Di Balik Sang Ceo

Di Balik Sang Ceo
DBSC 30


__ADS_3

Mendengar keputusan itu, Jerry melihat pak Herman langsung menangis dan raut wajahnya terlihat menyesali perbuatannya. Dia yang tergoda untuk korupsi dan saat ketahuan harus mempertanggungjawabkan. Di satu sisi Jerry lega dengan hukuman itu, sedangkan di sisi lain, Jerry khawatir jika pak Herman akan mengajukan banding untuk meringankan hukumannya.


Jerry mencoba menghubungi Chris menanyakan dia sedang berada di mana dan ternyata Chris masih berada di rumah sakit. Dia meminta agar Chris langsung pulang setelah dari rumah sakit. Dia mengendarai mobilnya dengan cepat untuk mampir ke toko bunga.


Dia membeli buket bunga lili, bunga kesukaan sang mantan, kemudian naik mobil kembali untuk menuju ke pemakaman di pinggiran kota Jakarta. Dia mendatangi sebuah nisan yang sudah tidak terawat karena hampir tidak ada yang berkunjung kemari selain Jerry. Orang tua mantanya tersebut juga sudah meninggal karena menderita sakit. Jerry selalu berkunjung setiap tahunnya hanya untuk merawat makam tersebut karena kasihan jika dibiarkan tidak terawat. Masalah soal move on, Jerry sudah lepas dari bayang masa lalu. Dia menerima dengan Ikhlas apa yang terjadi padanya ketika masih muda.


Dia banyak belajar bersama Chris tentang kehidupan yang mereka lalui dengan penderitaan dan perjuangan masing-masing. Dia memang tidak pernah bercerita kepada Chris masalah ini, karena memang tidak ada sangkut pautnya. Dia merasa hidupnya tidak berarti sebelum bertemu dengan Chris. Mungkin dari situ, dia tidak ingin bercerita kepada Chris.


Selepas dari meninggalkan makam, dia menuju apartemen dan bebersih diri karena dianjurkan bahwa jika dari pemakaman harap langsung mandi. Setelah dia keluar dari kamar mandi, dia memilah pakaian kotornya. Sejak Chris tinggal di sini, dia mengikuti cara Chris untuk mencuci baju sendiri. Untuk beberes rumah, dia sama seperti Chris menyewa jasa pembersih.


Jerry menekan tombol hijau pada teleponnya karena tiba-tiba berdering, “Halo?”


“Halo, Jer, aku sudah pulang dari rumah sakit. Kamu jadi ke apartemen tidak?”


“Hee, kamu masak tidak? Kalau tidak aku akan memesan sekarang karena aku baru selesai mandi.”


“Pesan ayam goreng dan pizza saja ya!” teriak Alexa keras agar Jerry mendengar.


“Ok, kupesankan untuk tiga orang ya.”


Jerry menutup telepon setelah dari pihak sana yang memutuskan telepon dulu. Tidak lupa langsung memesan makanan sesuai permintaan Alexa kemudian dia keluar menuju apartemen Chris. Dia langsung saja membuka pintu apartemen Chris karena mereka memang saling mengetahui password apartemen masing-masing.


Begitu dia masuk, dia melihat Chris dan Alexa sedang berciuman, di ruang tengah. Mereka ini beneran minta dinikahin kok, pikir Jerry.


“Ehem.” Jerry menuju ruang tengah tanpa sungkan dan membuat mereka berhenti.

__ADS_1


“Ck,” decak Chris menatap tajam ke arah Jerry.


“Maaf, Jer. Chris tuh salahin, gak mau lepas. Kayak pas muda gak pernah ciuman aja,” ejek Alexa.


Raut wajah Chris langsung berubah kaku dan itu membuat Jerry tertawa terbahak-bahak. Alexa yang melihat itu hanya menatap heran kepada tingkah laku Chris dan Jerry.


“Ya ampun, Lex. Dia itu emang belum pernah ciuman, pacaran saja baru sama kamu kok.” Jerry menjelaskan kepada Alexa. “Chris itu tampan tapi sulit didekati. Sepanjang aku bersama dia, gak pernah melihat dia sama wanita lain. Santai kamu gak punya saingan kok.” Jerry melanjutkan menertawakan Chris.


Chris yang saat itu menjadi sangat malu dan dia pergi ke pintu depan karena terdengar suara bel berbunyi. Ternyata itu makanan yang dipesan Jerry sudah datang. Makanan itu dihabiskan tidak sampai 30 menit oleh mereka bertiga. Setelah itu, Jerry melaporkan tentang hasil sidang tadi pada mereka berdua.


