Di Balik Sang Ceo

Di Balik Sang Ceo
DBSC 37


__ADS_3

Kantor pak Arya, tiga hari sebelum kepulangan Chris.


Hector tiba-tiba melakukan kunjungan ke kantor Arya karena sudah tidak sabar dengan penundaan kabar dari Arya. Karena dia merasa ada yang aneh dan seperti ada yang disembunyikan darinya. Sekretaris Arya tidak bisa menghalangi Hector untuk masuk ke dalam ruangan pengacara itu.


Begitu dibuka, Arya yang masih berada dalam sambungan telepon kemudian memilih untuk memutuskan sambungan dan mengangguk paham ke arah sekretarisnya. Dia mempersilakan Hector untuk duduk di sofa dan bersabar menunggu Arya menyelesaikan pekerjaan yang saat ini tidak bisa ditinggalkan meski sebentar.


Sekitar 30 menit, Arya akhirnya menyelesaikan pekerjaan dan dia menghampiri Hector yang masih sabar duduk menunggu dia sambil menikmati kopi yang dihidangkan.


“Ada apa?” tanya Arya pura-pura tidak mengerti apa tujuan Hector.


“Aku merasa aneh dengan sikapmu tiba-tiba. Tidak bisa dihubungi padahal aku membutuhkan bantuan dengan cepat, Ar.”


“Sebenarnya saat ini aku sudah menemukan orang yang kemungkinan anakmu, tetapi aku harus menunggu hasil tes darah keluar. Dan itu masih seminggu lagi. Kenapa kamu tidak bisa bersabar?” Arya menjawab dengan tenang tanpa terlihat berbohong karena ini merupakan permintaan Chris.


Dia merasakan apa yang Chris alami saat ini. Ketika orang tua membutuhkan anaknya baru dia mencari meski dia mengerti bagaimana tekanan Hector pada saat itu. Akan tetapi, itu adalah hak Chris untuk marah.


“Aku bukannya tidak bersabar, tetapi kamu Ar, yang tiba-tiba menghindari pertanyaan dan panggilanku!” bentak Hector.


“Karena kamu tidak mengerti apa yang kuucapkan, Tor. Perkiraan lamanya tes darah itu yang menentukan rumah sakit, bukan aku!” Arya sudah ikut bernada tinggi tetapi nada bicara masih normal.


“Baiklah, maafkan aku. Kamu tahu kondisi Arya, harusnya kamu paham bagaimana aku tidak khawatir,” ucap Hector memelas.


“Tapi apa kamu pernah berpikir dan memikirkan bagaimana berada di posisi anakmu?” cecar Arya gemas melihat Hector masih dengan egoisnya mencari pembelaan. “Kau tahu, dia sebenarnya sempat menolak untuk melakukan tes itu. Karena aku memaksa dan memohon kepada hanya untuk memenuhi ambisimu mendapatkan anakmu untuk mengelola hartamu!” Arya lama-lama jengkel dengan perlakuan Hector sehingga dia emosi dengan temannya itu.


Hector sungguh terdiam melihat bagaimana Arya yang selama ini terkenal pendiam. Sekarang marah kepadanya karena ulahnya dan dia yang tidak tegas. Tidak berani mengambil resiko untuk melawan ayahnya dan memilih menjalankan hidupnya sendiri. Korbannya adalah Isha dan anaknya. Korban dari keegoisannya selama ini.


***

__ADS_1


Yogyakarta, Panti Asuhan.


Chris dan Alexa sudah berada di sana hampir seminggu, tetapi mereka harus kembali ke Jakarta. Karena Chris mendapat telepon dari Melissa yang mengabarkan akan ada rapat dengan atasan pada hari Senin esok. Hal ini membuat Chris harus kembali pada hari Minggu dan agak merasa bersalah kepada Alexa.


“Maaf, ya. Sudah harus mengajakmu kembali ke Jakarta,” pinta Chris meminta maaf.


“Heem, tidak apa-apa. Di sini juga sudah lumayan lama dan rinduku terobati sama ibu,” Alexa memeluk Chris sebentar kemudian melepaskan kembali karena harus mengemas baju mereka ke dalam koper.


Chris sudah selesai mengemas tadi sore setelah mendengar telepon dari Melissa. Dia sebenarnya ingin bertanya kepada Jerry perihal apa ada rapat tetapi besok saja lah setelah dia tiba di Jakarta. Dia membantu mengemas pakaian dan membantu memasukkan pakaian Alexa ke dalam koper. Kaki Alexa sudah lumayan sembuh, tetapi memang tetap harus menjalani fisioterapi kembali.


