
Di dunia ini, kebahagiaan tercipta dari diri sendiri, baru kita bisa lebih berbahagia dengan orang lain. Seperti itulah yang dirasakan oleh Alexa beserta keluarga kecilnya. Setelah kelahiran putra pertama mereka dua tahun lalu, yang diberi nama Owen Nicholas James, yang saat ini sedang merayakan umur yang kedua.
Alexa mengingat kejadian ketika dia melahirkan Owen yang saat itu penuh perjuangan. Dia memang melahirkan secara normal dan dengan setia ditemani oleh suaminya. Chris mendampinginya mulai dari dia mengalami kontraksi dan setiap pembukaan yang dialaminya.
Tiba saat perawat memeriksa bahwa dia sudah mengalami bukaan 10 dan harus segera dibawa ke ruang bersalin. Chris diminta untuk mendampinginya untuk memberikan dukungan dan pengalihan agar tidak merasakan sakit ketika melahirkan. Tim medis yang berpengalaman juga telah bersiap untuk membantu Alexa melalui setiap langkah proses ini.
Setelah beberapa jam perjuangan, dokter memerintahkan Alexa untuk mengejan ketika tiba putranya sudah akan keluar melihat dunia. Dia meremas tangan suaminya dan mereka saling berpandangan untuk memberikan support dan menyalurkan kekuatan untuk tetap bertahan dan menahan rasa sakit itu.
Alexa merasakan kombinasi antara kelelahan dan kegigihan. Dia mengerahkan segala tenaga yang ada dalam dirinya untuk memastikan bahwa bayi mereka dapat tiba dengan selamat. Suara tangisan bayi yang lama dinantikan akhirnya mengisi ruangan saat bayi laki-laki itu ditarik keluar. Sorotan bahagia terpancar di mata Alexa dan Chris. Chris segera mencium kening istrinya dan mengucap terima kasih untuk anugerah yang diberikan.
Bayi yang masih merah itu segera ditidurkan di dada ibunya untuk menciptakan bonding dan mencari sumber makanannya. Tak lama, perawat mengambil bayinya untuk segera dibersihkan dan diberikan selimut agar tetap hangat karena bayi itu belum bisa merasakan bahwa dia sudah keluar dari perut ibunya. Owen yang lahir dengan berat 3,4 kg dan panjang 48cm memiliki fitur perpaduan wajah dari Chris dan mata dari Alexa. Meski sang ayah lebih banyak porsinya daripada sang ibu.
Alexa kembali tersadarkan ketika dari pintu terbuka dan masuklah pasangan ayah dan anak itu setelah mereka dari supermarket berbelanja untuk kebutuhan nanti sore. Ya, sore nanti mereka akan makan malam bersama sahabat-sahabat untuk merayakan ulang tahun si kecil. Karena si kecil belum mengerti apa itu ulang tahun sehingga mereka hanya merayakan dengan sederhana saja.
Sebenarnya Alexa juga mempunyai kejutan untuk ayah Owen itu. Hadiah yang akan sangat membuatnya terkejut lagi. Dia sudah mempersiapkan nanti untuk momen mereka berdua.
“Bu, aku gendong,” pinta Owen yang baru saja turun dari gendongan ayahnya.
“Terima kasih, anak ibu sudah menemani ayah berbelanja. Pintar sekali,” puji Alexa terhadap balita kecilnya.
Mereka berdua sepakat untuk memberikan apresiasi sekecil apa pun sejak dini agar sedari kecil Owen merasa dihargai. Karena dengan latar mereka yang diasuh di panti asuhan membuat mereka harus bersyukur tidak terjadi pada Owen.
Alexa yang sedang memanggang bolu terakhir akhirnya memilih menggendong putranya dan menitipkan panggangan pada suaminya. Karena sekarang waktunya Owen tidur. Memang sih, Owen sudah tidak minum ASI, tetapi dia masih membutuhkan ibunya untuk dipeluk sebelum tidur.
__ADS_1
Dia memilih menidurkan Owen di kamarnya sendiri karena sekarang masih siang. Acaranya masih beberapa jam lagi, dia pun ikut tertidur menemani sang putra. Sedangkan di bawah, Chris sedang mengambil kue bolu yang sudah matang. Dia naik untuk mengintip mengapa istrinya tidak turun. Setelah tiba di pintu yang terbuka, terlihat istrinya yang tertidur bersama putra mereka.
