Di Balik Sang Ceo

Di Balik Sang Ceo
DBSC 28


__ADS_3

Chris dan Alexa yang sedang berbahagia karena sudah resmi berpacaran tidak bisa menyembunyikan dari Jerry dan Bianca. Hal itu terlihat dari raut wajah mereka yang berseri dan sedikit-sedikit tersenyum dan tidak memperhatikan sekitar. Jerry dan Bianca yang melihat itu menjadi jengah dan meninggalkan mereka berdua di ruang tengah apartemen Chris.


Jerry dan Bianca sepakat untuk memasak saja untuk makan malam hari ini. Mereka sedang merayakan untuk usaha mereka yang berhasil membuat jadwal sidang pak Herman dan pak Helmi dipercepat. Mereka merayakan dengan makan malam dengan bahan yang premium. Itupun Chris yang mengeluarkan uang karena dia ingin merayakan hari jadinya dengan Alexa.


Melihat Jerry dan Bianca yang menuju ke dapur, Chris menyusul mereka dan meminta mereka untuk kembali ke ruang tengah untuk menemani Alexa karena dia ingin memasak hari ini untuk mereka. Bahan-bahan yang sudah dipesan sudah datang sehingga Chris bisa memulai persiapan memasak. Dia ingin menghidangkan Lobster Bakar dan Taco dengan toping seafood. Karena dia pertama kalinya memasak porsi besar dia agak kurang percaya diri untuk rasa masakannya. Akan tetapi, melihat antusias teman-temannya sepertinya mereka tidak akan masalah apabila rasanya kurang cocok. Untuk itu, ditambahkan saus lemon sebagai pelengkap untuk menutupi rasa yang kurang sedap.


Setelah satu jam lebih memasak dua menu itu, akhirnya selesai juga dan segera dihidangkan kepada mereka. Mereka makan dengan terus memuji Chris yang serba bisa dan hasilnya selalu memuaskan.


“Sulit juga mencari salahnya kamu, Chris,” Jerry protes karena apa yang dilakukan selalu berhasil.


“Apaan, sih. Kamu sebenarnya juga bisa, sayangnya kamu tidak sepenuh hati melakukannya,” sindir Chris membalas Jerry.


“Iya, sih. Hahaha….”


Mereka bercanda sambil menikmati sajian hingga kedua menu itu hanya menyisakan sampah saja. Sekarang giliran Jerry yang mendapat bagian untuk mencuci piring. Karena dia yang menghabiskan sebagian besar makanan itu. Kedua wanita hanya memakan sesuai porsi mereka meski sempat tambah sedikit tetapi tidak sebanyak pria yang satu itu.


Selanjutnya mereka bersantai di ruang tengah dengan minuman mocktail yang dibuat Jerry setelah mencuci piring. Mereka membahas tentang rencana hubungan Chris dan Alexa ke depannya. Selain itu, mereka juga menggoda Jerry yang iri dengan hubungan Chris dan Alexa sehingga mengusulkan untuk mencoba aplikasi kencan yang saat ini sedang ramai digandrungi anak muda.


Chris mengajak Alexa untuk pergi sebentar ke balkon apartemen untuk berbicara berdua.


“Lex, aku mau bertanya sama kamu. Apakah kamu mau menemaniku ke panti asuhan?”


Alexa hanya memandang Chris dengan mata berkaca-kaca, “apakah tidak apa-apa? Aku takutnya nanti kamu akan sakit lagi.”


“Selama aku masih tidak memaksa kepalaku untuk mengingat tidak apa-apa. Jika memang kamu takut, aku akan meminta obat ke dokter untuk kukonsumsi saat kita pergi.”


“Boleh, aku mau menemanimu. Sudah lama juga aku tidak datang ke sana. Terakhir dua tahun lalu, dan akhir-akhir ini aku jarang bertukar pesan juga.”

__ADS_1


“Iya, paling tidak menunggu kakimu lepas dari gips ya. Kemarin kan waktu periksa juga dokter sudah bilang kalau tulangnya sudah mulai pulih.”


“Ok, aku akan bersabar untuk tidak memaksa berlatih berjalan agar proses penyembuhannya juga lebih cepat.”


“Mungkin kita jadwalkan sekitar sebulan lagi begitu ya mengunjungi panti.”


“Doakan aku bisa lebih baik yaa, paling tidak, aku tidak ingin menambah bebanmu.”


“Boleh berusaha lebih cepat untuk sembuh tetapi jangan lupa untuk tetap tidak memaksakan kondisi tubuhmu, Sayang,” panggil Chris refleks membuat Alexa merinding karena ini baru pertama kali Chris menyebutnya seperti itu.


