
Jovian masuk ke dalam rumahnya. Ia tersentak saat mendapati sesosok gadis tengah duduk di sofa rumahnya. Untuk apa dia datang ke sini? Pikir Jovian.
"Ya! Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya pada gadis itu.
"Ayolah.. Aku ingin menanyakan tentang anak raja iblis yang bernama Armour." gadis itu menjelaskan maksud kedatangannya.
Jovian mengerutkan dahinya. Anak raja iblis?
"Apa maksudmu? Raja iblis tak pernah memiliki anak yang bernama Armour."
Sung Ha mengingat-ingat kembali apa yang dikatakan raja iblis waktu itu. Bahwa ia telah menghapus semua ingatan tentang Armour. Jadi wajar jika Jovian tidak mengingatnya.
Sung Ha menggelengkan kepalanya. Jika Jovian benar-benar tidak tau, sepertinya Sung Ha lah yang harus menjelaskannya pada Jovian.
"Ani. Armour adalah kakakmu, dia telah dibunuh oleh ayahmu lalu ayahmu menghapus semua ingatan yang mengetahui tentangnya."
Jovian melihat Sung Ha dengan ragu. Apakah benar begitu? Tapi kenapa ayahnya membunuh Armour? Bukankah dia anaknya sendiri?
"Lalu kenapa ayahku membunuhnya?"
"Karena dia adalah ayahku."
Jovian menatap Sung Ha tak percaya. Apa yang dia bilang barusan? "Ayahmu..?" ulang Jovian dan mendapat anggukan dari Sung Ha.
"Keponakan.." ucap Jovian pelan.
Sung Ha mengerutkan dahinya, bingung akan apa yang baru saja Jovian katakan.
"Jika apa yang kau katakan memang benar. Berarti kau adalah keponakanku."
"Apa?! Ke.. Keponakan? Aku keponakanmu?" kenapa Sung Ha baru menyadari itu? "Lalu raja iblis adalah... Kakekku?" ucap Sung Ha tak percaya.
"Tak kusangka salah satu keluarga kerajaan bisa berhubungan dengan malaikat bahkan sampai melahirkanmu."
Jovian melihat jari jemari Sung Ha yang dulu pernah melingkar sebuah cincin, sudah tak ada lagi. Kenapa ia baru menyadarinya? Tapi kenapa debu hitam tak menyelimuti tubuh Sung Ha?
"Dimana cincinmu?"
"Em?" Sung Ha melihat jarinya lalu mengeluarkan sebuah cincin dari saku. "Ini? Sejak dari dunia iblis aku tak memakainya lagi. Kenapa?"
"Benarkah?" Sung Ha mengangguk. "Syukurlah.."
"Ya?" ucap Sung Ha bingung.
"Sekarang aku sudah mengerti semuanya.. Ayahmu membelenggu kekuatannya di dalam tubuhmu. Dan ketika kau pertama kali berubah menjadi iblis, kekuatan itu mulai bangkit dan tubuhmu tak bisa menerimanya. Dengan cincin pemberian ayahmu, kekuatan itu kembali tebelenggu. Tapi sekarang, sepertinya tubuhmu sudah bisa menerima unsur iblis yang ada di dalam tubuhmu." jelas Jovian panjang lebar.
Selama ini tanpa sepengetahuan Sung Ha, Jovian selalu mempelajari setiap perubahan yang dialami Sung Ha. Oleh karena itu ia bisa menyimpulkannya. Namun jika cincin itu hanya bisa dibuat oleh iblis selefel raja, apakah ayah Sung Ha adalah pengganti raja yang sesungguhnya? Walaupun Jovian berhasil menyimpulkannya. Tapi masih banyak pertanyaan yang belum bisa ia jawab.
-Rencana yang Sebenarnya-
Taeyun masuk ke ruangan ayahnya dengan tergesa-gesa. Wajah lelaki itu tampak kesal akan sesuatu.
"Kenapa rencana itu dibatalkan?! Bukankah kita telah merencanakannya dari dulu. Tapi ken-"
"Diam!" potong ayah Taeyun. " Raja iblis telah lengser. Tak ada gunanya melanjutkan rencana itu."
"Tapi, jika Sean memerintah, itu sama saja dengan meberikan dunia iblis pada Ky."
"Dia berbeda dengan Ky. Dia lebih memiliki potensi yang selama ini dibutuhkan dunia iblis. Ini adalah rencana yang sebenarnya ayah rencanakan sedari dulu. Kau tak perlu membantah Sean, ikuti saja semua perintaknya."
"Aku tidak mau menuruti perintah iblis seperti dia!"
"Jika kau tak mau menuruti rajamu, kau bisa pergi dari dunia ini."
Tanpa Taeyun dan ayahnya sadari, Sean telah bersandar di ambang pintu. Ia tampak menikmati adu mulut yang terjadi pada ayah dan anak itu. Hingga ayah Taeyun tersadar akan kehadiran Sean. Ia tampak terkejut karena karenanya.
