
Chris meminta maaf karena tidak sengaja menabrak dan pria itu hanya tersenyum mengangguk kemudian pergi menuju ruangan pak Arya. Dia melihat pria itu hilang di balik pintu yang tertutup, seperti ada yang terasa familiar tetapi tidak dihiraukan olehnya. Dia segera pergi dari sana dan kembali ke apartemen untuk mengunjungi Alexa karena dia merindukan kehadiran wanita itu. Setelah beberapa hari ini tidak bertukar pesan dengan Alexa membuat Chris ingin menghabiskan waktu berdua. Dia saat ini tergoda untuk memikirkan nasib cintanya. Eh, cinta, apakah dia jatuh cinta dengan Alexa?
Sementara itu, Alexa saat ini sedang akan tidur siang karena lelah menatap layar laptopnya. Baru saja dia memejamkan mata tiba-tiba dari luar terdengar pintu dibuka. Dia yang berada di kamar tidak bisa cepat-cepat bergerak karena kondisi kakinya sehingga dia mencoba menelepon Chris karena ini adalah apartemennya. Setelah terhubung, bunyi dering ponsel terdengar keras di apartemen itu membuat Alexa heran. Ketika dia akan pindah duduk di kursi rodanya, Chris menengok ke kamarnya dan bertanya mengapa menghubunginya.
“Aku baru saja mau tidur. Tiba-tiba dengar ada yang membuka pintu. Kan ya takut, ternyata kamu yang masuk,” protes Alexa.
“Maaf, aku membawakanmu makan siang.” Chris memindahkan Alexa ke kursi roda dan mengajaknya keluar.
“Kamu itu suka banget sih, ngasih aku makanan. Kamu mau buat aku jadi gemuk apa? Apalagi aku masih di kursi roda.” Sungut Alexa tidak mau makan tapi begitu melihat yang dibawa dia tidak tahan untuk menyicipinya.
“Lho kok begitu. Maksudku itu biar kamu cepat sembuh.”
“Iya tapi gak gini juga.”
“Sudahlah kalau begitu. Jika tidak ingin ikut makan maka temani aku. Aku rindu padamu,” ungkap Chris tiba-tiba membuat Alexa merona pipinya.
“Duh, gombal banget. Jago banget bohongnya.”
“Kok protes terus, sih! Ya sudah, duduk sini dulu.” Ditinggalkannya Alexa di ruang tengah karena dia harus mengambil wadah untuk menyajikan makanan.
Alexa menenangkan detak jantungnya yang tidak aman hanya berdua saja dengan Chris sehingga dia berteriak, “aku juga minta ambilkan piring!”
Chris kembali dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, “nah, tergoda juga buat menemaniku makan.”
Alexa hanya menyengir mendengar pendapat Chris dan dia menerima piring yang diberikan Chris padanya. Setelah itu dia menunggu Chris memberikan porsinya karena ini merupakan favoritnya. Makanan yang dibawa Chris adalah rujak cingur kesukaannya, meski rasanya tidak seenak di kota tempat dia kecil. Dia jadi teringat untuk memberitahu Chris tentang masa lalunya dengan Chris. Dia jadi bimbang untuk jujur atau tidak. Terlebih lagi saat ini mereka hanya berdua, tanpa gangguan siapapun untuk berbicara. Mungkin setelah mereka selesai makan, Alexa akan memberanikan diri untuk bicara masalah hal itu.
Selesai Chris menyajikan di piringnya dan piring Alexa, mereka mulai menyantap.
“Tumben enak rujaknya, beli di mana? Aku hidup di Jakarta sulit menemukan rujak yang enak.”
__ADS_1
“Ini beli di sekitar apartemen ini kok, hanya berbeda blok saja. Beruntung dong aku kalau kamu suka.”
“Ini makanan kesukaanku di tempatku berasal.”
“Memang kamu dari mana?”
“Aku dari Yogyakarta.”
“Jauh sekali kamu merantau.”
“Ada kenalan yang menawariku untuk bekerja di sini. Kamu tahu kan jika aku berasal dari panti asuhan. Nah, kenalan itu yang membawaku kemari.”
“Siapa dia?”
“Aku sudah menganggap beliau seperti ayahku.”
“Oh, kirain.”
“Bukan apa-apa. Oh iya, Lex, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Aku juga.”
“Oh, kamu juga? Memang hal apa?”
“Ada deh, nanti setelah makan. Boleh aku yang menyampaikannya dulu?”
“Ok.” Chris berdiri untuk mengambil minum karena dia sudah selesai makan sedangkan Alexa masih tinggal setengah porsi.
Chris membawakan minum dua gelas untuk Alexa sekalian agar dia tidak bolak-balik ke dapur. Alexa merasa sudah kenyang sehingga terpaksa makanannya dipindahkan ke dapur agar tidak mengganggu.