Gara-gara pengucapan kata itu membuat suasana Chris dan Alexa menjadi canggung dan Alexa meninggalkan Chris dengan menjalankan rodanya mundur. Chris yang salah tingkah hanya mengusap tengkuknya sepeninggal Alexa. Jerry yang melihat Chris ditinggalkan di luar segera menghampiri dan bertanya mengapa dia tidak ikut masuk. Begitu melihat ekspresi Chris, dia malah menggodanya.


“Kalian berciuman?” tanya Jerry sambil berbisik.


“Tidak, apaan sih!” elak Chris yang membuat Jerry semakin salah paham.


“Dasar gak jelas kamu.” Chris meninggalkan Jerry di luar karena semakin digoda dia akan semakin salah tingkah.


***


Hari persidangan pak Herman dan pak Helmi akhirnya tiba, Chris dan Jerry datang sebagai saksi untuk penemuan bukti yang diserahkan. Karena pak Herman dan pak Helmi sangat kooperatif dalam penyelidikan dan pemeriksaan maka proses sidang pun juga cepat. Dua minggu lagi sudah masuk ke sidang hasil putusan.


Sedangkan untuk hasil pemeriksaan pak Anggara, telah ditemukan tambahan Perusahaan fiktif yang pernah dibuatnya untuk menipu orang. Karena dari hasil pemeriksaan masih bertambah dan belum tahu kapan akan selesai maka belum bisa diputuskan untuk masuk persidangan. Berkas yang dibuat belum lengkap sehingga penahanan pak Anggara akan lebih lama.


Pak Anggara sudah dipindahkan ke rutan, karena dia ketika dijadikan tahanan kota, dia hampir kabur ke kota yang lain dengan melakukan penyamaran. Untung saja, anak buah suruhan Jerry melakukan pengintaian di sekitar rumah pak Anggara sehingga pak Anggara gagal kabur.


Rutan tempat pak Anggara berbeda dengan rutan tempat pak Herman dan pak Helmi karena ditakutkan jika ditempatkan dalam satu tempat maka nanti mereka akan bekerjasama untuk kabur. Kehidupan mereka bertiga saat ini sedang berada di bawah karena melakukan penggelapan dana dan penipuan. Semoga mereka mendapat hukuman setimpal.

__ADS_1


***


Sore hari, Chris yang mempunyai janji dengan pak Arya, datang menemui untuk membahas masalah persidangan ketiga orang pengkhianat itu, selain itu pak Arya juga ingin bertanya kepada Chris mengenai kehidupan pribadinya, terutama masa kecilnya.


“Mengapa Bapak sangat ingin mengetahui masa lalu saya?”


“Baiklah, saya akan jujur sama kamu, Chris. Teman saya meminta tolong kepada saya untuk menemukan anaknya. Menurut saya, ada kesamaan wajah kamu dengan teman saya.”


“Jadi, Bapak mengira saya adalah anak teman Bapak?”


“Iya, lebih tepatnya itu masih pendapat saya sendiri. Saya tidak bercerita tentang kamu padanya. Saya ingin memastikan terlebih dahulu kepada kamu.”


“Masalahnya saya tidak bisa memberitahu apa-apa pada Bapak, karena saya mengalami amnesia di saat saya masih di bangku kuliah. Sampai detik ini saya belum mengingat masa lalu saya. Hanya potongan-potongan memori itupun hanya tentang Alexa. Maafkan say ajika saya tidak bisa membantu.”


“Apa boleh jika saya ingin meminta kamu melakukan tes darah?”


“Sebegitu yakinnya Bapak bahwa saya adalah anak beliau?”


“Insting saya jarang salah, Chris. Tidak ada ruginya jika kamu untuk melakukan hal ini.”


“Baiklah, saya akan berkonsultasi dengan Alexa dulu, Besok saya akan mengabari Bapak,” putus Chris agar tidak membahas hal ini lagi.


“Ok, jika begitu saya pergi. Terima kasih atas waktunya, Chris.”


“Iya, Pak. Sama-sama.”


Ada saja kejadian yang membuat dia mempertanyakan hidupnya. Apakah tidak boleh sekali saja tenang ketika menjalani hidup ini. Setelah masalah satu selesai, datang lagi masalah lain. Bukan dia tidak bersyukur, tetapi sepertinya dia mulai lelah. Dia ingin berhenti sebentar untuk menikmati hidup dan menikmati waktu bersama Alexa.

__ADS_1


__ADS_2