Chris kembali turun untuk menyelesaikan kekurangan menu makanan yang akan dihidangkan. Dia tinggal membuat salad, pasta dan spaghetti. Sudah lama dia tidak memasak untuk banyak orang. Dia mempersiapkan bahan-bahannya terlebih dahulu. Dengan gesit dia mengupas, mencuci dan memotong semua bahan. Setelah itu dia memulai membuat spaghetti dulu sambil merebus pasta. Selagi menunggu matang, dia memotong-motong untuk bahan saladnya.
Sekitar satu jam lebih dia fokus memasak, tidak sadar bahwa Alexa sudah bangun dan turun ke bawah.
“Maaf, aku ketiduran!” rengek Alexa manja.
Membiarkan suaminya yang melanjutkan memasak membuat dia merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, Sayang.” Chris mendekat dan mengecup basah bibir Alexa.
Segera dihentikan ciumannya itu karena dia sedang memasak. Apabila tidak memasak pastinya istrinya sudah dibawa ke dalam kamar. Dia melihat wajah istrinya yang tampak lebih berisi lalu dikecup keningnya dan dia kembali memasak lagi. Istrinya memutuskan untuk membuat saus untuk saladnya.
Banyak orang yang iri melihat keharmonisan rumah tangga mereka, tetapi mereka tidak melihat apa saja yang dilalui oleh Chris dan Alexa itu. Jerry saja iri melihat mereka berdua apalagi saat ini dia begitu getol melamar anak gadis orang, tetapi selalu ditolak. Entah ini sudah yang keberapa kalinya.
Bel di pintu depan berbunyi, mereka berdua saling menatap menebak siapa yang sudah datang padahal masih pukul 2 siang. Acara masih dimulai pukul 4 sore karena harus mempersiapkan anak bayi tampan. Chris meninggalkan dapur dan membukakan pintu depan. Terlihat Jerry di sana, sendirian dengan membawa buket bunga dan juga wine.
Chris menyambut dan mempersilakan Jerry masuk dan menerima hadiah yang dibawanya. Selanjutnya mereka berpelukan layaknya dua orang yang sudah lama tidak bertemu, padahal mereka tiap hari bertemu di kantor. Jerry turut ke dapur dan menyapa Alexa di sana.
“Lho, Jer, kok sendirian. Annette mana?” goda Alexa.
“Tau, gak usah bahas dialah,” balas Jerry dengan muka tertekuk.
__ADS_1
“Hahaha, kamu itu. Makanya sabar jika berhadapan sama wanita tuh. Kenapa lagi sih? Ditolak lagi?” tanya Alex.
“Seperti biasa, entah aku harus melakukan apalagi untuknya. Atau aku mundur saja?” Jerry ingin menyerah.
“Kenapa seperti itu, Bro.” Chris merangkul sahabatnya agar tidak menyerah. “Coba sekarang giliranmu untuk diam tidak perlu membahas lamaran sama sekali selama 2 minggu ini. Apa Anne akan protes atau tetap diam? Kamu akan mengetahui jawabannya.”
“Ih, apaan sih. Kamu itu malah ngasih saran yang gak masuk akal deh. Trus kalo nanti Anne diam aja. Hubungan mereka jadi gimana, Chris.” Alexa menabok Chris di punggungnya.
“Lalu, aku harus apa, Lex?” tanya Jerry yang bingung melihat kedua sahabatnya.
“Lebih baik kamu ajak bicara dari hati ke hati. Sudah pernah dilakukan?” tanya Alexa ikut sedih.
“Sudah, tetapi dia tetap pada pendiriannya. Dia tidak terbuka sepenuhnya denganku.” Jerry semakin muram.
“Atau ada hal yang memang tidak ingin kamu tahu, Jer,” tebak Alexa.
“Atau dia tidak mempercayai aku selama setahun ini.” Jerry yang sudah pasrah pergi ke kamar Owen untuk menghibur diri.
“Sayang, bagaimana jika kamu mencari tahu alasan Anne.” Saran yang diangguki oleh Alexa.
Alexa membiarkan suaminya menyusul sahabatnya untuk memberikan semangat dalam menghadapi percintaan. Setengah jam kemudian bel berbunyi lagi, dia membukakan pintunya karena para pria sedang di dalam. Terlihat Anne dengan mukanya yang sedih segera memeluk Alexa.
Diajaknya keluar untuk duduk di teras depan agar para pria itu tidak mendengarkan curhatan hatinya. Anne pun bercerita dengan isak tangis yang sulit dihentikan oleh Alexa. Saat ini dia menjadi pendengar yang baik sebelum memberikan nasehatnya untuk kekasih sahabatnya ini.
__ADS_1