Sean melangkah mendekati Taeyun yang sedang berdiri di depan meja ayahnya. Ia mendekatkan kepalanya ke telinga Taeyun dan berbisik.
"Kau juga tidak dibutuhkan lagi di sini. Terima kasih telah membawa Ky kembali."
Sean duduk bersandar di atas meja milik ayah Taeyun. Lelaki itu memandangi Taeyun dengan senyum yang terukir di wajahnya. Di mata Sean, Taeyun terlihat sangat rendah.
__ADS_1
"Aku akan memberimu kesempatan. Tapi dengan satu syarat." Sean melirik ayah Taeyun yang berdiri di belakangnya, mununjuk ayah Taeyun.
"Bunuh dia." perintah Sean pada Taeyun.
Taeyun maupun ayahnya tercengang mendapati persyaratan yang diajukan oleh Sean selaku Raja dunia iblis saat ini. Namun berbeda dengan keduanya, Sean tampak terkekeh melihat ekspresi yang kedua lelaki itu tunjukkan.
"Aku hanya bercanda. Kau boleh tinggal di sini sesukamu. Asalkan kau jangan mengganggu rencanaku, mengerti?"
Sean tersenyum, tangan kanannya mengacak rambut Taeyun pelan, layaknya seorang ayah pada anaknya.
Sean kembali terfokus pada tujuan awalnya ke tempat itu.
"Seluruh dunia iblis sudah aku perbaiki seperti semula. Kau harus menagih beberapa kekuatan mereka, dan memberikannya padaku. Aku menghabiskan banyak kekuatan untuk ini."
"Baiklah." jawab ayah Taeyun, mengerti.
Setelah urusannya selesai, Sean keluar dari ruangan itu untuk menyelesaikan suatu hal yang lain.
Sementara itu, kedua tangan Taeyun mengepal menahan kebencian terhadap Sean. Bagaimana bisa ia diperlakukan serendah itu?
"Sudahlah, kau ikuti saja dia. Sean memiliki kekuatan yang besar, yang telah ia sembunyikan selama ini." Ayah Taeyun menasehati anaknya.
"Sebenarnya apa rencana ayah? Bukankah rencana kita menghancurkan iblis keturunan api biru? Tapi kenapa.."
"Itu juga termasuk rencanaku dan Sean." ayah Taeyun menepuk pundak anaknya. "Terima kasih telah membawa Ky kemari." Ia pun pergi melanjutkan tugas yang diberikan Sean padanya.
"Tunggu!"
Suara Taeyun menghentikan langkah sang ayah, mereka sama-sama tak berbalik dan tak saling menatap satu sama lain.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Taeyun yang membuat sebuah senyum terukir diwajah ayah Taeyun.
***
Sung Ha dan Jovian berjalan bersama menuju sekolah, mereka tak luput dari pandangan murid-murid yang juga akan menuju tempat yang sama.
"Aku tidak akan pergi, biarkan saja mereka berpikir sesuka mereka. Aku tidak peduli. Mereka bebas mengeluarkan pendapat mereka."
Ky melirik Sung Ha singkat. "Sejak kapan sifatmu menjadi seperti itu?" tanyanya.
"Sejak aku mengenalmu." guraunya.
Langkah kaki Jovian dan Sung Ha terhenti saat seorang gadis berdiri di depan pintu kelas, dan hal itu membuat mereka tak bisa memasuki kelas. Gadis yang tengah berdiri di depan pintu ternyata murid baru yang belum lama pindah itu.
Seluruh murid yang ada di kelas hanya bisa menunjukkan wajah terkejut mereka karena ulah Min Ri. Dia murid baru, jadi mana mungkin ia tau siapa itu Jovian.
"Jangan halangi jalanku."
Jovian menatap Min Ri tajam, tatapan yang biasa ia tunjukkan pada orang-orang yang telah mengganggunya.
"Aku masih punya urusan denganmu."
"Ada apa ini?"
Sung Ha melihat Jovian dan Min Ri bergantian. Namun pertanyaan Sung Ha tak digubris sedikitpun oleh kedua sosok itu.
Dengan cepat Min Ri menarik tangan Jovian dan membawa lelaki itu menjauh dari kelas.
"Ya! Kalian mau kemana?!" tanya Sung Ha dengan nada cukup tinggi namun percuma, mereka tidak menggubrisnya.
Di deket tangga Min Ri membawah Jovian. Gadis itu menatap Jovian tajam. Tatapan marah dan benci bencampur menjadi satu.
"Kau minta maaf sekarang!"
Jovian menatap Min Ri malas. "Kenapa aku harus meminta maaf padamu?"
"Kau lupa kesalahanmu, atau kau pura-pura bodoh?"
Jovian menghela nafasnya tak percaya. Bagaimana bisa ada malaikat seperti dia? Apakah dia benar-benar malaikat? Jovian mulai meragukan hal itu.
Tak mau meladeni gadis itu, Jovian memilih pergi karena sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai.
__ADS_1
"Ya! Lelaki aneh!" Min Ri mengerjarnya.
Brak!
