Devil Child

Devil Child
Chapter 6


__ADS_3

"Maksudmu, tidak semua bisa melihat sayapmu?"



"Begitulah, hanya manusia tertentu yang bisa melihatnya," Sung Ha mulai tertarik dengan percakapan ini dan kembali duduk di sofa tadi.



"Lalu anak manusia itu di mana?"



Api biru yang awalnya hanya seperti noda itu membesar dan menyelimuti sayap di punggung Jovian. Mata itu semakin tajam menatap lantai di hadapannya, memorinya kembali terputar ketika ia melihat kejadian yang tidak ingin ia lihat.



"Anak itu dibunuh. Dia dibunuh tepat di depan mataku. Aku tau ayahkulah yang menyuruh pasukan iblis untuk membunuhnya. Anak itu sama sekali tidak memiliki dosa apapun. Ini semua salahku."


Entah kenapa hati Sung Ha terasa ngilu mendengar cerita Jovian. Ia bisa menangkap rasa amarah, kesedihan, sekaligus kebencian dari raut wajah Jovian.



"Lalu kenapa kau tidak kembali ke duniamu?"



"Aku belum bisa melakukannya. Aku berjanji pada diriku, aku tak akan kembali sebelum menjadi lebih kuat dan bisa mengalakan ayahku." Jovian melihat ke arah Sung Ha.



"Kau bisa melihat api biru yang menyelimuti sayapku kan? Tak semua iblis memilikinya. Setiap iblis memiliki api mereka masing-masing dan warna apilah yang membedakan iblis itu terlahir dari ras mana. Api hitam adalah milik pasukan iblis yang biasanya berjaga. Warna merah adalah milik iblis biasa. Dan seterusnya.."



"Kenapa kau menceritakannya padaku?"



"Karena kau dapat membantuku untuk mengalahkan ayahku."



"A-aku?" Sung Ha menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa aku? Aku bahkan tak tau apa pun tentang dunia itu. Bagaimana bisa aku membantumu?"



"Karena kau bukan manusia."



Jovian menatap Sung Ha dengan penuh kepastian. Sung Ha terdiam, lalu menggelengkan kepalanya tak percaya.



"Aku adalah manusia! Aku lahir dari kedua orang tuaku! Dan aku hidup di dunia ini sejak aku lahir!"



Gadis itu membantah habis-habisan Jovian. Bagaimana bisa lelaki itu tiba-tiba mengatakan bahwa Sung Ha bukanlah manusia. Apa dia gila?



"Terserah kau ma−"


__ADS_1


"Aku ingin pulang sekarang! Keluarkan aku dari rumahmu ini!" potong Sung Ha, dan bangkit dari duduknya.



"Bukalah pintu di belakangmu itu. Kau akan bisa keluar. Tapi kau tak akan bisa masuk ke sini kecuali aku yang membukakanya. Dan jangan beritau siapa pun ten−"



Jovian menghentikan kata-katanya saat melihat Sung Ha yang sudah pergi menuju pintu keluar. Jovian menghela nafasnya dan kembali menyembunyikan sayapnya itu.



"Kau bahkan tidak tau siapa dirimu yang sebenarnya."



Sung Ha duduk di depan cermin sembari menyisir rambutnya yang masih setengah basah karena air.



"Hah! Apa maksudnya aku bukan manusia. Dia gila!"



Sung Ha masih saja tidak suka saat Jovian mengatakan bahwa dirinya bukanlah manusia. Atas dasar apa Jovian bisa menyimpulkan seperti itu?



Tok! Tok! Tok!



Pintu kamar Sung Ha berbunyi, tanda ada seseorang yang mengetuknya.




"Iya, ibu" Sung Ha segera menyelesaikan kegiatan menyisir rambutnya dan pergi ke ruang makan.



Di meja makan telah terdapat ayah dan ibunya yang telah siap menyantap makanan di atas meja. Setelah makan malam selesai entah kenapa Sung Ha ingin bertanya sesuatu kepada ibunya itu. Pertanyaan bodoh yang entah kenapa melintas di pikirannya begitu saja.



"Ibu, aku anak ayah dan ibu kan?"



Wanita paruh baya yang tengah meminum air putihnya itu seketika tersedak saat mendengar pertanyaan konyol dari anaknya. Sung Ha segera menghampiri ibunya itu karena khawatir terjadi hal yang buruk.



"Ibu tidak apa-apa?" tanya Sung Ha memastikan.



"Sung Ha, sudah sangat jelas kau adalah anak ayah dan ibu. Kenapa kau bertanya seperti itu." ayah Sung Ha ikut menjawab sekarang.



"Sudahlah.. Sung Ha, jika kau sudah selesai makan segera kerjakan tugasmu dan tidur. Jangan tidur larut malam."


__ADS_1


Melihat ibunya yang sudah membaik Sung Ha pun memutuskan untuk segera kembali ke kamar dan mengerjakan tugas sekolahnya.



"Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu."



Ayah Sung Ha masih saja heran kenapa tiba-tiba anak satu-satunya itu bisa bertanya hal yang konyol seperti itu.



"Istriku, apakah dia sudah mengetahuinya?" tanya sang ayah pada isrinya.



"Sung Ha adalah anak kita satu-satunya dan tetap akan menjadi anak kita selamanya. Walaupun dia tidak terlahir dari rahimku, tapi aku sudah merawatnya dari bayi dan aku sangat menyayanginya."



Sung Ha menutup mulutnya menahan air mata yang tiba-tiba keluar dari kedua sudut matanya. Setelah makan malam selesai dan ingin kembali ke kamarnya ia mengurungkan niatnya dan bersembunyi di balik dinding di dekat meja makan. Sung Ha menghapus air matanya dan berlari masuk ke kamarnya. Ia menutup pintu itu dengan pelan supaya orang tuanya tak mendengarnya. Gadis itu berbaring tengkurap dan menutup kepalanya dengan bantal, berusaha menenangkan dirinya. Dan berharap apa yang ia dengar adalah salah.



***



Hari ini Sung Ha memilih duduk di bangku kosong di samping kanan Jovian. Ia ingin menanyakan suatu hal pada lelaki itu. Hana yang melihat temannya itu, terheran-heran kenapa Sung Ha tetap saja mau berdekatan dengan Jovian.



Tak seperti biasanya hari ini Jovian lebih sering membaca buku dari pada mendengarkan musik lewat earphonenya itu.



"Kenapa kau duduk di situ?" tanya Jovian yang masih fokus pada bukunya.



"Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Ini tentangku." Jovian melirik Sung Ha sesaat dan kembali fokus pada bukunya.



"Bicaralah."



Sung Ha melihat ke arah teman-teman sekelasnya yang berada di dalam kelas. Cukup banyak. Dan tidak mungkin Sung Ha akan berbicara panjang lebar jika masih terdapat banyak orang di kelasnya.



"S-sekarang?"



"Hemm.." jawab Jovian singkat.



"I-ini pribadi, jadi aku tak bisa membicarakannya di sini."



"Baiklah pulang sekolah aku akan menunggumu di dekat gerbang sekolah."

__ADS_1




__ADS_2