulai berkobar menjadi lebih besar. Bak api yang diberi minyak sedikit demi sedikit.



"Jovian.."



Jovian bangkit dari duduknya. Perlahan ia berjalan ke arah suara, meninggalkan api yang mulai membesar itu. Langkah demi langkah Jovian berjalan, api biru itu semakin membesar, memperjelas arah pandang Jovian.


__ADS_1


Jovian menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis mengulurkan tangannya padanya. Gadis itu tersenyum pada Jovian.



Perlahan tangan Jovian bergerak meraih tangan yang terulur padanya. Seketika api biru yang sudah cukup jauh di belakang Jovian membesar dengan cepat dan memenuhi ruangan itu.



Jovian membuka matanya perlahan. Ia melihat ke arah kanannya dan terdapat seorang gadis yang sedang menangis menggengam tangannya.



"Sung Ha.." panggil Jovian lirih yang bahkan sulit didengar oleh pemilik nama.



Tangan kanan Jovian yang sedari tadi Sung Ha genggam berubah menjadi Jovian menggengam tangan Sung Ha yang seketika membuat Sung Ha terkejut dan menoleh ke arah Jovian.



"Kau membasahi tanganku." ucap Jovian cukup keras, setidaknya bisa didengar oleh Sung Ha.



Sung Ha masih terdiam. Apakah lelaki di hadapannya saat ini telah sadar? Apakah dia bermimpi?



"Jovian.."



"Ya?"



Sung Ha segera memeluk Jovian yang masih berbaring di ranjang. Air matanya terus mengalir di pelukan Jovian.



"Jovian."



Jovian terkejut saat Sung Ha tiba-tiba memeluknya dan menangis.



"Jangan tinggalkan aku.." ucap Sung Ha disela tangisannya.



Jovian mengelus kepala Sung Ha. "Aku tak akan meninggalkanmu. Sekarang bangunlah, kau membasahi bajuku."





-Maaf-





Jovian mengambil sepotong daging dengan sumpitnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Ia sedang duduk menikmati makanan yang ada dihadapannya. Jovian meenghentikan makannya dan menaruh sumpit itu di dekat mangkuk yang masih terisi banyak nasi.



"Aku tak bisa makan jika kalian memandangiku seperti itu." ucapnya pada ketiga pasang mata yang terus saja memandanginya.



Ketiga orang itu tersentak dan melanjutkan makan mereka yang belum tersentuh.




"Sudah ku bilang aku tak ingin membahasnya."



Jovian bangkit dari duduknya.



"Ayo pergi." ucapnya pada Sung Ha yang masih duduk di kursinya.



"Sekarang?"



"Ya."



"Tapi.." Sung Ha menoleh ke arah Min Ri dan Min Jin.



Min Jin bangkit dari duduknya.



"Pergilah." ucapnya dan pergi meninggalkan meja makan.



Min Ri yang melihatnya segera mengikuti Min Jin masuk ke kamar lelaki itu.



Jovian dan Sung Ha keluar dari rumah itu. Dari lantai dua bisa dilihat Min Jin dan Min Ri memandangi kedua sosok yang baru saja keluar dari rumah mereka.



"Apakah kita benar-benar akan melepaskannya?" tanya Min Ri.



"Min Ri, menurutmu kenapa kita harus membunuh Sung Ha?"



"Bukankah sudah jelas, karena Sung Ha adalah makhluk yang tidak di harapkan keberadaannya."



"Apakah kau tau siapa ibu Sung Ha?"



Min Ri menatap lelaki di sampingnya bingung.



"Apa maksudmu?"



"Kau taukan kita tak bisa melihat aura, itulah yang membuat kita tak menyadarinya." Min Jin menatap Min Ri dalam. "Dia adalah anak dari Ratu." lanjutnya.



Min Ri mengerutkan dahinya tak mengerti. Kenapa Min Jin bisa berpikir seberti itu.



Min Jin kembali mengarahkan pandangannya ke arah Sung Ha yang keluar dari area rumahnya.

__ADS_1



"Kau ingat saat aku melihat aura Jovian setelah ia sadar tadi? Secara tak sengaja aku melihat aura milik Sung Ha. Selain memiliki cahaya yang sama dengan yang dimiliki Ratu. Dia memiliki api yang sama dengan Jovian."



Mata Min Ri terbelak. Ia terkejut.



"Maksudmu dia.."



"Ya. Dia juga keturunan iblis kerajaan."