Suara benturan terdengar, punggung Min Ri terhantam ke dinding yang berada tepat disebelahnya karena ulah Jovian. Lelaki itu mengunci tubuh Min Ri dan menatapnya tajam.
"Sebaiknya kau jangan menggangguku jika kau tak mau identitasmu terbongkar." ucap Jovian memberi penekanan di setiap katanya.
Lelaki itu pergi meninggalkan Min Ri yang masih bersandar di dinding dengan wajah terkejutnya.
Suara dobrakan pintu terdengar dari sudut kelas, sontak seluruh murid menoleh ke arah pintu itu. Bisa dilihat Jovian masuk melewati pintu itu, membuat seluruh murid yang awalnya melihat segera kembali terfokus pada kegiatannya kembali, kecuali Sung Ha. Gadis itu menghampiri Jovian yang sekarang sudah duduk di bangkunya. Sung Ha melihat ke pintu yang tadi Jovian lewati.
"Dimana Min Ri?" tanyannya karena tak mendapati sosok gadis itu.
"Aku tidak tau." jawab Jovian cetus.
"Ya?! Kau tidak menghajarnya kan?"
Jovian menatap Sung Ha dengan tatapan mautnya.
"Kau pikir aku akan menyakiti gadis semudah itu?"
"Ne."
Tepat setelah Jovian mendengar jawaban itu, ia menjitak kepala Sung Ha
"Ya! Apa yang kau lakukan?!" protes Sung Ha. Gadis itu mengelus kepalanya yang baru saja dijitak Jovian.
"Sung Ha, jika kau harus memilih, kau lebih memilih tinggal di duniamu atau di sini?" Jovian memelankan suaranya supaya tak ada yang mendengarnya kecuali Sung Ha.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Sudah pasti aku akan memilih tinggal di sini, itu sudah menjadi keputusanku sejak pulang dari duniamu."
"Bagaimana jika kau mengetahui cara untuk ke duniamu? Apakah kau masih ingin di sini?"
"Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Maksudku jika ada-" Jovian tak meneruskan ucapannya itu. "Sudah lupakan saja."
Sung Ha menatap Jovian bingung dan penasaran. Apakah Jovian mengetahui sesuatu yang dapat membawanya kembali ke dunia malaikat? Sung Ha mengangkat bahunya tak mengerti. Gadis itu memutuskan untuk kembali ke bangkunya.
Lima menit sebelum pelajaran dimulai Min Ri masuk ke kelas dan segera duduk di bangkunya. Ia tak ingin melihat lelaki yang duduk di seberang sudut kelasnya. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan lelaki itu tadi. 'Jika kau tak mau identitasmu terbongkar'. Apa maksudnya? Tidak mungkin jika ia mengetahui bahwa Min Ri adalah malaikat.
Dari kejauhan Min Ri memperhatikan Jovian, apakah dia tau identitas Min Ri yang sebenarnya? Itulah yang ada di dalam pikiran Min Ri sedari tadi. Haruskah ia memberitau ini pada Min Jin?
***
Di tengah perjalanan menuju gang yang biasa Jovian anggap sebagai pintu rumahnya, Jovian menghentikan langkahnya saat melihat dua iblis berkeliaran tepat di jalan di depannya. Ia menolehkan ke arah lain, memastikan apakah terdapat iblis lain atau tidak dan benar saja beberapa meter di arah kirinya terdapat satu iblis lain.
Tak lama ia mendengar suara tangisan seorang anak kecil dari gang yang tak jauh dari tempatnya berdiri, tanpa pikir panjang lelaki itu segera menghampiri suara tangisan itu. Mata Jovian terbelak takala ia mendapati seorang anak kecil yang sedang meringkuk menangis di sudut gang dan iblis api merah yang menyudutkan anak itu. Iblis itu mengulurkan tangannya berniat meraih tubuh anak itu.
"Apa yang kau lakukan!"
Bentakan Jovian sukses menghentikan iblis api merah dan membuat iblis itu membalikkan tubuhnya yang seketika sebuah api biru bergerak ke arahnya dan membakar hangus iblis itu hingga tak tersisa sebutir debupun.
Anak kecil itu terbelak dan meringkuk ketakutan saat Jovian mendekatinya.
"Kau aman sekarang.."
Jovian berjongkok dan membantu anak itu berdiri. Dengan masih menangis anak gadis itu memeluk Jovian.
"Ibu.. Aku takut ibu.." ia terisak di pelukan Jovian.
Perlahan tapi pasti Jovian mengelus rambut gadis kecil itu, ia mencoba menenangkannya.
"Kau tak perlu takut lagi, dimana rumahmu? Biar ku antar kau pulang."
Setelah menenangkan anak itu Jovian segera mengantarkannya pulang. Di sepanjang perjalanan Jovian bertanya kepada anak bernama Ji Sung, kenapa dirinya bisa berada di gang tadi.
Jovian melambaikan tangannya saat Ji Sung mulai masuk ke dalam rumah. Jovian merasa ada yang tidak beres, kenapa iblis tadi mendekati manusia?
__ADS_1