
Dering ponsel pak Arya berbunyi nyaring menandakan itu notifikasi telepon masuk. Dan dijawabnya panggilan tersebut. “Aku belum menemukannya.”
Tidak ada lagi yang dikatakan oleh pihak seberang sana sehingga pak Arya pun mematikan teleponnya. Bagaimana lagi dia membujuk Chris untuk memberikan sampel datanya, pikir pak Arya sebelum dia pergi meninggalkan kantor.
Apartemen Chris
Chris menatap kembali pada layar ponselnya yang menampilkan pesan dari pak Arya untuk kesekian kalinya. Dia memutuskan untuk jujur saja dengan beliau agar tidak lagi dikejar-kejar seperti ini. Melelahkan.
Chris: Maaf, Pak, sekali lagi saya tekankan saya ingin mencari tahu masa lalu saya dulu. Baru saya bisa memutuskan untuk membantu Bapak atau tidak! Lagi pula itu hanya anggapan Bapak saja.
Pak Arya: Maaf, jika menyinggung kamu. Berikut ini kuberikan foto yang saya pikir adalah ayahmu. Coba perhatikan baik-baik, apakah kamu mirip dengannya.
Chris melihat foto tersebut dan dia pun berkaca agar memastikan bahwa apakah dia benar mirip atau perkiraan hanya pak Arya saja. Chris tidak membalas pesan terakhir dari pak Arya. Dia keluar dari kamarnya untuk menanyakan foto tersebut pada Alexa selagi Alexa belum tidur.
Alexa sudah berada di kamarnya dan ketika diketuk oleh Chris, dia akan tidur. Tidak jadi membaringkan tubuh di ranjang, dia berjalan membuka pintu dan melihat Chris menunggunya.
“Kenapa lagi? Katanya suruh tidur.” Alexa pura-pura kesal padanya.
“Sebentar aja kok. Tolong lihat foto ini baik-baik dan perhatikan apakah mirip wajahku.”
“Siapa ini?” Alexa belum melihat foto yang berada di ponsel Chris.
“Bandingkan dulu, baru aku cerita.”
“Oke.”
Alexa mengambil ponselnya dan memperhatikan dengan detail foto tersebut dan ketika dibandingkan dengan wajah Chris yang menatapnya. Dia merasakan familiar pada beberapa fitur, seperti mata, hidung, dan bentuk wajah sehingga membuat Alexa jadi penasaran.
“Ini siapa?”
“Aku mirip dia?”
“Iya, mirip. Apa nanti kalo kamu tua jadi begini ya? Tetap ganteng kok.” Alexa tetap memuji takutnya nanti Chris marah.
__ADS_1
“Gak kok. Ini teman pak Arya, yang memintaku untuk tes darah.”
“Owh, pantes sih kalo pak Arya berpendapat begitu habisnya mirip loh. Jangan-jangan memang itu ayah kamu.” Alexa melihat perubahan wajah Chris yang terlihat kesal. “Maksudku bukan gitu. Tapi kita bisa tanya ibu panti mungkin ada yang belum diceritakan sama kamu.” Alexa memberikan penjelasan lebih agar Chris tidak marah.
Chris meminta ponselnya dan meninggalkan apartemen lalu menuju apartemen Jerry. Dia pun meminta pendapat Jerry juga mengenai foto tersebut. Apabila Jerry bilang mirip juga berarti dia akan mencoba untuk tes darah sesuai permintaan pak Arya. Alexa yang ditinggalkan hanya bisa heran melihat Chris keluar apartemen tanpa memberikan penjelasan. Dia pun memilih kembali untuk tidur.
“Jerry, bukakan pintunya.” Chris mengetuk pintu kamar Jerry.
“Ada apa sih, Chris? Ganggu aja!” Jerry membuka pintu dengan kesal.
“Bantu aku, perhatikan foto ini ya. Mirip tidak sama aku?” Chris menyodorkan ponsel tersebut.
Jerry mengambil dan memperhatikan bergantian antara foto dan wajah Chris. “Ini kamu pake aplikasi yang biar wajah tua ya?” Jerry tertawa wajah Chris ketika tua, terlihat masih tampan dan lebih berkharisma.
“Duh, jadi mirip banget ya?” memastikan sekali lagi.
“Iya, meski ada bagian yang berbeda sedikit tapi kan filter juga tidak sempurna.”
“Emang kenapa?”
“Jadi begini ….” Chris menceritakan permintaan pak Arya dari tes darah yang memaksa Chris.
