
Jovian memejamkan matanya membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya. Aroma shampo yang khas tercium di seluruh sudut ruangan yang tak terlalu besar itu. Jovian mengacak rambutnya membersihkan sisa-sisa shampo yang masih tertinggal. Lelaki itu mematikan shower itu dan keluar hanya memakai handuk di lehernya dan tubuh bagian bawahnya.
Dengan kasar ia mengusap rambutnya dengan handuk. Dan mengambil air minum di kulkas lalu meminumnya. Sorot mata lelaki itu beralih ke sebuah pintu di dekat kamarnya. Perlahan pintu itu lenyap digantikan sebuah lukisan yang indah.
Jovian masuk ke kamarnya. Setelah memakai baju lelaki itu berbaring dan memejamkan matanya, berusahan menghilangkan perasaan aneh yang sedari tadi ia rasakan. Di dalam hatinya, Jovian merasa sangat khawatir karena sedari tadi ia merasakan aura iblis Sung Ha.
Setengah jam sudah Jovian diam menatap langit-langit kamarnya. Kekhawatirannya sudah pada batasnya saat aura Sung Ha semakin kuat Jovian rasakan.
Dengan kasar lelaki itu mengambil jaketnya dan keluar dari rumahnya. Jantungnya tak berhenti berdetak cepat karena perasaan khawatirnya itu. Ia mengeluarkan sayapnya dan segera terbang ke tempat di mana aura itu berasal.
Jovian berhenti di depan sebuah bangunan yang tak lain adalah rumah milik Sung Ha. Dalam perjalanan, Jovian menyadari bahwa dirinya telah keterlaluan terhadap Sung Ha. Tak seharusnya ia berbicara seperti itu pada Sung Ha.
Jovian melangkahkan kakinya ke sebuah jalan kecil menuju taman belakang. Kedua mata Jovian melebar mendapati sosok gadis yang duduk di ayunan dengan sayap hitam yang ada di punggungnya. Tampak api biru keunguan menghiasi sayap hitam itu. Beberapa tanaman di sekitar gadis itu juga terlihat mati mengering.
"Sung Ha.." panggil Jovian.
Dengan tatapan kosongnya Sung Ha menoleh. Jovian berjalan mendekati Sung Ha tapi langkah lelaki itu terhalang oleh kobaran api yang tiba-tiba muncul di hadapannya seolah tak membiarkannya untuk mendekati Sung Ha.
"Pergi." ucap Sung Ha dengan nada yang pertamakali Jovian dengar.
"Maafkan aku. Aku tak bermaksud berbicara seperti itu. Baiklah, sekarang tenangkanlah pikiranmu."
"Aku bilang PERGI!" api yang ada di hadapan Jovian membesar membentuk sebuah dinding yang cukup tinggi.
Jovian mengeluarkan sayapnya. Dengan apinya ia membelah dinding api itu menjadi dua, membukakan jalan untuknya.
"Dengarkan aku! Kendalikanlah kekuatanmu!"
"Apakah kau tau perasaanku?" air mata Sung Ha kembali menetes. "Apakah kau tau bagaimana rasanya menjadi malaikat setengah iblis sepertiku? Apakah kau tau bagaimana rasanya mengkhawatirkan orang yang bahkan tak ingin kau hidup?!"
Jovian kembali melangkahkan kakinya mendekati Sung Ha.
"Dan apakah kau tau bagaimana rasanya tidak diharapkan di dunia ini?"
Jovian berhenti. Ia menatap wajah Sung Ha yang sendu dengan penuh rasa penyesalan.
"Maaf." ia benar-benar merasa bersalah kepada Sung Ha.
"Aku tak ingin melihatmu."
Jovian kembali mendekat dan bersamaan api biru muncul membuat sebuah lingkaran yang mengelilingi tempat Sung Ha duduk. Jovian tak memedulikannya, sayap lelaki itu menghilang. Lelaki itu menerobos api Sung Ha tanpa mengeluarkan kekuatan sedikit pun. Beberapa luka bakar bermunculan di tubuh Jovian.
Lelaki itu menarik tubuh Sung Ha kedalam dekapannya. Gadis itu meronta tapi Jovian tetap memeluknya tanpa mau melepaskannya.
"Tenanglah." gumamnya lembut.
Sung Ha terdiam ia menangis di pelukan Jovian.
