
Sean menyeringai mendengar penjelasan salah satu pengawal yang memberi taunya bahwa saudaranya lah yang memenangkan pertarungan itu. Ia berdiri dari bangku milik Ayah Taeyun biasa digunakannya untuk berkerja.
"Aku pergi. Aku harus kembali bermain drama." ucapnya kepada Ayah Taeyun yang duduk membaca buku di sofa. Ia pun keluar dan melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ia bisa berbicara kepada saudaranya itu.
***
Ky dan Sung Ha masuk ke dalam istana. Setiap iblis yang mengungsi di istana tak luput memperhatikan kedatangan mereka berdua.
Jika di lihat sesuai dengan peraturan yang telah ada. Jika Raja iblis mati, menghilang dalam waktu yang lama, mengundurkan diri, ataupun di kalahkan oleh iblis lain. Maka Raja berhak di gantikan oleh penerusnya ataupun iblis yang telah mengalahkan Raja. Dengan kata lain. Bukan tidak mungkin Ky lah yang akan menjadi Raja iblis selanjutnya.
Langkah Ky dan Sung Ha terhenti saat mendapati sesosok lelaki yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Akhirnya kau bisa mengalahkannya. Maafkan aku karena aku tak bisa membantumu. Aku terlalu takut pada ayah dan tak berani melawannya."
"Sean. Aku ingin meminta bantuanmu. Jadilah Raja iblis selanjutnya dan perbaiki sistem yang telah melenceng ini."
Semua iblis yang berada di sana serempak menatap Ky bingung dan terkejut. Mereka tak pernah menduka jika Ky akan berkata seperti itu, memberikan tahta yang jelas-jelas ada di depan matanya. Bukan hanya para iblis itu yang terkejut. Sean dan Sung Ha pun juga terkejut.
"Tapi.. Aku tak memiliki kekuatan sepertimu dan kau lebih berbakat untuk mengatur dunia iblis."
"Aku telah meninggalkan dunia ini lebih dari sepuluh tahun dan aku tak tau apapun tentang mengatur pemerintahan. Aku percaya padamu."
"Baiklah. Tapi kau harus kembali dan tinggal di sini."
"Maaf. Tapi aku akan kembali ke dunia manusia dan tinggal di sana."
"Tapi Ky-"
"Sebaiknya aku segera pergi. Dan ku tunggu kabar baik darimu."
Ky tersenyum pada saudaranya itu dan pergi di ikuti Sung Ha di belakangnya.
"Apakah kau yakin tidak ingin menjadi Raja?" tanya Sung Ha. Melirik wajah Ky.
"Ya. Aku percaya Sean pantas menyandang gelar raja."
Sean hanya menatap punggung Ky yang mulai pergi keluar dari istana dan sampai akhirnya sosok itu benar-benar menghilang. Lelaki itu berbalik dan kembali masuk melewati pintu yang belum lama ia lewati.
"Pertama-tama bersihkan reruntuhan lalu akan ku gunakan kekuatanku untuk membangun semuanya seperti awal." ucapnya pada lelaki yang sedari tadi setia mengikutinya kemanapun.
"Lalu untuk sementara cabut rencana penyerangan ke dunia malaikat. Dan jalankan rencana awal kita."
"Dimengerti."
Lelaki itu membungkuk memberi hormat dan pergi membiarkan Sean berjalan menuju ruangannya yang baru, ruangan raja.
***
Ky dan Sung Ha sekarang berada tepat di depan gerbang yang memisahkan dunia iblis dan dunia manusia.
"Apakah kau yakin tak mau melihat makhluk sebangsamu?"
Sung Ha menggeleng.
"Aku telah berhasil menggunakan kekuatanku sekarang. Dan suatu saat nanti aku pasti bisa menemukan sendiri caraku untuk bisa pergi ke dunia malaikat."
"Apakah kau yakin?" tanya Ky memastikan.
Sung Ha menarik lengan Ky melewati gerbang di hadapannya.
"Ayo cepat. Sebelum aku berubah pikiran."
-Kembali Ke dunia Manusia-
Pagi yang cerah di kota Seoul. Hujan yang mengguyur kota itu semalam membuat udara pagi itu terbilang snagat sejuk. Seperti hari-hari yang pernah Sung Ha dan Jovian lewati mereka kembali bersekolah dan bergaul dengan manusia.