“Oh, jadi kamu ingin berkunjung ke panti dulu. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa membantumu mengetahui apakah orang tuamu masih hidup atau tidak?”
“Yup, karena aku juga masih amnesia.”
“Lebih baik menerima permintaan itu, apa ruginya? Hanya memberikan darah saja. Jika memang bukan ayah kandungmu kan ya sudah. Kalau iya, nah itu baru dipikir ketika sudah menerima hasil.”
Chris terlihat mempertimbangkan pendapat Jerry dan dia tidak sengaja melongok ke dalam kamar Jerry. Penasaran dengan yang sedang dikerjakan Jerry tetapi temannya itu menutupi pintu agar dia tidak bisa melihat bagian dalam.
“Kamu sedang apa sih?”
“Hehe, sedang bermain dong.”
__ADS_1
“Bermain apa hayo?”
“Dih, sudah ah. Aku mau lanjut bermain.”
“Oke, terima kasih pendapatmu ya.”
Chris masuk kamarnya dan akan membalas pesan kepada pak Arya tetapi ditunda besok pagi saja biar tidak mengganggu waktu istirahat pak Arya.
Keesokan harinya, sebelum berangkat bekerja Chris tidak lupa mengirim pesan kepada pak Arya agar nanti tidak akan mengganggu lagi.
Chris: Pagi, Pak. Untuk masalah tes darah, saya akan melakukan hal tersebut tetapi saya besok siang ada waktu.
Pak Arya: Baik, terima kasih. Besok saya akan memberitahumu lokasi rumah sakit yang mana.
Chris: Sampai jumpa besok.
Setelahnya Chris langsung berangkat ke kantor tanpa mampir ke apartemennya karena Alexa sudah mengabari jika dia akan ke kantor dengan dijemput Bianca. Alexa memaksa agar dia mengijinkan untuk bekerja tetapi dengan catatan dia tidak pulang ke rumah tetapi ke apartemen Chris. Bagaimanapun itu syarat dari Alexa sehingga mau tidak mau, Chris menyetujuinya.
Chris lupa belum bercerita masalah pernikahan dengan Jerry. Kira-kira apa pendapat sahabatnya itu jika dia menikah dengan Alexa. Jerry juga belum tahu jika Alexa adalah gadis remaja yang mencintainya. Wah, sepertinya memang akhir-akhir ini waktu untuk Jerry berkurang. Dia harus pintar membagi waktunya dengan Jerry agar tidak merasa tersisihkan karena selama ini mereka hanya berdua saja ke mana-mana.
Chris sudah sampai kantor dan mendatangi Jerry ke ruangannya untuk meminta pendapatnya lagi. Jerry yang kebetulan tidak ada ruangannya karena belum datang. Akhir-akhir ini dia ke mana sih, sulit sekali bertemu dengannya, pikir Chris. Dia meminta kepada Dena jika Jerry datang untuk segera ke ruangannya.
***
Jerry yang sedang dibicarakan Chris saat ini sedang menemui seseorang yang masa lalunya berkaitan dengannya. Dia memang tidak sengaja bertemu tetapi Jerry tidak ingin lagi berhubungan dengan masa lalunya. Jadi, Jerry bertanya kepada wanita itu mengapa dia pindah ke sini, suatu kebetulan atau bukan.
“Jadi, jelaskan alasanmu ke sini, Anne!” cecar Jerry tidak suka.
“Aku tidak tahu jika kamu berada di kota ini, Jer. Aku sudah lama tidak mendengar tentangmu. Kamu yang menghilang setelah Leslie meninggal.”
“Jangan ingatkan aku masalah itu! itu masa lalu dan sudah kukubur. Silakan lanjutkan hidupmu tanpa kenal denganku lagi. Saya dan kamu sangat asing. Bersikaplah untuk tidak mengenalku ketika berpapasan!” Jerry meninggalkan Annette sendirian di sana.
Jerry tahu pasti bagaimana sikap Annette setelah Leslie meninggal. Annette sempat mendekati Jerry setelah beberapa bulan Leslie menikah dan menawarkan diri untuk menjadi penggantinya. Akan tetapi, Jerry yang masih dalam tahap penyembuhan sakit hati setelah pengkhianatan itu tidak menggubris Annette. Hal itu membuat Annette berbuat nekat dengan mengikuti ke mana Jerry pergi. Sampai membuat Jerry melaporkan kelakuan Annette kepada orang tuanya sehingga mereka terpaksa mengirim Annette ke luar negeri
__ADS_1