"Aku selalu bersyukur kau ada di dunia ini." Ucap Jovian. Lelaki itu telah melupakan kejadian di taman. Bagaimanapun juga Sung Ha lebih penting baginya daripada kekuatannya.
Api yang ada di sekeliling mereka menghilang diikuti dengan menghilangnya sayap hitam Sung Ha.
***
Jovian terus saja menatap wajah Sung Ha yang tengah mengobati luka di tubuhnya. Tangan lelaki itu menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Sung Ha.
"Bisakah kau tak menatapku seperti itu?"
Sedari tadi Sung Ha tak berani mendongakkan kepalanya. Ia tak berani menatap Jovian.
"Aku hanya merindukan wajahmu." ucapnya yang sukses membuat rona merah di pipi Sung Ha.
"Maaf.. Kau terluka karena aku."
"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf."
Setelah selesai mengobati luka-luka itu, Sung Ha memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap Jovian.
"Sung Ha.." panggil Jovian pelan.
Jovian mendekatkan wajahnya ke wajah Sung Ha.
"Jangan pernah tinggalkan aku sendiri."
Jovian menempelkan bibirnya lama pada bibir Sung Ha.
Sayap putih Sung Ha dan sayap hitam Jovian keluar bersamaan. Tanaman yang awalnya mengering berlahan kembali tumbuh menghiasi taman kecil itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu.." ucap Jovian dan tersenyum.
***
Sung Ha mengelilingi rumah Jovian. Beberapa interior tampak berubah. Gadis itu menghampiri Jovian yang berada di dapur.
"Jovian di mana kamarku?" tanya Sung Ha yang memang tak menemukan kamarnya yang sebelumnya berada di samping kamar Jovian.
Jovian menghentikan aktifitasnya membalut roti dengan selai saat menyadari sesuatu.
"Kamar?" sebuah pintu muncul menggantikan sebuah lukisan secara tiba-tiba. "Itu kemarmu." Jovian menunjuk sebuah pintu yang ada di dekat kamarnya.
Sung Ha berbalik. Gadis itu tampak bingung, sepertinya tadi di sana tak ada pintu. Sung Ha mengangkat bahunya, tak peduli apa yang terjadi. Gadis itu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Jovian yang masih sibuk membalut roti dengan selai.
Sung Ha mengambil sebuah buku berwarna merah di mejanya. Ia membuka halaman yang masih bersih. Gadis itu menuliskan kata demi kata yang saat ini ia rasakan.
Pintu kamar Sung Ha terbuka yang dengan reflek Sung Ha segera menutup buku merah itu. Jovian berjalan mendekati Sung Ha dan menaruh piring berisi roti di atas meja.
"Makanlah."
"Baiklah."
"Kau sedang apa?"
"Sedang mengerjakan tugas." jawab Sung Ha berbohong. "Ahh Jovian, boleh aku minta sesuatu padamu?"
"Apa?"
Sung Ha mengambil kamera polar miliknya.
"Aku tidak mau." ucap Jovian sesaat setelah Sung Ha mengeluarkan kamera miliknya. Ia tau apa yang Sung Ha inginkan.
"Ayolah.." wajah Sung Ha memelas.
"Aku tak suka berfoto."
"Baiklah, hanya sekali."
Sung Ha tersenyum menang. Ia berdiri dan menarik tangan Jovian. Sung Ha meninggikan kamera yang ada di tangan kirinya.
"Satu, dua, tiga."
Cepret
Sung Ha segera menggambil lembaran foto yang baru saja keluar dari atas kamera. Gadis itu mengibas-ngibaskannya pelan dan meniupnya.
"Lihat ini." ucap Sung Ha saat gambar pada foto sudah muncul.
Jovian mengambil foto itu, ia tersenyum tipis melihat fotonya dengan Sung Ha.
Cepret
Jovian menoleh saat mendengar suara cepretan kamera kembali terdengar.
"Ya. Kenapa kau memfotoku?"
Sung Ha kembali mengambil foto yang baru saja keluar dari atas kamera. Ia melakukan hal yang sama pada foto itu.
"Kau terlihat tampan di foto ini." ucap Sung Ha setelah melihat hasil cepretannya.
Jovian merebut foto itu dan melihatnya.
"Bukankah aku terlihat tampan setiap saat?" candanya dan menaruh kedua foto itu di meja. "Makan rotimu dan kembalikan piringnya ke dapur."