"Tapi jika dia anak ratu kenapa ratu memerintahkan kita untuk membunuhnya?"



"Sebaiknya kita kembali ke dunia malaikat."



"Lalu bagaimana dengan misi kita? Bukankah kita tak diperbolehkan kembali sebelum menyelesaikan misi?"



"Untuk masalah itu biar aku yang mengurusnya."





***





Sung Ha berjalan mengikuti Jovian. Mata gadis itu tak pernah luput dari sosok yang ada di depannya. Ia merasa sudah lama ia tidak berjalan berdua seperti ini. Langkah Jovian terhenti tepat di bawah sebuah pohon maple berdaun orange.



"Ada apa?" tanya Sung Ha yang ikut berhenti.



Jovian berbalik dan menatap Sung Ha. Di bawah pohon itu mereka saling bertatapan. Jovian terdiam hingga akhirnya ia membuka mulutnya.



"Malam sebelum kau menemukanku, apakah kau keluar dari rumah?"



Mendengar pertanyaan Jovian, Sung Ha berpikir sejenak, sembari mengingat kejarian malam itu.



"Karena kau tak ada jadi aku keluar mencarimu. Kenapa?"



"Apakah malam itu kau terluka?"



Sung Ha kembali mengingat-ingat kejadian waktu itu.



"Iya. Tapi itu hanya luka kecil, kau tak perlu khawatir."



Dada Jovian terasa terpukul akan suatu benda. Bukan masalah kekhawatiran yang Jovian perdebatkan, tapi masalah gadis yang ia lihat terakhir kali sebelum ia tersadar di dunia iblis. Gadis yang menusuknya di taman, Sung Ha.



"Apakah kau yang berada di taman waktu itu?" tanyanya sekali lagi.



"Taman? Ya, malam itu aku juga ke taman. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"



"Jadi benar itu kau. Kenapa kau melakukannya? Apakah aku terlalu memaksamu hingga kau ingin membunuhku?"



Jovian menatap Sung Ha tajam. Tatapan yang sudah lama tak Sung Ha dapatkan sekarang kembali ia dapatkan.



"Apa.. Apa maksudmu?"



Tubuh Sung Ha bergetar melihat tatapan yang diberikan Jovian padanya. Entah kenapa ia merasa bahwa Jovian sedang marah padanya. Apa yang membuat lelaki itu marah? Apakah ia membuat kesalahan?



"Kau pikir kau siapa? Anak dari Kakakku? Ne, kau memang anak dari Kakakku, tapi bukan berarti kau bisa berbuat sesukamu padaku!"



"Jovian.." panggil Sung Ha lirih. Mata Sung Ha mulai memerah menahan desakan air yang ingin keluar dari matanya.



"Kau. Sedari awal kau memang tak boleh terlahir di dunia manapun."



Air mata Sung Ha yang sedari awal berusaha ia tahan akhirnya tumpah. Dada gadis itu sesak mendengar kata demi kata yang diucapkan lelaki di hadapannya.



Jovian berbalik meninggalkan Sung Ha yang masih berdiri mematung. Satu demi satu daun maple berwarna oren itu jatuh tertiup angin. Sung Ha hanya memandang kosong punggung lelaki yang berjalan meninggalkannya.



'Sedari awal kau memang tak boleh terlahir di dunia manapun.'



Kata-kata itu terngiang berulang kali di kepala Sung Ha bagaikan suara menakutkan yang telah menghantuya. Debu hitam tipis mulai menyelimuti tubuh Sung Ha yang masih berdiri mematung.



Dengan tatapan kosong Sung Ha mencoba membuka pintu di hadapannya, pintu rumahnya sendiri. Tapi itu semua percuma karena Sung Ha tak membawa kunci pintu itu. Kunci itu sekarang berada di laci kamarnya di rumah Jovian.



Karena pintu itu tak bisa terbuka Sung Ha berjalan ke taman belakang rumahnya. Sudah lama ia tidak mengunjungi rumahnya.



Gadis itu duduk di sebuah ayunan yang memang menjadi wahana kesukaannya dulu saat orang tuanya masih hidup. Perlahan ayunan itu mulai mengayun. Sung Ha hanya menatap nanar sebuah pohon bunga cosmos yang tak jauh darinya. Taman itu memiliki cukup banyak bunga berwarna pink tua



Satu persatu bunga-bunga itu layu dan mengering diikuti tubuh Sung Ha yang semakin diselimuti oleh debu hitam.



__ADS_1



__ADS_2