__ADS_1
Setelahnya dia memperbaiki posisi kursi roda agar Alexa merasa nyaman berbicara dengannya. Dia menyalakan musik yang lembut untuk background musik mereka. Chris berpikir bahwa dia ingin suasana romantis ketika dia menyatakan cinta nanti, sesuai seperti dalam bayangannya.
Akan tetapi, dia telah mempersilakan Alexa untuk mengutarakan apa yang ingin disampaikan dulu sehingga membuatnya menahan untuk mengungkapkan rasa cinta ini. Sedangkan, Alexa bertambah gugup untuk jujur terhadap Chris tetapi mau sampai kapan dia akan membohongi Chris.
“Jadi, Chris.” Chris menoleh ketika Alexa memanggilnya. “Maafkan aku sebelumnya, aku tidak ada maksud membohongimu.”
“Apa maksudmu?” tanyanya pelan tetapi ada rasa penasaran yang mendesak.
“Sebenarnya ada satu hal yang belum kuceritakan pada kamu. Tolong jangan dipotong dulu ceritaku.” Chris hanya mengangguk dan mencoba bersabar.
“Waktu kecil dulu aku berada di panti asuhan, aku mengenal seorang anak kecil laki-laki. Dia berusia lebih tua, dia sering menolongku karena saat itu aku yang baru saja masuk di panti asuhan itu. Dia seorang yang menyenangkan, baik hati dan selalu tersenyum.”
“Ketika aku berada di SMP, aku sempat menyatakan cinta kepadanya karena dia pernah bercerita. Jika dia sudah lulus sekolah, dia ingin pergi untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar dan dia akan mengirimkan uang ke panti.”
“Tapi aku ditolak oleh dia dengan alasan dia tidak menganggap aku sebagai wanita hanya adik. Dari situ aku marah sama dia sehingga ketika dia pergi aku tidak menemuinya. Dia sedih sebenarnya tidak berpamitan sama aku tetapi aku yang masih marah dan sakit hati memutuskan untuk teguh pada pendirianku.”
“Lanjut hingga beberapa bulan setelah kepergiannya, dia mengirim surat ke panti asuhan menanyakan kabar. Dia bercerita bahwa dia di Jakarta sudah mendapat pekerjaan dan meminta maaf karena lama baru memberikan kabar. Ternyata di sana dia kesulitan selama beberapa bulan pertama. Saat aku berbicara dengannya, aku merasa canggung karena kita terpisah dengan tidak baik-baik. Aku memutuskan untuk meminta maaf kepadanya atas kejadian waktu itu.”
“Setelah pertama berkabar itu, selang beberapa bulan dia kembali mengirim pesan dan sedikit uang hasilnya bekerja. Tetapi setelah kabar kedua itu, dia menghilang. Kami yang berada di panti asuhan kesulitan mencari, tidak ada yang bisa membantu. Di saat itu datang seorang penolong. Beliau menjadi donatur panti ketika panti kekurangan uang dan hampir digusur. Nah, orang itulah yang kuanggap sebagai ayahku.”
“Dan saat aku berada di Jakarta ini, aku telah bertemu dengan teman masa kecilku itu. Akan tetapi, dia sama sekali tidak mengingatku. Kupikir dia masih dendam padaku tetapi tidak. Dia mengalami kecelakaan sehingga membuatnya amnesia. Aku bingung ingin bercerita bahwa aku mengenalnya tetapi aku takut jika dia marah karena mungkin saja dia berpikir bahwa aku memaksa dia untuk mengingat masa lalu.”
Chris mencerna kata-kata Alexa setelah selesai bercerita. “Lalu, siapa orang itu?”
“Orang itu adalah kamu Chris, kamu adalah teman masa kecilku. Aku mendapatkan informasi dari Jerry jika kamu kecelakaan dan amnesia.”
“Jadi, selama ini kamu mengenalku tetapi mengapa kamu tidak bilang padaku?”
“Seperti yang kubilang, aku tidak ingin memaksamu mengingat karena mendengar Jerry jika kamu mengingat kamu akan menderita sakit kepala yang mengganggu. Aku tidak ingin melihatmu kesakitan. Jika kamu ingin marah, katakanlah, tetapi kumohon jangan kamu usir aku dari hidupmu,” ucap Alexa sambil terisak menunggu keputusan Chris.
__ADS_1
Chris termenung memikirkan penjelasan Alexa, ini terlalu tiba-tiba baginya. Hilang sudah angannya menyatakan cinta malah mendapatkan kejutan yang sangat di luar dugaan. Meski ada bagian dari dirinya yang menduga bahwa Alexa adalah gadis di mimpinya itu. Apa yang harus Chris lakukan?