Setelah kembali ke dunia manusia Jovian menggunakan kekuatannya untuk mengembalikan hari mereka yang hilang di dunia manusia. Karena waktu di dunia manusia dan dunia iblis berbeda. Satu jam di dunia iblis sama hanya dengan satu hari di dunia manusia. Dan jika dihitung mereka telah berhari-hari menghilang. Namun karena kekuatan Jovian itu. Tak akan ada yang menyadari mereka telah pergi selama berhari-hari.
Jovian berjalan menuju ke sekolahnya. Namun seketika raut wajahnya menjadi sangat menyeramkan saat baju seragam yang ia terkena cipratan air hujan yang menggenang, karena seorang siswa pengendara sepeda tak sengaja melewatinya. Dan alhasil membuat seragam Jovian menjadi kotor.
"Ya! Akan ku bunuh kau!"
Jovian mengejar pengendara sepeda itu sebelum ia berhasil kabur semakin jauh. Namun karena terlalu fokus mengejar pengendara itu ia tak melihat jika ada seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah rumah.
BRAK!
"Aww.." rintih seorang gadis yang baru saja duduk tersungkur karena tertabrak oleh Jovian.
Jovian melihat gadis yang baru saja ditabraknya lalu kembali melihat ke arah perginya pengendara sepeda tadi.
"Aish! Karena kau aku kehilangannya!" umpatnya sebal.
Tangan dan rok gadis itu kotor karena trotoar yang masih basah karena hujan semalam.
"Ya! Kau yang salah! Kenapa berlari seperti itu?! Kau tidak tau jalan masih licin?!"
Gadis itu berdiri lalu membersihkan tangan dan roknya yang kotor.
Jovian melihat penampilan gadis itu dari bawah ke atas. Ia mengenakan seragan yang sama sepertinya. Namun ia tak pernah melihatnya.
"Apa yang kau lihat?"
__ADS_1
Gadis itu menyilangkan tangannya di dadanya.
"Lelaki aneh."
Gadis itu pun berlalu meninggalkan Jovian yang masih berdiri di tempat yang sama. Dan tak lama ia pun kembali melanjutkan jalannya.
Sungha yang melihat Jovian yang tengah berjalan tak jauh darinya segera memanggil nama lelaki pirang itu.
"Jovian!" panggilnya sembari berlari kecil menghampiri Jovian.
"Dunia manusia memang paling menyenangkan." Ucapnya saat berhasil menyeimbangkan langkahnya dengan Jovian. Tak sengaja Sung Ha melihat seragam Jovian yang tampak kotor.
"Bajumu kenapa?" tanyanya.
"Ini karena seseorang yang ingin mencabut nyawanya di tanganku."
"Apakah kekuatanmu tak bisa digunakan untuk membersihkan noda?" tanya Sung Ha.
"Kau pikir sihirku diterjen?"
Sung Ha tertawa kecil mendengar ucapan Jovian. Gadis itu memegang bagian baju Jovian yang terkena noda lalu noda itu seketika menghilang. Dan itu membuat Jovian sedikit terkejut.
"Anggap saja ini bonus untukmu." ucapnya lalu berlari mendahului Jovian.
"Ya!" panggilnya. "Aissh! Jangan gunakan 'itu' sembarangan!" teriak Jovian yang entah Sung Ha mendengarkan atau tidak.
***
Guru Han memasuki ruang kelas untuk memperkenalkan seorang murid baru yang baru saja pindah hari ini. Ia mempersilahkan gadis itu masuk dan menyuruhnya untuk memperkenalkan diri.
"Hai semua, namaku Kim Min Ri. Mulai hari ini aku akan menjadi murid di kelas ini. Mohon bim−"
Gadis itu menghentikan sesi pengenalannya itu saat melihat Jovian yang duduk di sudut kanan kelas.
"Lelaki aneh."
Tanpa Min Ri sadari ia menunjuk langsung muka Jovian dari depan kelas yang membuat semua mata beralih melihat Jovian. Namun Jovian tak begitu memedulikannya dan mengangapnya angin lalu.
"Ada apa Min Ri?" tanya guru Han.
Sadar akan sikapnya yang aneh ia pun berhenti menunjuk Jovian dan kembali bersikap biasa. Betapa bodohnya dia, membuat malu dirinya sendiri di hari pertamanya bersekolah.