“Jadi, hasil putusan pak Helmi, dihukum setahun lebih sedangkan pak Herman langsung lima tahun penjara.”


“Lalu pak Anggara bagaimana?” Chris bertanya karena penasaran.


“Masih baru penahanan dan sudah dipindahkan ke rutan karena kemarin beliau sempat nekat kabur ke luar kota.”


“Iya, setuju.” Alexa hanya bisa menyetujui karena tidak mengikuti masalah dengan pak Anggara.


Chris pergi ke kamarnya kemudian kembali dengan membawa kartu remi untuk bermain bertiga karena malam ini dia ingin tetap menemani Alexa hingga tertidur seperti biasa. Sebenarnya Chris ingin sekali tidur di apartemennya malam ini tetapi ditolak oleh Alexa daripada nanti terjadi hal yang diinginkan oleh mereka.


***


Dua minggu telah berlalu, besok Senin adalah putusan sidang untuk pak Anggara. Besok, Chris akan memastikan dirinya untuk menghadiri sidang tersebut. Saat ini dia sedang membawa Alexa untuk jadwal ke rumah sakit. Harusnya hari ini juga, gips milik Alexa bisa dilepas jika hasilnya sudah bagus dan Alexa akan mulai mengikuti fisioterapi di hari Selasa. Untuk sementara, dia akan mulai menggunakan kruk.


Kondisi kaki Alexa sesuai prediksi dokter, tulang kakinya sudah mulai sembuh sehingga gips bisa dilepas sebelum mereka pulang. Nanti pulang dari rumah sakit dia ingin pergi ke restoran favoritnya dan kembali ke rumahnya sebentar. Sudah hampir tiga bulan lebih dia meninggalkan rumahnya sehingga dia ingin melihat kondisi rumah. Nah, tiba-tiba terlintas jika Alexa kembali ke rumah, dia dan Chris tidak akan bertemu setiap hari karena dia tahu sesibuk apa Chris saat ini.

__ADS_1


Chris menuruti permintaan Alexa yang ingin jalan-jalan meski Chris sudah memperingati untuk tidak berlebihan karena kakinya belum sembuh benar. Dia tetap membawa kursi roda di bagasi mobil untuk berjaga-jaga jika Alexa lelah dan kakinya kembali sakit. Setelah memakan hidangan di restoran favoritnya, mereka pergi ke rumah Alexa sebentar.


Alexa melihat keadaan rumahnya dalam keadaan bersih. Hal itu menjadikan dia mencurigai Chris karena tidak biasanya rumahnya seperti ini.


“Mengapa rumahku bersih?”


“Ehm, itu … aku menyewa jasa pembersih mingguan jadi rumahmu tetap bersih, Sayang,” rayu Chris dengan panggilan sayang.


“Iya, terima kasih. Tapi kan bisa sebelumnya bilang ke aku dulu.” Alexa pura-pura merajuk agar Chris tidak seenaknya untuk selanjutnya.


“Iya, maafkan aku, ya. Sekarang kita pulang ya. Kan di rumah sudah bersih.”


“Kapan aku boleh kembali ke sini?” Pertanyaan itu membuat raut muka Chris jadi datar sehingga membuat Alexa tahu itu topik yang nanti akan dibahas Chris lagi.


Chris kemudian mengajak Alexa untuk pulang ke apartemen. Sepanjang perjalanan mereka diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Alexa sibuk berpikir untuk membujuk Chris agar tidak marah lagi sedangkan Chris berpikir bagaimana caranya dia tidak berpisah dengan Alexa.


Mereka masuk ke apartemen Chris masih dalam mode diam. Kemudian Alexa mengalah karena dia yang tadi memulai membahas pindah rumah.


“Chris, tolong bicaralah. Jangan diam saja,” pinta Alexa memelas.


“Maafkan aku. Aku diam untuk berpikir bagaimana caranya agar kamu tetap mau tinggal denganku di apartemen.” Chris menjawab yang ada di pikirannya.


“Kalo mau tinggal berdua ya menikah. Aku tidak mau kumpul kebo sama kamu Chris.”


“Baiklah, kita akan menikah!” Chris keceplosan bicara seperti itu. Duh, harusnya lamaran tidak seperti itu, pikir Chris.

__ADS_1


Alexa hanya melongo melihat Chris bicara seperti itu dan tiba-tiba dia pergi meninggalkan Chris di ruang tamu. Dia masuk kamarnya dan mengunci dari dalam agar Chris tidak ikut masuk ke dalam. Dia perlu mengontrol detak jantungnya, seperti habis melakukan olahraga, perkataan Chris itu.


__ADS_2