Keesokan paginya tiba dengan matahari yang terbit lebih awal karena cuaca yang masih tidak dapat diprediksi. Meski pagi itu matahari sudah muncul, tetapi hawa dingin tetap menyerang mereka. Alexa dan Chris berangkat pagi karena tiket yang dibeli mereka sama seperti kemarin pukul 12.30 siang.


Pukul 02.30 sore mereka tiba di bandara Jakarta dan tentunya merepotkan kembali Jerry untuk menjemput dan mengantarkan ke apartemen Chris. Alexa dibantu Chris untuk mengeluarkan pakaian dari koper. Selanjutnya, dia memisahkan bajunya untuk dicuci sedangkan Chris pamit ke apartemen Jerry untuk membahas masalah pekerjaan. Alexa pun menghubungi Bianca jika dia sudah tiba di apartemen Chris.


Apartemen Jerry.


“Apanya, tidak jadi melamar di sana. Aku hanya meminta ijin ke bu Wina untuk menikahi Alexa,” sesal Chris saat sudah berada di apartemen Jerry.


Dia menuju ke dapur untuk mengambil minuman di kulkas. Minuman yang bisa membantu dia mendinginkan kepalanya. Jerry yang melihat itu begitu penasaran, tetapi dia menunggu Chris untuk memulai bercerita karena dia hapal bagaimana suasana hati temannya itu.


Jerry masih duduk di ruang tamu dan bermain ponsel sebentar. Setelah kembali dari dapur, Chris duduk di bawah di samping sofa Jerry.


“Lalu sekarang bagaimana maumu?” tanya Jerry pelan.


“Iya, aku rencananya akan melamar dia setelah pulang dari fisioterapi tiga hari lagi. Nanti aku cuti sehari saja untuk mempersiapkan semua di apartemen,” jawab Chris yakin.


“Yakin tidak dibantu?”

__ADS_1


“Tidak perlu, aku harus berusaha sendiri. Lagian, aku rencana memasak sendiri kok,” Chris terlihat berpikir. “Oh iya, titip pesan ke Bianca saja untuk menemani hingga sebelum jam 6 petang.”


“Ok, nanti akan kuingatkan,” jawab Jerry meyakinkan.


“Eh, masalah rapat itu memang mau bahas apa?” tanya Chris tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.


“Itu karena sekarang dibutuhkan orang untuk posisi pengganti pak Herman dan pak Helmi. Kemarin pihak HRD sudah melakukan interview tahap I dan akan lanjut tahap II.” Jerry menegak minuman karena haus sebelum melanjutkan, “nah, yang untuk tahap II ini diminta kita sendiri yang menginterview mereka tetapi daftar pertanyaan inilah yang akan didiskusikan dalam rapat besok. Mungkin juga ada orang dalam di sana.”


“Duh, orang dalam ya. Justru yang seperti kan harusnya dibasmi. Kok malah mereka mengadakan rapat demi titipan kedudukan.” Chris kembali menyeruput minumannya karena masih haus ternyata.


“Itulah, sebenarnya ada lagi sih yang lain yang akan dibahas. Mereka ingin mendengarmu untuk memberikan nilai tambah bagi Perusahaan setelah skandal itu,” ujar Jerry ragu-ragu.


“Nilai tambahan? Mereka merasa kurang puas dengan hasil yang mereka dapat hingga hari ini?” Chris mulai meneguk minumannya kembali. “Mereka enak sekali, ada skandal lepas tangan. Giliran skandal selesai, sekarang memaksa kita untuk berpikir menaikkan omset lagi.”


“Sabar, ya. Nanti kubantu memikirkan apa yang harus dilakukan.”


“Tetap saja ada rasa kesal, Jer, tetapi terima kasih.” Chris memeluk Jerry yang buru-buru Jerry lepaskan.


“Kenapa kamu begitu. Biasanya tidak protes, hahaha….” Chris tertawa melihat kelakukan Jerry.


“Sekarang terlihat aneh kupikir-pikir.” Jerry ikut tertawa.


“Lah.”


Mereka memutuskan untuk pergi berbelanja terlebih dulu karena stok makanan di apartemen Chris habis. Setelah itu, mereka kembali ke apartemen Chris untuk memasak makanan untuk makan malam. Sesampainya di apartemen mereka terkejut melihat ada Bianca di sana karena tidak menyangka Bianca tahu mereka sudah pulang. Untungnya tadi Chris berbelanja lebih banyak jadi tidak akan kekurangan.


Malam itu, Chris berpikir keras untuk menemukan inovasi apa yang harus dibuatnya. Dia juga harus memikirkan dari segi produksi, keuntungan, dan penjualan. Kira-kira inovasi apa ya?

__ADS_1


__ADS_2