"Tidak."
"Kalau begitu kau bisa menunggu sebentar. Sudah ku suruh seseorang untuk mengantarkan mejamu."
Tak lama meja yang akan menjadi tempat duduk Min Ri datang dan guru Han menyuruh lelaki yang mengangkatnya menaruhnya di belakang bangku Sung Ha.
"Terima kasih~"
***
Pelajaran guru Lee telah berakhir. Murid-murid mulai berhamburan meninggalkan kelas. Hanya beberapa murid yang masih tinggal di dalam kelas.
Jovian keluar dari toilet dan kembali ke kelas. Di lihatnya Min Ri yang tengah memakan bekalnya di bangkunya dan beberapa gadis lain yang tengah membaca buku pelajaran. Lelaki itu berjalan menuju bangkunya dan duduk cukup kasar di sana yang membuat Min Ri mengalihkan pandangannya karena terganggu.
Gadis itu menghela nafasnya karena tingkah Jovian yang dirasa aneh baginya. Ia lalu mengambil ponselnya yang bergetar. Dilihatnya sebuah pesan yang bertuliskan sebuah nama yang sangat ia kenal, Min Jin.
- Bagaimana disana?
Apakah disana menyenangkan?
Minri segera membalas pesan itu.
- Aku tidak tau. Mungkin aku sedang sial hari ini. Hari pertamaku sekolah baju baruku kotor karena tadi pagi ada seseorang yang menabrakku..
- Hahaha, lalu kau apakan orang itu? Kau tidak membunuhnya kan? Jangan lupa kenapa kau bisa ada di sana, dan jangan membunuh orang ne.
- Ani. Tenang saja aku tidak membunuhnya. Ne, arraso.
Kringgg!
Min Ri segera memasukkan ponselnya dan menghabiskan bekalnya ketika mendengar bel masuk telah berbunyi. Murid-murid kembali masuk ke dalam kelas untuk kembali mengikuti pelajaran yang masih tersisa. Tak selang lama guru Jung memasuki kelas dan memulai pelajarannya.
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Para murid langsung berhamburan meninggalkan sekolah untuk pulang maupun bermain di luar sekolah. Sung Ha menghampiri Jovian yang baru saja selesai mengemasi barangnya.
"Jovian. Bolehkah aku ke rumahmu?" tanyanya.
Seperti Jovian yang dulu, lelaki itu kembali bersikap dingin padanya. Bukan hanya padanya, namun juga pada siappun.
"Tidak." jawabnya dan pergi meninggalkan Sung Ha.
Namun gadis itu tetap saja mengikuti Jovian dari belakang.
"Jangan ikuti aku. Pergilah." ucap Jovian tanpa melihat Sung Ha yang mengikutinya.
Namun gadis itu tak menjawab. Apakah dia sudah tidak mengikuti Jovian lagi? Lelaki itu melihat ke arah belakang. Dan dilihatnya Sung Ha yang tersenyum padanya.
"Sudah aku bilang, jangan ikuti aku! Aku tak suka ada orang yang mengikutiku!"
"Baiklah, aku tidak akan mengiktimu lagi."
Sung Ha melangkah melewati Jovian dan tersenyum jahil padanya. Jovian bodoh, apakah dia lupa aku tau kunci rumahnya? Pikir Sung Ha. Jovian menatap punggung Sung Ha dengan bingung. Kenapa dia?
__ADS_1
Lelaki itu kembali melangkahkan kakinya namun langkahnya kembali terhenti karena seorang gadis tiba-tiba keluar dari halaman sebuah rumah dan hampir saja ia menabrak gadis itu. Gadis itu terkejut karena hampir saja menabrak lelaki yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Ya! Kau lagi!" teriak gadis itu.
Jovian menghela nafasnya saat tau siapa gadis yang hampir menabraknya.
"Apakah kau tak punya mata?" ucap Jovian dengan nada mengejeknya.
"Apa? Ya! Kau yang tidak punya mata! Tadi pagi kau yang menabrakku!"
"Aku tidak menabrakmu, kau yang tiba-tiba keluar dari rumahmu!"
Gadis itu melihat ke arah jam tangan yang melekat indah di pergeangan tangannya.
"Percuma bicara denganmu!"
Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Jovian. Namun belum sempat pergi, lengan gadis itu tertahan oleh tangan Jovian.
"Mau apa lagi?!"
Mata gadis itu terbelak saat Jovian mengecup bibirnya. Seketika sepasang sayap putih keluar dari punggung gadis itu. Dan itu membuat Jovian mengangkat sebelah sudut bibirnya. 'Sudah ku duga' batinnya. Tanpa berkata apapun lelaki itu pergi meninggalkan Min Ri yang masih terpaku.
"Y-ya! Apa yang kau lakukan!"
Min Ri berteriak memanggil Jovian yang sudah berjalan menjauh. Namun lelaki itu tetap berjalan tanpa memedulikannya.
"Kau.. Ya! Orang aneh!"
Min Ri masih saja menunjuk-nunjuk Jovian yang semakin menjauh.
"Awas kau! Akan ku bunuh kau!"
Gadis itu segera berbalik dan berjalan dengan langkah memburu ke tempat yang memang ingin ia tuju. Mungkin hari ini adalah hari tersial bagi Min Ri.
***
Min Ri masuk ke sebuah café yang cukup terkenal di kota Seoul. Ia melihat ke sekeliling, mencari sosok lelaki yang memang ingin ia temui.
Dari kejauhan, seorang lelaki yang tengah duduk di salah satu bangku di sebuah café ternama itu melambaikan tangannya saat melihat seorang gadis yang ia kenal memasuki café itu.
"Di sini." ucapnya memanggil sang gadis.
Gadis itu menghampirinya dan duduk di bangku kosong yang berada di depannya.
"Ahhh sepertinya hari ini aku benar-benar sial." gerutu Min Ri di depan lelaki itu. Lelaki itu tertawa melihat tingkah gadis yang tak lain adalah kembarannya itu.
"Kau kenapa? Apakah ada yang mengotori bajumu lagi?"
Min Jin kembali meminum coffe yang memang sudah ia pesan tadi.
"Tidak. Bahkan lebih parah dari itu. Dia tiba-tiba menciumku."
Seketika Min Jin tersedak mendengar ucapan adik kembarnya. Ada dia bilang? Mencium?!
"Ya! Siapa yang berani melakukan itu padamu?!"
"Aishh.. Lelaki itu benar-benar."
Min Ri masih saja menggerutu saat mengingat kejadian tadi. Lelaki itu benar-benar menyebalkan!
"Ya! Bilang padaku. Biarku beri pelajaran padanya!"
"Apakah kau akan memberinya pelajaran? Bukankah kau sendiri yang tidak membolehkanku untuk menyakiti orang?"
"Ahh sudahlah lupakan itu. Aku telah mendapatkan informasi tentangnya."
Min Jin memberikan beberapa lembar kertas dan sebuah foto yang berisikan ayah, ibu, dan seorang anak perempuan. Min Ri mengambil berkas itu dan membacanya.
"Foto itu sudah lama diambil. Mereka adalah orang tuanya di dunia manusia. Tapi aku dengar mereka telah meninggal dengan mengenaskan. Kematian merekapun masih misteri."
"Lalu anak ini?"
Min Jin mengangguk.
"Anak itu adalah Sung Ha. Teman sekelasmu."
"Sung Ha?" ulangnya.
Min Ri kembali mengingat-ingat nama itu. Jika tidak salah ia tadi sempat berkenalan dengan gadis yang duduk di depannya. Dan ia bernama Sung Ha.
"Jadi maksudmu dia adalah target kita?"
"Ya."
Min Ri kembali membaca setiap kata yang tertulis di berkas itu.
"Apakah dia tau siapa dirinya yang sebenarnya?"
"Aku tidak tau. Aku belum bertemu dengannya. Dan sebaiknya kau berhati-hati. Aku dengar ada beberapa iblis yang sering berkeliaran di dunia manusia. Jangan pernah menunjukkan identitasmu yang sembarangan."
"Baik, aku mengerti." Min Jin bangkit dari duduknya.
"Jika sudah tidak ada pertanyaan, aku pergi."
Min Ri hanya menganggukkan kepala mempersilahkan lelaki itu pergi.
"Baiklah. Akan segera ku selesaikan dan pulang ke duniaku." ucapnya sembari memasukkan berkas tadi ke dalam tasnya.
__ADS_1