***
"Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan aku!"
Taeyun terus saja meronta saat dua iblis penjaga membawanya secara paksa.
"Aku bisa jalan sendiri!"
__ADS_1
Kedua iblis penjaga itu melepaskan Taeyun. Lelaki itu berjalan ke arah ruangan Raja dengan kedua iblis yang masih mengawasinya dari belakang.
Taeyun membuka pintu yang membawanya ke hadapan Sean. Kedua iblis penjaga itu membungkuk pada Sean dan keluar untuk menjaga pintu agar tak ada yang masuk.
"Ada apa?" tanya Taeyun dengan nada cetusnya.
"Kau tak lupa dengan gadis itu kan?"
"Aku sudah mencarinya tapi aku tetap tak menemukannya." jawab Taeyun bohong. Jangankan mencari, lelaki itu bahkan tak pergi ke dunia manusia lagi setelah kejadian waktu itu.
"Lalu kau berani kembali dengan tangan kosong?"
Sean melangkahkan kakinya mendekati Taeyun. Lelaki itu berjalan memutari Taeyun.
"Kau ingat, jika di sini aku sama sakali tak membutuhkanmu?"
Sean berhenti tepat di belakang Taeyun, lelaki itu mengalungkan tangannya di pundak Taeyun. Ia membisikkan sesuatu di telingan Taeyun.
"Kau tak bosan hidup kan?"
Taeyun masih memperlihatkan wajah sedatar mungkin seakan ia tak takut dengan ancaman yang dibelikan Sean padanya.
"Kau tau? Aku sudah berbaik hati padamu. Apakah kau ingin berakhir sama seperti Ky?"
Sean menolehkan wajah Taeyun ke kanan, ke arah sebuah tabung biru yang ada di sudut ruangan. Seketika Taeyun terbelak. Ia tau apa isi tabung itu, tapi bagaiman Sean bisa mendapatkannya?
"Kau tau? Aku tak pernah bermain-main dengan apa yang aku katakan."
"Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"
Sean tersenyum miring. Lelaki itu melangkah ke depan Taeyun.
"Sudah kubilang jangan bermain-main denganku."
Api biru melingkar mengelilingi Sean dan Taeyun.
"Kau mau bermain denganku sebentar? Terkadang aku bosan berdiam diri sendiri di sini."
***
Sung Ha menempelkan foto dirinya dan Jovian di halaman tempatnya menulis tadi. Ia tersenyum bahagia melihat Jovian yang tersenyum dalam foto itu.
Sung Ha mengembalikan buku merah itu ke tempat di mana ia mengambilnya. Gadis itu mengambil foto Jovian dan menempelkannya di dinding. "Kurasa aku harus mengumpulkan foto Jovian lebih banyak."
***
Nafas Taeyun terengah-engah saat ia terus menghindari api biru yang selalu mengarah padanya.
"Kenapa kau hanya berlari?!" ucap Sean yang bosan karena Taeyun hanya menghindari serangannya.
Sean menarik seluruh api birunya berkumpul di belakang tubuhnya. Ia memandang remeh Taeyun yang berdiri tak jauh darinya.
"Bersenang-senanglah denganku!"
Secara serempak api biru Sean menghujam ke arah Taeyun.
***
Sung Ha mengelilingi rumah, mencari sosok Jovian. Dibukanya pintu kamar lelaki itu tapi tak juga memperlihatkan sosok yang sedang ia cari.
"Apakah dia pergi?"
Sung Ha membaringkan tubuhnya di sofa. Tubuhnya terasa berat, ia begitu lelah. Ketika Sung Ha mengingat-ingat kejadian saat ia menjadi iblis. Ia sama sekali tak bisa mengingatnya. Yang gadis itu ingat hanyalah saat Jovian mengatakan saat ia benci padanya dan memeluknya di taman belakang rumahnya. Tapi Sung Ha masih berasa bingung dengan ucapan Jovian tadi. Apa maksudnya dengan Sung Ha mencoba membunuhnya? Apakah Sung Ha telah melakukan suatu hal yang bisa membunuh Jovian? Tapi apa?
Tak mau memikirkannya lebih jauh lagi Sung Ha akhirnya memejamkan matanya membiarkan tubuh dan pikirannya beristirahat.
__ADS_1